BAB 2
Rahman
"Kasih-Nya datang lebih dulu, sebelum kita tahu cara meminta."
Ketika ibunya tahu, ia tidak berteriak. Tidak memukul. Ia hanya duduk di depan Abdul Wira kecil, memegang kedua tangannya, lalu berkata pelan: "Tuhan tidak langsung menghukum, Nak. Tuhan memberi waktu. Memberi kesempatan. Itu kasih-Nya."
Abdul Wira kecil tidak mengerti waktu itu. Yang ia tahu, ibunya memaafkannya. Dan entah kenapa, pengampunan itu terasa lebih berat daripada hukuman.
Kini, bertahun-tahun kemudian, Abdul Wira berdiri di halaman sekolah, menatap seorang anak yang sedang menangis—anak yang baru saja dipukul rotan oleh guru Belanda karena terlambat sepuluh menit. Memar merah di punggung tangannya, air mata mengalir tanpa suara. Guru itu sudah kembali ke ruang kelas, meninggalkan anak itu sendirian di sudut halaman.
Tidak ada yang mendekat. Semua siswa tahu: guru Belanda tidak suka dibantah, tidak suka dikasihani. Hukuman adalah hukuman. Kesalahan adalah kesalahan. Tidak ada ruang untuk ampun.
Abdul Wira melangkah pelan, jongkok di samping anak itu. "Namanya siapa?"
Anak itu mendongak, wajahnya basah. "Ahmad, Kak."
"Kenapa terlambat?"
"Adik sakit. Ibu minta aku carikan air sumur dulu sebelum berangkat."
Abdul Wira terdiam. Ia melihat bekas air mata di pipi Ahmad, melihat tangannya yang gemetar memegang buku. Ia teringat kata-kata ibunya: Tuhan tidak langsung menghukum. Tuhan memberi waktu.
"Kau sudah makan?" tanya Abdul Wira.
Ahmad menggeleng.
Abdul Wira mengeluarkan bungkusan nasi kecil dari tasnya—bekal dari ibunya pagi tadi. Ia memberikannya kepada Ahmad. "Makan dulu. Nanti kau bisa mikir."
Ahmad menatap Abdul Wira, bingung. "Kenapa Kakak baik sama aku? Aku salah. Aku memang pantas dihukum."
Abdul Wira tersenyum tipis. "Mungkin kau salah. Tapi salah bukan berarti kau tidak layak dikasihani."
***
Sore itu, Abdul Wira pulang lebih awal. Ia berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang membelah sawah, melewati pematang yang basah oleh hujan kemarin. Langit mulai berubah jingga, burung-burung terbang rendah mencari sarang. Di kejauhan, terdengar azan ashar dari surau kecil di ujung kampung.
Ia berhenti sejenak, menatap sawah yang menguning. Padi hampir siap dipanen. Petani-petani sudah mulai bersiap, meski mereka tahu sebagian besar hasil akan diambil tuan tanah—orang Belanda yang tak pernah menginjak lumpur, tak pernah membungkuk di bawah matahari.
Adil, kah? Abdul Wira bertanya dalam hati.
Tapi kemudian ia teringat sesuatu. Minggu lalu, ada petani yang gagal panen karena hama. Tuan tanah bisa saja mengusirnya, tapi tidak. Ia memberi waktu satu musim lagi. Bukan karena baik hati, mungkin. Tapi setidaknya, ada jeda. Ada ruang untuk napas.
Kasih, kah?
Abdul Wira tidak tahu. Yang ia tahu, dunia ini penuh kontradiksi. Keadilan dan kezaliman hidup berdampingan. Kasih dan murka bercampur dalam setiap peristiwa. Tapi ada satu hal yang mulai ia pahami: jika Tuhan langsung menghukum setiap kesalahan, tidak akan ada yang tersisa di bumi ini.
Ia melanjutkan langkah, menuju rumah Kyai Hasan Basri—guru ngaji yang juga menjadi tempat ia bertanya saat hati gelisah.
Rumah kyai sederhana. Dinding anyaman bambu, atap daun nipah yang mulai rapuh. Di beranda, Kyai Hasan duduk bersila, membaca Al-Qur'an dengan suara pelan. Matanya sudah rabun, tapi hafalannya utuh. Ia tidak perlu melihat huruf untuk membaca.
"Assalamu'alaikum, Kyai," sapa Abdul Wira dari bawah tangga.
Kyai Hasan mengangkat kepala, tersenyum. "Wa'alaikumussalam, Wira. Naik, Nak. Duduk."
Abdul Wira naik, duduk bersimpuh di hadapan kyai. Ada kehangatan di tempat ini, kehangatan yang tidak ia dapatkan di sekolah gubernemen.
"Ada yang mengganjal, ya?" tanya Kyai Hasan, menutup mushhaf dengan lembut.
Abdul Wira mengangguk. "Kyai, aku tidak paham. Di sekolah, aku diajar bahwa hukuman adalah keadilan. Salah harus dibayar. Tapi di rumah, Ibu selalu bilang Tuhan memberi ampun lebih dulu sebelum memberi hukuman. Mana yang benar, Kyai?"
Kyai Hasan terdiam sejenak, menatap langit sore yang mulai gelap. Lalu ia berkata pelan, "Wira, kau tahu kenapa setiap ayat di Al-Qur'an—kecuali satu surat—dimulai dengan bismillāhir-raḥmānir-raḥīm?"
Abdul Wira menggeleng.
"Karena sebelum Tuhan memerintah, sebelum Tuhan melarang, sebelum Tuhan menghukum, Ia ingin kita tahu siapa Dia: Ar-Rahman. Yang Maha Pengasih. Kasih-Nya mendahului murka-Nya. Ampun-Nya mendahului hukuman-Nya."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dengan mata yang penuh cahaya meski redup. "Manusia, Wira, sering terbalik. Kita mendahulukan murka, baru kasih. Kita mendahulukan hukuman, baru ampun. Padahal Tuhan mengajari kita cara lain: beri kasih dulu, baru—kalau memang harus—beri hukuman."
"Tapi, Kyai," Abdul Wira berkata ragu, "bukankah itu membuat orang jadi semena-mena? Kalau Tuhan selalu memberi ampun, kenapa harus takut berbuat salah?"
Kyai Hasan tersenyum, senyum yang dalam dan penuh makna. "Justru di situ, Nak. Orang yang takut hukuman mungkin tidak berbuat salah karena takut. Tapi orang yang merasakan kasih, dia tidak berbuat salah karena tidak mau mengkhianati kasih itu. Kasih itu mengubah hati, bukan hanya mengekang tangan."
Abdul Wira terdiam. Kata-kata itu meresap perlahan, seperti air hujan yang menyerap ke tanah kering.
"Lihatlah matahari, Wira," Kyai Hasan menunjuk ke langit yang mulai merah. "Setiap pagi ia terbit, menerangi orang baik dan orang jahat. Tidak pilih-pilih. Itu kasih yang mendahului. Matahari tidak bertanya, 'Apakah kau layak mendapat cahayaku?' Ia hanya memberi. Begitu juga Tuhan."
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia berbaring di tikar, menatap langit-langit bambu yang retak. Dalam kepalanya, wajah Ahmad yang menangis terus muncul. Tangannya yang gemetar. Matanya yang ketakutan.
Ia teringat saat ia sendiri pernah berbuat salah—mencuri uang recehan itu. Ibunya tidak menghukumnya. Ibunya hanya memeluknya, lalu berbisik: "Ibu tahu kau bukan anak jahat. Kau hanya lupa."
Kau hanya lupa.
Bukan kau jahat. Bukan kau pantas dihukum. Hanya lupa.
Abdul Wira menutup mata, menarik napas panjang. Dalam dadanya, ada sesuatu yang mencair—sesuatu yang selama ini beku karena terlalu banyak mendengar tentang hukuman, tentang dosa, tentang murka.
Ia mulai memahami: kasih bukan berarti melupakan kesalahan. Kasih adalah cara Tuhan mengingatkan kita bahwa kita masih punya waktu, masih punya kesempatan, masih punya jalan untuk kembali.
Di luar, hujan mulai turun. Rintik-rintik kecil memukul atap nipah, menciptakan irama lembut. Abdul Wira membuka mata, menatap kegelapan, lalu berbisik—bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk dirinya sendiri, atau mungkin untuk Yang Mendengar:
Ya Rahman, aku tidak tahu berapa kali aku salah. Berapa kali aku lupa. Tapi Engkau masih memberi aku pagi. Masih memberi aku napas. Masih memberi aku waktu. Itu kasih-Mu yang aku tidak layak terima, tapi Engkau beri tanpa diminta.
Ia terdiam sejenak, mendengar hujan.
Ajari aku untuk memberi kasih seperti Engkau memberi. Mendahului murka dengan sabar. Mendahului hukuman dengan ampun. Karena aku tahu, jika Engkau menghukum setiap kesalahanku saat itu juga, aku tidak akan ada di sini sekarang.
Hujan semakin deras. Suaranya menenggelamkan segala pikiran, menyisakan hanya satu perasaan: syukur yang dalam, untuk kasih yang tidak pernah terlambat, untuk ampun yang tidak pernah habis.
***
Pagi harinya, Abdul Wira datang ke sekolah lebih awal. Ia mencari Ahmad, menemukannya duduk sendiri di bawah pohon asam, memeluk tas lusuh.
"Ahmad," panggil Abdul Wira.
Ahmad mendongak, matanya masih sembab.
"Ayo, ikut aku."
Mereka berjalan bersama menuju kelas. Di sepanjang jalan, Abdul Wira tidak bicara banyak. Ia hanya berjalan di samping Ahmad, memberikan kehadiran—bukan nasihat, bukan ceramah, hanya kehadiran.
Saat sampai di pintu kelas, Ahmad berhenti. "Kak, aku takut masuk. Guru pasti masih marah."
Abdul Wira menatapnya, lalu tersenyum. "Mungkin. Tapi kau tahu apa? Setiap hari adalah hari baru. Kemarin sudah lewat. Hari ini, kau bisa mulai lagi."
Ahmad menatap Abdul Wira, ada cahaya kecil di matanya—cahaya yang kemarin hampir padam.
"Aku ikut masuk duluan," kata Abdul Wira. "Kalau kau siap, kau menyusul."
Ia masuk ke kelas, meninggalkan Ahmad di luar. Tapi ia tahu, Ahmad akan masuk. Karena kasih yang diberikan—sekecil apa pun—selalu memberi keberanian untuk melangkah lagi.
***
Dalam hidup ini, kita sering terlalu cepat menghukum—orang lain, bahkan diri sendiri. Kita lupa bahwa setiap pagi adalah bukti bahwa Tuhan belum menyerah pada kita. Setiap napas adalah kesempatan baru. Setiap detik adalah undangan untuk kembali, untuk memperbaiki, untuk memulai lagi.
Ar-Rahman. Yang Maha Pengasih. Bukan sekadar sifat Tuhan, tetapi cara Tuhan mengajari kita untuk hidup: mendahulukan kasih, baru—kalau memang harus—murka. Memberi kesempatan, sebelum memberi hukuman. Melihat yang baik dalam diri seseorang, sebelum melihat yang buruk.
Karena jika Tuhan saja memberi kita waktu, siapa kita untuk tidak memberi waktu kepada orang lain? Jika Tuhan saja memberi kita kasih tanpa kita minta, siapa kita untuk menahan kasih dari orang yang membutuhkannya?
Kasih bukan kelemahan. Kasih adalah kekuatan—kekuatan untuk mengubah hati, untuk menyembuhkan luka, untuk memberi harapan di tengah kehancuran.
Dan mungkin, itulah kenapa Tuhan menamakan diri-Nya Ar-Rahman sebelum menamakan diri-Nya Yang Maha Adil. Karena keadilan tanpa kasih adalah kekejaman. Tapi kasih—bahkan saat harus menegakkan keadilan—tetap membuka ruang untuk kembali.
***
"Kasih Tuhan tidak menunggu kita layak. Ia datang lebih dulu, justru agar kita bisa menjadi layak."
Komentar
Posting Komentar