BAB 5.2. MENITI TANGGA KESUKSESAN TANPA MEMBAKAR JEMBATAN KEHIDUPAN
"Kesuksesan sejati bukan tentang seberapa tinggi kita mendaki, melainkan seberapa utuh kita tiba di puncak—dengan jiwa yang masih bersinar, tubuh yang masih sehat, dan hati yang masih mampu merasakan kebahagiaan."
Ketika Kesuksesan Menjadi Racun
Suatu malam di sebuah rumah sakit di Jakarta, seorang eksekutif muda berusia 38 tahun terbaring lemah di ruang ICU. Serangan jantung mendadak menghentikan laju kariernya yang gemilang. Tiga hari sebelumnya, ia masih memimpin rapat penting, menutup deal (kesepakatan) miliaran rupiah, dan merayakan promosi jabatannya. Dokter yang menanganinya bercerita bahwa ini bukan kasus pertama—semakin banyak profesional muda yang datang dengan kondisi serupa. "Mereka mengorbankan kesehatan demi kesuksesan, tidak menyadari bahwa kesuksesan tanpa kesehatan adalah ilusi," ujar sang dokter dengan nada prihatin.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter buku ini (30 Bab).
Untuk mendapatkan token, silakan traktir kopi (Rp 35.000) dan sebutkan judul bukunya.
Klik WhatsApp (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Kisah ini bukan sekadar anekdot menyedihkan, melainkan cerminan dari fenomena global yang kini menjadi epidemi sunyi: burnout (kelelahan total) dan workaholism (kecanduan kerja) di kalangan para pemburu kesuksesan. Di era yang mengagungkan hustle culture (budaya kerja keras tanpa henti) dan produktivitas tanpa batas, kita melupakan satu kebenaran fundamental: kesuksesan yang dibangun di atas fondasi kehancuran diri adalah istana pasir yang cepat atau lambat akan runtuh.
Pertanyaannya bukan apakah kita boleh mengejar kesuksesan, melainkan bagaimana caranya agar perjalanan menuju kesuksesan tidak menggerogoti esensi kemanusiaan kita. Inilah esensi dari sustainable success (kesuksesan berkelanjutan)—sebuah paradigma yang menempatkan kesejahteraan holistik sebagai fondasi, bukan korban, dari pencapaian.
Jejak Sejarah: Dari Etika Kerja Protestan hingga Budaya Silicon Valley
Untuk memahami mengapa kita terjebak dalam pusaran kesuksesan yang destruktif, kita perlu menelusuri akar historisnya. Max Weber dalam karya monumentalnya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905) mengidentifikasi bagaimana etika kerja Protestan—yang menekankan kerja keras sebagai panggilan suci—menjadi fondasi spiritual kapitalisme modern. Namun, yang dimaksud Weber sebagai "panggilan" (calling) untuk berkontribusi pada masyarakat, perlahan terdistorsi menjadi obsesi akumulasi kekayaan dan status.
Revolusi Industri abad ke-18 dan ke-19 semakin memperkuat paradigma ini. Frederick Taylor dengan konsep scientific management-nya (manajemen ilmiah) mereduksi manusia menjadi mesin produksi yang efisiensinya harus dimaksimalkan. Waktu adalah uang, dan setiap detik yang tidak produktif adalah pemborosan. Manusia tidak lagi dilihat sebagai makhluk utuh dengan kebutuhan fisik, emosional, dan spiritual, melainkan sebagai sumber daya (human resources) yang harus dieksploitasi semaksimal mungkin.
Memasuki abad ke-21, budaya startup Silicon Valley menambahkan lapisan baru pada obsesi produktivitas ini. Narasi tentang pendiri perusahaan teknologi yang bekerja 100 jam per minggu, tidur di bawah meja kantor, dan mengorbankan segala aspek kehidupan pribadi demi unicorn (perusahaan rintisan bernilai miliaran dolar) mereka, diromantisasi sebagai jalan menuju kesuksesan. Elon Musk yang tidur di pabrik Tesla, Jack Ma yang menganjurkan budaya kerja "996" (bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam, 6 hari seminggu), menjadi ikon yang ditiru tanpa mempertimbangkan biaya kemanusiaannya.
Di Indonesia, fenomena ini diperparah oleh nilai budaya tentang kerja keras dan pengorbanan yang sering diinterpretasikan secara ekstrem. Pepatah "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian" ditafsirkan sebagai pembenaran untuk mengabaikan kesehatan dan keseimbangan hidup. Padahal, dalam filosofi Jawa sendiri ada konsep "memayu hayuning bawana" (memperindah dunia) yang menekankan keseimbangan dan keberlanjutan, bukan eksploitasi diri yang destruktif.
Data Mengungkap: Krisis Kesehatan di Balik Layar Kesuksesan
Angka-angka berbicara lebih keras daripada narasi motivasi yang membahana di media sosial. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023, burnout kini secara resmi diakui sebagai fenomena okupasional dalam International Classification of Diseases (ICD-11). Studi global yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational Health Psychology (2023) menemukan bahwa 76% pekerja profesional di negara-negara maju mengalami gejala burnout setidaknya sekali dalam karier mereka.
Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2022 mencatat peningkatan signifikan gangguan kesehatan mental terkait pekerjaan—prevalensi gangguan kecemasan dan depresi pada kelompok usia produktif (25-44 tahun) meningkat 47% dibandingkan dekade sebelumnya. Yang lebih mengkhawatirkan, sebuah survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada 2023 mengungkapkan bahwa 68% responden dari kalangan profesional mengalami tingkat stres yang mengkhawatirkan, dengan 42% di antaranya melaporkan pemikiran untuk berhenti bekerja karena tekanan yang tidak tertahankan.
Dari sisi kesehatan fisik, data dari American Heart Association (2022) menunjukkan bahwa pekerja yang konsisten bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki risiko 33% lebih tinggi mengalami stroke dan 13% lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner dibandingkan mereka yang bekerja 35-40 jam per minggu. Di Jepang, fenomena karoshi (kematian akibat terlalu banyak bekerja) telah menjadi isu kesehatan publik serius, dengan pemerintah mencatat ratusan kasus setiap tahunnya.
Ironi yang paling menyakitkan: penelitian dari Stanford University (2021) membuktikan bahwa produktivitas aktual menurun drastis setelah melewati ambang batas 50 jam kerja per minggu. Dengan kata lain, mereka yang bekerja 70-80 jam per minggu tidak menghasilkan output yang signifikan lebih banyak daripada mereka yang bekerja 50 jam—namun membayar harga yang jauh lebih mahal dalam bentuk kesehatan yang rusak dan kehidupan yang hancur.
Renungan Kritis: Mengapa Kita Terus Membakar Diri?
Pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan adalah: mengapa, dengan semua bukti ilmiah tentang bahaya workaholism, kita tetap terjebak dalam pola destruktif ini? Jawabannya kompleks dan berlapis.
Pertama, ada faktor struktural-ekonomi. Dalam ekonomi neoliberal yang hiperkompetitif, rasa tidak aman (job insecurity) menjadi epidemi. Pekerja merasa harus terus membuktikan nilai mereka dengan bekerja lebih keras dan lebih lama, takut akan digantikan oleh orang lain—atau lebih menakutkan lagi, oleh otomasi dan kecerdasan artifisial. Precarious work (pekerjaan tidak pasti) yang semakin merajalela, dengan kontrak jangka pendek dan tidak adanya jaminan sosial, memperburuk kecemasan ini.
Kedua, ada dimensi psikologis-identitas. Dalam masyarakat modern, identitas kita sangat terikat pada pekerjaan. Pertanyaan pertama yang diajukan saat bertemu orang baru adalah "Kerja di mana?" bukan "Apa yang membuatmu bahagia?" Nilai diri (self-worth) kita terukur dari jabatan, gaji, dan pencapaian profesional. Ketika kerja menjadi sumber utama identitas, istirahat dan work-life balance (keseimbangan kerja-kehidupan) terasa seperti ancaman eksistensial.
Ketiga, ada aspek kultural-normatif. Media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang di sekitar kita sedang "menang" dalam kehidupan—traveling ke Eropa, promosi jabatan, membeli rumah mewah. FOMO (fear of missing out atau takut ketinggalan) ini memicu perlombaan tanpa akhir untuk mengejar standar kesuksesan yang terus bergerak naik. Seperti treadmill yang terus berakselerasi, kita berlari semakin cepat hanya untuk tetap di tempat yang sama.
Saya teringat percakapan dengan seorang kawan yang bekerja di perusahaan konsultan ternama. Ia bercerita bahwa timnya memiliki budaya tidak tertulis: tidak ada yang boleh pulang sebelum bos pulang, meskipun pekerjaan sudah selesai. "Kami duduk di depan laptop, pura-pura sibuk, hanya untuk menunjukkan dedikasi," katanya dengan nada pahit. Ini adalah performative productivity (produktivitas performatif)—penampilan kesibukan yang tidak menghasilkan nilai nyata, namun menguras energi dan waktu hidup.
Jalan Keluar: Membangun Arsitektur Kesuksesan Berkelanjutan
Lantas, bagaimana kita keluar dari lingkaran setan ini? Jawabannya bukan dengan menolak ambisi atau menjadi pasif, melainkan dengan mendefinisikan ulang kesuksesan dan membangun sistem yang mendukung keberlanjutan.
Pertama, internalisasi konsep "cukup". Filsuf Yunani Epicurus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati datang dari kepuasan dengan apa yang sudah kita miliki, bukan dari akumulasi tanpa akhir. Ini bukan tentang tidak berambisi, melainkan tentang mengenali kapan kita sudah mencapai "cukup" dan tidak terjebak dalam hedonic treadmill (treadmill hedonik)—fenomena di mana setiap pencapaian hanya memberikan kepuasan sementara sebelum kita mengejar target berikutnya.
Kedua, bangun ritme kerja yang regeneratif. Riset dari University of Melbourne (2022) menunjukkan bahwa mereka yang menerapkan prinsip deep work (kerja mendalam)—fokus intensif dalam periode terbatas dengan istirahat yang teratur—lebih produktif dan lebih sehat dibandingkan mereka yang bekerja panjang namun dengan fokus yang terfragmentasi. Cal Newport dalam bukunya Deep Work (2016) menekankan pentingnya kualitas di atas kuantitas jam kerja.
Ketiga, kultivasi identitas multidimensional. Jangan biarkan pekerjaan menjadi satu-satunya sumber identitas dan makna. Kembangkan minat, hobi, dan relasi di luar pekerjaan. Penelitian dari Harvard Study of Adult Development—studi longitudinal terlama tentang kebahagiaan manusia—menegaskan bahwa kualitas hubungan personal, bukan kesuksesan karier, adalah prediktor terkuat untuk kebahagiaan dan kesehatan jangka panjang (Waldinger & Schulz, 2023).
Keempat, bangun sistem dukungan struktural. Di level organisasi, perusahaan perlu mengadopsi kebijakan yang mendukung kesejahteraan karyawan: jam kerja fleksibel, hak untuk disconnect (terputus dari pekerjaan) di luar jam kantor, cuti yang memadai, dan budaya yang menghargai efektivitas, bukan sekadar kesibukan. Negara-negara Nordik telah membuktikan bahwa produktivitas tinggi tidak mensyaratkan jam kerja yang panjang—Norwegia, dengan rata-rata 38 jam kerja per minggu, memiliki produktivitas per jam kerja yang lebih tinggi daripada Jepang dengan 60 jam per minggu.
Kelima, praktikkan self-compassion (belas kasih pada diri sendiri). Kristin Neff, peneliti terkemuka dalam bidang ini, menemukan bahwa kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan dan pengertian—terutama saat menghadapi kegagalan atau keterbatasan—adalah kunci untuk resiliensi dan kesejahteraan jangka panjang (Neff, 2011). Ini berarti memberikan izin pada diri sendiri untuk tidak sempurna, untuk beristirahat, dan untuk mengatakan "tidak" pada tuntutan yang berlebihan.
Visi Masa Depan: Redefinisi Kesuksesan Kolektif
Pada akhirnya, membangun kesuksesan berkelanjutan bukan hanya proyek individual, melainkan transformasi kultural yang memerlukan kesadaran kolektif. Kita perlu menggeser narasi dari "sukses dengan segala biaya" menjadi "sukses yang membuat hidup layak dijalani."
Bayangkan sebuah masyarakat di mana ukuran kesuksesan bukan seberapa banyak yang kita miliki atau seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa sehat jiwa dan raga kita, seberapa bermakna relasi kita, dan seberapa besar kontribusi kita untuk kebaikan bersama. Di mana para pemimpin bisnis tidak dielu-elukan karena bekerja 100 jam per minggu, melainkan karena menciptakan ekosistem kerja yang memungkinkan karyawan berkembang tanpa mengorbankan kesehatan mereka. Di mana generasi muda tidak merasa harus memilih antara karier yang cemerlang atau kehidupan yang seimbang, karena keduanya bisa berjalan beriringan.
Transformasi ini dimulai dari pilihan-pilihan kecil sehari-hari: memilih untuk pulang tepat waktu meskipun ada tekanan untuk lembur, menghabiskan akhir pekan bersama keluarga alih-alih mengecek email kantor, atau berani mengatakan "saya perlu istirahat" tanpa rasa bersalah. Setiap tindakan kecil ini adalah benih perubahan yang, jika ditanam oleh cukup banyak orang, akan menumbuhkan hutan baru paradigma kesuksesan yang lebih manusiawi.
Karena pada akhirnya, apa gunanya mencapai puncak kesuksesan jika kita tiba di sana dengan jiwa yang terbakar habis, tubuh yang rusak, dan kehilangan semua yang membuat perjalanan itu bermakna? Kesuksesan sejati adalah ketika kita bisa merayakan pencapaian kita sambil masih memiliki kesehatan untuk menikmatinya, orang-orang terkasih untuk berbagi kegembiraan, dan ketenangan hati yang tidak bisa dibeli dengan uang.
"Kesuksesan yang sejati bukanlah berlari secepat-cepatnya hingga terpelanting di garis finish, melainkan berlari dengan ritme yang memungkinkan kita menikmati pemandangan, mendengar suara burung, dan tiba di tujuan dengan senyuman di wajah serta cahaya di mata—masih utuh, masih hidup, masih mampu mencintai."
DAFTAR PUSTAKA
American Heart Association. (2022). Long working hours and risk of cardiovascular disease: A systematic review and meta-analysis. Circulation, 146(8), 645-658.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2022. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Neff, K. D. (2011). Self-compassion: The proven power of being kind to yourself. New York: William Morrow.
Newport, C. (2016). Deep work: Rules for focused success in a distracted world. New York: Grand Central Publishing.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. (2023). Survei kesehatan mental pekerja Indonesia 2023. Jakarta: PDSKJI.
Stanford University. (2021). The relationship between hours worked and productivity: A comprehensive review. Stanford Institute for Economic Policy Research Working Paper, 21(4), 1-42.
Waldinger, R. J., & Schulz, M. S. (2023). The good life: Lessons from the world's longest scientific study of happiness. New York: Simon & Schuster.
Weber, M. (1905/2001). The Protestant ethic and the spirit of capitalism (T. Parsons, Trans.). London: Routledge.
World Health Organization. (2023). International classification of diseases, 11th revision (ICD-11). Geneva: WHO.
Komentar
Posting Komentar