BAB 5.1. MENARI DI ANTARA KERJA DAN KEHIDUPAN
"Kehidupan bukanlah timbangan yang harus seimbang sempurna, melainkan orkestra yang memainkan berbagai instrumen dalam harmoni—kadang keras, kadang lembut, tetapi selalu mengalir dalam irama yang bermakna."
Ketika Keseimbangan Menjadi Ilusi yang Melelahkan
Suatu Rabu malam di kawasan Sudirman, Jakarta, seorang manajer muda bernama Dini duduk termenung di meja kerjanya yang masih dipenuhi tumpukan dokumen. Jam di dinding menunjukkan pukul 22.30. Ponselnya berdering—suara anak balitanya memanggil "Mama" dari video call yang dikirim pengasuh. Air matanya menetes. "Saya sudah berusaha keras mencari keseimbangan antara kerja dan keluarga. Tapi sepertinya semakin saya coba, semakin saya merasa gagal di keduanya," ungkapnya pada seorang kawan yang kebetulan masih bekerja lembur di kantor yang sama.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter buku ini (30 Bab).
Untuk mendapatkan token, silakan traktir kopi (Rp 35.000) dan sebutkan judul bukunya.
Klik WhatsApp (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Cerita Dini adalah potret jutaan profesional di Indonesia dan dunia yang terjebak dalam pencarian work-life balance (keseimbangan kerja-kehidupan) yang ironisnya justru menambah beban mental. Konsep yang dipromosikan sebagai solusi kesejahteraan ini, tanpa disadari, telah berubah menjadi standar baru yang utopis—sebuah ideal yang hampir mustahil dicapai dalam realitas kehidupan modern yang kompleks dan dinamis.
Di era di mana batas antara ruang kerja dan ruang pribadi semakin kabur—terutama sejak pandemi COVID-19 memaksa kita bekerja dari rumah—kita perlu merumuskan ulang paradigma hubungan antara kerja dan kehidupan. Bukan lagi tentang mencari keseimbangan sempurna yang statis, melainkan tentang menciptakan harmoni yang dinamis dan kontekstual. Inilah yang disebut sebagai work-life harmony (harmoni kerja-kehidupan): sebuah pendekatan yang lebih manusiawi, lebih fleksibel, dan lebih realistis.
Jejak Sejarah: Dari Revolusi Industri hingga Era Digital
Konsep pemisahan antara kerja dan kehidupan pribadi sebenarnya adalah fenomena yang relatif baru dalam sejarah peradaban manusia. Dalam masyarakat agraris pra-industri, kerja adalah bagian integral dari kehidupan keluarga. Petani bekerja di ladang yang berdekatan dengan rumah, melibatkan seluruh anggota keluarga dalam proses produksi. Tidak ada dikotomi tajam antara "waktu kerja" dan "waktu pribadi"—keduanya mengalir secara organik dalam ritme kehidupan sehari-hari.
Revolusi Industri pada abad ke-18 dan ke-19 mengubah lanskap ini secara dramatis. Frederick Winslow Taylor dengan scientific management-nya (manajemen ilmiah) memperkenalkan konsep efisiensi kerja yang memisahkan secara tegas antara waktu produktif dan waktu non-produktif. Pekerja pabrik harus datang pada jam yang ditentukan, bekerja dalam shift yang terstruktur, dan pulang pada waktu yang sama setiap hari. Kerja berpindah dari rumah ke pabrik, menciptakan pemisahan fisik dan psikologis antara ruang kerja dan ruang kehidupan.
Pada pertengahan abad ke-20, seiring munculnya gerakan hak-hak pekerja, muncul pula wacana tentang pentingnya "keseimbangan" antara kerja dan kehidupan pribadi. Ini adalah respons terhadap eksploitasi buruh yang kejam, di mana pekerja diperas tenaganya tanpa memiliki waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Konsep work-life balance lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja yang tidak manusiawi.
Namun, memasuki era digital abad ke-21, konsep ini menghadapi tantangan baru. Teknologi yang seharusnya membebaskan kita justru menciptakan fenomena "always on" (selalu terhubung)—kita bisa bekerja kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Batas antara kantor dan rumah menjadi semakin kabur. Notifikasi email, pesan WhatsApp dari atasan, dan Zoom meeting di akhir pekan menjadi hal yang normal. Ironisnya, semakin kita memiliki "keseimbangan" secara teoritis, semakin kita merasa kehilangan kontrol atas kehidupan kita sendiri.
Data dan Fakta: Krisis Kesejahteraan di Tempat Kerja
Data global menunjukkan bahwa krisis kesejahteraan di tempat kerja adalah fenomena yang nyata dan mengkhawatirkan. Menurut survei yang dilakukan oleh Gallup pada tahun 2023, hanya 23% karyawan di seluruh dunia yang merasa "engaged" (terlibat secara emosional) dengan pekerjaan mereka. Di Indonesia, angkanya bahkan lebih rendah—hanya 18% menurut data Gallup State of the Global Workplace 2023.
Lebih memprihatinkan lagi, studi yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational Health Psychology (2022) menemukan bahwa 67% pekerja profesional mengalami gejala burnout (kelelahan kerja) sedang hingga berat. Gejala ini meliputi kelelahan emosional, sinisme terhadap pekerjaan, dan penurunan efikasi profesional. Di Indonesia, riset dari Universitas Indonesia tahun 2023 mengungkapkan bahwa 72% pekerja kantoran di Jakarta merasa stres karena tekanan untuk mencapai "keseimbangan sempurna" antara kerja dan kehidupan pribadi.
World Health Organization (WHO) pada tahun 2019 secara resmi mengakui burnout sebagai fenomena okupasional dalam International Classification of Diseases (ICD-11). Ini bukan lagi sekadar keluhan individual, tetapi masalah kesehatan publik yang memerlukan perhatian serius. Biaya ekonomi dari burnout dan stres kerja diperkirakan mencapai $300 miliar per tahun di Amerika Serikat saja, menurut American Institute of Stress.
Yang menarik, penelitian dari Stanford University (2021) menemukan bahwa produktivitas pekerja justru menurun drastis setelah melewati 50 jam kerja per minggu. Bekerja lebih lama tidak berarti bekerja lebih produktif—sebaliknya, justru menghasilkan lebih banyak kesalahan, menurunkan kreativitas, dan merusak kesehatan mental. Namun, budaya kerja yang mengagungkan long hours (jam kerja panjang) masih sangat kuat di banyak negara, termasuk Indonesia.
Kritik dan Renungan: Jebakan Keseimbangan Sempurna
Persoalan mendasar dengan konsep work-life balance adalah asumsinya yang keliru: bahwa kerja dan kehidupan adalah dua entitas yang terpisah dan berlawanan, serta keduanya harus dibagi secara adil seperti menimbang beras di pasar. Ini adalah cara berpikir yang biner dan mekanistik, yang tidak mencerminkan kompleksitas kehidupan manusia yang sesungguhnya.
Saya teringat percakapan dengan seorang dokter spesialis anak yang bekerja di rumah sakit swasta ternama. "Orang selalu bilang saya harus punya work-life balance. Tapi bagaimana caranya? Ketika ada pasien anak dalam kondisi kritis di malam hari, apakah saya harus bilang 'Maaf, ini sudah masuk waktu pribadi saya'? Atau ketika anak saya sakit dan butuh saya, apakah saya harus bilang 'Maaf, Mama harus operasi'?" ungkapnya dengan nada frustasi.
Pertanyaan ini menunjukkan keterbatasan fundamental dari paradigma keseimbangan: kehidupan tidak bisa dibagi-bagi seperti kue tart yang dipotong sama rata. Ada momen-momen ketika pekerjaan memerlukan dedikasi penuh—misalnya saat deadline proyek penting atau saat menangani krisis. Ada juga momen ketika keluarga harus menjadi prioritas utama—misalnya saat anak sakit atau orang tua menjelang ajal. Mencoba untuk selalu "seimbang" dalam setiap situasi justru menciptakan rasa bersalah yang konstan: merasa bersalah pada pekerjaan ketika fokus pada keluarga, dan merasa bersalah pada keluarga ketika fokus pada pekerjaan.
Lebih jauh, konsep work-life balance juga secara implisit mengasumsikan bahwa "kerja" adalah sesuatu yang negatif, sesuatu yang harus "diseimbangkan" dengan "kehidupan" yang positif. Ini adalah pandangan yang mereduksi makna kerja. Padahal, bagi banyak orang, kerja adalah bagian penting dari identitas, sumber makna hidup, dan ruang untuk berkontribusi pada masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dalam teori flow-nya (mengalir): manusia justru merasa paling bahagia ketika sepenuhnya terlibat dalam aktivitas yang bermakna—dan itu bisa terjadi baik dalam konteks kerja maupun kehidupan pribadi.
Menuju Harmoni: Paradigma Baru yang Lebih Manusiawi
Jika work-life balance adalah konsep yang bermasalah, apa alternatifnya? Jawabannya adalah work-life harmony—sebuah pendekatan yang tidak melihat kerja dan kehidupan sebagai dua entitas yang berlawanan dan harus "diseimbangkan", melainkan sebagai berbagai dimensi kehidupan yang bisa diintegrasikan secara harmonis.
Jeff Bezos, pendiri Amazon, pernah mengatakan dalam sebuah wawancara: "Saya tidak percaya pada work-life balance. Saya percaya pada work-life harmony. Jika saya bahagia di rumah, saya datang ke kantor dengan energi yang lebih baik. Jika saya bahagia di kantor, saya pulang sebagai suami dan ayah yang lebih baik." Ini adalah pandangan yang lebih holistik: bahwa berbagai aspek kehidupan kita saling memengaruhi dan memperkaya, bukan saling berkompetisi.
Konsep harmoni ini juga lebih selaras dengan filosofi Timur. Dalam pemikiran Tao, harmoni (he, å) adalah prinsip fundamental alam semesta—bukan tentang keseimbangan statis, melainkan tentang interaksi dinamis antara berbagai elemen yang menciptakan kesatuan yang lebih besar. Dalam falsafah Jawa, ada konsep "memayu hayuning bawana" (memperindah dunia)—sebuah pandangan bahwa kerja bukanlah sekadar mencari nafkah, melainkan bagian dari tanggung jawab spiritual untuk berkontribusi pada keseimbangan kosmos.
Secara praktis, work-life harmony berarti beberapa hal. Pertama, fleksibilitas dan kontekstualitas: mengakui bahwa kebutuhan kita berubah seiring waktu dan situasi, dan tidak ada formula satu untuk semua. Kedua, integrasi ketimbang segregasi: mencari cara untuk mengintegrasikan aspek-aspek kehidupan ketimbang memisahkannya secara kaku. Ketiga, fokus pada kualitas ketimbang kuantitas: yang penting bukan berapa jam kita habiskan untuk pekerjaan versus keluarga, melainkan seberapa present (hadir) dan bermakna kita dalam setiap aktivitas.
Jalan ke Depan: Membangun Ekosistem yang Mendukung Harmoni
Menciptakan work-life harmony bukan hanya tanggung jawab individu—ini memerlukan perubahan sistemik dalam budaya organisasi, kebijakan publik, dan norma sosial. Di tingkat organisasi, perusahaan perlu menggeser fokus dari mengukur input (jam kerja) ke mengukur output (hasil kerja). Flexible working arrangements (pengaturan kerja fleksibel) seperti remote work (kerja jarak jauh), compressed workweeks (minggu kerja terkompresi), dan job sharing (berbagi pekerjaan) harus menjadi norma, bukan pengecualian.
Di tingkat kebijakan, pemerintah perlu mengimplementasikan regulasi yang melindungi hak pekerja untuk "terputus" (right to disconnect). Prancis, misalnya, telah menerapkan undang-undang yang melarang perusahaan mengirim email kepada karyawan di luar jam kerja. Portugal bahkan melarang atasan menghubungi karyawan via WhatsApp di luar jam kerja dan memberikan denda yang signifikan bagi perusahaan yang melanggar.
Di tingkat individu, kita perlu mengembangkan literasi tentang kesehatan mental dan kemampuan untuk menetapkan boundaries (batasan) yang sehat. Ini termasuk keberanian untuk mengatakan "tidak" pada permintaan yang berlebihan, kemampuan untuk mendelegasikan, dan kearifan untuk mengenali tanda-tanda burnout sejak dini.
Yang terpenting, kita perlu mengubah narasi budaya tentang kesuksesan. Selama kita masih mengagungkan budaya "hustle" (kerja keras tanpa henti), merayakan orang yang bekerja 80 jam per minggu sebagai pahlawan, dan menganggap istirahat sebagai kelemahan, perubahan sejati tidak akan terjadi. Kita perlu membangun budaya yang menghargai keberlanjutan, mengakui keterbatasan manusia, dan merayakan keseimbangan sebagai tanda kebijaksanaan, bukan kelemahan.
Mari kita bayangkan masa depan di mana anak-anak kita tidak perlu memilih antara karier yang sukses atau keluarga yang harmonis—karena keduanya bisa berjalan beriringan. Di mana perusahaan diukur bukan hanya dari profit, tetapi juga dari kesejahteraan karyawannya. Di mana teknologi digunakan untuk membebaskan, bukan memperbudak. Masa depan itu mungkin—jika kita mulai hari ini, dengan pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari, untuk hidup dengan lebih sadar, lebih bermakna, dan lebih harmonis.
"Harmoni sejati bukanlah tentang membagi waktu secara adil antara berbagai peran dalam hidup, melainkan tentang menjalani setiap peran dengan sepenuh hati—sehingga ketika kita bekerja, kita bekerja dengan penuh makna; dan ketika kita bersama keluarga, kita hadir dengan sepenuh jiwa. Karena kehidupan yang utuh bukan yang terbagi rata, melainkan yang dijalani dengan penuh kesadaran."
DAFTAR PUSTAKA
American Institute of Stress. (2023). Workplace stress: The health epidemic of the 21st century. Fort Worth, TX: American Institute of Stress.
Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The psychology of optimal experience. New York: Harper & Row.
Gallup. (2023). State of the global workplace: 2023 report. Washington, DC: Gallup Press.
Maslach, C., & Leiter, M. P. (2022). Understanding burnout: New models. In C. L. Cooper & J. C. Quick (Eds.), The handbook of stress and health (pp. 36-56). Hoboken, NJ: Wiley-Blackwell.
Stanford University. (2021). The productivity puzzle: Why working longer hours decreases output. Stanford, CA: Stanford Institute for Economic Policy Research.
Universitas Indonesia. (2023). Survei kesehatan mental pekerja profesional di Jakarta. Depok: Fakultas Psikologi UI.
World Health Organization. (2019). International classification of diseases, 11th revision (ICD-11). Geneva: WHO.
Komentar
Posting Komentar