BAB 18
Timbang Jiwa
"Dosa yang paling berat bukan yang tercatat tinta—tetapi yang tersembunyi di hati, yang kita anggap kecil, yang kita pikir tidak ada yang tahu."
Abdul Wira tidak pernah mencuri. Tidak pernah membunuh. Tidak pernah berzina.
Tapi malam itu, saat ia duduk sendirian di beranda, menatang langit yang gelap, ia merasakan sesuatu yang aneh—sebuah pertanyaan yang menusuk: Apakah aku benar-benar bersih?
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Ia memikirkan semua yang pernah ia lakukan. Semua yang tercatat—shalat yang terlewat, puasa yang dibatalkan, janji yang dilanggar. Tapi ada yang lain, yang lebih dalam, yang tidak pernah dilihat orang lain: iri hati yang ia simpan saat melihat orang lain sukses, sombong yang ia rasakan saat dipuji, dengki yang ia pendam saat orang lain lebih baik.
Semua itu tidak tercatat di buku. Tidak ada yang tahu. Bahkan ia sendiri kadang lupa.
Tapi Tuhan tahu.
Dan di Hari Pembalasan, semua akan ditimbang—bukan hanya yang terlihat, tetapi juga yang tersembunyi. Bukan hanya yang dilakukan, tetapi juga yang diniatkan. Bukan hanya dosa besar yang tercatat tinta, tetapi juga dosa kecil yang menggerogoti hati.
Abdul Wira merasakan dadanya sesak. Untuk pertama kalinya, ia menyadari: ia tidak sebersih yang ia kira.
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi ke surau lebih awal. Ia menemukan Kyai Hasan sedang duduk sendirian, menatap timbangan tua yang biasa digunakan untuk menimbang beras—dua piring logam yang digantung dengan tali, seimbang dalam sunyi.
"Kyai," panggil Abdul Wira.
Kyai Hasan menoleh, tersenyum. "Pagi-pagi sudah ke surau? Ada apa, Nak?"
Abdul Wira duduk bersimpuh, menatap timbangan itu. "Kyai, aku memikirkan Hari Pembalasan. Tentang timbangan amal."
Kyai Hasan mengikuti tatapan Abdul Wira. "Dan apa yang membuatmu gelisah?"
"Aku takut, Kyai. Takut saat ditimbang, ternyata dosaku lebih berat dari amalku. Takut saat semua yang kusembunyikan menjadi nyata."
Kyai Hasan mengambil timbangan itu, meletakkannya di lantai. Ia memasukkan segenggam beras di piring kanan, lalu segenggam pasir di piring kiri. Timbangan miring—pasir lebih berat.
"Kau lihat, Nak? Beras itu terlihat banyak, tapi pasir yang tidak terlihat banyak ini lebih berat. Begitu juga dengan dosa. Ada dosa yang terlihat—mencuri, membunuh, berzina. Tapi ada dosa yang tidak terlihat—iri, sombong, dengki, riya. Dan kadang, yang tidak terlihat ini justru yang paling berat—karena menggerogoti hati, merusak niat, membunuh keikhlasan."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dengan serius. "Kau mungkin tidak pernah mencuri, Nak. Tapi pernahkah kau iri saat melihat orang lain punya lebih banyak? Kau mungkin tidak pernah membunuh. Tapi pernahkah kau menyakiti hati orang lain dengan kata-kata? Kau mungkin rajin shalat. Tapi apakah shalatmu ikhlas, atau hanya karena takut dilihat tidak shalat?"
Abdul Wira terdiam. Setiap pertanyaan menusuk seperti jarum ke jantung.
"Itulah yang akan ditimbang, Nak. Bukan hanya yang terlihat, tetapi juga yang tersembunyi. Bukan hanya perbuatan, tetapi juga niat. Dan di situlah kita semua akan telanjang—tidak ada lagi yang bisa disembunyikan."
***
Siang itu, Abdul Wira duduk sendirian di rumahnya, memegang buku kecil—buku catatan yang dulu ia gunakan untuk mencatat keuangan saat bekerja di kantor Belanda. Ia membukanya, melihat angka-angka yang rapi, transaksi yang tercatat detail.
Lalu ia berpikir: Seandainya ada buku untuk jiwa—buku yang mencatat semua niat, semua perasaan, semua yang tersembunyi—apa yang akan tertulis di sana?
Ia mencoba membayangkan. Halaman pertama: iri saat teman mendapat promosi. Halaman kedua: sombong saat dipuji guru. Halaman ketiga: dengki saat orang lain lebih shalih. Halaman keempat: riya saat bersedekah di depan orang banyak.
Semakin ia bayangkan, semakin banyak halaman yang terisi. Dan ia menyadari: buku itu akan lebih tebal dari semua catatan keuangannya.
Ya Allah, berapa banyak dosa yang bahkan aku tidak sadar sudah kulakukan?
Ia menutup buku catatan itu, merasakan dadanya sesak. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan arti timbangan—bukan hanya metafora, tetapi kenyataan yang akan dihadapi. Kenyataan bahwa semua akan ditimbang, bahkan yang paling kecil, bahkan yang paling tersembunyi.
***
Sore itu, Abdul Wira pergi ke pasar—tempat yang ramai, penuh orang. Ia mengamati: pedagang yang menimbang beras dengan curang, mengurangi sedikit demi keuntungan lebih. Pembeli yang tawar-menawar dengan kasar, menyakiti hati penjual. Anak-anak yang berkelahi memperebutkan mainan.
Semua itu kecil. Semua itu biasa. Tapi semua itu tercatat.
Lalu ia melihat seorang nenek tua yang menjual sayur di sudut pasar. Tidak laku seharian. Wajahnya lelah, tapi tidak mengeluh. Seseorang lewat, menginjak sayurannya tanpa sengaja. Nenek itu hanya tersenyum, mengangkat sayur yang jatuh, membersihkannya dengan sabar.
Abdul Wira mendekati nenek itu, membeli semua sayurannya—meski ia tidak butuh sebanyak itu.
"Terima kasih, Nak," kata nenek itu, tersenyum tulus. "Semoga rezekinya lancar."
Abdul Wira tersenyum, lalu berjalan pergi. Tapi di hatinya, ada sesuatu yang berbisik: Apakah aku tulus? Atau aku hanya ingin terlihat baik?
Pertanyaan itu mengikutinya sampai rumah. Dan ia menyadari: bahkan kebaikan bisa rusak jika niatnya tidak bersih. Bahkan sedekah bisa sia-sia jika dilakukan dengan riya.
Timbangan itu tidak menimbang perbuatan saja—tetapi juga niat.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk tafakur lebih lama. Dalam sunyi itu, ia membuka hatinya—benar-benar membuka, tanpa berpura-pura, tanpa menyembunyikan.
Ia mengakui: ada iri yang ia simpan. Ada sombong yang ia rasakan. Ada dengki yang ia pendam. Ada riya yang ia lakukan.
Semua itu tidak tercatat di buku manusia. Tapi semua itu tercatat di buku Tuhan.
Dan di Hari Pembalasan, semua akan ditimbang. Tidak ada yang lolos. Tidak ada yang terlupakan. Bahkan seberat biji sawi pun akan dihitung.
Abdul Wira menutup mata, membisikkan doa yang jujur:
Ya Malik—Ya Pemilik Hari Pembalasan—aku takut. Takut saat ditimbang, ternyata hatiku lebih kotor dari yang kulihat. Takut saat ditimbang, ternyata niatku tidak seikhlas yang kukira. Takut saat ditimbang, ternyata amalku tidak seberat yang kuharap.
Ia menarik napas dalam, merasakan air mata mulai mengalir.
Aku mohon—bersihkan hatiku dari iri, dari sombong, dari dengki, dari riya. Bersihkan niatku dari segala yang bukan karena-Mu. Karena aku tahu—timbangan-Mu tidak bisa dibohongi. Timbangan-Mu tidak melihat penampilan, tidak melihat jabatan, tidak melihat harta. Timbangan-Mu hanya melihat hati—dan hatiku, ya Allah, masih penuh noda.
***
Esok paginya, Abdul Wira memulai sesuatu yang baru: setiap kali ia merasa iri, ia berdoa untuk orang yang ia irikan. Setiap kali ia merasa sombong, ia mengingat kelemahannya. Setiap kali ia ingin pamer kebaikan, ia melakukannya dalam diam.
Tidak mudah. Bahkan sangat sulit. Karena musuh terbesar bukan di luar—tetapi di dalam. Musuh yang paling berbahaya bukan orang lain—tetapi hati sendiri yang tidak bersih.
Tapi ia terus mencoba. Karena ia tahu: Hari Pembalasan pasti datang. Timbangan pasti ditegakkan. Dan saat itu, yang ditimbang bukan hanya yang terlihat—tetapi yang tersembunyi. Bukan hanya yang dilakukan—tetapi yang diniatkan.
Suatu hari, Soedarmo datang, duduk di sampingnya di beranda.
"Wira, aku iri padamu," kata Soedarmo tiba-tiba.
Abdul Wira menoleh, terkejut. "Iri kenapa?"
"Karena kau punya ketenangan. Kau punya arah. Aku? Aku punya harta, punya jabatan, tapi hatiku tidak tenang. Selalu merasa kurang, selalu iri pada yang lebih tinggi, selalu takut kehilangan."
Abdul Wira tersenyum sedih. "Aku juga begitu, Darmo. Aku juga punya iri, punya sombong, punya dengki. Bedanya, aku sedang belajar untuk membersihkannya—sebelum terlambat."
Soedarmo menatap Abdul Wira. "Bagaimana caranya?"
"Dengan mengakui. Dengan tidak menyembunyikan. Dengan sadar bahwa semua akan ditimbang—dan timbangan itu tidak bisa dibohongi."
***
Malam itu, Abdul Wira dan Soedarmo shalat maghrib bersama. Dalam sujud yang panjang, keduanya merasakan sesuatu yang sama: beban. Beban dosa yang tersembunyi, yang tidak pernah diakui, yang selama ini disimpan dalam hati.
Tapi dalam sujud itu juga, mereka merasakan sesuatu yang lain: harapan. Harapan bahwa selama masih hidup, masih bisa membersihkan. Selama masih bernapas, masih bisa bertobat. Selama masih ada waktu, masih bisa memperbaiki niat.
Karena timbangan itu belum ditegakkan. Hari Pembalasan belum tiba. Dan selama itu, masih ada kesempatan—untuk membersihkan hati, untuk memurnikan niat, untuk memperberat amal dengan keikhlasan.
MÄliki yaumid-dÄ«n.
Pemilik Hari Pembalasan. Hari ketika timbangan ditegakkan—bukan timbangan pasar yang bisa dicurangi, tetapi timbangan yang adil, yang tidak bisa dibohongi, yang menimbang bahkan seberat biji sawi.
Dan di timbangan itu, semua akan terlihat: dosa yang tidak tercatat tinta, niat yang tersembunyi, hati yang tidak bersih. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Tidak ada yang bisa dilupakan.
Tapi selama masih hidup, masih ada harapan. Harapan untuk membersihkan, untuk memperbaiki, untuk mempersiapkan—sebelum timbangan itu benar-benar ditegakkan, dan tidak ada lagi waktu untuk menyesal.
***
Ya Malik, ajari kami untuk tidak hanya menjaga perbuatan, tetapi juga menjaga hati. Ajari kami untuk tidak hanya menghindari dosa besar, tetapi juga dosa kecil yang menggerogoti jiwa—iri, sombong, dengki, riya. Ajari kami untuk sadar bahwa timbangan-Mu tidak hanya menimbang yang terlihat, tetapi juga yang tersembunyi. Dan bersihkan hati kami—dari segala noda yang kami simpan, dari segala niat yang tidak ikhlas, dari segala dosa yang bahkan kami tidak sadari. Karena kami tahu, di Hari Pembalasan, tidak ada yang bisa disembunyikan—dan kami ingin datang dengan hati yang bersih, bukan hati yang penuh noda.
***
"Timbangan Tuhan tidak menimbang perbuatan saja—tetapi juga niat. Dan dosa yang paling berat sering kali yang tidak tercatat tinta: yang tersembunyi di hati, yang kita anggap kecil, yang kita pikir tidak ada yang tahu."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar