BAB 21
Sujud
"Sujud bukan tanda kekalahan—tetapi puncak kebebasan. Karena hanya saat kita sujud pada Yang Berhak, kita bebas dari semua yang tidak berhak."
Abdul Wira tidak pernah mengerti arti sujud—sampai ia melihat Soedarmo menangis di atas sajadah.
Malam itu, setelah shalat isya, Soedarmo datang ke surau dengan wajah hancur. Matanya merah, langkahnya goyah. Ia tidak bicara, hanya duduk di pojok, menatap kosong.
Abdul Wira mendekatinya, duduk di samping tanpa berkata apa-apa.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
"Wira," bisik Soedarmo akhirnya, suaranya serak, "aku sudah sujud pada begitu banyak hal. Sujud pada ambisi, pada jabatan, pada pengakuan orang lain. Aku pikir itu yang membuat aku bebas—bebas dari kemiskinan, bebas dari pandangan rendah orang. Tapi ternyata... itu yang membuat aku budak."
Soedarmo menatap tangannya yang gemetar. "Aku jadi budak pendapat orang. Budak harta yang tidak pernah cukup. Budak takut kehilangan apa yang sudah kudapat. Dan sekarang, saat semuanya hilang, aku baru sadar—aku tidak pernah benar-benar bebas."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak. Ia melihat dirinya sendiri di mata Soedarmo—dirinya yang dulu juga pernah sujud pada banyak hal selain Tuhan.
"Darmo," kata Abdul Wira pelan, "ayo shalat. Sujud yang sebenarnya. Sujud pada Yang Berhak."
Mereka berdiri, mengambil wudu, lalu berdiri bersama di sajadah. Dan saat takbir, Abdul Wira merasakan sesuatu yang berbeda—seolah shalat malam ini bukan rutinitas, tetapi pembebasan.
Saat sujud, Soedarmo menangis—tangis yang panjang, yang tidak bisa ditahan. Abdul Wira mendengar isakan itu di sampingnya, merasakan beratnya—berat hati yang selama ini terikat, yang baru sekarang mencoba melepaskan diri.
Dan dalam sujud itu, Abdul Wira juga menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena akhirnya mengerti: sujud bukan penghinaan. Sujud adalah pembebasan.
***
Setelah shalat, mereka duduk dalam sunyi. Hanya suara angin malam yang berhembus pelan, membawa aroma tanah dan bunga melati.
"Wira," kata Soedarmo, "aku baru mengerti sekarang. Selama ini aku takut sujud—takut dianggap lemah, takut kehilangan harga diri. Tapi ternyata, saat aku sujud pada Tuhan, aku justru menemukan harga diri yang sejati. Karena aku tidak lagi butuh pengakuan orang lain. Aku sudah diakui oleh Yang Paling Berhak mengakui."
Abdul Wira mengangguk, merasakan kebenaran kata-kata itu. "Dan saat kita sujud pada-Nya, kita bebas dari semua yang lain. Bebas dari takut pada manusia, bebas dari haus pengakuan, bebas dari belenggu dunia yang tidak pernah puas."
Soedarmo menatap sajadah di hadapannya, menyentuhnya dengan lembut. "Ini tempat paling rendah yang bisa dicapai tubuh manusia. Tapi kenapa terasa seperti tempat paling tinggi?"
Abdul Wira tersenyum. "Karena di situlah kita menemukan Tuhan. Dan saat kita menemukan Tuhan, semua yang lain menjadi kecil. Semua yang tadinya terasa penting menjadi tidak penting. Semua yang tadinya terasa besar menjadi kecil."
***
Esok paginya, Abdul Wira bangun lebih awal dari biasanya. Ia shalat subuh dengan lebih khusyuk, sujudnya lebih lama. Dan dalam sujud itu, ia berbisik—bukan doa yang panjang, tetapi doa yang jujur:
Hanya Engkau yang kami sembah. Hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.
Kalimat itu terasa berbeda kali ini. Bukan sekadar hafalan, tetapi pengakuan. Pengakuan bahwa selama ini ia pernah menyembah yang lain—menyembah ambisi, menyembah kenyamanan, menyembah pengakuan. Dan pengakuan bahwa ia pernah meminta pertolongan pada yang lain—pada manusia, pada harta, pada dirinya sendiri.
Tapi semua itu bohong. Semua itu palsu. Yang benar-benar bisa disembah hanya Dia. Yang benar-benar bisa menolong hanya Dia.
Abdul Wira mengangkat kepala dari sujud, merasakan air mata mengalir. Tapi ia tersenyum—senyum yang tipis, tapi tulus. Karena ia baru saja merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya: kebebasan.
Kebebasan dari semua yang selama ini membelenggu—takut, ambisi, haus pengakuan. Semua itu runtuh saat ia sujud. Semua itu tidak berarti saat ia mengakui: hanya Engkau.
***
Siang itu, Abdul Wira duduk di tepi pantai, menatap laut yang luas. Ombak datang dan pergi, tidak pernah berhenti, seperti kehidupan yang terus berjalan.
Ia memikirkan semua yang pernah ia sujudi selain Tuhan. Pekerjaan yang ia pikir akan memberinya arti. Pengakuan orang yang ia pikir akan memberinya nilai. Harta yang ia pikir akan memberinya keamanan.
Semua itu ternyata tidak kekal. Semua itu bisa hilang dalam sekejap. Dan saat hilang, ia merasa hampa—karena ia menyembah yang tidak layak disembah.
Tapi saat ia sujud pada Tuhan—pada Yang Kekal, Yang Tidak Berubah, Yang Tidak Pernah Mengecewakan—ia menemukan sesuatu yang tidak bisa hilang: kedamaian.
IyyÄka na'budu wa iyyÄka nasta'Ä«n.
Hanya Engkau yang kami sembah. Hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.
Bukan aku, tetapi kami. Karena penyembahan ini bukan perjalanan sendirian—tetapi perjalanan bersama semua yang sadar bahwa hanya Dia yang layak disembah.
***
Sore itu, Abdul Wira bertemu dengan seorang petani tua yang sedang duduk di pematang sawah, menatap padi yang hampir siap dipanen.
"Pak," sapa Abdul Wira, "panennya bagus tahun ini."
Petani itu tersenyum, wajahnya penuh kerut tapi tenang. "Alhamdulillah, Nak. Tapi bukan karena aku hebat. Aku hanya menanam, menyiram, menjaga. Yang membuat tumbuh? Bukan aku. Yang memberi hujan? Bukan aku. Yang mengatur musim? Bukan aku."
Abdul Wira terdiam, mendengarkan.
"Dulu, waktu muda," lanjut petani itu, "aku sombong. Aku pikir panen bagus karena kerja kerasku. Panen gagal karena aku kurang usaha. Aku merasa jadi tuhan kecil di sawah ini."
Petani itu tertawa pelan. "Tapi semakin tua, semakin aku sadar—aku bukan apa-apa. Aku hanya tangan-Nya yang bergerak. Aku hanya alat-Nya yang dipakai. Dan saat aku sadar itu, aku justru merasa lebih bebas. Bebas dari beban harus sempurna. Bebas dari takut gagal. Karena aku tahu, yang menentukan bukan aku—tetapi Dia."
Abdul Wira merasakan dadanya penuh. Petani sederhana ini—yang tidak pernah sekolah, yang tidak pernah baca kitab tebal—sudah mengerti makna iyyÄka na'budu dengan cara yang paling indah.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira sujud lebih lama dari biasanya. Dalam sujud itu, ia tidak meminta apa-apa. Ia hanya diam, merasakan kehadiran—kehadiran Yang Lebih Besar, Yang Lebih Tinggi, Yang Layak Disembah.
Dan dalam sunyi itu, ia membisikkan sesuatu yang sudah lama terpendam:
IyyÄka na'budu.
Hanya Engkau yang aku sembah. Bukan ambisiku. Bukan pekerjaanku. Bukan harta. Bukan pengakuan orang. Hanya Engkau.
Wa iyyÄka nasta'Ä«n.
Hanya kepada Engkau aku meminta pertolongan. Bukan kepada manusia yang juga lemah. Bukan kepada hartaku yang bisa hilang. Bukan kepada diriku yang sering salah. Hanya kepada Engkau.
Abdul Wira merasakan air matanya mengalir ke sajadah. Tapi ia tidak mengangkat kepala. Ia justru menekan dahinya lebih dalam—seolah ingin melebur, ingin hilang, ingin tidak ada selain-Nya.
Dan dalam sujud yang panjang itu, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata: kebebasan. Kebebasan yang datang bukan dari memiliki segalanya, tetapi dari melepaskan segalanya. Kebebasan yang datang bukan dari berdiri tinggi, tetapi dari sujud rendah.
***
Esok paginya, Soedarmo datang lagi—tapi kali ini wajahnya berbeda. Tidak lagi hancur, tetapi tenang. Tidak lagi gelisah, tetapi damai.
"Wira," katanya, "aku tidur nyenyak semalam. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun."
Abdul Wira tersenyum. "Karena kau sudah sujud pada Yang Berhak."
Soedarmo mengangguk. "Dan aku baru sadar—selama ini aku tidak tidur nyenyak karena aku takut kehilangan. Takut kehilangan jabatan, kehilangan harta, kehilangan pengakuan. Tapi setelah kemarin sujud, aku sadar—semua itu bukan milikku. Semua itu hanya titipan. Dan saat aku sadar itu, aku tidak takut lagi. Karena yang punya bukan aku—tetapi Dia. Dan Dia yang tahu kapan harus memberi, kapan harus mengambil."
Mereka duduk bersama di beranda, menatap matahari yang mulai naik.
"Sujud itu aneh, ya," kata Soedarmo, "posisi paling rendah, tapi terasa paling tinggi. Posisi paling lemah, tapi terasa paling kuat. Posisi paling hina menurut dunia, tapi terasa paling mulia."
Abdul Wira mengangguk. "Karena di situlah kita menemukan siapa kita sebenarnya—bukan tuhan-tuhan kecil yang sombong, tetapi hamba yang rendah. Dan saat kita mengakui itu, kita justru menemukan kebebasan. Karena hamba yang tahu Tuannya tidak akan takut pada siapa pun selain Tuannya."
***
IyyÄka na'budu wa iyyÄka nasta'Ä«n.
Hanya Engkau yang kami sembah. Hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.
Dua kalimat pendek, tapi mengubah segalanya. Dua kalimat yang membebaskan dari semua belenggu—belenggu ambisi, belenggu takut, belenggu haus pengakuan.
Karena saat kita menyembah yang lain, kita menjadi budak. Budak yang tidak pernah bebas, yang tidak pernah puas, yang tidak pernah tenang. Tapi saat kita menyembah Dia—hanya Dia—kita menjadi bebas. Bebas dari semua yang tidak layak disembah.
Dan saat kita meminta pertolongan pada yang lain, kita menjadi kecewa. Karena manusia lemah, harta fana, diri sendiri sering salah. Tapi saat kita meminta pertolongan pada Dia—hanya Dia—kita tidak akan pernah kecewa. Karena Dia tidak pernah tidur, tidak pernah lupa, tidak pernah mengecewakan.
Ya Allah, ajari kami untuk sujud dengan sungguh—bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan hati. Ajari kami untuk menyembah hanya Engkau—tidak ambisi, tidak dunia, tidak diri sendiri. Ajari kami untuk meminta pertolongan hanya kepada Engkau—tidak kepada manusia yang juga lemah, tidak kepada harta yang bisa hilang. Karena kami tahu, hanya saat kami sujud pada-Mu, kami benar-benar bebas. Hanya saat kami menyembah-Mu, kami menemukan siapa kami sebenarnya: hamba-Mu. Dan itu—menjadi hamba-Mu—adalah kehormatan tertinggi, kebebasan sejati.
***
"Sujud bukan tanda kelemahan—tetapi puncak kebebasan. Karena hanya saat kita sujud pada Yang Berhak, kita bebas dari semua yang tidak berhak disembah."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar