BAB 3
Rahim
"Ada kasih yang datang sekali lalu pergi. Ada kasih yang menetap, meski dunia berubah."
Abdul Wira duduk di beranda rumah, menatap air yang menggenangi halaman. Sawah di kejauhan sudah seperti danau, pematang tenggelam, padi-padi muda terancam mati sebelum sempat menguning. Petani-petani berlarian dengan karung goni di kepala, mencoba menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Tapi hujan tidak peduli. Ia terus turun, seperti langit yang lupa cara berhenti menangis.
Ibu Wira duduk di sampingnya, tangan sibuk menambal baju tua dengan benang yang hampir putus. Jari-jarinya keriput, bergerak lambat tapi pasti. Setiap tusukan jarum seperti doa—sabar, telaten, tanpa keluh.
"Bu, kenapa hujan bisa begini terus?" tanya Abdul Wira, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada ibunya.
Ibu Wira tidak langsung menjawab. Ia meneruskan jahitannya, lalu berkata pelan, "Hujan itu kasih, Nak. Meski kadang terasa seperti murka."
Abdul Wira menoleh. "Kasih? Tapi sawah bisa rusak, Bu. Orang-orang bisa kehilangan panen."
Ibunya tersenyum tipis, tatapannya tetap pada kain di tangannya. "Iya, bisa. Tapi coba pikir, Nak. Hujan tidak datang karena kita baik atau jahat. Ia turun untuk semua—untuk sawah yang subur, untuk tanah yang kering, untuk yang membutuhkan dan yang tidak. Itu kasih yang tidak pilih-pilih. Kasih yang menetap."
Abdul Wira terdiam. Ia menatap hujan yang terus mengguyur, mencoba memahami kata-kata ibunya.
"Kasih itu ada dua macam, Nak," lanjut ibunya. "Ada yang datang saat kita senang, lalu pergi saat kita susah. Itu kasih yang bergantung pada keadaan. Tapi ada kasih yang tetap ada, meski kita tidak layak, meski kita lupa, meski kita jauh. Itu rahim—kasih yang menetap, seperti rahim ibu yang menjaga anak meski anak itu belum lahir, belum berbuat apa-apa, bahkan belum tahu siapa ibunya."
Ibu Wira berhenti menjahit, menatap Abdul Wira dengan mata yang jernih meski lelah. "Tuhan menamakan diri-Nya Ar-Rahim, Nak. Bukan hanya Ar-Rahman. Rahman itu luas, untuk semua. Tapi Rahim itu dalam, untuk yang dekat dengan-Nya—untuk yang percaya, untuk yang kembali, untuk yang meski jatuh, tetap mencari-Nya."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak. Entah kenapa, kata-kata ibunya terasa seperti sentuhan—lembut, tapi menusuk tepat di tempat yang sakit.
***
Esok harinya, hujan mereda. Langit masih kelabu, tapi sudah tidak menangis. Abdul Wira berjalan ke sekolah melalui jalan tanah yang berlumpur. Sepatu kayunya basah, sarung batiknya berat oleh percikan air. Di sepanjang jalan, ia melihat rumah-rumah yang atapnya bocor, anak-anak yang menangis karena kedinginan, ibu-ibu yang mencoba menyalakan api dengan kayu basah.
Tapi ada yang aneh. Di tengah kesusahan itu, tidak ada yang meratap dengan putus asa. Mereka tetap bekerja, tetap berusaha, seolah percaya bahwa hujan ini akan berhenti, bahwa matahari akan kembali, bahwa kehidupan akan terus berjalan.
Saat sampai di sekolah, Abdul Wira menemukan Soedarmo duduk sendirian di bawah pohon asam, memeluk lututnya. Wajahnya pucat, matanya merah. Abdul Wira mendekat, duduk di sampingnya tanpa bicara.
"Ibuku sakit," kata Soedarmo tiba-tiba, suaranya serak. "Dokter bilang demam tinggi. Obatnya mahal. Ayahku... ayahku sibuk di kantor. Ia bilang, 'Tunggu saja, nanti juga sembuh.'"
Abdul Wira menatap Soedarmo, merasakan luka di balik kata-kata itu.
"Tapi ibuku tidak kuat, Wira," lanjut Soedarmo, suaranya bergetar. "Ia sudah tiga hari tidak bangun dari tempat tidur. Aku... aku takut."
Abdul Wira tidak tahu harus bilang apa. Ia hanya duduk di sana, memberikan kehadiran—karena terkadang, kehadiran lebih berarti daripada kata-kata.
Setelah lama terdiam, Soedarmo berkata pelan, "Kau beruntung, Wira. Ibumu... ibumu selalu ada. Aku lihat cara ia menatapmu, cara ia menjagamu. Itu... itu kasih yang aku tidak punya."
Abdul Wira tersentak. Ia tidak pernah berpikir seperti itu. Baginya, kehadiran ibunya adalah sesuatu yang biasa—seperti udara, seperti matahari. Baru sekarang ia sadar: tidak semua orang punya kasih yang menetap.
"Ibumu pasti sayang padamu, Darmo," kata Abdul Wira pelan.
Soedarmo tersenyum pahit. "Mungkin. Tapi ayahku? Ia hanya sayang saat aku juara kelas, saat aku bawa nama baik keluarga. Kalau aku gagal? Ia bahkan tidak mau melihat wajahku."
Abdul Wira merasakan dadanya mencelos. Ia teringat kata-kata ibunya: kasih yang datang saat senang, lalu pergi saat susah. Itu bukan kasih yang sesungguhnya.
"Ayo pulang sebentar," ajak Abdul Wira. "Temui ibumu. Mungkin dia butuh kau ada di sana."
Soedarmo menatap Abdul Wira, ragu. "Tapi pelajaran—"
"Pelajaran bisa diulang, Darmo. Tapi waktu bersama orang yang kita cintai? Itu tidak bisa diulang."
***
Sore itu, Abdul Wira pulang dengan hati yang berat. Ia terus memikirkan Soedarmo, memikirkan ibunya yang sakit, memikirkan ayahnya yang sibuk. Ia bertanya-tanya: bagaimana rasanya hidup tanpa kasih yang menetap?
Ketika sampai di rumah, ibunya sedang memasak di dapur. Api tungku menyala kecil, asap tipis mengepul dari belanga tanah. Ibunya mengaduk sayur dengan sendok kayu, sambil bergumam doa yang tak terdengar jelas.
Abdul Wira berdiri di ambang pintu, hanya menatap. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat ibunya—bukan hanya sebagai sosok yang selalu ada, tapi sebagai manusia yang lelah, yang sakit, yang tua, namun tetap bertahan, tetap memberi, tetap mencintai.
"Bu," panggil Abdul Wira pelan.
Ibunya menoleh, tersenyum. "Sudah pulang, Nak? Cuci tangan dulu, nanti makan."
Abdul Wira melangkah masuk, berdiri di belakang ibunya. Lalu, tanpa kata, ia memeluknya dari belakang—pelukan yang canggung, pelukan pertama setelah bertahun-tahun.
Ibu Wira terdiam, terkejut. Lalu ia meletakkan sendok kayu, menepuk tangan anaknya dengan lembut. "Ada apa, Nak? Kenapa tiba-tiba?"
"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya... aku hanya ingin bilang terima kasih. Untuk semua. Untuk selalu ada."
Ibu Wira tidak menjawab. Ia hanya berbalik, menatap wajah Abdul Wira dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu ia tersenyum—senyum yang penuh, yang utuh, yang tidak butuh kata-kata.
"Ibu tidak akan ke mana-mana, Nak," bisiknya. "Meski nanti kau pergi jauh, meski nanti kau lupa pulang, kasih Ibu tetap di sini. Seperti rumah yang selalu menyalakan lampu, menunggu anak yang pulang—meski terlambat, meski lupa jalan."
Abdul Wira merasakan air matanya mengalir. Ia tidak malu. Ia tidak peduli. Yang ia rasakan hanya satu hal: syukur yang dalam, untuk kasih yang tidak pernah pergi, untuk pelukan yang selalu terbuka, untuk rumah yang selalu menunggu.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk sendirian di beranda. Langit sudah cerah, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu. Udara dingin, tapi tidak menusuk. Hanya sejuk, seperti pelukan yang lembut.
Ia teringat Soedarmo. Teringat wajahnya yang pucat, matanya yang takut. Ia berdoa dalam hati, memohon agar ibu Soedarmo sembuh, agar Soedarmo menemukan kasih yang menetap—entah dari keluarganya, atau dari Tuhan yang tidak pernah meninggalkan siapa pun.
Lalu ia teringat ibunya sendiri. Perempuan sederhana yang tidak pernah sekolah, yang tidak pernah baca kitab tebal, yang hanya tahu shalat, doa, dan kasih. Namun justru dari dia, Abdul Wira belajar tentang Ar-Rahim—tentang kasih yang tidak bergantung pada prestasi, tidak bergantung pada kesempurnaan, tidak bergantung pada balas jasa.
Kasih yang tetap ada, meski kita jatuh. Kasih yang tetap membuka pintu, meski kita pergi tanpa pamit. Kasih yang tetap menyalakan lampu, meski kita pulang larut malam.
Abdul Wira menutup mata, menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik—bukan untuk ibunya, bukan untuk Soedarmo, tetapi untuk Tuhan yang terus menetap meski manusia terus pergi:
Ya Rahim, berapa kali aku pergi tanpa izin, pulang tanpa minta maaf. Berapa kali aku lupa bersyukur, lupa berdoa, lupa mengingat-Mu. Tapi setiap pagi, Engkau masih beri aku napas. Setiap malam, Engkau masih beri aku tempat kembali. Itu kasih-Mu yang tidak pernah pergi, meski aku sering pergi dari-Mu.
Ia terdiam sejenak, mendengar suara jangkrik di kegelapan.
Ajari aku untuk menjadi seperti-Mu, ya Rahim. Mencintai tanpa syarat. Memaafkan tanpa hitung-hitungan. Tetap ada, meski orang yang aku cintai pergi. Karena aku tahu, kasih yang sesungguhnya bukan yang datang saat senang lalu pergi saat susah. Kasih yang sesungguhnya adalah yang menetap—dalam suka, dalam duka, dalam dekat, dalam jauh.
***
Di dalam rumah, ibunya sudah tidur. Napasnya teratur, tenang. Wajahnya damai, seperti orang yang tidak punya beban di pundak—meski Abdul Wira tahu, ia punya banyak. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya memberi, terus memberi, seperti sumur yang tidak pernah kering meski terus diambil airnya.
Abdul Wira berdiri di pintu kamar, menatap ibunya dalam gelap. Lalu ia berbisik, sangat pelan, hampir tidak terdengar:
"Terima kasih, Bu. Untuk kasih yang tidak pernah pergi."
Ia menutup pintu perlahan, kembali ke beranda. Angin malam bertiup sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja. Di langit, bulan sabit muncul dari balik awan—tipis, tapi cukup untuk memberi cahaya.
Dan Abdul Wira memahami: kasih itu seperti bulan. Kadang penuh, kadang sabit, kadang hilang tertutup awan. Tapi ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali bersinar.
Ar-Rahim. Yang Maha Penyayang. Bukan sekadar sifat Tuhan, tetapi undangan bagi manusia untuk mencintai dengan cara yang sama: menetap, setia, tanpa syarat.
Karena di dunia yang penuh kepergian ini, kita semua butuh kasih yang menetap. Kita semua butuh rumah yang tetap menyalakan lampu, meski kita pulang terlambat. Kita semua butuh pelukan yang tetap terbuka, meski kita pergi tanpa pamit.
Dan Tuhan—melalui ibu, melalui orang-orang yang mencintai kita dengan tulus—mengajarkan kita: kasih yang sesungguhnya tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu, dengan sabar, sampai kita siap pulang.
***
"Kasih yang menetap tidak bertanya, 'Apakah kau layak?' Ia hanya berkata, 'Aku tetap di sini, menunggumu pulang.'"
Komentar
Posting Komentar