BAB 7
Rabb
"Tuhan bukan raja yang menunggu kesalahan untuk menghukum, tetapi Rabb yang mengasuh—bahkan saat kita jatuh."
***
Abdul Wira tidak pernah melupakan hari ketika ia kehilangan jalan pulang.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya! klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Usianya baru tujuh tahun, baru pertama kali diajak ibunya ke pasar kota—pasar yang ramai, penuh suara, penuh warna, penuh orang asing. Ibunya memegang tangannya erat, tapi entah kapan, di tengah kerumunan, tangan itu terlepas.
Abdul Wira kecil berhenti, menoleh ke kiri dan kanan. Ibunya tidak ada. Hanya ada kaki-kaki orang dewasa yang berlalu lalang, hanya ada suara-suara yang tidak ia kenal.
Ia mulai panik. Berlari ke sana kemari, memanggil, "Ibu! Ibu!" Tapi suaranya tenggelam dalam hiruk-pikuk pasar. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang peduli.
Ia akhirnya duduk di sudut gang, memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Takut, sendirian, hilang.
Tapi tidak lama kemudian, ibunya datang—berlari, napasnya tersengal, wajahnya pucat. Ia memeluk Abdul Wira erat, sangat erat, seperti takut kehilangan lagi.
"Ibu kira kamu hilang, Nak," bisik ibunya, suaranya bergetar. "Ibu kira Ibu kehilangan kamu."
Abdul Wira kecil tidak menjawab. Ia hanya menangis di pelukan ibunya—pelukan yang hangat, yang aman, yang membuat dunia yang tadi begitu besar dan menakutkan tiba-tiba terasa kecil dan terkendali lagi.
"Jangan lepas tangan Ibu lagi, ya," kata ibunya sambil mengusap air mata anaknya. "Ibu akan selalu jaga kamu. Ibu tidak akan biarkan kamu sendirian."
Dan sejak hari itu, Abdul Wira memahami satu hal: ada tangan yang selalu mencari, meski ia yang terlebih dulu melepaskan.
***
Kini, bertahun-tahun kemudian, Abdul Wira duduk di beranda rumah, menatap sawah yang mulai menghijau setelah musim kering yang panjang. Usianya sudah lima belas tahun, tubuhnya sudah lebih tinggi dari ibunya, tapi ada kalanya ia masih merasa seperti anak kecil yang tersesat—bukan di pasar, tetapi di dalam pikirannya sendiri.
Di sekolah, guru Belanda mengajarkan tentang Tuhan sebagai Hakim Agung—Yang Maha Adil, Yang menghukum dosa, Yang menuntut kesempurnaan. Tuhan digambarkan sebagai raja yang duduk di singgasana, menunggu kesalahan manusia untuk dicatat dan dihukum.
Tapi di rumah, ibunya selalu bicara tentang Tuhan dengan cara yang berbeda. Ia menyebut-Nya Rabb—bukan hanya Tuhan, tetapi Pengasuh. Yang memelihara, yang merawat, yang menjaga—bahkan saat kita salah, bahkan saat kita lupa.
Abdul Wira bingung. Mana yang benar?
"Bu," panggilnya pelan.
Ibu Wira sedang menyapu halaman, berhenti sejenak dan menoleh. "Ada apa, Nak?"
"Tuhan itu seperti apa, Bu?"
Ibu Wira terdiam, lalu tersenyum—senyum yang dalam, yang penuh makna. Ia meletakkan sapu, duduk di samping Abdul Wira.
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
"Di sekolah, guru bilang Tuhan itu Hakim yang menghukum dosa. Tapi Ibu selalu bilang Tuhan itu Rabb yang mengasuh. Aku bingung, Bu. Mana yang benar?"
Ibu Wira menatap langit yang mulai berawan, menarik napas panjang. "Keduanya benar, Nak. Tapi kalau kita hanya melihat Tuhan sebagai Hakim, kita akan hidup dalam ketakutan. Kita akan shalat karena takut dihukum, bukan karena ingin dekat dengan-Nya. Kita akan berbuat baik karena takut neraka, bukan karena cinta pada-Nya."
Ia menoleh, menatap Abdul Wira dengan mata yang jernih. "Tapi kalau kita melihat Tuhan sebagai Rabb—sebagai Yang Mengasuh—kita akan hidup dalam kasih. Kita akan tahu bahwa Dia tidak menunggu kita jatuh untuk menghukum, tetapi menunggu kita kembali untuk memaafkan."
Abdul Wira terdiam, mencerna kata-kata ibunya.
"Kau ingat saat kau tersesat di pasar dulu?" tanya ibunya.
Abdul Wira mengangguk.
"Saat itu, Ibu tidak marah padamu karena lepas dari tangan Ibu. Ibu hanya ingin menemukan kamu, memeluk kamu, membawa kamu pulang. Begitu juga Tuhan, Nak. Dia tidak menunggu kita salah untuk menghukum. Dia menunggu kita tersesat untuk mencari, menunggu kita jatuh untuk mengangkat, menunggu kita pulang untuk menyambut."
***
Sore itu, Abdul Wira pergi ke surau untuk shalat ashar. Di sana, ia bertemu Kyai Hasan Basri yang sedang duduk sendirian, membaca Al-Qur'an dengan suara pelan.
"Assalamu'alaikum, Kyai," sapa Abdul Wira.
Kyai Hasan mengangkat kepala, tersenyum. "Wa'alaikumussalam, Wira. Duduk, Nak."
Abdul Wira duduk bersimpuh di hadapan kyai, ada pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Kyai, boleh aku bertanya?"
"Silakan, Nak."
"Kenapa kita menyebut Tuhan sebagai Rabb, bukan hanya Ilah?"
Kyai Hasan menutup mushaf dengan lembut, menatap Abdul Wira dengan mata yang bijak. "Pertanyaan yang bagus, Nak. Ilah itu artinya Tuhan—Yang disembah. Tapi Rabb itu lebih dari itu. Rabb adalah Yang Mengasuh, Yang Memelihara, Yang Mendidik."
Kyai Hasan berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. "Bayangkan seorang anak yang belajar berjalan. Ia jatuh berkali-kali. Apakah ayahnya menghukum dia karena jatuh? Tidak. Ayahnya mengangkat dia, memegang tangannya, memberinya kesempatan untuk mencoba lagi. Begitu juga Rabb. Dia tidak menghukum kita setiap kali kita jatuh. Dia mengangkat kita, mengajari kita, memberi kita kesempatan untuk bangkit."
Abdul Wira merasakan dadanya hangat. Kata-kata kyai sama dengan kata-kata ibunya—dan entah kenapa, itu terasa benar, lebih benar dari semua yang diajarkan di sekolah.
"Tapi Kyai," kata Abdul Wira ragu, "kalau Tuhan selalu mengampuni, kenapa kita harus takut berbuat dosa?"
Kyai Hasan tersenyum, senyum yang penuh kelembutan. "Bukan takut dihukum, Nak. Tapi takut menyakiti Yang Mengasuh kita. Seperti anak yang takut menyakiti hati ayahnya—bukan karena takut dipukul, tapi karena sayang. Karena tahu, ayahnya sudah banyak berbuat baik padanya."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dalam-dalam. "Itulah bedanya antara hubungan hukum dan hubungan kasih. Hukum membuat kita patuh karena takut. Tapi kasih membuat kita patuh karena cinta."
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia terbaring di tikar, menatap langit-langit bambu, memikirkan semua yang dikatakan ibunya dan Kyai Hasan.
Rabb. Yang Mengasuh.
Ia teringat semua kali ia jatuh dalam hidup—saat ia berbohong, saat ia malas shalat, saat ia iri pada teman, saat ia lupa bersyukur. Dan setiap kali, ia takut dihukum. Takut Tuhan marah. Takut langit akan jatuh menimpa kepalanya.
Tapi tidak pernah terjadi. Matahari tetap terbit. Hujan tetap turun. Hatinya tetap berdetak. Tuhan tidak meninggalkannya—bahkan saat ia yang meninggalkan Tuhan.
Abdul Wira menutup mata, merasakan air mata mengalir pelan.
Ya Rabb...
Untuk pertama kalinya, ia memanggil Tuhan bukan dengan kata "Ya Allah" atau "Ya Tuhan", tetapi dengan "Ya Rabb"—Ya Pengasuhku, Ya yang Merawatku, Ya yang Menjagaku.
Ya Rabb, aku baru menyadari—selama ini aku takut pada-Mu dengan cara yang salah. Aku takut Engkau menghukum, padahal Engkau sedang mengasuh. Aku takut Engkau marah, padahal Engkau sedang menunggu aku pulang.
Ia menarik napas dalam, merasakan dadanya penuh.
Maafkan aku yang sering lupa. Maafkan aku yang sering jatuh. Tapi terima kasih—terima kasih karena Engkau tidak pernah berhenti mencari aku, bahkan saat aku yang lepas dari tangan-Mu.
***
Pagi harinya, Abdul Wira bangun lebih awal. Ia shalat subuh dengan perasaan yang berbeda—bukan karena takut dihukum, tetapi karena ingin bertemu. Ingin berbicara. Ingin mengucap syukur pada Yang selama ini mengasuhnya tanpa ia sadari.
Setelah shalat, ia duduk tafakur lebih lama dari biasanya. Menatap sajadah, merasakan kedamaian yang aneh—kedamaian yang datang bukan dari kepastian bahwa ia sudah sempurna, tetapi dari keyakinan bahwa ia tidak sendirian.
Ibu Wira keluar dari kamar, menemukan Abdul Wira masih duduk di sajadah.
"Sudah shalat?" tanya ibunya lembut.
Abdul Wira mengangguk, tersenyum. "Sudah, Bu."
Ibu Wira duduk di sampingnya, tidak bicara—hanya menemani dalam sunyi. Dan di sunyi itu, Abdul Wira merasakan sesuatu: kehadiran. Bukan hanya kehadiran ibunya, tetapi kehadiran Yang Lain—Yang tidak terlihat, tapi lebih nyata dari apapun.
"Bu," kata Abdul Wira pelan, "terima kasih sudah mengajariku tentang Rabb."
Ibu Wira tersenyum, mengusap kepala anaknya. "Ibu tidak mengajari apa-apa, Nak. Ibu hanya mencontohkan. Karena cara terbaik memahami Rabb adalah dengan merasakan kasih-Nya—lewat orang-orang yang Dia kirimkan untuk menjaga kita."
***
Hari berganti hari, dan Abdul Wira mulai melihat dunia dengan mata yang berbeda. Ia mulai melihat kasih Tuhan bukan hanya dalam doa atau ibadah, tetapi dalam hal-hal kecil: matahari yang terbit tepat waktu, air yang mengalir dari sumur, nasi yang cukup untuk makan, ibu yang selalu menunggu di rumah.
Semua itu adalah pengasuhan—bukan hukuman. Semua itu adalah kasih—bukan murka.
Dan ia mulai memahami: Tuhan memang Maha Adil, tapi keadilan-Nya tidak seperti keadilan manusia yang kaku dan dingin. Keadilan Tuhan adalah keadilan yang penuh kasih—keadilan yang tetap memberi kesempatan, yang tetap menunggu, yang tetap mengampuni.
Rabbil 'ÄlamÄ«n. Tuhan semesta alam.
Bukan hanya Tuhan yang menciptakan, tetapi Tuhan yang mengasuh—setiap detik, setiap napas, setiap langkah. Mengasuh dengan sabar, dengan lembut, dengan kasih yang tidak pernah habis.
Karena jika Tuhan hanya menghukum tanpa mengasuh, tidak akan ada yang tersisa. Tapi karena Dia adalah Rabb, maka kita semua—meski jatuh berkali-kali—masih diberi kesempatan untuk bangkit, untuk belajar, untuk pulang.
Dan mungkin, itulah kenapa kita menyebut-Nya Rabb sebelum menyebut sifat-sifat-Nya yang lain: karena sebelum kita tahu Dia Maha Adil, kita harus tahu Dia Maha Mengasuh. Sebelum kita takut pada hukuman-Nya, kita harus merasakan kasih-Nya.
Karena cinta yang dibangun di atas kasih akan lebih kuat daripada ketaatan yang dibangun di atas ketakutan. Dan hubungan yang dibangun di atas pengasuhan akan lebih dalam daripada hubungan yang dibangun di atas hukuman.
***
"Tuhan tidak menunggu kita sempurna untuk mencintai. Dia mencintai dulu—dengan harapan, kita akan belajar mencintai kembali."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar