BAB 20
Menghadap
"Di dunia, kita bisa bersembunyi di balik topeng. Tapi di hadapan-Nya, kita berdiri sendirian—telanjang dari semua kepura-puraan."
Kyai Hasan Basri meninggal pada subuh yang sunyi.
Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Tidak ada sakit parah. Hanya malam sebelumnya, kyai duduk lebih lama dari biasanya setelah shalat isya, menatap langit, seolah sedang berbicara dengan Seseorang yang tidak terlihat.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Pagi itu, saat Abdul Wira datang ke surau untuk shalat subuh berjamaah, ia menemukan kyai masih duduk di sajadah—tubuhnya tegak, wajahnya tenang, mata terpejam. Seolah sedang tidur.
Tapi kyai tidak bernapas lagi.
Abdul Wira berdiri di ambang pintu, tidak percaya. Ia melangkah pelan, berlutut di samping kyai, menyentuh tangannya yang sudah dingin.
"Kyai," bisiknya, suaranya bergetar. "Kyai..."
Tapi tidak ada jawaban. Hanya sunyi—sunyi yang begitu dalam, seolah seluruh dunia ikut berduka.
Abdul Wira menatap wajah kyai yang damai. Tidak ada rasa takut di sana. Tidak ada penyesalan. Hanya kedamaian—kedamaian orang yang sudah siap menghadap, yang sudah menyiapkan bekal, yang tidak takut pada pertemuan dengan Tuhannya.
Dan untuk pertama kalinya, Abdul Wira benar-benar merasakan arti menghadap—bukan sekadar mati, tetapi berdiri di hadapan Tuhan. Sendirian. Tanpa siapa pun. Tanpa apa pun.
***
Pemakaman dilakukan sore itu juga.
Seluruh kampung datang—bahkan orang-orang dari kampung sebelah. Kyai Hasan bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan tokoh terkenal. Tapi ia dicintai—dicintai karena ia mencintai, dicintai karena ia memberi tanpa hitung, dicintai karena ia hidup bukan untuk dirinya, tetapi untuk orang lain.
Abdul Wira berdiri di tepi kubur, menatap tubuh kyai yang dibungkus kain kafan putih diturunkan perlahan ke liang tanah. Setiap gumpalan tanah yang jatuh terasa seperti menutup sesuatu dalam dirinya—sesuatu yang tidak akan pernah terbuka lagi.
Saat semua sudah selesai, orang-orang perlahan pulang. Tapi Abdul Wira masih berdiri di sana, menatap gundukan tanah yang baru saja dibuat.
Soedarmo mendekat, berdiri di sampingnya tanpa bicara.
"Darmo," kata Abdul Wira pelan, "kyai menghadap sendirian. Tidak ada yang bisa menemani. Tidak ada yang bisa membantu. Hanya dia dan Tuhannya."
Soedarmo mengangguk, merasakan dadanya sesak. "Dan suatu hari, kita juga akan menghadap seperti itu. Sendirian. Tanpa harta, tanpa jabatan, tanpa siapa pun."
Mereka terdiam lama, merasakan beratnya kesadaran itu.
"Wira," kata Soedarmo akhirnya, "apakah kau siap? Siap untuk menghadap?"
Abdul Wira tidak langsung menjawab. Ia memikirkan semua yang pernah ia lakukan, semua yang belum ia lakukan, semua yang ia sesali dan yang ia syukuri.
"Aku tidak tahu, Darmo," jawabnya jujur. "Aku tidak tahu apakah aku siap. Tapi aku tahu—aku harus mulai menyiapkan. Karena kematian tidak menunggu kita siap. Ia datang saat waktunya tiba."
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda rumah, menatap langit yang penuh bintang—langit yang sama yang kyai lihat kemarin malam, langit yang sekarang terasa berbeda karena ada yang hilang.
Ia membayangkan: bagaimana rasanya menghadap? Bagaimana rasanya berdiri sendirian di hadapan Tuhan, tanpa siapa pun yang bisa menolong, tanpa apa pun yang bisa disembunyikan?
Di dunia, kita bisa bersembunyi. Bisa memakai topeng, bisa pura-pura baik, bisa menyembunyikan dosa. Tapi di sana? Tidak ada yang bisa disembunyikan. Semua terbuka. Semua terlihat. Semua harus dipertanggungjawabkan.
Abdul Wira merasakan dadanya sesak—bukan karena takut yang melumpuhkan, tetapi karena kesadaran yang menusuk: Aku tidak siap.
Tidak siap dengan amal yang sedikit. Tidak siap dengan dosa yang masih banyak. Tidak siap dengan hati yang belum bersih.
Tapi kemudian ia teringat wajah kyai yang damai. Wajah orang yang siap. Wajah orang yang sudah menyiapkan bekal—bukan bekal harta atau jabatan, tetapi bekal amal, bekal doa, bekal hati yang bersih.
Bagaimana caranya menjadi seperti kyai? Bagaimana caranya siap menghadap?
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi ke rumah kyai—rumah yang sekarang kosong, sunyi. Ia masuk dengan hati-hati, seolah takut mengganggu kenangan.
Di sudut ruangan, ia menemukan sajadah kyai—lusuh, penuh noda bekas sujud. Di sampingnya, sebuah buku kecil—buku catatan doa, sama seperti yang dulu dimiliki ibunya.
Abdul Wira membuka buku itu dengan lembut. Di dalamnya, tulisan tangan kyai—doa-doa yang dipanjatkan setiap hari, nama-nama orang yang didoakan, permintaan ampun yang tidak pernah berhenti.
Halaman terakhir hanya berisi satu kalimat, ditulis dengan tinta yang sudah memudar:
"Ya Allah, aku mohon—saat aku menghadap-Mu, terimalah aku meski aku tidak sempurna. Ampuni aku meski dosaku banyak. Kasihanilah aku meski amalku sedikit. Karena aku tidak punya apa-apa selain harap pada rahmat-Mu."
Abdul Wira menutup buku itu, memeluknya erat ke dada. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.
Kyai—orang yang paling shalih yang ia kenal—masih merasa tidak layak. Masih merasa tidak siap. Masih memohon rahmat, bukan mengandalkan amal.
Dan jika kyai saja begitu, bagaimana dengan dia?
***
Sore itu, Abdul Wira duduk di makam kyai, berbicara—meski ia tahu kyai tidak bisa mendengar lagi.
"Kyai," bisiknya, "ajari aku bagaimana caranya siap. Ajari aku bagaimana caranya menghadap tanpa takut. Ajari aku bagaimana caranya hidup dengan kesadaran bahwa suatu hari, aku juga akan sendirian di hadapan-Nya."
Angin sore berhembus, membawa aroma tanah dan bunga kamboja. Abdul Wira menutup mata, merasakan kehadiran—bukan kehadiran kyai, tetapi kehadiran Yang Lain.
Dan dalam sunyi itu, ia mendengar sesuatu—bukan dengan telinga, tetapi dengan hati. Sesuatu yang terasa seperti jawaban:
Kau tidak akan pernah benar-benar siap. Tapi kau bisa terus menyiapkan. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Sampai waktu itu tiba.
Abdul Wira membuka mata, menatap langit yang mulai jingga. Dan ia memahami: kesiapan bukan tentang sempurna. Kesiapan adalah tentang terus berusaha—berusaha untuk lebih baik, berusaha untuk lebih bersih, berusaha untuk lebih dekat dengan-Nya.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk tafakur lebih lama dari biasanya. Dalam sunyi itu, ia membayangkan dirinya berdiri di hadapan Tuhan—sendirian, tanpa siapa pun.
Tidak ada kyai yang bisa membela. Tidak ada ibu yang bisa mendoakan. Tidak ada Soedarmo yang bisa menemani. Hanya dia dan Tuhannya.
Dan pertanyaan yang akan ditanya bukan tentang siapa yang ia kenal, bukan tentang apa yang ia miliki, bukan tentang jabatan apa yang ia pegang—tetapi tentang apa yang ia lakukan dengan waktu yang diberi, dengan akal yang dipinjamkan, dengan hati yang dititipkan.
Abdul Wira merasakan dadanya sesak, tapi kali ini bukan karena takut—melainkan karena kesadaran yang mengubah. Kesadaran bahwa hidup ini singkat. Kesadaran bahwa menghadap itu pasti. Kesadaran bahwa ia harus mulai menyiapkan—bukan besok, bukan nanti, tetapi sekarang.
Ia membisikkan doa—doa yang sama yang ditulis kyai di buku kecilnya:
Ya Allah, aku mohon—saat aku menghadap-Mu, terimalah aku meski aku tidak sempurna. Ampuni aku meski dosaku banyak. Kasihanilah aku meski amalku sedikit. Karena aku tidak punya apa-apa selain harap pada rahmat-Mu.
Ia menarik napas dalam, merasakan air mata mengalir.
Ajari aku untuk hidup dengan kesadaran bahwa suatu hari, aku akan berdiri sendirian di hadapan-Mu. Ajari aku untuk tidak menunda-nunda kebaikan, karena aku tidak tahu kapan waktu itu tiba. Ajari aku untuk menyiapkan bekal—bukan bekal dunia yang akan tertinggal, tetapi bekal akhirat yang akan kubawa: amal shalih, hati yang bersih, doa yang tulus.
***
Hari-hari berlalu, dan Abdul Wira hidup dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi menunda shalat. Ia tidak lagi menyimpan dengki. Ia tidak lagi merasa punya banyak waktu.
Karena kyai mengajarkannya—lewat kematiannya—bahwa hidup ini singkat. Dan menghadap itu pasti. Dan saat itu tiba, tidak ada yang bisa menolong kecuali apa yang sudah kita siapkan.
Suatu sore, Soedarmo datang, duduk di sampingnya di makam kyai.
"Wira," katanya pelan, "aku takut. Takut saat aku menghadap nanti, aku tidak punya apa-apa untuk dibawa."
Abdul Wira menatapnya dengan mata yang jernih. "Kita semua takut, Darmo. Tapi ketakutan itu bukan untuk melumpuhkan—ketakutan itu untuk menggerakkan. Menggerakkan kita untuk mulai menyiapkan, mulai memperbaiki, mulai hidup dengan kesadaran bahwa suatu hari, kita akan menghadap. Sendirian. Tanpa siapa pun."
Soedarmo mengangguk, merasakan dadanya penuh. "Dan apa yang harus kusimpan?"
Abdul Wira tersenyum sedih. "Bukan harta. Bukan jabatan. Tetapi amal yang tulus, hati yang bersih, dan harap pada rahmat-Nya. Itu saja yang akan kita bawa. Itu saja yang akan menolong."
***
MÄliki yaumid-dÄ«n.
Pemilik Hari Pembalasan. Hari ketika kita semua akan menghadap—sendirian, tanpa harta, tanpa jabatan, tanpa siapa pun yang bisa menolong.
Dan di Hari itu, yang ditanya bukan siapa kita di dunia—tetapi apa yang kita lakukan dengan waktu yang diberi. Yang ditimbang bukan apa yang kita miliki—tetapi apa yang kita bawa.
Dan yang selamat bukan yang paling kaya, bukan yang paling terkenal—tetapi yang paling siap. Yang sudah menyiapkan bekal, yang sudah membersihkan hati, yang sudah hidup dengan kesadaran bahwa menghadap itu pasti, dan kesiapan itu tidak bisa ditunda.
Ya Malik, beri kami kesadaran untuk hidup seolah besok kami akan menghadap-Mu. Beri kami kekuatan untuk menyiapkan bekal—bukan bekal dunia yang akan tertinggal, tetapi bekal akhirat yang akan kami bawa. Dan saat waktu itu tiba—saat kami berdiri sendirian di hadapan-Mu—terimalah kami meski tidak sempurna, ampunilah kami meski banyak dosa, kasihanilah kami meski sedikit amal. Karena kami tidak punya apa-apa selain harap pada rahmat-Mu.
***
"Menghadap itu pasti. Kita akan berdiri sendirian—tanpa harta, tanpa jabatan, tanpa siapa pun. Dan yang akan ditanya adalah: apa yang kau bawa?"
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar