BAB 16
Hari Pembalasan
"Ketakutan yang paling sejati bukan pada hukuman dunia—tetapi pada hari ketika semua yang tersembunyi menjadi nyata."
Abdul Wira tidak pernah takut mati—sampai ia menyaksikan Pak Karso meninggal.
Pak Karso adalah tetangga sebelah, priyayi kecil yang punya tanah luas hasil merampas tanah petani miskin lewat tipu muslihat dan utang berbunga. Ia kaya, dihormati—atau lebih tepatnya, ditakuti. Orang-orang membungkuk saat bertemu dengannya, bukan karena hormat, tetapi karena takut.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Tapi pagi itu, Pak Karso tergeletak di beranda rumahnya, terengah-engah, mata melotot penuh ketakutan. Tubuhnya kejang, mulutnya berbusa. Orang-orang berkumpul, tapi tidak ada yang berani mendekat—seolah ada sesuatu yang mengerikan di sekelilingnya.
Abdul Wira datang terlambat, menemukan Pak Karso sudah tidak bernapas. Tapi wajahnya—wajahnya membeku dalam ekspresi yang mengerikan. Bukan wajah orang yang tenang, tetapi wajah orang yang melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—sesuatu yang menakutkan.
"Dia berteriak sebelum mati," bisik Bu Aminah dengan suara gemetar. "Berteriak minta ampun, tapi tidak jelas pada siapa. Seolah dia melihat sesuatu yang kita tidak lihat."
Abdul Wira menatang mayat itu lama. Pak Karso yang dulu begitu berkuasa, yang dulu begitu sombong, kini hanya tubuh kaku yang akan dikubur dalam tanah yang sama dengan petani miskin yang dulu ia tindas.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Abdul Wira merasakan ketakutan yang berbeda—bukan takut pada kematian, tetapi takut pada apa yang akan terjadi setelahnya.
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia berbaring di tikar, menatap langit-langit bambu yang retak, memikirkan wajah Pak Karso yang membeku dalam ketakutan.
Apa yang dia lihat saat menjelang ajal? Apa yang membuatnya berteriak minta ampun?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, tidak memberi kedamaian. Ia bangkit, duduk di beranda, menatap malam yang gelap. Bulan tidak terlihat, bintang tertutup awan. Hanya sunyi—sunyi yang menusuk.
Ia teringat ayat yang sering dibaca tapi jarang direnungkan: MÄliki yaumid-dÄ«n—Pemilik Hari Pembalasan. Hari ketika semua akan dikembalikan. Hari ketika tidak ada yang bisa disembunyikan, tidak ada yang bisa dibohongi, tidak ada yang bisa dibeli.
Abdul Wira merasakan dadanya sesak. Ia memikirkan semua yang pernah ia lakukan—kebohongan kecil yang ia anggap tidak masalah, kesalahan yang ia sembunyikan, dosa yang ia pikir sudah terlupakan.
Apakah semua itu akan dibuka? Apakah semua itu akan ditimbang?
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan takut—bukan takut pada manusia, bukan takut pada hukuman dunia, tetapi takut pada Hari itu. Hari ketika semua topeng terlepas, semua sandiwara selesai, semua yang tersembunyi menjadi nyata.
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi ke surau lebih awal. Ia menemukan Kyai Hasan sedang duduk sendirian, menatap mushaf yang terbuka di pangkuannya.
"Kyai," panggil Abdul Wira, suaranya serak.
Kyai Hasan mendongak, melihat wajah Abdul Wira yang pucat. "Ada apa, Nak? Kau kelihatan tidak tidur."
Abdul Wira duduk bersimpuh, tangannya gemetar. "Kyai, aku takut."
"Takut apa?"
"Takut... takut pada Hari Pembalasan. Takut saat semua dosaku dibuka. Takut saat semua yang kusembunyikan menjadi nyata."
Kyai Hasan menutup mushaf dengan lembut, menatap Abdul Wira dengan mata yang penuh pengertian. "Kau menyaksikan Pak Karso meninggal, ya?"
Abdul Wira mengangguk.
"Dan kau melihat wajahnya?"
Abdul Wira mengangguk lagi, merasakan bulu kuduknya berdiri.
Kyai Hasan menarik napas panjang. "Wira, ketakutan itu sehat—selama ia membuat kita sadar, bukan membuat kita putus asa. Takut pada Hari Pembalasan itu baik—karena itu mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak main-main. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Setiap tindakan ada timbangannya."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dengan serius. "Tapi ingat, Nak—Tuhan yang memiliki Hari Pembalasan itu juga Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Dia tidak ingin kita tenggelam dalam ketakutan yang melumpuhkan. Dia ingin kita takut yang menyadarkan—takut yang membuat kita bertobat, yang membuat kita memperbaiki diri, yang membuat kita kembali pada-Nya sebelum terlambat."
***
Sore itu, Abdul Wira duduk sendirian di tepi pantai. Ombak datang dan pergi, tidak peduli dengan ketakutan manusia. Ia memikirkan kata-kata Kyai Hasan, memikirkan wajah Pak Karso, memikirkan hidupnya sendiri.
Ia mulai menghitung—menghitung semua dosa yang pernah ia lakukan, semua kesalahan yang pernah ia sembunyikan. Tapi semakin dihitung, semakin banyak yang ia ingat. Semakin ia gali, semakin dalam lubang yang ia temukan.
Berapa banyak dosa yang bahkan aku sudah lupa? Berapa banyak kesalahan yang sudah aku anggap biasa?
Ia merasakan dadanya sesak, napasnya pendek. Ketakutan itu datang lagi—ketakutan yang mencekik, yang membuat ia ingin lari tapi tidak tahu ke mana.
Tapi kemudian, di tengah ketakutan itu, ia mendengar suara azan maghrib dari surau—suara yang familiar, yang menenangkan. Suara yang mengingatkan: masih ada waktu. Masih ada kesempatan. Masih bisa bertobat.
Abdul Wira bangkit, berjalan cepat menuju surau. Ia tidak ingin terlambat—tidak untuk shalat maghrib, tidak untuk bertobat, tidak untuk kembali.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk tafakur lebih lama dari biasanya. Dalam sunyi itu, ia berbisik—bukan doa yang panjang, bukan doa yang indah, hanya doa yang jujur:
Ya Malik—Ya Pemilik Hari Pembalasan—aku takut. Aku takut pada hari ketika semua yang kusembunyikan akan dibuka. Aku takut pada hari ketika semua yang kulupakan akan diingat. Aku takut pada hari ketika tidak ada lagi tempat bersembunyi.
Ia menarik napas dalam, merasakan air mata mulai mengalir.
Tapi aku juga tahu—Engkau tidak hanya Malik, tetapi juga Rahman dan Rahim. Engkau tidak hanya Yang Memiliki Hari Pembalasan, tetapi juga Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan aku mohon—mohon pada kasih-Mu yang luas itu—ampuni aku sebelum hari itu tiba. Ampuni aku selagi masih ada waktu.
Abdul Wira membuka mata, menatap sajadah di hadapannya. "Aku tidak ingin mati seperti Pak Karso, ya Allah. Aku tidak ingin mati dalam ketakutan yang menyiksa. Aku ingin mati dalam kedamaian—kedamaian yang datang dari tahu bahwa aku sudah bertobat, bahwa aku sudah kembali, bahwa aku sudah berusaha memperbaiki."
***
Esok paginya, Abdul Wira melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak pulang kampung: ia mengunjungi orang-orang yang pernah ia sakiti.
Ia pergi ke rumah tetangga yang pernah ia pinjam uang tapi lupa mengembalikan. Ia mengembalikan uang itu dengan lebih—bukan karena sombong, tetapi karena ia tahu ia terlambat.
Ia pergi ke rumah teman lama yang pernah ia khianati dengan menceritakan rahasianya. Ia minta maaf—dengan jujur, dengan rendah hati, tanpa alasan.
Ia pergi ke makam ibunya, duduk di sana lebih lama, meminta maaf untuk semua yang tidak sempat ia lakukan, untuk semua yang terlambat.
Dan setiap kali ia minta maaf, setiap kali ia memperbaiki, ia merasakan sesuatu yang aneh: beban di dadanya berkurang. Tidak hilang total—tapi lebih ringan, sedikit demi sedikit.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Kyai Hasan mendekat, duduk di samping Abdul Wira.
"Kau kelihatan lebih tenang hari ini," kata kyai, tersenyum.
Abdul Wira mengangguk. "Aku masih takut, Kyai. Tapi sekarang ketakutan itu tidak melumpuhkan lagi. Ketakutan itu justru mendorong aku untuk bergerak—untuk memperbaiki, untuk bertobat, untuk kembali."
Kyai Hasan menepuk bahu Abdul Wira dengan lembut. "Itulah ketakutan yang sehat, Nak. Ketakutan yang menyadarkan, bukan yang menghancurkan. Ketakutan yang membuat kita lebih baik, bukan lebih buruk."
Kyai Hasan menatap langit malam yang mulai berbintang. "Ingat, Wira—Hari Pembalasan itu pasti datang. Tapi Hari itu bukan untuk menakut-nakuti kita sampai putus asa. Hari itu untuk mengingatkan kita: hidup ini ada pertanggungjawabannya. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Setiap tindakan ada timbangannya. Jadi, gunakan waktu yang masih ada—untuk memperbaiki, untuk bertobat, untuk kembali."
***
Hari-hari berlalu, dan Abdul Wira hidup dengan kesadaran baru: bahwa setiap hari adalah kesempatan, setiap napas adalah anugerah, setiap detik adalah waktu yang bisa digunakan untuk memperbaiki—sebelum waktu itu habis.
Ia tidak lagi hidup dengan sembarangan. Ia tidak lagi menganggap dosa kecil sebagai hal yang tidak penting. Ia tidak lagi menyembunyikan kesalahan dengan harapan akan terlupakan.
Karena ia tahu: tidak ada yang terlupakan. Semua tercatat. Semua akan ditimbang. Dan Hari itu—Hari Pembalasan—pasti datang.
Tapi ia juga tahu: selama masih ada waktu, masih ada kesempatan. Selama masih bernapas, masih bisa bertobat. Selama masih hidup, masih bisa memperbaiki.
MÄliki yaumid-dÄ«n.
Pemilik Hari Pembalasan. Bukan untuk menakut-nakuti sampai putus asa, tetapi untuk mengingatkan sampai sadar. Untuk membuat kita tidak lagi hidup dengan sembarangan, tetapi dengan penuh kesadaran—kesadaran bahwa hidup ini ada pertanggungjawabannya, dan kita harus siap menghadapinya.
Karena kematian pasti datang. Hari Pembalasan pasti tiba. Dan saat itu, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki. Yang ada hanya hasil—hasil dari apa yang kita lakukan selama masih diberi waktu.
Ya Malik, beri kami kesadaran untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Beri kami ketakutan yang menyadarkan, bukan yang melumpuhkan. Beri kami keberanian untuk memperbaiki selagi masih bisa, untuk bertobat selagi masih ada waktu, untuk kembali selagi pintu masih terbuka. Karena kami tidak tahu kapan waktu kami habis—dan kami tidak ingin menyesal saat sudah terlambat.
***
"Ketakutan pada Hari Pembalasan bukan untuk melumpuhkan—tetapi untuk menyadarkan, bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk memperbaiki sebelum terlambat."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar