BAB 27
Lurus yang Berliku
"Jalan lurus bukan garis lurus tanpa luka—tetapi jalan penuh belokan, penuh ujian, namun tetap menuju pada-Nya."
Tiga bulan setelah Abdul Wira menolak jabatan itu, konsekuensinya mulai terasa.
Sawahnya dikenai pajak ganda—tuduhan tidak jelas yang dibuat-buat oleh pejabat kolonial yang marah karena penolakannya. Beberapa tetangga mulai menjauhinya, takut kena getahnya. Bahkan ada yang berbisik: "Wira sombong. Dikasih kesempatan malah menolak."
Abdul Wira mencoba tidak peduli. Tapi di malam-malam sunyi, saat ia berbaring di tikar dengan perut setengah lapar karena harus menjual sebagian beras untuk bayar pajak, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah ini jalan yang lurus? Apakah ini jalan yang benar?
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Jalan ini tidak terasa lurus sama sekali. Jalan ini penuh lubang, penuh batu, penuh duri. Jalan ini menyakitkan, melelahkan, membuat ia ingin menyerah.
Tapi setiap kali ia hampir menyerah, ia teringat wajah ibunya—wajah yang damai meski hidup dalam kesulitan, wajah yang tenang meski tidak punya apa-apa. Dan ia teringat kata-kata ibunya yang dulu pernah diucapkan:
"Nak, jalan lurus itu bukan jalan yang mudah. Jalan lurus itu jalan yang benar—meski berat, meski sepi, meski tidak dipahami orang lain."
***
Suatu sore, saat Abdul Wira sedang duduk di pematang sawah yang kering, menatap padi-padi yang tidak tumbuh subur karena kekurangan air, Soedarmo datang dengan wajah cemas.
"Wira," katanya, duduk di samping Abdul Wira, "aku dengar mereka akan menaikkan pajakmu lagi bulan depan. Ini... ini tidak adil."
Abdul Wira tersenyum pahit. "Memang tidak adil, Darmo. Tapi hidup di bawah penjajahan memang tidak adil."
"Tapi kau bisa menghindarinya," desak Soedarmo. "Kau bisa minta maaf, minta jabatan itu lagi. Mereka pasti masih mau—kau kan pintar, berpendidikan."
Abdul Wira menatap Soedarmo, melihat kekhawatiran di matanya. "Darmo, kau dulu pernah bilang padaku—tidak ada uang, tidak ada jabatan, yang bisa membayar harga hati yang tidak tenang. Kau masih ingat?"
Soedarmo mengangguk.
"Nah," lanjut Abdul Wira, "sekarang aku yang merasakan itu. Jalan ini berat, benar. Tapi hatiku tenang. Dan aku tidak akan menukar ketenangan ini dengan kemudahan yang membuatku tidak bisa tidur."
Soedarmo terdiam lama, lalu ia berbisik, "Kau lebih kuat dariku, Wira."
Abdul Wira menggeleng. "Bukan kuat, Darmo. Aku juga lemah. Aku juga kadang ingin menyerah. Tapi aku percaya—jalan yang benar itu tidak selalu terasa benar di awal. Kadang terasa salah, terasa bodoh, terasa sia-sia. Tapi di akhir, ia akan membuktikan bahwa ia memang yang paling lurus."
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk sendirian di beranda. Langit mendung, tidak ada bintang. Hanya gelap—gelap yang terasa berat, yang seolah menekan dada.
Ia memikirkan pilihannya, memikirkan jalan yang ia lalui. Jalan ini tidak seperti yang ia bayangkan. Ia pikir, saat ia memilih yang benar, Tuhan akan membuat segalanya mudah. Ia pikir, jalan lurus itu mulus, tanpa hambatan, tanpa rasa sakit.
Tapi ternyata tidak.
Jalan lurus itu berliku. Jalan lurus itu penuh ujian. Jalan lurus itu menyakitkan—bukan karena salah, tetapi karena benar.
Kenapa, ya Allah? Kenapa jalan yang benar justru yang paling berat?
Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berhembus dingin, membawa aroma hujan yang belum turun.
Abdul Wira menutup mata, menarik napas dalam. Lalu ia membisikkan sesuatu yang baru ia pahami:
Mungkin... mungkin jalan lurus itu bukan tentang tidak ada ujian. Jalan lurus itu tentang tetap lurus meski ada ujian. Tetap benar meski berat. Tetap menuju pada-Mu meski berliku.
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi ke pasar untuk menjual hasil panennya yang sedikit. Di sana, ia bertemu dengan seorang pedagang tua yang pernah ia kenal—Pak Harto, yang dulu juga pernah ditawari jabatan oleh Belanda dan menolak.
"Pak," sapa Abdul Wira, "boleh saya tanya sesuatu?"
Pak Harto tersenyum. "Silakan, Nak."
"Bapak dulu juga menolak jabatan dari Belanda, kan? Lalu... apakah Bapak pernah menyesal?"
Pak Harto terdiam sejenak, menatap langit yang mulai cerah. "Menyesal? Kalau soal hidup jadi lebih susah, iya—aku pernah menyesal. Tapi kalau soal pilihan itu sendiri? Tidak pernah."
Ia menatap Abdul Wira dengan mata yang jernih. "Nak, jalan lurus itu bukan jalan yang membuat hidup mudah. Jalan lurus itu jalan yang membuat kita bisa menghadap Tuhan dengan kepala tegak. Dan percayalah—saat ajal tiba, yang kita sesali bukan kesulitan yang kita alami karena memilih yang benar. Yang kita sesali adalah kemudahan yang kita dapat karena memilih yang salah."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak—bukan karena sedih, tetapi karena lega. Lega mendengar bahwa ia tidak sendirian, bahwa ada yang sudah melewati jalan ini sebelumnya, bahwa jalan ini—meski berat—adalah jalan yang benar.
***
Sore itu, hujan akhirnya turun.
Bukan hujan deras, tetapi hujan yang lembut, yang membasahi tanah yang sudah lama kering. Abdul Wira berdiri di beranda, merentangkan tangan, membiarkan hujan membasahi wajahnya.
Ia menutup mata, merasakan setiap tetes air yang jatuh—seperti jawaban yang datang setelah lama ditunggu, seperti pertolongan yang datang setelah lama dimohon.
Dan dalam hujan itu, ia memahami sesuatu:
Jalan lurus itu bukan jalan tanpa hujan. Jalan lurus itu bukan jalan tanpa badai. Jalan lurus itu jalan yang tetap dilalui—meski hujan, meski badai, meski berliku.
Karena lurus itu bukan tentang bentuk jalan—tetapi tentang arah. Bukan tentang tidak ada belokan—tetapi tentang tetap menuju pada-Nya meski ada belokan.
Dan selama kita tetap menuju pada-Nya—meski jatuh, meski lelah, meski hampir menyerah—kita masih di jalan yang lurus.
***
Malam itu, setelah shalat maghrib, Soedarmo datang lagi—kali ini dengan wajah yang lebih tenang.
"Wira," katanya, "aku sudah putuskan. Aku tidak akan kembali ke jabatan lama. Aku akan tetap di sini, di kampung, hidup sederhana seperti kalian."
Abdul Wira menatapnya, terkejut. "Kenapa, Darmo? Padahal kau punya kesempatan untuk kembali."
Soedarmo tersenyum. "Karena aku sudah merasakan jalan yang lurus, Wira. Dan meski berat, meski berliku, aku tidak mau kembali ke jalan yang mudah tapi salah."
Mereka duduk bersama di beranda, menatap hujan yang masih turun.
"Kau tahu, Wira," lanjut Soedarmo, "aku dulu pikir, jalan lurus itu jalan yang mulus. Tapi sekarang aku paham—jalan lurus itu jalan yang penuh ujian. Dan ujian itu bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk membuktikan bahwa kita serius dengan pilihan kita."
Abdul Wira mengangguk. "Dan saat kita tetap bertahan di jalan itu meski berat, kita membuktikan—bukan pada orang lain, tetapi pada diri kita sendiri dan pada Tuhan—bahwa kita memang memilih jalan ini bukan karena mudah, tetapi karena benar."
***
Minggu-minggu berlalu, dan kehidupan Abdul Wira tidak menjadi lebih mudah. Pajak tetap berat, tetangga tetap menjauhi, kesulitan tetap datang silih berganti.
Tapi ada yang berubah dalam dirinya: ia tidak lagi mempertanyakan pilihannya. Ia tidak lagi bingung apakah ini jalan yang lurus. Karena ia sudah merasakan—jalan ini, meski berliku, tetap menuju pada-Nya.
Dan itu cukup.
Suatu malam, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk tafakur lebih lama. Dalam sunyi itu, ia membisikkan sesuatu yang baru ia pahami dengan sungguh-sungguh:
Ihdinaį¹£-į¹£irÄį¹al-mustaqÄ«m.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Bukan jalan yang mulus. Bukan jalan yang mudah. Bukan jalan yang dipahami orang lain.
Tetapi jalan yang lurus—jalan yang tetap menuju pada-Nya, meski berliku. Jalan yang tetap benar, meski berat. Jalan yang tetap membawa kedamaian, meski penuh air mata.
Ya Allah, terima kasih karena menunjukkan jalan ini padaku. Jalan yang tidak seperti yang kubayangkan—tidak mulus, tidak mudah, tidak cepat. Tetapi jalan yang benar. Jalan yang lurus meski berliku. Jalan yang menuju pada-Mu meski penuh ujian.
Kuatkan aku untuk tetap di jalan ini. Jangan biarkan aku menyimpang karena lelah, karena berat, karena tidak dipahami. Karena aku tahu—jalan ini adalah jalan yang Engkau ridhai. Dan ridha-Mu lebih berharga dari kemudahan dunia.
***
Pagi harinya, Abdul Wira bangun dengan hati yang lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai—pajak tetap berat, hidup tetap susah. Tapi karena ia sudah tidak lagi bingung.
Ia tahu jalan mana yang ia lalui. Ia tahu ke mana jalan ini menuju. Dan ia tahu—selama ia tetap di jalan ini, ia tidak akan tersesat.
Karena jalan lurus itu bukan tentang tidak ada kesulitan—tetapi tentang tetap lurus meski ada kesulitan.
Jalan lurus itu bukan tentang tidak ada ujian—tetapi tentang tetap benar meski diuji.
Jalan lurus itu bukan tentang tidak ada air mata—tetapi tentang air mata yang dijatuhkan untuk yang benar, bukan untuk yang salah.
Ihdinaį¹£-į¹£irÄį¹al-mustaqÄ«m.
Doa yang tidak pernah selesai—karena jalan ini tidak pernah selesai sampai napas terakhir. Dan setiap hari, kita butuh ditunjukkan lagi, dikuatkan lagi, diingatkan lagi—bahwa jalan ini, meski berliku, adalah jalan yang lurus. Jalan yang menuju pada-Nya. Jalan yang tidak akan menyesatkan, meski sesat di mata dunia.
Ya Allah, ajari kami untuk tidak mengira bahwa jalan lurus itu jalan tanpa ujian. Ajari kami untuk tidak menyangka bahwa jalan yang benar itu jalan yang mudah. Ajari kami untuk memahami—bahwa jalan lurus itu jalan yang berliku, penuh ujian, penuh air mata, penuh keringat. Tetapi jalan itu tetap lurus—karena ia tetap menuju pada-Mu, karena ia tetap dalam ridha-Mu, karena ia tetap yang benar meski terasa salah di mata dunia. Kuatkan kami untuk tetap di jalan ini—sampai akhir, sampai bertemu dengan-Mu, dengan kepala tegak dan hati yang tenang.
***
"Jalan lurus bukan garis tanpa belokan—tetapi jalan yang tetap menuju pada-Nya, meski berliku, meski berat, meski penuh air mata."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar