BAB 26
Mohon Jalan
"Jalan lurus bukan yang sudah kita temukan—tetapi yang terus kita mohonkan, setiap hari, setiap shalat, setiap napas."
Abdul Wira berdiri di persimpangan jalan.
Bukan persimpangan literal—tetapi persimpangan hidup yang membuatnya tidak bisa tidur selama tiga malam berturut-turut.
Surat itu datang seminggu lalu. Surat dari kantor residen Belanda, menawarkan jabatan sebagai kepala administrasi desa—jabatan yang bergaji tinggi, yang memberi kuasa, yang akan mengangkat statusnya dari petani biasa menjadi priyayi kecil.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Tapi ada syaratnya: ia harus membantu mengumpulkan pajak dari petani-petani kampung. Pajak yang ia tahu terlalu berat, yang akan membuat banyak keluarga kelaparan, yang akan merampas hasil panen yang sudah mereka perjuangkan dengan keringat dan air mata.
Di satu sisi, ada kesempatan untuk mengubah hidup—untuk keluar dari kemiskinan, untuk memberi masa depan yang lebih baik, untuk tidak lagi khawatir tentang besok.
Di sisi lain, ada hati nurani yang berteriak—bahwa ini salah, bahwa ini mengkhianati sesama, bahwa ini bukan jalan yang benar.
Ihdinaį¹£-į¹£irÄį¹al-mustaqÄ«m.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Kalimat yang ia baca setiap hari dalam setiap shalat, tapi baru sekarang benar-benar ia rasakan beratnya. Karena kali ini, jalan lurus itu tidak jelas. Kali ini, ia benar-benar tidak tahu mana yang benar.
***
Malam itu, Abdul Wira duduk sendirian di beranda, memegang surat itu dengan tangan gemetar. Bulan purnama bersinar terang, menerangi jalan tanah di depan rumahnya—jalan yang sama yang sudah ia lalui ribuan kali, tapi kali ini terasa asing.
Mana jalan yang lurus, ya Allah?
Ia sudah bertanya pada dirinya sendiri ratusan kali. Sudah menimbang-nimbang dengan akal. Tapi akal tidak memberi jawaban yang memuaskan—karena setiap pilihan punya alasannya sendiri, setiap jalan punya logikanya sendiri.
Jika ia terima jabatan itu, ia bisa membantu keluarganya, bisa memperbaiki rumah yang bocor, bisa memberi sedekah lebih banyak. Bukankah itu juga kebaikan?
Tapi jika ia terima jabatan itu, ia harus menindas sesama. Harus mengambil dari yang sudah tidak punya. Harus menjadi alat penjajah. Bukankah itu juga kejahatan?
Mana yang benar?
Abdul Wira menutup wajah dengan kedua tangan, merasakan dadanya sesak. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar merasakan bahwa ia tidak tahu—tidak tahu mana jalan yang lurus, tidak tahu mana yang benar.
Dan di tengah ketidaktahuan itu, ia akhirnya mengerti kenapa doa ini harus diulang setiap hari, setiap shalat:
Karena kita tidak pernah tahu. Kita selalu butuh petunjuk. Kita selalu butuh ditunjukkan jalan—karena jalan lurus itu tidak selalu jelas, tidak selalu mudah, tidak selalu yang kita bayangkan.
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi menemui Soedarmo—sahabatnya yang dulu pernah berada di posisi yang sama.
Ia menemukan Soedarmo sedang bekerja di sawah, membungkuk di lumpur bersama petani-petani lain. Wajahnya penuh keringat, tapi matanya tenang—tenang dengan cara yang tidak pernah Abdul Wira lihat saat Soedarmo masih menjabat.
"Darmo," panggil Abdul Wira dari pematang.
Soedarmo mengangkat kepala, tersenyum. Ia naik dari sawah, membersihkan tangannya yang penuh lumpur.
"Ada apa, Wira? Kau kelihatan gelisah."
Abdul Wira menyerahkan surat itu. Soedarmo membacanya perlahan, lalu terdiam lama.
"Aku pernah di posisimu," katanya akhirnya, suaranya pelan. "Bahkan lebih buruk. Aku tidak hanya ditawari jabatan—aku sudah menerimanya. Dan kau tahu apa yang terjadi?"
Abdul Wira menunggu.
"Aku merasa kaya," lanjut Soedarmo, "tapi miskin di hati. Aku punya kuasa, tapi tidak punya kedamaian. Aku tidur di kasur empuk, tapi tidak pernah nyenyak—karena setiap malam, aku mendengar tangisan petani yang kehilangan tanah mereka karena tidak bisa bayar pajak yang aku tagih."
Soedarmo menatap Abdul Wira dengan mata yang jernih. "Wira, jalan lurus itu bukan yang membuat hidup mudah. Jalan lurus itu yang membuat hati tenang. Dan percayalah—tidak ada uang, tidak ada jabatan, yang bisa membayar harga hati yang tidak tenang."
***
Siang itu, Abdul Wira pergi ke makam ibunya. Ia duduk di sisi gundukan tanah, berbicara seolah ibunya masih bisa mendengar.
"Bu," bisiknya, "aku bingung. Aku tidak tahu jalan mana yang benar. Aku takut salah pilih, takut menyesal, takut... takut mengecewakan Tuhan."
Angin siang berhembus, membawa aroma tanah dan bunga kamboja yang rontok.
"Dulu, Bu selalu bilang—jika bingung, shalat. Jika ragu, minta petunjuk. Tapi Bu, aku sudah shalat, sudah minta petunjuk. Tapi jawabannya tidak datang. Atau mungkin... mungkin aku yang tidak mendengar?"
Abdul Wira menutup mata, merasakan air matanya mengalir.
"Ajari aku, Bu. Ajari aku untuk mendengar. Ajari aku untuk melihat jalan lurus—bukan dengan mata, tetapi dengan hati."
Ia terdiam lama, hanya duduk di sana, membiarkan sunyi berbicara. Dan dalam sunyi itu, ia merasakan sesuatu—bukan suara, bukan bisikan, tetapi kehadiran. Kehadiran yang hangat, yang menenangkan, yang seolah berkata:
Kau sudah tahu jawabannya. Kau hanya takut menerimanya.
***
Sore itu, Abdul Wira kembali ke rumah dengan keputusan yang sudah bulat—meski hatinya masih berat.
Ia menulis surat balasan, menolak jabatan itu dengan hormat. Tangannya gemetar saat menulis, karena ia tahu—ini berarti ia akan tetap miskin, akan tetap berjuang, akan tetap tidak punya jaminan masa depan.
Tapi ada sesuatu yang lebih penting dari semua itu: kedamaian hati.
Saat ia selesai menulis, ia merasakan sesuatu yang aneh—seolah beban berat di dadanya terangkat. Seolah ia baru saja lolos dari jebakan yang hampir merenggutnya.
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira sujud lebih lama dari biasanya. Dalam sujud itu, ia tidak meminta apa-apa. Ia hanya berbisik:
Alhamdulillah.
Syukur—bukan karena ia dapat yang ia inginkan, tetapi karena ia diberi kekuatan untuk memilih yang benar meski berat.
Syukur—bukan karena jalan lurus itu mudah, tetapi karena ia masih bisa melihatnya di tengah kabut keraguan.
Syukur—bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia masih diberi kesempatan untuk memohon jalan, untuk terus memohon, untuk tidak pernah berhenti memohon.
Ihdinaį¹£-į¹£irÄį¹al-mustaqÄ«m.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Bukan aku sudah di jalan lurus. Bukan aku tahu jalan lurus. Tetapi tunjukilah—sebuah permohonan yang tidak pernah selesai, yang harus diulang setiap hari, setiap shalat, setiap detik.
Karena jalan lurus itu bukan tujuan yang sudah tercapai—tetapi permohonan yang terus dipanjatkan.
***
Esok paginya, Abdul Wira mengirim surat penolakannya. Dan sore harinya, ia menerima balasan—ancaman halus bahwa ia akan "dicatat" sebagai orang yang tidak kooperatif dengan pemerintah kolonial.
Soedarmo datang, wajahnya cemas. "Wira, ini berbahaya. Mereka bisa membuat hidupmu susah."
Abdul Wira tersenyum—senyum yang tenang meski tidak bahagia. "Mungkin, Darmo. Tapi setidaknya aku bisa tidur nyenyak malam ini. Dan itu... itu lebih berharga dari jabatan apa pun."
Soedarmo memeluknya erat. "Kau memilih jalan yang benar, Wira. Jalan yang berat, tapi benar."
Mereka duduk bersama di beranda, menatap matahari yang mulai terbenam—matahari yang sama yang menyinari orang yang memilih jalan lurus dan orang yang memilih jalan mudah, tanpa membeda-bedakan.
"Wira," kata Soedarmo, "aku dulu pikir, jalan lurus itu jalan yang membawa kesuksesan. Tapi sekarang aku paham—jalan lurus itu jalan yang membawa kedamaian. Dan kedamaian itu tidak bisa dibeli dengan apa pun."
***
Malam itu, Abdul Wira duduk sendirian di beranda, menatap langit yang penuh bintang. Ia memikirkan pilihannya, memikirkan konsekuensi yang mungkin datang, memikirkan jalan yang masih panjang di depan.
Tapi ia tidak menyesal.
Karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami arti ihdinaį¹£-į¹£irÄį¹al-mustaqÄ«m—bukan sekadar kalimat yang dihafalkan, tetapi doa yang hidup, yang nyata, yang diperlukan setiap saat.
Jalan lurus itu tidak selalu jelas. Kadang kabur, kadang berliku, kadang terlihat seperti bukan jalan sama sekali.
Tapi jalan lurus itu punya satu ciri: ia membawa kedamaian. Bukan kemudahan, bukan kesuksesan, tetapi kedamaian—kedamaian yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang memilih untuk taat, meski berat.
Abdul Wira menutup mata, membisikkan doa yang sudah ia ucapkan ribuan kali, tapi baru sekarang benar-benar ia rasakan:
Ihdinaį¹£-į¹£irÄį¹al-mustaqÄ«m.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Bukan sekali, tetapi setiap hari. Bukan saat bingung saja, tetapi saat merasa sudah tahu. Bukan saat lemah saja, tetapi saat merasa kuat.
Karena kita tidak pernah sampai pada jalan lurus—kita selalu dalam proses mencarinya, dalam proses dimohonkannya, dalam proses ditunjukinya.
Dan doa ini—doa yang tidak pernah selesai—adalah bukti bahwa kita rendah hati, bahwa kita sadar kita lemah, bahwa kita butuh petunjuk-Nya setiap saat, setiap pilihan, setiap langkah.
Ya Allah, jangan biarkan kami merasa sudah di jalan lurus—sehingga kami berhenti memohon petunjuk. Jangan biarkan kami merasa sudah tahu—sehingga kami sombong dan tersesat. Ajari kami untuk terus memohon, terus mencari, terus meminta ditunjukkan—karena jalan lurus itu bukan milik kami, tetapi pemberian-Mu. Dan setiap hari, kami butuh Engkau menunjukkan lagi, mengingatkan lagi, membimbing lagi—karena tanpa-Mu, kami tidak tahu ke mana harus melangkah.
***
"Jalan lurus bukan yang sudah kita temukan—tetapi yang terus kita mohonkan. Karena doa ini tidak pernah selesai, sampai napas terakhir."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar