BAB 22
Ketergantungan
"Kekuatan sejati bukan pada kemampuan berdiri sendiri—tetapi pada keberanian mengaku: aku lemah, aku butuh-Mu."
Abdul Wira jatuh sakit lagi—kali ini lebih parah dari sebelumnya.
Demam tinggi yang tidak turun selama empat hari, batuk yang merobek dada, tubuh yang tidak bisa bangun dari tikar. Ia terbaring sendirian di rumah panggung yang bocor, mendengar hujan deras mengguyur atap, merasakan dingin yang menusuk tulang.
Tidak ada yang merawat. Ibunya sudah tiada. Kyai Hasan sudah pergi. Ia sendirian—benar-benar sendirian.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Di malam keempat, saat demamnya memuncak, Abdul Wira merasa ia tidak akan bertahan sampai pagi. Napasnya pendek, dadanya sesak, pandangannya kabur. Ia mencoba berdoa, tapi lidahnya kelu. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya tidak mau menurut.
Dan di tengah kelemahan itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, Abdul Wira merasakan sesuatu yang selama ini ia hindari: ketergantungan total.
Ia tidak bisa apa-apa. Tidak bisa menolong dirinya sendiri. Tidak bisa mengandalkan kekuatannya. Tidak bisa bangga dengan kemampuannya.
Yang ia bisa hanya satu: berbisik dalam hati, dengan suara yang hampir tidak terdengar:
Ya Allah, tolong aku. Aku tidak bisa apa-apa. Hanya Engkau yang bisa menolong.
Dan entah kenapa, setelah doa itu keluar—doa yang paling jujur yang pernah ia panjatkan—ia merasakan sesuatu yang aneh: kedamaian. Bukan kesembuhan, belum. Tapi kedamaian. Kedamaian yang datang dari mengakui kelemahan, dari menyerahkan segalanya, dari bergantung total pada Yang Maha Kuasa.
***
Pagi harinya, Abdul Wira terbangun dengan suara ketukan di pintu.
Ia tidak ingat bagaimana ia tertidur. Yang ia ingat hanya doa itu—doa yang jujur, doa yang lemah, doa yang mengakui: aku butuh-Mu.
Pintu terbuka. Soedarmo masuk, membawa obat dan makanan.
"Wira!" serunya, wajahnya pucat melihat kondisi Abdul Wira. "Kenapa tidak bilang kau sakit?"
Abdul Wira tersenyum lemah. "Aku... aku pikir aku bisa sendiri."
Soedarmo duduk di sampingnya, menyeka keringat di dahi Abdul Wira dengan kain basah. "Kau tidak bisa sendiri, Wira. Tidak ada yang bisa sendiri. Kita semua butuh pertolongan—dari Tuhan, dari sesama manusia."
Ia memberikan air putih, membantu Abdul Wira minum. "Tadi malam aku bermimpi melihatmu sakit. Dan entah kenapa, aku merasa harus datang. Mungkin itu bisikan-Nya."
Abdul Wira merasakan air matanya mengalir. "Terima kasih, Darmo. Terima kasih sudah datang."
Soedarmo menggeleng. "Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada Yang menggerakkan hatiku untuk datang."
***
Hari-hari berlalu, dan Abdul Wira perlahan pulih—bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena pertolongan yang datang: Soedarmo yang merawat, tetangga yang membawa makanan, doa-doa orang yang ia bahkan tidak tahu siapa.
Dan dalam proses penyembuhan itu, ia belajar sesuatu yang tidak pernah ia pelajari saat ia kuat: mengaku lemah bukan kehinaan—tetapi kekuatan. Kekuatan untuk membuka diri, untuk menerima pertolongan, untuk bergantung pada Yang Maha Menolong.
Suatu sore, saat Abdul Wira sudah bisa duduk di beranda, Soedarmo datang lagi—kali ini dengan wajah yang lelah.
"Wira," katanya pelan, "aku butuh bantuanmu."
Abdul Wira menatapnya, terkejut. Soedarmo—yang selama ini tampak kuat, mandiri, tidak pernah meminta tolong—kini duduk dengan bahu yang membungkuk, wajah yang pucat.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi," lanjut Soedarmo, suaranya bergetar. "Aku sudah kehilangan segalanya. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, tidak ada harapan. Dan aku... aku malu meminta tolong."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak. Ia melihat dirinya sendiri di mata Soedarmo—dirinya yang dulu juga terlalu sombong untuk meminta tolong, terlalu bangga untuk mengaku lemah.
"Darmo," kata Abdul Wira lembut, "mengaku lemah itu bukan aib. Mengaku butuh pertolongan itu bukan kehinaan. Justru di situlah kita menemukan kekuatan—kekuatan untuk bergantung pada Tuhan, dan kekuatan untuk menerima kasih dari sesama."
Soedarmo menatap Abdul Wira dengan mata berkaca-kaca. "Tapi aku sudah terbiasa kuat, Wira. Terbiasa mandiri. Terbiasa tidak butuh siapa-siapa."
"Dan itu yang membuatmu lelah, kan?" tanya Abdul Wira. "Lelah karena harus terus kuat, lelah karena harus terus terlihat sempurna, lelah karena tidak pernah boleh lemah."
Soedarmo mengangguk, air matanya jatuh.
"Lepaskan, Darmo. Lepaskan beban itu. Akui bahwa kau lemah, bahwa kau butuh pertolongan. Dan percayalah—saat kau mengaku lemah, kau justru menemukan kekuatan. Kekuatan yang bukan dari dirimu, tetapi dari Tuhan yang kau bergantung padanya."
***
Malam itu, mereka shalat isya bersama. Dan dalam sujud, keduanya berbisik—bukan doa yang panjang, bukan doa yang indah, tetapi doa yang jujur:
IyyÄka nasta'Ä«n.
Hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.
Bukan kepada diri sendiri yang sering salah. Bukan kepada manusia yang juga lemah. Bukan kepada harta yang bisa habis. Hanya kepada Engkau.
Dan dalam pengakuan itu—pengakuan bahwa mereka lemah, bahwa mereka butuh—mereka merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan: kelegaan. Kelegaan yang datang dari tidak harus pura-pura kuat, dari tidak harus terus berjuang sendirian, dari tidak harus malu mengaku lemah.
Karena Tuhan tidak butuh hamba yang kuat. Tuhan butuh hamba yang jujur—jujur tentang kelemahannya, jujur tentang ketergantungannya, jujur tentang kebutuhannya akan pertolongan.
***
Esok paginya, Abdul Wira dan Soedarmo pergi ke sawah, membantu petani-petani yang sedang menanam padi. Mereka berdua tidak ahli, gerakan mereka canggung, tapi mereka bekerja dengan tulus.
Seorang petani tua—yang dulu pernah dirugikan Soedarmo—mendekati mereka saat istirahat.
"Nak," katanya pada Soedarmo, "aku lihat kau sudah berubah. Dulu kau sombong, tidak mau kotor tanganmu. Sekarang kau mau turun ke sawah, mau membungkuk di lumpur."
Soedarmo tersenyum malu. "Pak, aku minta maaf untuk semua yang dulu. Aku terlalu sombong, terlalu merasa bisa sendiri. Sekarang aku belajar—aku tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan Tuhan, tanpa bantuan sesama."
Petani itu menepuk bahu Soedarmo dengan lembut. "Bagus, Nak. Bagus. Karena padi yang paling baik adalah yang paling merunduk—semakin berisi, semakin rendah. Begitu juga manusia. Semakin kau mengakui kelemahanmu, semakin kau dekat dengan Tuhan."
***
Sore itu, duduk di pematang sawah, Abdul Wira dan Soedarmo menatap matahari yang mulai terbenam.
"Wira," kata Soedarmo, "aku dulu pikir ketergantungan itu kelemahan. Tapi sekarang aku paham—ketergantungan pada Tuhan justru kekuatan. Karena dengan bergantung pada-Nya, aku tidak takut lagi. Tidak takut gagal, tidak takut kehilangan, tidak takut lemah. Karena aku tahu, Dia yang menolong tidak akan pernah tidur, tidak akan pernah lupa."
Abdul Wira mengangguk. "Dan ketergantungan itu juga mengajarkan kita untuk rendah hati. Untuk tidak sombong dengan apa yang kita punya, karena kita tahu—semua itu bisa diambil. Dan saat diambil, yang tersisa hanya ketergantungan kita pada-Nya."
Mereka terdiam sejenak, menatap langit yang mulai berubah jingga.
"Kau tahu, Darmo," lanjut Abdul Wira, "bayi yang baru lahir tidak malu menangis minta susu. Ia tidak sombong, tidak pura-pura kuat. Ia tahu ia lemah, ia tahu ia butuh. Dan karena ia mengaku butuh, ia diberi. Begitu juga kita di hadapan Tuhan—kita harus seperti bayi itu. Tidak malu mengaku lemah, tidak sombong pura-pura kuat. Karena hanya saat kita mengaku lemah, pertolongan-Nya turun."
***
Malam itu, Abdul Wira duduk sendirian di beranda, menatap langit yang penuh bintang. Ia memikirkan perjalanannya—dari orang yang sombong merasa bisa sendiri, hingga orang yang sadar bahwa ia tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan-Nya.
Dan ia memahami: iyyÄka nasta'Ä«n—hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan—bukan sekadar kalimat. Itu adalah pengakuan. Pengakuan bahwa kita lemah. Pengakuan bahwa kita butuh. Pengakuan bahwa tanpa-Nya, kita tidak bisa apa-apa.
Dan pengakuan itu bukan kehinaan—tetapi kehormatan. Kehormatan untuk menjadi hamba yang bergantung pada Tuan yang tidak pernah tidur. Kehormatan untuk menjadi lemah yang dilindungi Yang Maha Kuat. Kehormatan untuk menjadi butuh yang diberi Yang Maha Kaya.
Abdul Wira menutup mata, membisikkan doa dalam sunyi:
Ya Allah, aku mengaku—aku lemah. Aku tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan-Mu. Selama ini aku terlalu sombong, terlalu merasa bisa sendiri, terlalu malu mengaku butuh. Tapi sekarang aku paham—kekuatanku ada pada ketergantunganku kepada-Mu.
Ia menarik napas dalam, merasakan dadanya penuh.
Ajari aku untuk tidak malu mengaku lemah. Ajari aku untuk tidak sombong pura-pura kuat. Ajari aku untuk bergantung total kepada-Mu—dalam sehat dan sakit, dalam kaya dan miskin, dalam senang dan susah. Karena aku tahu, hanya kepada-Mu lah aku bisa meminta pertolongan. Hanya dengan bergantung pada-Mu lah aku benar-benar kuat.
***
Hari-hari berlalu, dan Abdul Wira hidup dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi malu meminta tolong. Ia tidak lagi sombong merasa bisa sendiri. Ia tidak lagi takut terlihat lemah.
Karena ia sudah mengerti: ketergantungan pada Tuhan bukan kelemahan—tetapi kekuatan. Kekuatan untuk hidup tanpa takut, kekuatan untuk jatuh tanpa hancur, kekuatan untuk lemah tanpa malu.
IyyÄka na'budu wa iyyÄka nasta'Ä«n.
Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.
Dua pengakuan yang mengubah segalanya. Pertama, pengakuan bahwa hanya Dia yang layak disembah—yang membebaskan dari belenggu dunia. Kedua, pengakuan bahwa hanya Dia yang bisa menolong—yang membebaskan dari beban harus selalu kuat.
Dan di dua pengakuan itu, manusia menemukan kebebasan sejati—kebebasan untuk menjadi diri apa adanya: lemah, butuh, bergantung. Dan dalam kelemahan itu, menemukan kekuatan yang tidak pernah habis: kekuatan Tuhan yang tidak pernah tidur, yang tidak pernah lupa, yang tidak pernah mengecewakan.
Ya Allah, ajari kami untuk hidup dengan jujur—jujur tentang kelemahan kami, jujur tentang kebutuhan kami, jujur tentang ketergantungan kami kepada-Mu. Karena kami tahu, kekuatan sejati bukan pada kemampuan berdiri sendiri—tetapi pada keberanian mengaku: aku lemah, aku butuh-Mu, aku bergantung total kepada-Mu. Dan dalam ketergantungan itu, kami menemukan kekuatan yang tidak pernah habis—kekuatan-Mu.
***
"Kekuatan sejati bukan pada kemampuan berdiri sendiri—tetapi pada keberanian mengaku lemah, dan bergantung total pada Yang Maha Kuat."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar