BAB 23
Ibadah Sehari-hari
"Ibadah bukan hanya yang dilakukan di sajadah—tetapi yang dialami di jalan, di pasar, di sawah, di setiap detik kehidupan."
Abdul Wira terbangun sebelum subuh, seperti biasa.
Tapi pagi itu berbeda. Saat ia berwudu di sumur belakang rumah, air dingin yang menyentuh kulitnya terasa berbeda—bukan sekadar ritual, tetapi pembersihan. Saat ia berdiri di sajadah menghadap kiblat, ia tidak merasakan rutinitas—tetapi pertemuan. Saat ia sujud, ia tidak merasakan kewajiban—tetapi kerinduan.
Ada yang berubah. Bukan shalatnya, tetapi cara ia melihat shalat.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Setelah shalat, Abdul Wira tidak langsung beranjak seperti biasanya. Ia duduk tafakur lebih lama, menatap sajadah lusuh di bawahnya, memikirkan sesuatu yang baru ia sadari:
Shalat itu lima waktu. Tapi ibadah itu dua puluh empat jam.
Selama ini ia memisahkan keduanya—shalat di sajadah, lalu hidup biasa di luar sajadah. Seolah ibadah dan kehidupan adalah dua hal yang berbeda. Seolah ia bisa menjadi hamba Tuhan saat shalat, lalu menjadi dirinya sendiri saat bekerja.
Tapi pagi itu, ia mulai memahami: ibadah bukan hanya yang dilakukan di sajadah. Ibadah adalah seluruh hidup—jika diniatkan untuk-Nya.
***
Pagi itu, Abdul Wira pergi ke pasar untuk membeli sayur. Biasanya, pergi ke pasar adalah urusan duniawi—beli, tawar, pulang. Tapi kali ini, ia mencoba sesuatu yang berbeda: ia niatkan setiap langkahnya sebagai ibadah.
Bismillah, bisiknya saat melangkah keluar rumah. Aku pergi untuk mencari rezeki yang halal, untuk memberi makan tubuh yang Engkau titipkan.
Di jalan, ia bertemu tetangga tua yang sedang membawa beban berat. Biasanya, Abdul Wira hanya menyapa lalu lewat. Tapi kali ini, ia berhenti.
"Pak, biar saya bantu."
Ia mengambil sebagian beban, membawanya sampai rumah tetangga itu. Tidak lama, tidak berat. Tapi ada sesuatu yang berbeda—ia tidak melakukannya karena terpaksa, tetapi karena sadar: ini juga ibadah.
IyyÄka na'budu, bisiknya dalam hati. Hanya Engkau yang aku sembah—bahkan saat membantu tetangga, bahkan saat melakukan hal kecil.
Di pasar, seorang penjual sayur—nenek tua yang biasanya duduk di pojok—terlihat sedih. Tidak ada yang membeli.
Abdul Wira mendekati, membeli lebih banyak dari yang ia butuhkan. Nenek itu tersenyum lega, matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, Nak. Semoga rezekinya lancar."
Abdul Wira tersenyum. Tapi dalam hatinya, ia yang berterima kasih—karena nenek itu memberinya kesempatan untuk beribadah. Bukan ibadah di sajadah, tetapi ibadah di pasar. Ibadah yang hidup, yang nyata, yang menyentuh orang lain.
***
Siang itu, Abdul Wira membantu Soedarmo memperbaiki atap rumah yang bocor. Mereka bekerja di bawah terik matahari, keringat mengucur, tangan kotor oleh tanah liat.
"Wira," kata Soedarmo sambil mengangkat genteng, "apa bedanya pekerjaan ini dengan ibadah?"
Abdul Wira berhenti sejenak, menyeka keringat. "Tidak ada bedanya, Darmo—jika kita niatkan untuk Tuhan."
Soedarmo menatapnya, bingung. "Maksudmu?"
"Kita memperbaiki atap ini bukan hanya supaya tidak bocor," jelas Abdul Wira, "tapi karena rumah adalah titipan Tuhan. Merawat titipan-Nya adalah ibadah. Membantu orang yang butuh adalah ibadah. Bahkan berkeringat di bawah matahari ini—jika diniatkan untuk-Nya—adalah ibadah."
Soedarmo terdiam, mencerna kata-kata itu. Lalu ia tersenyum. "Jadi, selama ini aku sudah beribadah tanpa sadar?"
"Bukan tanpa sadar," koreksi Abdul Wira, "tapi belum dengan niat yang jelas. Dan niat itulah yang mengubah pekerjaan biasa menjadi ibadah."
Mereka melanjutkan bekerja, tapi kali ini dengan perasaan yang berbeda. Bukan sekadar memperbaiki atap, tetapi mempersembahkan kerja sebagai bentuk syukur—syukur untuk tangan yang masih kuat, untuk tubuh yang masih sehat, untuk kesempatan untuk memberi manfaat.
***
Sore itu, Abdul Wira duduk di beranda bersama Soedarmo, menikmati teh hangat setelah bekerja seharian.
"Wira," kata Soedarmo, "aku dulu pikir ibadah itu hanya shalat, puasa, zakat. Yang di sajadah, yang terlihat religius. Tapi kau bilang, hidup itu sendiri bisa jadi ibadah. Aku masih belum paham sepenuhnya."
Abdul Wira menatap langit yang mulai jingga. "Darmo, coba kau pikir. Saat kau makan, apa itu ibadah?"
Soedarmo berpikir. "Makan itu... kebutuhan?"
"Bisa jadi kebutuhan biasa," kata Abdul Wira, "tapi bisa juga jadi ibadah—jika kau niatkan untuk memberi energi pada tubuh yang Tuhan titipkan, supaya kau bisa beribadah lebih baik, bisa bekerja lebih bermanfaat. Saat kau tidur, apa itu ibadah?"
Soedarmo mulai mengerti. "Jika diniatkan untuk istirahat supaya besok bisa lebih produktif?"
Abdul Wira mengangguk. "Bahkan tertawa bersama teman, merawat tanaman, menyapu halaman—semua bisa jadi ibadah, jika diniatkan untuk-Nya. Karena iyyÄka na'budu—hanya Engkau yang kami sembah—bukan hanya di sajadah, tetapi di setiap detik kehidupan."
Soedarmo menatap cangkir teh di tangannya. "Jadi, minum teh ini bisa jadi ibadah?"
Abdul Wira tersenyum. "Jika kau niatkan sebagai syukur untuk nikmat yang diberikan, jika kau minum dengan sadar dan penuh rasa terima kasih—kenapa tidak?"
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk tafakur lebih lama. Ia memikirkan hari yang baru saja dilaluinya—dari subuh sampai maghrib, dari rumah ke pasar, dari bekerja ke istirahat.
Dan ia menyadari: selama ini ia hidup terpisah-pisah. Ibadah di satu sisi, kehidupan di sisi lain. Tuhan di sajadah, dunia di luar sajadah.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, ia mencoba menyatukan keduanya. Dan hasilnya? Ia merasakan kehadiran Tuhan bukan hanya saat shalat—tetapi saat berjalan, saat berbicara, saat bekerja, bahkan saat istirahat.
Hidup sebagai shalat panjang.
Itulah yang ia rasakan. Bukan shalat yang lima waktu saja, tetapi shalat yang dua puluh empat jam—jika setiap tindakan diniatkan untuk-Nya, jika setiap langkah disadari sebagai ibadah.
Abdul Wira membuka mata, menatap sajadah di hadapannya. Lalu ia membisikkan sesuatu yang baru ia pahami:
Ya Allah, ajari aku untuk hidup sebagai ibadah. Ajari aku untuk melihat-Mu bukan hanya di sajadah, tetapi di jalan, di pasar, di sawah, di setiap detik kehidupan. Ajari aku untuk meniatkan setiap tindakan untuk-Mu—sehingga seluruh hidupku menjadi shalat, seluruh waktuku menjadi ibadah.
***
Esok paginya, Abdul Wira bangun dengan kesadaran baru. Ia tidak lagi melihat hari sebagai kumpulan rutinitas—tetapi sebagai kesempatan untuk beribadah.
Saat menyapu halaman, ia niatkan sebagai membersihkan titipan Tuhan.
Saat memasak nasi, ia niatkan sebagai syukur untuk rezeki yang diberikan.
Saat berbicara dengan tetangga, ia niatkan sebagai menjaga silaturahmi yang diperintahkan.
Saat istirahat di siang hari, ia niatkan sebagai merawat tubuh yang dipinjamkan.
Semua hal kecil, semua hal biasa—tapi kini terasa berbeda. Terasa lebih bermakna. Terasa lebih hidup.
Karena ia tidak lagi sekadar menjalani hari—ia mempersembahkan hari.
***
Suatu sore, seorang anak kecil bertanya pada Abdul Wira saat ia sedang memberi makan ayam di halaman.
"Pak, apa Bapak sedang beribadah?"
Abdul Wira tersenyum. "Iya, Nak."
Anak itu bingung. "Tapi Bapak tidak sedang shalat?"
Abdul Wira jongkok, menyamakan tinggi dengan anak itu. "Shalat itu ibadah, benar. Tapi ibadah bukan hanya shalat. Memberi makan ayam ini juga ibadah—karena aku merawat makhluk yang Tuhan ciptakan. Berbicara denganmu ini juga ibadah—karena aku mengajarkan kebaikan."
Anak itu menatap Abdul Wira dengan mata berbinar. "Jadi, bermain juga bisa jadi ibadah?"
Abdul Wira tertawa. "Bisa, kalau kau bermain dengan cara yang baik, tidak menyakiti teman, dan kau ingat untuk berterima kasih pada Tuhan yang memberimu kesempatan bermain."
Anak itu berlari kembali ke teman-temannya, wajahnya ceria. Dan Abdul Wira tersenyum, merasakan hatinya penuh—karena ia baru saja beribadah lagi, dengan mengajarkan anak kecil tentang Tuhan.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Soedarmo datang dengan wajah yang lebih tenang.
"Wira," katanya, "aku mencoba apa yang kau ajarkan. Aku niatkan semua pekerjaanku hari ini untuk Tuhan. Dan kau tahu apa yang terjadi?"
Abdul Wira tersenyum. "Apa?"
"Aku tidak lelah seperti biasanya. Pekerjaan yang sama, tapi terasa lebih ringan. Mungkin karena aku tidak lagi merasa bekerja untuk diriku sendiri—tetapi untuk-Nya."
Abdul Wira mengangguk. "Itulah bedanya, Darmo. Saat kita bekerja untuk diri sendiri, kita mudah lelah—karena kita pikul beban sendiri. Tapi saat kita bekerja untuk Tuhan, kita ringan—karena kita tahu, Dia yang memberi kekuatan, Dia yang menolong."
Mereka duduk dalam sunyi, menatang bintang-bintang yang mulai bermunculan.
"Wira," kata Soedarmo pelan, "aku baru paham sekarang. IyyÄka na'budu—hanya Engkau yang kami sembah—bukan hanya kalimat. Itu cara hidup. Cara melihat seluruh kehidupan sebagai ibadah."
Abdul Wira tersenyum. "Dan saat kita hidup seperti itu, kita tidak lagi merasa terpisah dari Tuhan. Kita merasakan kehadiran-Nya di mana-mana—di rumah, di jalan, di hati kita."
***
IyyÄka na'budu.
Hanya Engkau yang kami sembah—bukan hanya lima waktu, tetapi dua puluh empat jam. Bukan hanya di sajadah, tetapi di jalan. Bukan hanya saat shalat, tetapi saat bekerja, saat istirahat, saat berbicara, saat diam.
Karena ibadah bukan ritual yang terpisah dari kehidupan—ibadah adalah kehidupan itu sendiri, jika diniatkan untuk-Nya.
Dan saat kita hidup dengan cara itu, seluruh hidup menjadi shalat panjang—shalat yang tidak pernah selesai sampai napas terakhir, shalat yang tidak dibatasi waktu atau tempat, shalat yang mengubah yang biasa menjadi bermakna, yang kecil menjadi besar, yang duniawi menjadi ukhrawi.
Ya Allah, ajari kami untuk hidup sebagai ibadah—untuk melihat setiap detik sebagai kesempatan menyembah-Mu, setiap tindakan sebagai persembahan untuk-Mu, setiap napas sebagai dzikir kepada-Mu. Ajari kami untuk tidak memisahkan ibadah dan kehidupan, tetapi menyatukan keduanya—sehingga seluruh hidup kami menjadi shalat panjang, seluruh waktu kami menjadi pengabdian, seluruh keberadaan kami menjadi saksi: iyyÄka na'budu—hanya Engkau yang kami sembah, setiap saat, di mana pun, dalam apa pun yang kami lakukan.
***
"Ibadah sejati bukan yang dilakukan lima waktu di sajadah—tetapi yang dialami dua puluh empat jam dalam kehidupan, saat setiap tindakan diniatkan untuk-Nya."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar