BAB 17
Kuasa yang Sunyi
"Kuasa yang sejati tidak membutuhkan sorak—ia bergerak dalam sunyi, mengatur tanpa terlihat, berkuasa tanpa takhta."
Hujan deras mengguyur kampung selama tiga hari berturut-turut.
Sawah tergenang, jalan berlumpur, rumah-rumah bocor. Tapi yang paling mengerikan adalah sungai—sungai kecil yang biasanya tenang kini meluap, menggerus tanah, menghanyutkan apa pun yang dilewatinya.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Abdul Wira berdiri di tepi sungai, bersama puluhan warga yang mencoba membangun tanggul darurat dari karung pasir dan bambu. Tapi ombak sungai terlalu kuat. Satu per satu tanggul runtuh, dihantam air yang tidak kenal ampun.
"Mundur! Mundur!" teriak seseorang.
Orang-orang berlarian, menyelamatkan diri. Abdul Wira ikut berlari, tapi ia sempat menoleh—melihat rumah-rumah di tepi sungai mulai roboh, satu per satu, seperti mainan yang ditendang anak kecil.
Tidak ada yang bisa dilakukan. Tidak ada kekuatan manusia yang bisa menahan air yang sudah memutuskan untuk mengalir.
Abdul Wira berdiri di tempat yang lebih tinggi, basah kuyup, napasnya tersengal. Ia menatap kehancuran itu dengan perasaan campur aduk—takjub, ngeri, dan sesuatu yang lain: kesadaran.
Kesadaran bahwa ada kuasa yang jauh lebih besar dari manusia. Kuasa yang tidak butuh tentara, tidak butuh senjata, tidak butuh perintah—cukup dengan hujan, dengan air, dengan alam yang bergerak sesuai kehendak-Nya.
***
Malam itu, setelah hujan mereda, warga berkumpul di surau yang masih berdiri—meski atapnya bocor di sana-sini. Mereka duduk basah, lelah, kehilangan. Beberapa menangis—kehilangan rumah, kehilangan ternak, kehilangan apa yang mereka kumpulkan bertahun-tahun.
Kyai Hasan berdiri di depan, wajahnya tenang meski ia juga kehilangan rumahnya.
"Saudara-saudaraku," katanya pelan, tapi suaranya terdengar jelas di tengah sunyi. "Kita baru saja menyaksikan kuasa—kuasa yang tidak butuh sorak, tidak butuh pengumuman, tidak butuh pemberitahuan. Cukup dengan air, dan segalanya bisa runtuh."
Kyai Hasan menatap satu per satu wajah jamaah yang hadir. "Dan di situlah kita diingatkan: kita bukan yang berkuasa. Kita hanya titipan di bumi ini—hidup sebentar, membangun sebentar, lalu pergi. Yang benar-benar berkuasa hanya Dia—Yang memiliki langit dan bumi, Yang mengatur air dan angin, Yang menentukan siapa yang selamat dan siapa yang tidak."
Seseorang mengangkat tangan. "Tapi Kyai, kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Kenapa Dia tidak mencegah banjir ini?"
Kyai Hasan tersenyum sedih. "Karena banjir ini bukan hukuman, Nak. Ini pengingat. Pengingat bahwa kita bukan yang berkuasa. Pengingat bahwa hidup ini rapuh. Pengingat bahwa semua yang kita bangun bisa runtuh dalam sekejap—dan saat itu terjadi, kepada siapa kita akan kembali?"
***
Esok paginya, Abdul Wira ikut membersihkan puing-puing rumah yang runtuh. Ia bekerja bersama tetangga-tetangga, mengangkat kayu, menyingkirkan lumpur, mencari barang yang masih bisa diselamatkan.
Di salah satu rumah yang hancur, ia menemukan sesuatu yang membuat ia berhenti: sebuah Al-Qur'an kecil, basah, tapi masih utuh. Ia mengangkatnya dengan hati-hati, membukanya perlahan. Halaman-halamannya lengket, tapi huruf-hurufnya masih terbaca.
Abdul Wira menatap Al-Qur'an itu lama. Rumah runtuh, harta hilang, tapi Kitab ini masih ada—seolah mengatakan sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Ia membawa Al-Qur'an itu ke pemiliknya—seorang nenek tua yang duduk di tengah puing rumahnya, menatap kosong.
"Nenek," panggil Abdul Wira lembut, "ini masih utuh."
Nenek itu mengangkat kepala, melihat Al-Qur'an di tangan Abdul Wira. Matanya berkaca-kaca, lalu ia meraihnya dengan tangan gemetar, memeluknya erat ke dada.
"Alhamdulillah," bisiknya. "Yang penting masih ada."
Abdul Wira terdiam. Rumah hilang, harta hilang—tapi yang dipuji adalah Al-Qur'an yang masih utuh. Dan di situlah ia belajar sesuatu: ada yang lebih penting dari harta, lebih penting dari rumah, lebih penting dari semua yang bisa diruntuhkan oleh air.
***
Sore itu, Abdul Wira duduk di tepi sungai yang sudah mulai surut. Air yang tadi begitu ganas kini kembali tenang, mengalir pelan, seolah tidak pernah menghancurkan apa pun.
Ia memikirkan kata-kata Kyai Hasan: kuasa yang tidak butuh sorak. Ia memikirkan bagaimana air—sesuatu yang tidak punya kehendak, tidak punya pikiran—bisa menghancurkan apa yang manusia bangun bertahun-tahun. Hanya karena Tuhan memerintahkannya.
Dan ia memikirkan: jika air saja bisa seperti itu, bagaimana dengan manusia? Manusia yang merasa berkuasa, yang merasa bisa mengatur hidup, yang merasa bisa menentukan nasib?
Abdul Wira teringat Belanda—penjajah yang merasa berkuasa di tanah ini, yang membangun kantor megah, yang punya senjata canggih, yang merasa tidak terkalahkan. Tapi mereka juga akan jatuh—cepat atau lambat, seperti rumah-rumah yang runtuh di tepi sungai ini. Karena kuasa mereka palsu. Kuasa yang sebenarnya hanya milik Satu—Yang tidak butuh tentara, tidak butuh senjata, tidak butuh sorak.
MÄliki yaumid-dÄ«n.
Pemilik Hari Pembalasan. Bukan pemilik hari ini saja, tetapi pemilik Hari itu—hari ketika semua kuasa palsu akan runtuh, ketika semua takhta akan kosong, ketika semua yang merasa berkuasa akan menyadari bahwa mereka tidak pernah benar-benar berkuasa.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk tafakur lebih lama. Dalam sunyi itu, ia membisikkan sesuatu yang sudah lama terpendam:
Ya Malik—Ya Pemilik—aku baru mengerti arti kuasa yang sejati. Bukan kuasa yang terlihat, bukan kuasa yang terdengar, bukan kuasa yang disanjung. Tetapi kuasa yang sunyi—yang menggerakkan air tanpa teriak, yang meruntuhkan rumah tanpa senjata, yang mengatur dunia tanpa perlu pengumuman.
Ia menarik napas dalam, merasakan dadanya penuh.
Dan aku baru mengerti—aku bukan yang berkuasa. Aku hanya titipan. Semua yang kubangun bisa runtuh. Semua yang kumiliki bisa hilang. Semua yang kuanggap kuat bisa rapuh dalam sekejap. Yang benar-benar berkuasa hanya Engkau.
Abdul Wira membuka mata, menatap langit malam yang mulai cerah. Bintang-bintang mulai terlihat, satu per satu, seperti saksi sunyi dari kuasa yang tidak pernah tidur.
Ajari aku untuk tidak sombong dengan apa yang kumiliki. Ajari aku untuk tidak merasa berkuasa dengan apa yang kubisa. Karena aku tahu—semua itu bisa diambil dalam sekejap. Dan saat itu terjadi, kepada-Mu lah aku akan kembali.
***
Hari-hari berlalu. Kampung perlahan pulih—rumah-rumah dibangun kembali, sawah dibersihkan, kehidupan berlanjut. Tapi ada yang berubah dalam hati orang-orang, termasuk Abdul Wira.
Mereka tidak lagi membangun dengan sombong. Mereka tidak lagi merasa aman dengan apa yang mereka miliki. Mereka tahu—semua bisa runtuh. Semua bisa hilang. Dan saat itu terjadi, yang tersisa hanya satu: kepercayaan pada Yang Benar-Benar Berkuasa.
Suatu pagi, saat Abdul Wira sedang membantu memperbaiki surau, Soedarmo datang—untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Wajahnya pucat, mata sembab. Ia baru saja kehilangan ayahnya—priyayi yang dulu begitu berkuasa, kini hanya mayat yang dikubur dalam tanah.
"Wira," panggil Soedarmo, suaranya serak, "aku baru mengerti. Ayahku yang dulu begitu berkuasa, yang dulu begitu disanjung—sekarang tidak ada bedanya dengan petani miskin yang dulu ia tindas. Sama-sama di tanah. Sama-sama tidak berkuasa lagi."
Abdul Wira menatap Soedarmo dengan mata penuh empati. "Dan itu mengingatkan kita, Darmo—bahwa kuasa dunia itu sementara. Yang kekal hanya kuasa-Nya."
Soedarmo mengangguk, air matanya jatuh. "Aku mau belajar, Wira. Belajar shalat, belajar doa, belajar mengakui bahwa aku bukan yang berkuasa. Karena aku lelah pura-pura kuat."
***
Malam itu, Abdul Wira dan Soedarmo shalat maghrib bersama di surau yang baru diperbaiki. Gerakan Soedarmo masih canggung, hafalannya masih terbata, tapi ia shalat dengan sungguh—dengan kesadaran bahwa ia berdiri di hadapan Yang Benar-Benar Berkuasa.
Dan dalam sujud yang panjang itu, Abdul Wira merasakan sesuatu: kedamaian. Kedamaian yang datang bukan dari merasa berkuasa, tetapi dari mengakui kelemahan. Kedamaian yang datang bukan dari merasa aman, tetapi dari percaya pada Yang Menjaga.
Karena kuasa yang sejati tidak butuh sorak. Kuasa yang sejati bergerak dalam sunyi—mengatur tanpa terlihat, menjaga tanpa diminta, berkuasa tanpa perlu pengakuan.
Dan kita—manusia yang merasa berkuasa, yang merasa bisa mengatur hidup—sebenarnya hanya wayang di pentas-Nya. Bergerak sesuai skenario yang sudah ditulis, hidup sesuai waktu yang sudah ditentukan, pergi sesuai panggilan yang tidak bisa ditunda.
MÄliki yaumid-dÄ«n.
Pemilik Hari Pembalasan. Pemilik hari ini, pemilik besok, pemilik Hari itu. Dan di hadapan-Nya, semua kuasa akan runtuh. Semua tahta akan kosong. Semua yang merasa berkuasa akan sujud—bukan karena dipaksa, tetapi karena akhirnya mengerti: hanya Dia yang benar-benar berkuasa. Hanya Dia yang kekal. Hanya Dia yang tidak butuh sorak untuk membuktikan kuasa-Nya.
***
Ya Malik, ajari kami untuk hidup dengan kesadaran bahwa kami tidak berkuasa. Ajari kami untuk tidak sombong dengan jabatan, dengan harta, dengan ilmu—karena semua itu bisa diambil dalam sekejap. Ajari kami untuk mengakui kelemahan kami, untuk bergantung pada kuasa-Mu, untuk percaya bahwa Engkau yang mengatur—bukan kami. Karena kuasa yang sejati tidak butuh sorak. Kuasa yang sejati bergerak dalam sunyi—dan kami, dengan segala kesombongan kami, hanya bisa menyaksikan dan mengakui: hanya Engkau yang benar-benar berkuasa.
***
"Kuasa yang sejati tidak butuh sorak, tidak butuh tahta, tidak butuh pengakuan—ia bergerak dalam sunyi, dan di hadapannya, semua kuasa lain adalah ilusi."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar