BAB 29
Yang Menyimpang
"Ilmu tanpa hidayah seperti lampu tanpa minyak—terang sesaat, lalu padam dalam kegelapan yang lebih pekat."
Abdul Wira tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Tuan Hendrik.
Tuan Hendrik—guru Belanda yang dulu mengajarnya di sekolah gubernemen, orang yang membuka matanya pada ilmu pengetahuan modern, orang yang membuatnya percaya bahwa akal adalah segalanya.
đ Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Mereka bertemu di pasar, setelah sepuluh tahun tidak berjumpa. Tuan Hendrik sudah tua, rambutnya memutih, punggungnya bungkuk. Tapi matanya masih tajam—tajam dengan kepercayaan diri yang tidak pernah pudar.
"Wira," sapanya dalam bahasa Melayu yang fasih, "kau masih di kampung ini? Aku pikir dengan kepintaranmu, kau sudah jadi orang besar di kota."
Abdul Wira tersenyum tipis. "Saya memilih pulang, Tuan. Memilih hidup sederhana di kampung."
Tuan Hendrik tertawa—tawa yang terdengar seperti ejekan halus. "Memilih? Atau menyerah? Kau punya otak yang baik, Wira. Sayang sekali dibuang untuk menggarap sawah."
Abdul Wira merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—bukan marah, tetapi sedih. Sedih melihat orang yang dulu ia kagumi kini terlihat begitu hampa meski penuh ilmu.
"Tuan masih mengajar?" tanya Abdul Wira, mengalihkan pembicaraan.
"Tidak lagi," jawab Tuan Hendrik. "Aku sudah pensiun. Tapi aku masih menulis—buku tentang bagaimana ilmu pengetahuan akan membebaskan manusia dari tahayul agama."
Abdul Wira terdiam. Ia ingat—dulu ia pernah percaya pada kata-kata seperti itu. Percaya bahwa agama adalah candu, bahwa doa adalah pelarian, bahwa Tuhan adalah dongeng.
Tapi sekarang, setelah semua yang ia alami, ia tahu—ilmu tanpa hidayah itu hampa. Seperti Tuan Hendrik di hadapannya: pintar, terdidik, tapi tidak bahagia. Punya banyak pengetahuan, tapi tidak punya kedamaian.
***
Sore itu, Abdul Wira tidak bisa melupakan pertemuan itu. Ia duduk di beranda, menatang langit yang mulai gelap, memikirkan Tuan Hendrik—dan memikirkan dirinya sendiri yang dulu.
Ia ingat saat ia pertama kali belajar sains di sekolah gubernemen. Ia merasa dunia terbuka—semua bisa dijelaskan dengan logika, dengan rumus, dengan eksperimen. Tidak perlu Tuhan, tidak perlu doa, tidak perlu iman.
Ia ingat saat ia mulai meninggalkan shalat, karena ia pikir itu hanya ritual tanpa makna. Ia ingat saat ia mulai meragukan Al-Qur'an, karena ia pikir itu hanya kitab kuno yang tidak relevan.
Ia ingat—dan ia merasa ngeri. Karena ia hampir menjadi seperti Tuan Hendrik: pintar, tapi sesat. Punya ilmu, tapi kehilangan jalan.
Ghairi l-maghá¸ĹŤbi 'alaihim wa lÄá¸-á¸ÄllÄŤn.
Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat.
Kalimat yang selalu ia baca, tapi baru sekarang benar-benar ia rasakan menusuk: bahwa ada jalan yang terlihat terang tapi sebenarnya gelap. Ada ilmu yang terlihat membebaskan tapi sebenarnya menyesatkan.
Dan Tuan Hendrik—dengan semua ilmunya, dengan semua kepintarannya—adalah salah satunya.
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan Tuan Hendrik, memikirkan tatapan matanya yang kosong meski penuh keyakinan.
Ia bangkit, keluar ke beranda. Bulan purnama bersinar terang, menerangi kampung yang sunyi.
Ya Allah, bisiknya, terima kasih. Terima kasih karena tidak membiarkan aku tersesat seperti Tuan Hendrik. Terima kasih karena menarikku kembali—saat aku hampir tenggelam dalam kesombongan ilmu.
Ia menutup mata, merasakan air mata mengalir.
Aku hampir kehilangan jalan, ya Allah. Hampir percaya bahwa akal adalah segalanya, bahwa ilmu tidak butuh iman, bahwa manusia bisa hidup tanpa-Mu. Tapi Engkau tidak membiarkan. Engkau tarik aku kembali—lewat kematian ibu, lewat kesulitan hidup, lewat kekosongan yang kurasakan meski punya ilmu.
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi menemui Soedarmo. Ia menemukan sahabatnya sedang mengajar anak-anak kampung membaca—pekerjaan sederhana yang dulu tidak pernah terbayangkan dilakukan oleh seorang priyayi terdidik Barat.
"Darmo," panggil Abdul Wira.
Soedarmo mengangkat kepala, tersenyum. Ia meminta anak-anak istirahat sebentar, lalu mendekat.
"Ada apa, Wira? Kau kelihatan gelisah."
Abdul Wira menceritakan pertemuannya dengan Tuan Hendrik. Soedarmo mendengarkan dengan serius, lalu terdiam lama.
"Aku kenal orang seperti itu," katanya akhirnya. "Bahkan aku dulu seperti itu. Merasa pintar, merasa tahu segalanya, merasa tidak butuh Tuhan."
Soedarmo menatap anak-anak yang sedang bermain. "Tapi kau tahu apa yang aku pelajari, Wira? Ilmu tanpa hidayah itu berbahaya. Seperti pisau tajam di tangan orang buta—bisa melukai siapa saja, termasuk diri sendiri."
"Lalu bagaimana caranya," tanya Abdul Wira, "agar ilmu kita tidak menyesatkan?"
Soedarmo tersenyum. "Dengan selalu ingat bahwa ilmu itu titipan, bukan kepunyaan. Dengan selalu sadar bahwa kita tidak tahu segalanya—hanya Tuhan yang tahu. Dengan selalu rendah hati, selalu memohon hidayah, selalu minta ditunjukkan jalan yang lurus."
***
Siang itu, Abdul Wira pergi ke rumah Tuan Hendrik. Ia tidak tahu kenapa—hanya merasa perlu, merasa harus.
Rumah itu besar, mewah untuk ukuran kampung. Tapi suasananya dingin, kosong. Tidak ada tawa, tidak ada kehangatan—hanya buku-buku yang bertumpuk di mana-mana.
Tuan Hendrik menyambutnya dengan wajah heran. "Wira? Ada apa kau datang?"
"Saya ingin ngobrol, Tuan. Boleh?"
Mereka duduk di ruang tamu yang luas. Tuan Hendrik menyajikan teh—teh mahal yang tidak pernah diminum oleh orang kampung.
"Tuan," kata Abdul Wira hati-hati, "apakah Tuan bahagia?"
Tuan Hendrik terdiam, cangkirnya berhenti di udara. "Pertanyaan aneh. Kenapa tanya begitu?"
"Karena kemarin, saya lihat mata Tuan—mata yang pintar, tapi... kosong."
Tuan Hendrik meletakkan cangkirnya pelan, tatapannya jauh. Untuk pertama kalinya, Abdul Wira melihat retakan di balik kepercayaan dirinya.
"Bahagia," gumamnya, "apa itu bahagia, Wira? Aku punya ilmu, punya buku, punya pemahaman tentang dunia. Bukankah itu cukup?"
"Tapi apakah itu membuat Tuan tenang?" tanya Abdul Wira lembut. "Apakah itu membuat Tuan damai?"
Tuan Hendrik tidak menjawab. Ia hanya menatap jendela, menatap langit yang mulai mendung.
"Dulu, saat aku muda," katanya pelan, "aku percaya ilmu adalah segalanya. Aku percaya agama adalah tahayul. Aku percaya aku tidak butuh Tuhan."
Ia menoleh, menatap Abdul Wira dengan mata yang lelah. "Tapi sekarang, di usia tuaku, aku kadang bertanya—apa yang terjadi setelah aku mati? Apakah semua ilmuku akan ikut? Apakah semua bukuku akan menolong?"
Abdul Wira merasakan dadanya sesak. "Tuan... tidak pernah mencoba kembali? Kembali pada iman yang Tuan tinggalkan?"
Tuan Hendrik tersenyum pahit. "Terlambat, Wira. Aku sudah terlalu jauh. Aku sudah terlalu lama menolak-Nya. Bagaimana mungkin Dia mau menerima orang seperti aku?"
"Tidak pernah terlambat, Tuan," kata Abdul Wira, suaranya bergetar. "Tuhan menunggu—selalu menunggu. Selama masih hidup, selalu ada kesempatan."
***
Abdul Wira pulang dengan hati berat. Ia tidak tahu apakah kata-katanya sampai ke hati Tuan Hendrik. Yang ia tahu, ia baru saja melihat cermin dirinya yang dulu—yang hampir tersesat, yang hampir kehilangan jalan karena sombong dengan ilmu.
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira sujud lebih lama dari biasanya. Dalam sujud itu, ia menangis—menangis untuk Tuan Hendrik, menangis untuk semua orang yang tersesat karena ilmu tanpa hidayah.
Ya Allah, bisiknya, lindungi kami dari jalan mereka yang sesat. Dari mereka yang punya ilmu tapi kehilangan iman. Dari mereka yang pintar tapi tidak bijak. Dari mereka yang tahu banyak tapi tidak mengenal-Mu.
Ajari kami untuk tidak sombong dengan ilmu. Ajari kami untuk selalu sadar bahwa ilmu tanpa hidayah adalah kegelapan. Ajari kami untuk selalu memohon—dalam setiap ilmu yang kami pelajari, dalam setiap langkah yang kami ambil—agar Engkau tunjukkan jalan yang lurus.
***
Seminggu kemudian, Abdul Wira mendengar kabar: Tuan Hendrik meninggal—jatuh dari tangga di rumahnya yang besar dan kosong. Tidak ada yang menemani saat ia meninggal, tidak ada yang mendoakan.
Abdul Wira pergi ke pemakamannya. Hanya sedikit orang yang hadir—sebagian besar pejabat Belanda yang datang karena kewajiban, bukan karena kasih.
Saat jenazah diturunkan, Abdul Wira menatang peti kayu itu dengan perasaan campur aduk. Ia mengingat Tuan Hendrik yang dulu—guru yang pintar, yang percaya diri, yang yakin ilmunya bisa menggantikan iman.
Tapi sekarang, semua ilmu itu tidak menolong. Semua buku itu tidak ikut. Semua kepintaran itu tidak memberi kedamaian.
Yang tersisa hanya pertanyaan: apakah di akhir hayatnya, Tuan Hendrik sempat kembali? Apakah ia sempat memohon ampun? Apakah ia sempat mengakui bahwa selama ini ia salah?
Abdul Wira tidak tahu. Yang ia tahu, ia harus berdoa—berdoa untuk guru yang pernah mengajarnya, yang tanpa sadar juga mengajarnya tentang bahaya ilmu tanpa hidayah.
***
Malam itu, Abdul Wira duduk sendirian di beranda, menatang bintang-bintang yang bersinar. Ia memikirkan perjalanan hidupnya—dari anak kampung yang belajar di sekolah Belanda, yang hampir tersesat karena sombong dengan ilmu, yang akhirnya ditarik kembali oleh kasih Tuhan.
Dan ia bersyukur—bersyukur karena tidak menjadi seperti Tuan Hendrik. Bersyukur karena ilmunya tidak menyesatkan, tetapi justru membawanya lebih dekat pada Tuhan.
Ghairi l-maghá¸ĹŤbi 'alaihim wa lÄá¸-á¸ÄllÄŤn.
Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat.
Bukan jalan orang yang punya ilmu tapi kehilangan iman. Bukan jalan orang yang pintar tapi tidak bijak. Bukan jalan orang yang tahu banyak tapi tidak mengenal Tuhan.
Ya Allah, lindungi kami dari jalan yang sesat. Dari kesombongan ilmu yang membuat kami lupa pada-Mu. Dari kepintaran yang membuat kami merasa tidak butuh-Mu. Dari pengetahuan yang membuat kami kehilangan hidayah. Ajari kami untuk selalu rendah hati—untuk selalu sadar bahwa ilmu adalah titipan-Mu, bukan kepunyaan kami. Bahwa kepintaran tanpa kebijaksaan adalah kegelapan. Bahwa pengetahuan tanpa iman adalah kesesatan. Dan tunjukkanlah kami jalan yang lurus—jalan yang menyatukan ilmu dan iman, akal dan hidayah, pengetahuan dan kedamaian. Karena hanya di jalan itulah kami tidak tersesat—tidak di dunia, tidak di akhirat.
***
"Ilmu tanpa hidayah seperti cahaya tanpa arah—menerangi, tapi menyesatkan. Pintar, tapi sesat. Tahu banyak, tapi kehilangan jalan."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar