BAB 21

Sujud


"Sujud bukan tanda kekalahan—tetapi puncak kebebasan. Karena hanya saat kita sujud pada Yang Berhak, kita bebas dari semua yang tidak berhak."


Abdul Wira tidak pernah mengerti arti sujud—sampai ia melihat Soedarmo menangis di atas sajadah.


Malam itu, setelah shalat isya, Soedarmo datang ke surau dengan wajah hancur. Matanya merah, langkahnya goyah. Ia tidak bicara, hanya duduk di pojok, menatap kosong.

Abdul Wira mendekatinya, duduk di samping tanpa berkata apa-apa.

šŸ”’ Konten Terkunci

Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)

šŸ“š Daftar Chapter