BAB 19
Tak Ada Jalan Pintas
"Setiap pilihan punya harga. Dan harga itu tidak bisa ditawar, tidak bisa dihindari—hanya bisa dibayar."
Abdul Wira tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Raden Soedarmo dalam keadaan seperti ini.
Soedarmo—teman lamanya, anak priyayi yang dulu begitu percaya diri dengan pendidikan Barat dan logika modern—kini duduk di beranda rumah Abdul Wira dengan wajah hancur. Pakaiannya lusuh, matanya merah, tangannya gemetar.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
"Aku kehilangan segalanya, Wira," katanya pelan, suaranya serak. "Jabatan, harta, kehormatan. Semuanya."
Abdul Wira duduk di sampingnya, diam, membiarkan Soedarmo bicara.
"Kau tahu kenapa?" lanjut Soedarmo, tersenyum pahit. "Karena aku memilih jalan pintas. Aku menerima suap dari Belanda untuk menutup mata saat mereka merampas tanah petani. Aku pikir tidak apa-apa—semua orang melakukannya. Aku pikir tidak akan ketahuan."
Soedarmo menatap tangannya yang gemetar. "Tapi kemarin, semua terbongkar. Petani-petani itu melaporkan ke pihak yang lebih tinggi. Dan aku? Aku dipecat, dihina di depan umum, diasingkan. Semua yang kubangun bertahun-tahun runtuh dalam sehari."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak—bukan karena senang melihat Soedarmo jatuh, tetapi karena ia melihat dirinya sendiri di sana. Dirinya yang dulu juga pernah memilih jalan pintas—meninggalkan kampung untuk kehidupan yang lebih baik, meninggalkan shalat untuk kenyamanan, meninggalkan ibu untuk ambisi.
Dan semua pilihan itu punya harga.
***
Sore itu, setelah Soedarmo pulang, Abdul Wira duduk sendirian di beranda, menatap jalan tanah yang membentang di depan rumahnya. Jalan itu lurus, tapi penuh lubang, penuh batu. Tidak ada jalan pintas—hanya jalan yang harus dilalui, satu langkah demi satu langkah.
Ia teringat kata-kata Kyai Hasan yang pernah diucapkan di majelis: "Hidup itu seperti jalan. Ada yang lurus tapi berat. Ada yang mudah tapi menyesatkan. Dan kita harus memilih—karena setiap pilihan punya harga yang harus dibayar, cepat atau lambat."
Abdul Wira memikirkan pilihannya sendiri. Pilihan untuk pulang kampung, untuk meninggalkan pekerjaan yang enak, untuk kembali ke kehidupan yang sederhana. Itu bukan pilihan yang mudah. Sampai sekarang, ia masih kadang merasa menyesal—merasa kehilangan kesempatan, kehilangan kenyamanan.
Tapi ia juga tahu: jika ia tidak memilih jalan ini, ia akan membayar harga yang lebih mahal—harga ketenangan hati, harga kedamaian jiwa, harga hubungan dengan Tuhan.
Tak ada jalan pintas.
Kalimat itu bergema di benaknya, seperti lonceng yang terus berbunyi.
Setiap pilihan punya harga. Dan harga itu harus dibayar.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Kyai Hasan memanggil Abdul Wira dan beberapa pemuda kampung untuk berkumpul di surau.
"Anak-anakku," kata kyai, "aku ingin kalian mendengar cerita."
Semua duduk bersila, mendengarkan dengan seksama.
"Ada dua orang yang berjalan di padang pasir," mulai kyai. "Satu mengambil jalan lurus—panjang, panas, melelahkan. Satu lagi mengambil jalan pintas—pendek, teduh, tampak mudah."
Kyai Hasan berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah yang hadir.
"Yang mengambil jalan lurus sampai di tujuan—lelah, tapi selamat. Yang mengambil jalan pintas? Ia tersesat, karena jalan itu sebenarnya menuju jurang. Dan saat ia sadar, sudah terlambat untuk kembali."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dengan mata yang dalam. "Begitu juga hidup, Nak. Jalan yang benar sering kali berat. Jalan yang salah sering kali mudah. Dan kita harus memilih—dengan sadar, dengan tanggung jawab, dengan siap membayar harga dari pilihan kita."
Salah satu pemuda bertanya, "Tapi Kyai, bagaimana kita tahu jalan mana yang benar?"
Kyai Hasan tersenyum. "Dengan bertanya pada hati yang bersih, Nak. Hati yang bersih akan tahu—jalan yang benar sering kali yang berat. Jalan yang salah sering kali yang mudah. Dan jika kau ragu, bertanyalah pada Tuhan—Dia akan memberi petunjuk, selama kau tulus mencari."
***
Esok paginya, Abdul Wira menemani Soedarmo pergi ke petani-petani yang dulu ia rugikan. Satu per satu, Soedarmo meminta maaf—dengan tulus, dengan rendah hati, dengan air mata.
Beberapa petani memaafkan. Beberapa masih marah. Tapi Soedarmo tidak berhenti—ia terus meminta maaf, terus mencoba memperbaiki, terus membayar harga dari pilihannya.
"Wira," kata Soedarmo saat mereka berjalan pulang, "aku baru mengerti sekarang. Tidak ada jalan pintas untuk kebaikan. Tidak ada cara mudah untuk menebus kesalahan. Semua harus dibayar—dengan usaha, dengan waktu, dengan kerendahan hati."
Abdul Wira mengangguk. "Dan itu bukan hukuman, Darmo. Itu pembelajaran. Pembelajaran bahwa setiap pilihan punya konsekuensi, dan kita harus siap menerimanya."
Soedarmo berhenti berjalan, menatap langit yang mulai mendung. "Aku takut, Wira. Takut pada Hari Pembalasan. Takut saat semua pilihanku ditimbang—dan ternyata lebih banyak yang salah daripada yang benar."
Abdul Wira menatap Soedarmo dengan mata penuh empati. "Kita semua takut, Darmo. Tapi ketakutan itu bukan untuk melumpuhkan—ketakutan itu untuk menyadarkan. Menyadarkan bahwa selama masih hidup, masih bisa memperbaiki. Masih bisa memilih jalan yang benar, meski sudah terlanjur salah."
***
Sore itu, Abdul Wira duduk di tepi pantai, menatap ombak yang datang dan pergi. Ia memikirkan semua pilihan yang pernah ia buat—yang benar dan yang salah, yang ia syukuri dan yang ia sesali.
Dan ia menyadari: hidup itu kumpulan pilihan. Setiap hari, setiap jam, setiap detik—kita memilih. Memilih antara jalan lurus atau jalan pintas. Memilih antara yang benar atau yang mudah. Memilih antara yang memuaskan nafsu atau yang menenangkan hati.
Dan semua pilihan itu punya harga.
Jalan lurus punya harga: lelah, berat, kadang terasa tidak adil. Tapi ujungnya adalah kedamaian, ketenangan, dan ridha Tuhan.
Jalan pintas juga punya harga: mudah di awal, tapi menyiksa di akhir. Menyenangkan sesaat, tapi menyesal selamanya.
MÄliki yaumid-dÄ«n.
Pemilik Hari Pembalasan. Hari ketika semua pilihan ditimbang—bukan hanya hasilnya, tetapi juga prosesnya. Bukan hanya apa yang kita capai, tetapi bagaimana kita mencapainya.
Dan di Hari itu, tidak ada alasan. Tidak ada pembelaan. Hanya kebenaran—kebenaran tentang pilihan yang kita buat, dan harga yang sudah kita bayar atau belum kita bayar.
***
Malam itu, Abdul Wira duduk tafakur lebih lama. Dalam sunyi itu, ia membisikkan doa yang jujur:
Ya Malik—Ya Pemilik Hari Pembalasan—aku mohon, beri aku kekuatan untuk memilih jalan yang benar, meski berat. Beri aku keberanian untuk meninggalkan jalan pintas, meski mudah. Beri aku kesadaran bahwa setiap pilihan punya harga—dan aku harus siap membayarnya.
Ia menarik napas dalam, merasakan dadanya penuh.
Aku tahu, jalan yang benar sering kali berat. Sering kali sepi. Sering kali tidak dipahami orang lain. Tapi aku juga tahu—ujungnya adalah ridha-Mu. Dan ridha-Mu itu lebih berharga dari semua kenyamanan dunia.
Abdul Wira membuka mata, menatap sajadah di hadapannya. "Ajari aku untuk tidak takut pada beratnya jalan yang benar. Ajari aku untuk tidak tergoda pada mudahnya jalan yang salah. Karena aku tahu—di Hari Pembalasan, yang ditanya bukan 'Apakah mudah?' tetapi 'Apakah benar?'"
***
Hari-hari berlalu, dan Soedarmo perlahan bangkit—bukan dengan harta atau jabatan, tetapi dengan hati yang lebih bersih. Ia mulai membantu petani-petani yang dulu ia rugikan, membangun kembali kepercayaan yang sudah hancur, membayar harga dari pilihannya dengan kerja keras dan kerendahan hati.
Dan Abdul Wira menyaksikan itu dengan hati yang penuh—penuh syukur, karena ia melihat temannya yang dulu tersesat kini mulai menemukan jalan.
Suatu sore, Soedarmo datang ke rumah Abdul Wira, membawa sayuran dari kebun yang ia bantu garap.
"Ini bukan banyak," katanya, tersenyum malu. "Tapi ini hasil kerja jujur. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada tipu muslihat. Hanya keringat dan doa."
Abdul Wira menerima sayuran itu dengan senyum. "Ini lebih berharga dari semua harta yang dulu kau punya, Darmo. Karena ini dibayar dengan harga yang benar—bukan dengan menginjak orang lain."
Mereka duduk bersama di beranda, menatap matahari yang mulai terbenam.
"Wira," kata Soedarmo, "terima kasih. Terima kasih sudah mengajariku bahwa tak ada jalan pintas—dan itu bukan kutukan, tetapi berkah. Karena jalan yang benar, meski berat, membawa kita pulang. Pulang pada diri yang lebih baik, pulang pada hati yang lebih tenang, pulang pada Tuhan yang selalu menunggu."
***
MÄliki yaumid-dÄ«n.
Pemilik Hari Pembalasan. Hari ketika semua jalan pintas terungkap sebagai tipu daya. Hari ketika semua pilihan mudah ternyata adalah pilihan yang mahal harganya.
Dan di Hari itu, yang selamat bukan yang paling pintar mencari jalan pintas—tetapi yang paling setia berjalan di jalan lurus, meski berat, meski sepi, meski tidak dipahami.
Karena setiap pilihan punya harga. Dan harga dari pilihan yang benar—meski berat di dunia—adalah ringan di akhirat. Sementara harga dari pilihan yang salah—meski mudah di dunia—adalah berat di akhirat, berat yang tidak akan bisa dibayar.
Ya Malik, ajari kami untuk tidak mencari jalan pintas. Ajari kami untuk setia pada jalan lurus, meski berat. Ajari kami untuk sabar membayar harga dari pilihan yang benar—karena kami tahu, di Hari Pembalasan, semua akan terlihat. Semua jalan pintas akan menjadi penyesalan. Dan semua pilihan yang benar—meski berat—akan menjadi keselamatan.
***
"Tak ada jalan pintas menuju kebaikan. Setiap pilihan punya harga, dan harga itu harus dibayar—dengan usaha, dengan kesabaran, dengan kesetiaan pada jalan lurus meski berat."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar