BAB 6

Segala Puji


"Syukur bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang melihat apa yang sudah diberikan—bahkan dalam kekurangan."



Pagi itu, Abdul Wira terbangun dengan perut yang lapar.

Bukan lapar biasa—tetapi lapar yang sudah ia rasakan selama tiga hari berturut-turut. Panen gagal musim ini. Hama menyerang sawah, padi menguning sebelum waktunya, dan yang tersisa hanya batang-batang kering yang tidak bisa dimakan. Tuan tanah Belanda tetap menagih pajak, tidak peduli petani makan apa hari ini.

Di dapur, ibunya sedang memasak dengan apa yang tersisa: segenggam beras yang sudah lama disimpan, dicampur dengan ubi rebus dan garam. Tidak ada lauk. Tidak ada sayur. Hanya nasi ubi yang hambar, yang harus dibagi untuk sarapan dan makan siang.

Abdul Wira duduk di meja kayu yang reot, menatap piring di hadapannya. Nasi sedikit, ubi lebih banyak. Perutnya berbunyi, tapi hatinya lebih ribut—ribut oleh pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan: Kenapa harus begini?

Ibu Wira duduk di hadapannya, membawa piring yang sama—bahkan lebih sedikit dari milik Abdul Wira. Ia tersenyum, seperti biasa, seolah tidak ada yang kurang.

"Alhamdulillah," bisik ibunya pelan, sebelum menyuap nasi pertama.

Abdul Wira terdiam. Ia menatap ibunya—perempuan yang sudah tiga hari makan seadanya, yang baju-bajunya sudah bertambal-tambal, yang tangannya kasar oleh kerja yang tidak pernah berhenti. Tapi ia tetap bersyukur.

Alhamdulillah untuk apa? Abdul Wira ingin bertanya, tapi tidak berani.

Mereka makan dalam sunyi. Hanya ada suara sendok kayu yang menyentuh piring tanah, dan sesekali desahan napas ibunya yang lelah. Setelah selesai, ibunya mengumpulkan piring, mencucinya dengan air sedikit yang tersisa di kendi, lalu duduk kembali di beranda—menatap sawah yang kering, menatap langit yang biru, seolah mencari sesuatu yang tidak terlihat.

Abdul Wira mengikutinya, duduk di sampingnya tanpa bicara.

"Nak," kata ibunya tiba-tiba, tanpa menoleh. "Kau tahu kenapa kita harus bersyukur?"

Abdul Wira tidak menjawab. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

"Bukan karena kita punya banyak," lanjut ibunya. "Tapi karena kita masih punya. Masih ada nasi—meski sedikit. Masih ada atap—meski bocor. Masih ada napas—meski lelah. Itu sudah cukup untuk bersyukur."

Abdul Wira menatap ibunya, merasakan dadanya sesak. "Tapi Bu, orang-orang lain punya lebih banyak. Mereka tidak pernah kelaparan. Mereka tidak pernah makan nasi campur ubi. Kenapa kita harus bersyukur untuk yang sedikit, sementara mereka punya yang banyak tanpa usaha?"

Ibu Wira terdiam sejenak, lalu tersenyum—senyum yang sedih tapi tulus. "Karena syukur itu bukan tentang membanding-bandingkan, Nak. Syukur itu tentang melihat apa yang sudah diberikan, bukan apa yang belum. Kalau kita terus melihat yang tidak kita punya, kita tidak akan pernah puas—meski punya segalanya."

Ia menoleh, menatap Abdul Wira dengan mata yang jernih. "Lihatlah tetangga kita, Pak Sarmin. Anaknya sakit sejak lahir, tidak bisa jalan. Tapi ia tetap bersyukur—karena anaknya masih hidup, masih bisa tersenyum. Lihatlah Bu Aminah. Suaminya meninggal, dia janda dengan tiga anak. Tapi ia tetap bersyukur—karena anak-anaknya masih sehat, masih bisa sekolah."

Ibu Wira menarik napas panjang. "Kita tidak punya banyak, Nak. Tapi kita masih punya yang paling penting: nyawa, iman, dan satu sama lain. Itu sudah lebih dari cukup."

***

Hari itu, Abdul Wira pergi ke sekolah dengan hati yang berat. Perutnya masih lapar, tapi ia tidak bilang apa-apa. Di kelas, teman-temannya membawa bekal—roti dari toko Belanda, nasi dengan lauk ikan, bahkan ada yang membawa kue manis. Abdul Wira hanya membawa air putih dalam botol bambu.

Saat istirahat, Soedarmo duduk di sampingnya, membuka bungkusan bekalnya—nasi putih dengan ayam goreng dan telur.

"Kau tidak bawa bekal?" tanya Soedarmo.

Abdul Wira menggeleng. "Tidak lapar."

Soedarmo menatapnya, lalu mendorong bekalnya. "Makan ini. Aku sudah kenyang tadi pagi."

Abdul Wira terdiam. Perutnya lapar, tapi harga dirinya tidak mau menerima belas kasihan.

"Ayolah, Wira," desak Soedarmo. "Kita teman. Tidak apa-apa."

Akhirnya Abdul Wira menerima—bukan karena ia mau, tetapi karena perutnya sudah tidak bisa menolak. Ia makan perlahan, merasakan setiap suapan seperti anugerah yang tidak layak ia terima.

"Kau tahu, Wira," kata Soedarmo tiba-tiba, tatapannya jauh. "Aku iri padamu."

Abdul Wira hampir tersedak. "Iri? Kenapa?"

"Karena kau punya ibu yang mencintaimu. Ibuku... ibuku sayang padaku, tapi ia terlalu sibuk memenuhi keinginan ayahku. Aku merasa seperti barang—disayang kalau berguna, dilupakan kalau tidak."

Soedarmo tersenyum pahit. "Di rumahku, ada banyak makanan. Ada banyak baju. Ada banyak harta. Tapi tidak ada kehangatan. Aku makan sendirian, tidur sendirian, menangis sendirian. Jadi, apa gunanya punya banyak, kalau hati tetap kosong?"

Abdul Wira terdiam. Ia baru menyadari: kekayaan bukan jaminan kebahagiaan. Dan kekurangan bukan berarti kehilangan segalanya.

Sore itu, Abdul Wira pulang dengan hati yang lebih ringan. Ia melewati sawah yang kering, melewati rumah-rumah yang atapnya bocor, melewati anak-anak yang bermain dengan gembira meski tidak punya mainan.

Ia berhenti sejenak, menatap mereka. Mereka tertawa, berlarian, menciptakan permainan dari apa yang ada—batu, ranting, tanah. Tidak ada yang mengeluh. Tidak ada yang iri. Mereka hanya menikmati apa yang mereka punya: waktu bersama, tawa yang tulus, dan kegembiraan yang sederhana.

Alhamdulillah.

Kata itu tiba-tiba muncul di hati Abdul Wira—bukan dari bibir, tetapi dari tempat yang lebih dalam. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasakan sesuatu yang hangat di dadanya, sesuatu yang membuatnya ingin tersenyum meski perutnya masih lapar.

***

Ketika sampai di rumah, ibunya sedang menjemur pakaian—pakaian yang sama yang sudah ia cuci dan pakai berulang kali. Wajahnya lelah, tapi matanya tetap tenang.

"Bu," panggil Abdul Wira.

Ibunya menoleh. "Sudah pulang, Nak?"

Abdul Wira melangkah mendekat, berdiri di samping ibunya. "Bu, maafkan aku."

Ibu Wira berhenti menjemur, menatap anaknya dengan bingung. "Maaf untuk apa?"

"Untuk tidak bersyukur. Untuk... untuk mengeluh dalam hati. Untuk melihat apa yang tidak kita punya, bukan apa yang sudah kita punya."

Ibu Wira tersenyum, mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Tidak apa-apa, Nak. Kau masih belajar. Ibu juga dulu seperti kamu—sering iri, sering mengeluh. Tapi kakekmu mengajari Ibu satu hal: syukur itu bukan perasaan, tetapi pilihan. Kita memilih untuk melihat nikmat, bukan kekurangan. Kita memilih untuk berterima kasih, bukan mengeluh."

Ia menatap Abdul Wira dengan mata yang penuh kasih. "Dan kau tahu apa yang terjadi saat kita bersyukur? Yang sedikit terasa cukup. Yang cukup terasa berlimpah. Karena syukur itu membuka mata hati—untuk melihat apa yang selama ini kita abaikan."

***

Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk sendirian di beranda. Langit gelap, tapi bintang-bintang bersinar terang—begitu banyak, begitu indah, begitu gratis. Tidak ada yang harus dibayar untuk melihatnya. Tidak ada yang bisa melarangnya menikmati keindahan itu.

Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam, lalu membisikkan doa dalam sunyi:

Alhamdulillah.

Hanya dua kata. Tapi kali ini, ia mengucapkannya dengan penuh kesadaran—bukan karena kebiasaan, bukan karena kewajiban, tetapi karena ia benar-benar merasakannya.

Alhamdulillah untuk nasi ubi yang mengenyangkan, meski tidak enak. Alhamdulillah untuk atap yang bocor, tapi masih melindungi dari hujan. Alhamdulillah untuk baju yang lusuh, tapi masih menutup tubuh. Alhamdulillah untuk ibu yang lelah, tapi tidak pernah berhenti mencintai.

Ia membuka mata, menatap langit.

Alhamdulillah untuk napas yang masih mengalir, untuk jantung yang masih berdetak, untuk mata yang masih bisa melihat bintang, untuk telinga yang masih bisa mendengar suara malam.

Air matanya mengalir—bukan karena sedih, tetapi karena penuh. Penuh dengan syukur yang tidak bisa ditampung kata-kata.

Ya Allah, maafkan aku yang sering mengeluh. Maafkan aku yang sering melihat apa yang tidak kupunya, bukan apa yang sudah Engkau beri. Aku baru menyadari: nikmat-Mu begitu banyak, tapi aku terlalu sibuk menghitung kekurangan.

Ia menyeka air matanya, tersenyum dalam gelap.

Ajari aku untuk bersyukur, ya Rabb. Bukan hanya saat senang, tapi juga saat susah. Bukan hanya saat berlimpah, tapi juga saat kekurangan. Karena aku tahu, syukur itu bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita melihat apa yang sudah diberikan.

***

Di dalam rumah, ibunya sudah tidur. Napasnya teratur, damai. Wajahnya tenang, seperti orang yang tidak punya beban—meski Abdul Wira tahu, ia punya banyak. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya bersyukur, terus bersyukur, meski dunia tidak selalu adil padanya.

Abdul Wira berdiri di pintu kamar, menatap ibunya dalam gelap. Lalu ia berbisik, sangat pelan:

"Terima kasih, Bu. Untuk mengajariku syukur."

Ia menutup pintu perlahan, kembali ke beranda. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma tanah dan bunga melati. Di langit, bulan sabit bersinar tipis—tidak penuh, tidak terang, tapi cukup untuk memberi cahaya.

Dan Abdul Wira memahami: syukur itu seperti bulan sabit. Tidak harus penuh untuk bersinar. Tidak harus sempurna untuk indah. Cukup dengan apa yang ada, dan menerimanya dengan hati yang lapang.

Alḥamdu lillāhi rabbil 'ālamīn.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Bukan hanya saat kita punya banyak. Bukan hanya saat kita bahagia. Tetapi setiap saat—dalam suka dan duka, dalam kaya dan miskin, dalam sehat dan sakit. Karena hidup itu sendiri sudah nikmat. Napas itu sendiri sudah anugerah. Dan kesempatan untuk bersyukur—itu adalah nikmat yang paling besar.

Karena orang yang bersyukur tidak akan pernah merasa kekurangan, meski tidak punya banyak. Dan orang yang tidak bersyukur tidak akan pernah merasa cukup, meski punya segalanya.

Syukur membuka mata hati untuk melihat yang tidak terlihat: kasih dalam kesederhanaan, berkah dalam kekurangan, dan cinta dalam setiap detik yang kita hirup—gratis, tanpa diminta, tanpa batas.

***

"Syukur mengubah yang sedikit menjadi cukup, dan yang cukup menjadi berlimpah—bukan karena bertambah, tetapi karena hati yang melihat dengan jernih."

📚 Daftar Chapter