BAB 5
Anak Doa
"Kita bukan hanya anak dari darah dan daging, tetapi juga anak dari doa-doa yang dilantunkan sebelum kita mengerti artinya."
Yang ia ingat adalah tangan ibunya yang lembut, menggenggam tangannya yang masih kecil, mengajarkan cara meletakkan telapak tangan di dada saat berdiri. Suara ibunya yang pelan, mengajarkan bacaan yang belum ia mengerti artinya—hanya bunyi, hanya irama, seperti lagu yang dinyanyikan berulang-ulang sampai menjadi bagian dari napas.
"Ulangi, Nak: Alḥamdu lillāhi rabbil 'ālamīn..."
Abdul Wira kecil mengikuti, terbata-bata, lidahnya belum terbiasa dengan huruf-huruf asing itu. Tapi ibunya tidak pernah marah. Ia hanya tersenyum, mengulang lagi, dan lagi, dengan sabar yang tidak pernah habis.
"Tidak apa-apa kalau belum lancar, Nak," kata ibunya suatu malam, setelah mereka selesai shalat maghrib bersama. "Yang penting, hatimu hadir. Bacaan bisa diperbaiki, tapi kehadiran hati—itu yang paling berharga."
Abdul Wira kecil tidak mengerti waktu itu. Baginya, shalat hanya kewajiban—seperti makan, seperti tidur. Sesuatu yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang ingin dilakukan.
Tapi ibunya tidak pernah berhenti. Setiap subuh, ia membangunkan Abdul Wira dengan lembut, mengajaknya berwudu di sumur belakang rumah, lalu berdiri bersama di sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun menemani mereka.
Dan perlahan, tanpa Abdul Wira sadari, doa-doa itu meresap—bukan hanya di hafalan, tetapi di hati. Bukan hanya di bibir, tetapi di jiwa.
***
Suatu pagi, ketika Abdul Wira berusia dua belas tahun, ia terbangun lebih awal dari biasanya. Ibunya belum memanggilnya, tapi ia sudah bangun sendiri—entah kenapa. Ia keluar dari kamar, menemukan ibunya sedang shalat di beranda, menghadap kiblat yang ditandai dengan tali yang digantung di dinding.
Abdul Wira berdiri di ambang pintu, hanya menatap.
Ibunya sedang sujud. Sangat lama. Punggungnya naik turun perlahan, seperti orang yang sedang menangis tanpa suara. Abdul Wira tidak tahu apa yang ibunya doakan, tapi ia bisa merasakan sesuatu—sesuatu yang berat, yang dalam, yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Ketika ibunya selesai shalat, ia tidak langsung berdiri. Ia duduk tafakur, menatap sajadah, tangannya memegang tasbih yang sudah lusuh. Bibirnya bergerak pelan, mendoakan sesuatu—atau seseorang.
Abdul Wira melangkah pelan, duduk di samping ibunya tanpa bicara.
Ibu Wira menoleh, sedikit terkejut. "Sudah bangun, Nak? Subuh belum, lho."
"Aku bangun sendiri, Bu," jawab Abdul Wira pelan. "Tadi Ibu sujud lama sekali. Ada apa?"
Ibu Wira tersenyum tipis, tatapannya jauh. "Ibu sedang mendoakan ayahmu, Nak."
Abdul Wira terdiam. Ayahnya sudah meninggal tiga tahun lalu, tenggelam di laut saat melaut mencari ikan. Jasadnya tidak pernah ditemukan. Yang tersisa hanya kenangan, dan doa.
"Kenapa masih didoakan, Bu? Bukankah Ayah sudah... sudah tidak ada?"
Ibu Wira menatap anaknya, matanya berkaca-kaca tapi tidak menangis. "Justru karena sudah tidak ada, Ibu harus lebih banyak mendoakan. Kita yang hidup masih bisa beramal. Tapi mereka yang sudah pergi? Yang bisa membantu mereka hanya doa kita."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak. Ia tidak pernah berpikir seperti itu.
"Ibu juga mendoakan kamu, Nak," lanjut ibunya, menggenggam tangan Abdul Wira. "Setiap shalat, setiap sujud, Ibu selalu sebut namamu. Memohon agar kamu dilindungi, diberi ilmu yang bermanfaat, diberi jalan yang lurus. Karena itu yang bisa Ibu lakukan—mendoakan."
Abdul Wira menatap ibunya, merasakan air mata mulai mengalir. "Tapi Bu, aku sering tidak shalat tepat waktu. Aku sering lupa. Aku... aku tidak sebagus doa Ibu."
Ibu Wira tersenyum, mengusap air mata anaknya dengan lembut. "Tidak apa-apa, Nak. Kau masih belajar. Ibu juga dulu seperti kamu—sering lupa, sering malas. Tapi kakekmu tidak pernah berhenti mendoakan Ibu. Dan sekarang, Ibu mendoakan kamu. Begitulah iman diturunkan—dari doa ke doa, dari hati ke hati."
***
Hari itu, Abdul Wira pergi ke sekolah dengan perasaan yang berbeda. Ia memikirkan kata-kata ibunya: Iman diturunkan dari doa ke doa, dari hati ke hati.
Ia mulai memahami: ia bukan hanya anak dari ibu dan ayahnya. Ia juga anak dari doa-doa yang dilantunkan sebelum ia lahir, doa-doa yang terus mengalir meski ia tidak tahu, doa-doa yang menjaganya meski ia sering lupa.
Di kelas, guru Belanda sedang mengajar tentang evolusi—tentang bagaimana manusia berasal dari makhluk yang lebih primitif, tentang bagaimana kehidupan adalah hasil dari proses alamiah, bukan campur tangan Tuhan.
Abdul Wira mendengarkan dengan seksama, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Bukan karena ia menolak ilmu pengetahuan, tetapi karena ia merasa ada yang hilang—ada yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika dan evolusi.
Bagaimana dengan doa ibuku? Apakah itu juga bisa dijelaskan dengan evolusi?
Saat istirahat, Soedarmo mendekat, duduk di sampingnya di bawah pohon asam.
"Kau dengar tadi kan, yang dikatakan guru?" tanya Soedarmo. "Tentang manusia dan evolusi?"
Abdul Wira mengangguk.
"Ayahku juga percaya itu," lanjut Soedarmo, tatapannya kosong. "Ia bilang, agama itu candu. Doa itu hanya sugesti. Tuhan itu cuma dongeng untuk menghibur orang miskin."
Abdul Wira menatap Soedarmo, melihat kepahitan di matanya—kepahitan yang terlalu berat untuk anak seusianya.
"Tapi kau tahu apa yang lucu, Wira?" Soedarmo tersenyum sinis. "Saat ibuku sakit kemarin, ayahku—yang tidak percaya Tuhan itu—diam-diam masuk ke kamar, dan aku dengar dia berbisik: 'Tuhan, tolong selamatkan dia.' Jadi... siapa yang benar? Logika, atau doa?"
Abdul Wira terdiam. Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa dijawab hanya dengan akal—ada yang hanya bisa dirasakan, hanya bisa dipercaya, hanya bisa didoakan.
"Mungkin keduanya benar, Darmo," kata Abdul Wira pelan. "Logika mengajari kita cara kerja dunia. Tapi doa mengajari kita cara hidup di dunia."
Soedarmo menatapnya, bingung. "Apa bedanya?"
"Logika membuat kita tahu. Tapi doa membuat kita percaya—bahwa kita tidak sendirian, bahwa ada Yang Mendengar, bahwa hidup ini bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang berserah."
***
Sore itu, Abdul Wira pulang lebih cepat. Ia ingin shalat ashar bersama ibunya—sesuatu yang jarang ia lakukan karena biasanya ia masih di sekolah.
Ketika sampai di rumah, ibunya sedang duduk di beranda, menjahit baju tua. Wajahnya lelah, tapi matanya tetap tenang.
"Pulang cepat hari ini?" tanya ibunya, sedikit heran.
"Iya, Bu. Aku mau shalat ashar bareng Ibu."
Ibu Wira berhenti menjahit, menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Lalu ia tersenyum—senyum yang penuh, yang utuh, yang tidak butuh kata-kata.
Mereka berwudu bersama, lalu berdiri bersama di sajadah yang sama. Ibunya jadi imam, Abdul Wira makmum di belakangnya. Saat sujud, Abdul Wira merasakan sesuatu yang aneh—seolah ia tidak sendirian di sajadah itu. Seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang ikut mendoakan, suara-suara sunyi yang ikut memohon.
Kakeknya yang tidak pernah ia kenal. Ayahnya yang sudah tiada. Ibunya yang masih ada di hadapannya. Semua doa mereka berkumpul di satu tempat—di sajadah lusuh itu, di sujud yang panjang itu, di hati yang mulai terbuka itu.
Setelah shalat selesai, ibunya tidak langsung berdiri. Ia duduk tafakur, lalu berkata pelan tanpa menoleh, "Nak, kau tahu kenapa Ibu selalu mendoakan kamu?"
Abdul Wira tidak menjawab, hanya mendengarkan.
"Karena Ibu tahu, suatu hari nanti Ibu tidak akan ada. Tapi doa Ibu akan tetap ada—di hatimu, di langkahmu, di setiap pilihan yang kau buat. Doa itu warisan yang tidak bisa dicuri, tidak bisa hilang, tidak bisa rusak."
Ibu Wira menoleh, menatap anaknya dengan mata yang penuh kasih. "Jadi, Nak, jika nanti kau punya anak, jangan lupa didik mereka dengan doa. Karena anak yang tumbuh dari doa akan punya akar yang kuat—meski angin keras menerpa, ia tidak akan mudah tumbang."
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia terbaring di tikar, menatap langit-langit bambu yang retak, memikirkan semua yang ibunya katakan.
Anak doa.
Ia tidak pernah merasa istimewa. Ia tidak pernah merasa hebat. Tapi malam itu, ia merasa kaya—kaya dengan doa yang tidak terlihat, kaya dengan kasih yang tidak terukur, kaya dengan iman yang diwariskan dari hati ke hati.
Ia menutup mata, membisikkan doa dalam sunyi:
Ya Allah, aku tidak tahu berapa banyak doa yang sudah dipanjatkan untukku. Doa kakek yang tidak kukenal. Doa ayah yang sudah tiada. Doa ibu yang selalu hadir. Semua doa itu menjagaku, meski aku tidak sadar. Semua doa itu menuntunku, meski aku sering tersesat.
Ia menarik napas dalam, merasakan dadanya penuh dengan syukur.
Ajari aku untuk menjadi seperti mereka, ya Allah. Menjadi orang yang mendoakan, bukan hanya didoakan. Menjadi orang yang mewariskan iman, bukan hanya mewarisi. Karena aku tahu, suatu hari nanti aku juga akan pergi—dan yang tertinggal hanya doa yang kupanjatkan, dan jejak yang kutinggalkan.
***
Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah dan bunga kamboja. Bulan purnama bersinar terang, menerangi kampung yang sunyi. Dan di dalam rumah, dua sajadah tergantung di dinding—sajadah ibu dan sajadah anak, berdampingan, menyimpan doa-doa yang tidak pernah selesai.
Abdul Wira membuka mata, menatap sajadahnya yang tergantung di sana. Lusuh, tua, penuh noda. Tapi baginya, itu adalah harta paling berharga—karena di atas sajadah itu, ia belajar berdiri di hadapan Tuhan. Di atas sajadah itu, ia belajar sujud dengan rendah hati. Di atas sajadah itu, ia belajar menjadi anak doa.
Dan mungkin, itulah warisan terbesar yang bisa diberikan seorang ibu: bukan harta, bukan tahta, tetapi doa—doa yang terus mengalir, yang terus menjaga, yang terus menuntun, bahkan setelah suara yang melantunkannya sudah sunyi.
Karena anak yang tumbuh dari doa tidak akan pernah sendirian. Ia akan selalu punya rumah untuk pulang—bukan rumah dari batu dan kayu, tetapi rumah dari doa dan kasih yang tidak pernah runtuh, tidak pernah terbakar, tidak pernah hilang.
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Dengan nama Allah, kami memulai. Dengan doa, kami menanamkan iman. Dan dengan kasih yang menetap, kami mewariskan jalan—dari hati ke hati, dari doa ke doa, dari generasi ke generasi.
***
"Anak yang tumbuh dari doa tidak akan mudah roboh, karena akarnya bukan di tanah, tetapi di langit."
Komentar
Posting Komentar