PROLOG
Bacaan yang Terlalu Dihafal
Kakinya menyentuh lantai tanah yang dingin. Sajadah tua terbentang di sudut kamar, kusam oleh waktu, licin oleh dahi yang sama setiap hari. Ia melangkah mendekat dengan pelan, seolah takut membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur di dalam dadanya.
Wudu diambil dari kendi tanah di beranda belakang. Air dingin menggigit kulit, tapi ia tidak merasa apa-apa. Tangan membasuh tangan, wajah membasuh wajah—gerakan yang sudah menjadi daging, sudah menjadi tulang. Namun pagi itu, entah mengapa, ia merasa asing dengan dirinya sendiri.
Saat berdiri di atas sajadah, menghadap kiblat yang tak terlihat dalam kegelapan, ia sadar: selama ini ia berdiri tanpa hadir.
Allāhu akbar.
Takbir meluncur dari bibir seperti kebiasaan, seperti nama yang disebut tanpa wajah yang dibayangkan. Tangan terangkat, kemudian turun ke dada. Dalam sunyi yang nyaris mencekik, ia membuka mulut untuk membaca bacaan yang telah dihafalnya sejak ia masih anak-anak—bacaan yang konon adalah pintu pembuka segala bacaan, kunci segala doa.
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm...
Lidah bergerak. Suara keluar. Tapi makna?
Makna itu seperti air yang mengalir tanpa membasahi tanah. Kata demi kata terlontar, merdu dalam pelafalan, benar dalam tajwid, namun hampa dalam rasa. Ia membaca seperti orang yang berjalan di jalan yang sama setiap hari—tahu tiap tikungan, tapi lupa ke mana tujuannya.
Al-ḥamdu lillāhi rabbil 'ālamīn...
Segala puji. Tapi puji untuk apa? Puji yang mana?
Ia terus membaca, ruku, sujud, duduk, salam. Shalat selesai. Namun ada yang tertinggal—bukan di sajadah, melainkan di langit-langit hatinya yang tak pernah dijamah.
Abdul Wira tidak langsung beranjak. Ia duduk bersila, menatap kegelapan di hadapannya. Dari luar, burung-burung mulai berkicau, pertanda fajar yang sebenarnya. Cahaya belum datang, tapi suara sudah bergerak. Dunia bangun lebih dulu dari sinarnya.
Dan di tengah sunyi itu, ia teringat masa kecil.
Ibunya—perempuan sederhana yang tak pernah sekolah, yang tak pernah membaca kitab, yang hanya tahu shalat dan doa—dulu sering menangis dalam sujud. Abdul Wira kecil pernah bertanya, "Ibu sakit, Bu?"
Ibunya tersenyum sambil mengelap mata. "Tidak, Nak. Ibu sedang bicara dengan Yang Mendengar."
Waktu itu ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin membaca bacaan yang sama setiap hari bisa membuat orang menangis? Bukankah itu hanya hafalan? Bukankah itu hanya rukun yang harus dipenuhi?
Kini, duduk sendiri di ruang yang sama di mana ibunya dulu berdoa, Abdul Wira mulai memahami—atau setidaknya, mulai merasa—bahwa ada yang hilang dari shalatnya. Ada yang ia baca, tapi tidak ia mohonkan. Ada yang ia ucapkan, tapi tidak ia rasakan.
Ia ingat Kyai Hasan Basri pernah berkata di majelis: "Al-Fatihah adalah permintaan, bukan laporan. Ia bukan berita tentang Tuhan, tetapi percakapan dengan Tuhan."
Tapi bagaimana caranya berbicara, jika selama ini ia hanya menghafal kalimat orang lain?
Abdul Wira menarik napas panjang. Di luar, cahaya mulai merayap, merah samar di balik jendela kayu. Fajar yang sesungguhnya. Ia berdiri, melipat sajadah dengan perlahan, dan meletakkannya kembali di tempatnya. Tapi sebelum keluar dari kamar, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang, seolah ada yang tertinggal di sana—sesuatu yang belum ia ambil, belum ia bawa.
Mungkin selama ini, ia yang tertinggal.
Ia melangkah keluar, menuju beranda. Angin pagi menyentuh wajahnya, dingin dan basah oleh embun. Dari kejauhan, terdengar suara azan subuh—suara yang biasa, suara yang ia dengar setiap hari. Tapi pagi ini, suara itu terdengar berbeda. Atau mungkin yang berbeda adalah pendengarnya.
Allāhu akbar... Allāhu akbar...
Muazin itu memanggil dengan suara yang bergetar—bukan karena tua, tapi karena yakin. Seolah ia tahu bahwa yang ia panggil benar-benar mendengar. Seolah ia tahu bahwa setiap kalimat yang ia lantunkan adalah jembatan, bukan sekadar gema.
Abdul Wira berdiri di ambang beranda, antara dalam dan luar, antara tidur dan terjaga. Di dadanya, ada sesuatu yang mulai bergerak—bukan kepastian, bukan jawaban, tetapi sebuah pertanyaan yang mulai berbentuk.
Apakah selama ini aku benar-benar membaca, atau hanya mengulangi?
Apakah aku benar-benar meminta petunjuk, atau hanya melafalkan permohonan?
Apakah aku benar-benar berdiri di hadapan-Nya, atau hanya berdiri di hadapan kebiasaan?
Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, pagi itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa asing dengan bacaan yang paling akrab di bibirnya. Dan keasing-asingen itu—entah mengapa—terasa seperti awal dari sesuatu.
Seperti pintu yang baru saja terbuka sedikit, membiarkan cahaya masuk ke ruang yang selama ini gelap.
Subuh terus merekah. Dunia bersiap bangun. Dan Abdul Wira Pranata, di ambang hari yang baru, mulai memahami bahwa hidup ini mungkin bukan tentang mengetahui jalan—tetapi tentang terus memohonkannya.
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Bukan: kami sudah di jalan yang lurus.
Bukan: kami tahu mana jalan yang lurus.
Tetapi: tunjukilah—sebuah permohonan yang tak pernah selesai, yang harus diulang setiap rakaat, setiap sujud, setiap napas.
Dan mungkin, justru di sana letak hidayah itu: dalam kesadaran bahwa kita selalu membutuhkan petunjuk, bahkan setelah kita merasa sudah menemukan jalan.
Abdul Wira menutup mata, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka mata lagi.
Hari baru sudah dimulai.
Dan perjalanan—perjalanan yang sebenarnya—baru saja akan dimulai.
***
Apakah aku benar-benar hidup, atau hanya mengulang hari?
Komentar
Posting Komentar