BAB 4

Permulaan


"Setiap kesalahan pertama adalah ujian: apakah kita akan tenggelam dalam rasa bersalah, atau bangkit dengan ampunan?"



Abdul Wira tidak pernah melupakan hari itu.

Hari ketika ia pertama kali berbohong kepada ibunya.

Ia baru berusia sepuluh tahun, duduk di kelas tiga sekolah gubernemen. Gurunya—seorang Belanda berambut pirang dan mata biru—memberikan tugas menulis surat dalam bahasa Melayu. Abdul Wira menulis dengan serius, mengeja setiap kata dengan hati-hati. Tapi saat dikumpulkan, gurunya merobek kertasnya di depan kelas.

"Ini bukan cara menulis yang benar!" bentak guru itu. "Tulisanmu seperti cacing! Ulangi sampai rapi!"

Tawa meledak di kelas. Abdul Wira menunduk, wajahnya panas. Malu seperti api yang membakar dari dalam.

Pulang ke rumah, ibunya bertanya seperti biasa, "Bagaimana sekolah hari ini, Nak?"

Abdul Wira tersenyum—senyum yang dipaksakan. "Baik, Bu. Guru memuji tulisanku."

Ibu Wira tersenyum lega, mengusap kepala anaknya. "Syukurlah. Ibu bangga padamu."

Dan di situlah kebohongan pertama itu bersarang. Kecil, tidak berbahaya, tapi cukup untuk membuat Abdul Wira tidak bisa tidur malam itu. Ia terbaring di tikar, menatap langit-langit bambu, merasakan dada sesak oleh rasa bersalah yang tidak ia mengerti.

Kenapa aku bohong? Kenapa aku tidak bilang yang sebenarnya?

Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, ia takut mengecewakan ibunya. Takut terlihat lemah. Takut dianggap gagal.

Tapi kebohongan itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Justru sebaliknya—ia merasa lebih buruk, lebih kotor, seolah ada noda yang tidak bisa dihapus.

***

Esok paginya, Abdul Wira bangun lebih awal. Ia duduk di beranda, menatap fajar yang perlahan merekah. Udara dingin, embun masih membasahi tanah. Dari dalam rumah, terdengar suara ibunya yang sedang shalat subuh—suara bisikan doa yang lembut, penuh khusyuk.

Abdul Wira mendengarkan tanpa sengaja. Ia mendengar ibunya menyebut namanya dalam doa, memohon agar anaknya dilindungi, diberi kemudahan, diberi jalan yang lurus.

Dan di situlah, untuk pertama kalinya, Abdul Wira merasakan sesuatu yang lebih berat dari rasa bersalah: rasa tidak layak.

Ibu mendoakan aku, tapi aku membohonginya.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan, menahan air mata yang tiba-tiba mengalir. Ia tidak tahu kenapa menangis—hanya tahu bahwa ada sesuatu yang patah di dalam dadanya.

Setelah shalat, ibunya keluar ke beranda, menemukan Abdul Wira masih duduk di sana, wajahnya basah.

"Kenapa menangis, Nak?" tanya ibunya lembut, duduk di sampingnya.

Abdul Wira tidak menjawab. Ia hanya menunduk, tangannya gemetar.

Ibu Wira tidak mendesak. Ia hanya duduk di sana, memberikan kehadiran—hangat, sabar, seperti matahari yang tidak terburu-buru menyinari bumi.

Setelah lama terdiam, Abdul Wira akhirnya berbicara, suaranya serak. "Bu, aku bohong kemarin."

Ibu Wira tidak terkejut. Ia hanya menatap anaknya dengan tenang.

"Guru tidak memuji tulisanku," lanjut Abdul Wira, suaranya bergetar. "Dia merobek kertasku. Dia bilang tulisanku jelek. Tapi aku bilang ke Ibu, guru memuji aku. Aku bohong, Bu. Aku... aku jahat."

Air mata kembali mengalir, kali ini tidak tertahan. Abdul Wira menangis seperti anak kecil yang kehilangan jalan pulang.

Ibu Wira memeluknya perlahan, menarik kepala anaknya ke dadanya. Ia tidak bicara, hanya memeluk—pelukan yang hangat, yang memaafkan tanpa kata.

Setelah tangis Abdul Wira reda, ibunya berkata pelan, "Kau tahu, Nak, kenapa setiap kali kita mulai sesuatu, kita ucapkan bismillah?"

Abdul Wira menggeleng di pelukan ibunya.

"Karena bismillah itu bukan hanya permulaan yang baik. Ia juga pengakuan bahwa kita akan salah—dan saat kita salah, kita butuh ampunan-Nya untuk mulai lagi."

Ibu Wira melepaskan pelukan, menatap mata anaknya yang sembab. "Kesalahan pertama itu berat, Nak. Karena kita belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh. Tapi Tuhan tidak membiarkan kita tenggelam dalam rasa bersalah. Ia memberi ampunan, bukan untuk membuat kita lupa kesalahan kita, tapi untuk memberi kita kekuatan memulai lagi—kali ini, dengan lebih baik."

Abdul Wira menatap ibunya, matanya penuh pertanyaan. "Tapi Bu, aku sudah bohong. Bagaimana bisa dimulai lagi?"

Ibu Wira tersenyum, senyum yang penuh kelembutan. "Dengan mengakui kesalahan. Dengan meminta maaf. Dan dengan bismillah yang baru—permulaan yang lebih jujur."

***

Hari itu, Abdul Wira kembali ke sekolah dengan hati yang lebih ringan—bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena ia sudah mengakui kesalahannya. Ia tahu ia harus memperbaiki tulisannya. Ia tahu ia harus belajar lebih keras. Tapi kali ini, ia tidak mulai dengan rasa takut atau malu. Ia mulai dengan bismillah—dengan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan, dengan menerima bahwa ia mungkin gagal lagi, tapi itu tidak membuat ia berhenti mencoba.

Di kelas, guru Belanda memberikan tugas yang sama: menulis surat. Abdul Wira menulis perlahan, lebih hati-hati, lebih telaten. Tangannya masih gemetar, tapi kali ini bukan karena takut—karena ia ingat kata-kata ibunya: permulaan yang lebih jujur.

Saat dikumpulkan, guru itu membaca tulisan Abdul Wira dengan wajah datar. Lalu ia menatap Abdul Wira, dan untuk pertama kalinya, tidak ada kemarahan di matanya. Hanya sebuah anggukan kecil—sangat kecil, hampir tidak terlihat. Tapi cukup.

Cukup untuk membuat Abdul Wira tahu: ia sudah memulai dengan benar.

***

Sore harinya, Abdul Wira pulang melewati jalan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Ia berhenti sejenak di tepi sawah, menatap petani yang sedang menanam padi. Mereka membungkuk di lumpur, memasukkan bibit satu per satu—perlahan, sabar, penuh harap.

Abdul Wira teringat sesuatu yang pernah dikatakan Kyai Hasan di majelis: "Menanam padi itu seperti memulai hidup. Kau bisa saja salah menanam—terlalu dalam, terlalu dangkal. Tapi tanah itu pengampun. Ia tetap memberi kesempatan untuk tumbuh, selama kau mau memperbaiki."

Ia tersenyum kecil. Mungkin hidup memang seperti itu. Penuh kesalahan pertama yang menakutkan. Tapi juga penuh kesempatan untuk memulai lagi—dengan lebih baik, dengan lebih jujur, dengan bismillah yang baru.

Ketika sampai di rumah, ibunya sudah menyiapkan makan malam. Nasi hangat, sayur sederhana, ikan asin. Tidak mewah, tapi cukup. Lebih dari cukup.

Abdul Wira duduk di hadapan ibunya, menatapnya dengan mata yang jernih. "Bu, terima kasih."

Ibu Wira menoleh, sedikit bingung. "Terima kasih untuk apa, Nak?"

"Untuk tidak marah. Untuk tidak menghukum. Untuk... untuk memberi aku kesempatan mulai lagi."

Ibu Wira tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Ibu tidak bisa marah pada anak yang mau jujur, Nak. Kesalahan itu manusiawi. Tapi pengakuan kesalahan? Itu butuh keberanian. Dan keberanian itu yang Ibu banggakan."

Malam itu, setelah makan, Abdul Wira duduk sendirian di beranda. Langit gelap, tapi bintang-bintang bersinar terang. Ia menatap langit, memikirkan hari yang baru saja dilaluinya—hari yang dimulai dengan rasa bersalah, tapi diakhiri dengan ampunan.

Ia teringat kata-kata ibunya: Bismillah itu bukan hanya permulaan yang baik, tapi juga pengakuan bahwa kita butuh ampunan untuk mulai lagi.

Dan untuk pertama kalinya, Abdul Wira memahami: ampunan bukan hanya tentang dosa yang dihapus. Ampunan adalah tentang kesempatan untuk memulai lagi—dengan hati yang lebih bersih, dengan niat yang lebih jujur, dengan harapan yang lebih kuat.

Ia menutup mata, membisikkan doa dalam sunyi:

Ya Allah, aku tidak tahu berapa kali aku akan salah dalam hidup ini. Berapa kali aku akan bohong, gagal, jatuh. Tapi aku mohon, jangan biarkan kesalahan pertama itu menjadi yang terakhir—karena aku menyerah, karena aku merasa tidak layak, karena aku tenggelam dalam rasa bersalah.

Ia menarik napas dalam, membuka mata menatap bintang.

Beri aku keberanian untuk mengakui kesalahan. Beri aku kekuatan untuk meminta maaf. Dan beri aku kesempatan untuk mulai lagi—dengan bismillah yang baru, yang lebih tulus, yang lebih jujur.

***

Di dalam rumah, ibunya sudah tidur. Napasnya teratur, tenang. Wajahnya damai, seperti orang yang tidak punya beban—meski Abdul Wira tahu, ia punya banyak. Tapi ia tidak menyimpan dendam. Ia tidak menyimpan kemarahan. Ia hanya menyimpan doa—untuk anaknya, untuk keluarganya, untuk semua orang yang ia cintai.

Abdul Wira berdiri di pintu kamar, menatap ibunya dalam gelap. Lalu ia berbisik, sangat pelan:

"Aku akan mulai lagi, Bu. Kali ini, dengan lebih baik."

Ia menutup pintu perlahan, kembali ke beranda. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma tanah dan rumput basah. Di langit, bulan sabit muncul dari balik awan—kecil, tapi cukup untuk memberi cahaya.

Dan Abdul Wira memahami: hidup ini penuh dengan permulaan. Setiap pagi adalah permulaan baru. Setiap napas adalah kesempatan baru. Setiap kesalahan adalah undangan untuk memulai lagi—bukan dengan rasa malu yang melumpuhkan, tapi dengan ampunan yang membebaskan.

Bismillāh.

Bukan hanya kata pembuka. Tetapi harapan—bahwa meski kita pernah salah, kita masih bisa mulai lagi. Meski kita pernah jatuh, kita masih bisa bangkit. Meski kita pernah bohong, kita masih bisa jujur.

Karena Tuhan yang kita mulai dengan nama-Nya adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Ia tidak menunggu kita sempurna untuk memberi kesempatan. Ia memberi kesempatan justru agar kita bisa menjadi lebih baik dari yang kemarin.

Dan mungkin, itulah kenapa setiap surat di Al-Qur'an—kecuali satu—dimulai dengan bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Bukan untuk mengingatkan kita bahwa kita harus sempurna dari awal, tetapi untuk mengingatkan kita bahwa kita boleh salah—selama kita mau mulai lagi, dengan nama-Nya, dengan rahmat-Nya, dengan kasih-Nya yang tidak pernah habis.

***

"Kesalahan pertama adalah awal dari pembelajaran. Ampunan adalah jembatan untuk permulaan yang lebih baik."

📚 Daftar Chapter