BAB 1
Dengan Nama
"Setiap permulaan adalah niat. Dan setiap niat adalah doa yang belum sempurna diucapkan."
Abdul Wira memegang sebuah buku tipis bersampul cokelat. Buku pertama yang ia terima dari sekolah gubernemen di kota—sekolah yang dibangun Belanda untuk anak-anak pribumi yang "terpilih". Ia menatap buku itu lama, seperti menatap benda asing yang entah bagaimana telah menjadi bagian dari hidupnya.
"Kau akan pergi dengan nama siapa, Nak?"
Suara ibunya datang dari belakang, lembut namun menusuk. Abdul Wira tidak menoleh. Ia tahu wajah ibunya tanpa harus melihat—kerutan di dahi, mata yang basah meski tidak menangis, bibir yang selalu bergerak seperti sedang berdoa, bahkan saat sedang berbicara.
"Dengan namaku, Bu. Abdul Wira Pranata."
"Bukan itu yang Ibu tanya."
Kali ini Abdul Wira menoleh. Ibunya berdiri di ambang tangga rumah, selendang lusuh melingkar di kepala, tangan memegang tasbih yang sudah kehilangan kilau. Matanya menatap lurus, bukan ke wajah Abdul Wira, tetapi ke buku yang dipegangnya.
"Ibu tanya," kata ibunya pelan, "kau akan pergi dengan nama siapa di hatimu. Dengan nama Tuhan, atau dengan nama dunia?"
Abdul Wira terdiam. Pertanyaan itu terlalu berat untuk pagi yang masih baru. Terlalu dalam untuk anak empat belas tahun yang baru saja menerima kesempatan bersekolah—kesempatan yang bahkan ayahnya tidak pernah dapatkan.
"Ibu tidak melarangmu belajar," lanjut ibunya, melangkah turun perlahan. "Ibu hanya ingin kau ingat: semua yang dimulai tanpa nama-Nya akan berakhir tanpa berkah-Nya."
Ia berhenti di samping Abdul Wira, menatap laut yang mulai berkilau tertimpa cahaya pagi. "Kau tahu kenapa kita memulai segala sesuatu dengan bismillah, Nak?"
Abdul Wira menggeleng pelan.
"Karena nama adalah niat. Dan niat adalah arah. Jika kau mulai dengan nama-Nya, ke mana pun kakimu melangkah, hatimu tidak akan sesat. Tapi jika kau mulai dengan nama dunia—nama kebanggaan, nama takut miskin, nama iri pada orang lain—maka meski kakimu sampai ke ujung bumi, hatimu akan tersesat di tengah jalan."
Ibunya menggenggam tangan Abdul Wira, hangat dan kasar. "Belajarlah, Nak. Tapi jangan lupa, ilmu tanpa bismillah adalah pedang tanpa sarung. Bisa melukai siapa saja, termasuk yang memegangnya."
***
Sekolah gubernemen terletak di kota pelabuhan, dua jam perjalanan dengan perahu nelayan dari kampung Abdul Wira. Gedungnya megah—dinding bata merah, jendela kaca besar, halaman luas dengan bendera tiga warna berkibar. Di gerbang, tertulis dalam huruf Latin: Hollandsch-Inlandsche School.
Abdul Wira melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. Bangga, karena tidak semua anak pribumi bisa masuk ke sini. Takut, karena ia tahu di dalam sana, ia akan menjadi yang paling kampungan. Dan ragu—ragu apakah langkahnya hari ini dimulai dengan nama yang benar.
Ruang kelas berbau kapur dan tinta. Meja-meja kayu tersusun rapi, papan tulis hitam tergantung di depan. Guru Belanda berdiri dengan jas cokelat, cambuk rotan di tangan kanan, buku di tangan kiri. Matanya dingin, seperti orang yang terbiasa melihat tanpa benar-benar peduli.
"Nama?" tanya guru itu dalam bahasa Melayu yang kaku.
"Abdul Wira Pranata, Meneer."
"Terlalu panjang. Kau akan dipanggil Wira. Duduk di sana."
Abdul Wira menunduk, mencari tempat duduk. Di barisan belakang, seorang anak laki-laki dengan pakaian rapi melambaikan tangan. Rambutnya disisir klimis, sepatu kulit mengkilap. Berbeda dengan Abdul Wira yang hanya mengenakan baju koko lusuh dan sarung batik.
"Namaku Soedarmo," bisik anak itu saat Abdul Wira duduk. "Raden Soedarmo. Ayahku priyayi di kantor residen."
Abdul Wira hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Dunia anak itu terlalu jauh dari dunianya.
Pelajaran dimulai. Huruf Latin, angka Eropa, sejarah dunia yang tidak pernah menyebut nama kampungnya. Guru berbicara dengan nada tinggi, seolah mengajar adalah kewajiban, bukan panggilan. Abdul Wira mencoba fokus, tapi pikirannya terus melayang.
Dengan nama siapa aku duduk di sini?
Saat istirahat, Soedarmo mengajaknya ke halaman. Mereka duduk di bawah pohon asam, memandangi bendera Belanda yang berkibar di tiang tinggi.
"Kau tahu kenapa kita disekolahkan di sini?" tanya Soedarmo tiba-tiba.
Abdul Wira menggeleng.
"Karena mereka butuh orang pribumi yang bisa membaca dan menulis dalam bahasa mereka. Bukan untuk kita pintar, tapi untuk kita berguna—untuk mereka."
Abdul Wira menatap Soedarmo. Ada kepahitan di mata anak itu, kepahitan yang tidak seharusnya ada di usia mereka.
"Tapi ayahku bilang," lanjut Soedarmo, "kita harus pintar lebih dari mereka. Kita belajar ilmu mereka, tapi jangan sampai kehilangan jiwa kita."
Jiwa.
Kata itu menggantung di udara, berat dan nyata.
"Kau dari mana?" tanya Soedarmo.
"Kampung pesisir. Dekat pesantren Kyai Hasan."
"Oh, kau orang pesantren?" Soedarmo tersenyum tipis. "Syukurlah. Setidaknya kau punya pegangan. Aku? Ayahku priyayi, ibuku Jawa halus, tapi di rumah kami jarang shalat. Kami lebih sering ke pendopo daripada ke masjid."
Abdul Wira tidak tahu harus bilang apa. Ia hanya merasakan sesuatu yang aneh—seolah di tempat ini, orang bisa kehilangan arah hanya karena terlalu sibuk berjalan.
Malam itu, Abdul Wira kembali ke kampung dengan perahu yang sama. Langit sudah gelap, bintang-bintang mulai muncul seperti lubang-lubang kecil di tirai malam. Ia duduk di buritan, memeluk buku barunya, memikirkan hari yang baru saja dilaluinya.
Di kejauhan, lampu-lampu kampung mulai terlihat. Kecil, redup, tapi hangat. Ibunya pasti sudah menunggui di beranda, tasbih di tangan, doa di bibir.
Abdul Wira menutup mata, menarik napas panjang. Dalam dadanya, ada sesuatu yang bergolak—antara kagum dengan dunia baru yang terbuka, dan takut kehilangan dunia lama yang selama ini menjaganya.
Bismillāh.
Ia membisikkan kata itu pelan, seperti mencoba menanam sesuatu di tanah hatinya sebelum terlambat. Seperti mencoba mengingat arah, sebelum kakinya terlalu jauh melangkah.
Ketika perahu merapat di dermaga, ibunya memang sudah menunggu. Tanpa kata, ia memeluk Abdul Wira, lalu berbisik di telinganya: "Sudah shalat maghrib, Nak?"
Abdul Wira terdiam. Ia lupa. Sepanjang hari, ia lupa.
Ibunya tersenyum sedih. "Tidak apa-apa. Tuhan Maha Pengampun. Tapi ingat, Nak—jangan sampai karena sibuk mencari ilmu dunia, kau lupa mengapa kau hidup."
Malam itu, setelah shalat isya yang terlambat, Abdul Wira berbaring di tikar, menatap langit-langit bambu. Dalam kegelapan, ia membisikkan doa—bukan doa yang diajarkan guru, bukan doa yang dihafal dari kitab, tetapi doa yang lahir dari kegelisahan:
Ya Allah, aku tidak tahu apakah langkahku hari ini benar. Aku tidak tahu apakah niatku murni. Tapi aku mohon, jangan biarkan aku tersesat. Jangan biarkan aku mulai dengan nama-Mu, lalu berakhir dengan nama dunia.
Ia tidak tahu apakah doanya terdengar. Yang ia tahu, dalam sunyi malam itu, ada kedamaian kecil yang menyentuh dadanya—kedamaian yang datang bukan dari jawaban, tetapi dari kesediaan untuk bertanya.
***
Di luar, angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan tanah basah. Pohon kelapa bergerak dalam gelap, daunnya berdesir seperti tasbih raksasa yang digerakkan tangan yang tak terlihat. Dan di langit, bintang-bintang terus bersinar—bukan karena mereka tahu ke mana cahaya mereka akan sampai, tetapi karena itulah yang mereka diciptakan untuk lakukan: bersinar, dengan nama yang memberi mereka cahaya.
Begitu pula manusia. Ia tidak selalu tahu ke mana langkahnya akan berakhir. Tapi jika ia mulai dengan nama yang benar—dengan niat yang jernih, dengan penyerahan yang tulus—maka setidaknya, ia tidak berjalan sendirian. Ada Nama yang lebih besar dari namanya, yang akan menjaganya saat ia lupa, yang akan mengingatkannya saat ia sesat, yang akan membawanya pulang saat ia tersesat di jalan yang ia sendiri pilih.
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Bukan sekadar pembukaan. Tetapi arah. Tetapi pegangan. Tetapi doa yang tidak pernah usai—karena setiap hari adalah permulaan baru, dan setiap permulaan memerlukan Nama yang sama: nama-Nya, bukan nama kita.
***
"Hidup bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi dengan nama siapa kita memulai setiap langkah."
Komentar
Posting Komentar