PRAKATA PENULIS



Saya tidak tahu kapan tepatnya saya mulai membaca Al-Fatihah tanpa benar-benar membacanya.

Mungkin saat shalat subuh yang terburu-buru, saat bacaan meluncur begitu saja dari lidah tanpa melewati hati. Mungkin saat shalat di perjalanan, saat pikiran melayang ke urusan dunia yang menunggu. Atau mungkin—dan ini yang paling menakutkan—saat saya merasa sudah tahu semua artinya, sehingga tidak merasa perlu memahami lagi.

Al-Fatihah. Tujuh ayat. Dibaca minimal tujuh belas kali sehari. Ribuan kali dalam setahun. Ratusan ribu kali dalam seumur hidup.

Dan suatu hari, setelah puluhan tahun membacanya, saya tersadar: Apakah saya benar-benar memahami apa yang saya ucapkan?

Novel ini lahir dari pertanyaan itu.

***

Di Jalan yang Dimohonkan bukan buku tafsir. Ini bukan kitab teologi atau kajian ilmiah tentang Al-Fatihah. Ada banyak ulama besar yang sudah menulis tentang itu dengan jauh lebih mendalam dan lebih layak.

Novel ini adalah upaya saya—seorang manusia biasa yang juga sedang belajar—untuk memahami Al-Fatihah bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai peta kehidupan. Sebagai doa yang tidak pernah selesai. Sebagai jalan yang harus terus dimohonkan.

Saya menulis ini dengan cara yang saya bisa: lewat cerita. Lewat tokoh-tokoh yang merasakan apa yang mungkin kita semua rasakan—ragu, jatuh, tersesat, lalu mencoba kembali. Lewat perjalanan Abdul Wira Pranata yang mencerminkan perjalanan kita semua: dari sekadar mengetahui Tuhan, menuju bergantung kepada-Nya.

***

Novel ini mengambil latar Hindia Belanda (1915-1945) bukan tanpa alasan. Periode ini adalah masa di mana umat Islam di Nusantara mengalami pergulatan hebat: antara mempertahankan identitas religius dan menghadapi tekanan modernitas kolonial. Antara iman yang diwariskan leluhur dan rasionalitas yang ditawarkan pendidikan Barat. Antara menjadi diri sendiri dan menjadi apa yang penjajah inginkan.

Konteks ini memberikan ruang untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan yang tetap relevan hingga hari ini:

  • Bagaimana kita hidup dengan iman di tengah dunia yang terus berubah?
  • Bagaimana kita menyeimbangkan ilmu dan hidayah, akal dan iman?
  • Bagaimana kita tetap di jalan yang lurus saat dunia menawarkan begitu banyak jalan pintas?

Dan yang paling penting: Bagaimana kita hidup seolah seluruh hidup kita adalah tafsir dari Al-Fatihah yang kita baca setiap hari?

***

Saya menulis novel ini dalam tiga puluh bab, memetakan tujuh ayat Al-Fatihah menjadi tiga puluh perjalanan. Setiap bab adalah pergulatan, setiap ayat adalah pelajaran yang dipetik bukan dari buku, tetapi dari kehidupan itu sendiri.

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm menjadi pelajaran tentang memulai dengan niat yang benar, tentang kasih Tuhan yang luas dan dalam.

Al-ḥamdu lillāhi rabbil 'ālamīn menjadi pelajaran tentang syukur dalam kekurangan, tentang Tuhan yang merawat, bukan hanya menghukum.

Ar-raḥmānir-raḥīm yang diulang menjadi pelajaran tentang kasih yang berlapis—kasih ibu, kasih di tengah sejarah yang kejam, kasih yang memaafkan.

Māliki yaumid-dīn menjadi pelajaran tentang kesadaran akan pembalasan yang menyadarkan, tentang tidak ada jalan pintas.

Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn menjadi pelajaran tentang sujud sebagai kebebasan, tentang mengakui ketergantungan sebagai kekuatan.

Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm... menjadi pelajaran tentang jalan yang tidak pernah selesai dimohonkan, tentang teladan yang hidup, tentang bahaya tersesat meski pintar.

***

Tokoh-tokoh dalam novel ini—Abdul Wira, ibunya, Kyai Hasan, Soedarmo, Siti Maryam—adalah representasi dari kita semua. Mereka tidak sempurna. Mereka jatuh, mereka ragu, mereka salah. Tapi mereka terus mencoba. Terus memohon. Terus berjalan.

Dan itu, menurut saya, adalah inti dari Al-Fatihah: kita tidak pernah sampai. Kita hanya terus berjalan, terus memohon, terus meminta ditunjukkan—sampai napas terakhir.

***

Saya menulis novel ini dengan penuh kesadaran akan keterbatasan saya. Saya bukan ulama, bukan ahli tafsir, bukan orang yang layak mengajarkan agama. Saya hanya seorang penulis yang juga sedang belajar, yang mencoba memahami doa yang telah saya baca ribuan kali, yang ingin hidup bukan hanya membaca Al-Fatihah—tetapi menjadi Al-Fatihah.

Jika dalam novel ini ada yang benar, itu dari Allah semata. Jika ada yang salah, itu dari keterbatasan dan kekeliruan saya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tersinggung, jika ada penafsiran yang keliru, jika ada yang kurang tepat. Kritik dan masukan dari pembaca—terutama dari para ulama dan ahli ilmu—akan saya terima dengan rendah hati sebagai bagian dari proses belajar saya.

***

Novel ini saya persembahkan untuk:

Ibu dan ayah saya, yang mengajarkan Al-Fatihah bukan lewat kata-kata, tetapi lewat cara mereka hidup—dengan sabar, dengan syukur, dengan kasih yang tidak pernah bersyarat.

Para guru spiritual saya, yang meski tidak saya sebutkan nama, jejak ajaran mereka ada di setiap bab novel ini.

Teman-teman yang menemani perjalanan menulis ini, yang mendengarkan kegelisahan saya, yang membaca draft demi draft, yang mengingatkan saat saya hampir kehilangan arah.

Dan untuk Anda, pembaca yang budiman, yang memilih untuk membuka halaman ini. Semoga novel ini bukan hanya cerita yang Anda baca, tetapi undangan untuk melihat kembali Al-Fatihah yang sudah Anda baca ribuan kali—dengan mata yang baru, dengan hati yang lebih terbuka.

***

Terakhir, saya ingin mengajak Anda untuk membaca novel ini dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Jangan terburu-buru. Biarkan setiap bab mengendap. Biarkan setiap refleksi berbicara kepada pengalaman hidup Anda sendiri. Dan setelah selesai membaca, cobalah membaca Al-Fatihah lagi—pelan-pelan, ayat demi ayat, dengan kesadaran penuh.

Mungkin Anda akan menemukan, seperti yang saya temukan: doa ini tidak pernah tamat. Kita hanya terus membacanya, terus menghayatinya, terus memohonkannya—sampai akhirnya, hidup kita sendiri yang menjadi tafsirnya.

***

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Dengan nama-Nya saya mulai menulis ini.
Dengan nama-Nya pula saya akhiri.

Dan saya mohon—kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik Hari Pembalasan, Yang hanya kepada-Nya kami menyembah dan hanya kepada-Nya kami meminta pertolongan—tunjukilah kami jalan yang lurus.

Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Amin.

***

[Arda Dinata]
[Pangandaran, Februari 2026]

"Kita tidak pernah selesai belajar membaca Al-Fatihah—kita hanya terus membacanya, sampai akhirnya hidup kita yang menjadi tafsirnya."

📚 Daftar Chapter