SINOPSIS NOVEL

DI JALAN YANG DIMOHONKAN: Sebuah Riwayat tentang Al-Fatihah, Doa, dan Jalan Hidup

Cover Novel
Di Jalan yang Dimohonkan adalah novel sejarah-religius yang mengikuti perjalanan spiritual Abdul Wira Pranata, seorang pemuda Jawa yang tumbuh di tengah kompleksitas Hindia Belanda (1915-1945). Novel ini menenun tujuh ayat Al-Fatihah menjadi tiga puluh bab kehidupan, mengungkap bagaimana doa yang paling sering dibaca ini sebenarnya adalah peta lengkap untuk menjalani hidup.

PERJALANAN TOKOH

Abdul Wira tumbuh dalam dua dunia yang bertentangan. Ibunya—seorang perempuan kampung yang tidak bisa baca tulis—mengajarkannya tentang doa, kesabaran, dan iman yang sederhana namun kokoh. Sementara pendidikan di sekolah gubernemen Belanda membukakan matanya pada ilmu pengetahuan modern, rasionalitas, dan ambisi untuk keluar dari kemiskinan.

Terpesona oleh janji kemajuan dan pencerahan, Abdul Wira perlahan menjauh dari akar spiritualnya. Ia meninggalkan kampung untuk bekerja di kota, meninggalkan shalat karena merasa itu hanya ritual kosong, dan mulai meragukan relevansi agama di dunia yang "modern". Ia hampir menjadi seperti gurunya, Tuan Hendrik—pintar, terdidik, namun hampa.

Namun kehidupan mengajarkannya dengan cara yang keras: kematian ibunya yang meninggalkan doa-doa tertulis dalam buku kecil, sakit yang membuatnya tak berdaya, kehilangan yang memaksanya menghadapi kekosongan di balik kesuksesan duniawi. Satu per satu, Abdul Wira mulai memahami bahwa ilmu tanpa hidayah adalah kegelapan, dan kesuksesan tanpa kedamaian hati adalah kegagalan.

STRUKTUR NARATIF: AL-FATIHAH SEBAGAI PETA HIDUP

Novel ini dibagi menjadi tujuh bagian besar yang mengikuti struktur Al-Fatihah:

AYAT 1 – Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm (Bab 1-5)
Tentang memulai dengan niat yang benar, tentang kasih Tuhan yang luas (Rahman) dan dalam (Rahim), dan tentang bagaimana setiap kesalahan adalah undangan untuk memulai lagi dengan nama-Nya.

AYAT 2 – Al-ḥamdu lillāhi rabbil 'ālamīn (Bab 6-10)
Tentang bersyukur di tengah kekurangan, tentang Tuhan sebagai Rabb yang merawat bukan menghukum, dan tentang belajar berserah pada rencana-Nya yang lebih besar. Ayat ini mencapai puncaknya dengan kematian ibu Abdul Wira—pelajaran tentang syukur yang terlambat, tentang kehilangan yang mengajarkan nilai kehadiran.

AYAT 3 – Ar-raḥmānir-raḥīm (Bab 11-15)
Pengulangan kasih Tuhan yang berlapis: kasih ibu sebagai bayangan kasih Tuhan, kasih di medan sejarah yang kejam (penjajahan), pulang kepada kasih yang selalu menunggu, dan memaafkan diri sendiri sebagai bentuk menerima kasih-Nya.

AYAT 4 – Māliki yaumid-dīn (Bab 16-20)
Tentang kesadaran akan Hari Pembalasan yang menyadarkan, tentang kuasa Tuhan yang bergerak dalam sunyi, tentang dosa-dosa yang tak tercatat tinta namun terukir di hati, tentang tidak ada jalan pintas, dan tentang kesiapan menghadap-Nya.

AYAT 5 – Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn (Bab 21-25)
Tentang sujud sebagai puncak kebebasan, tentang mengakui ketergantungan sebagai kekuatan, tentang ibadah sebagai cara hidup (bukan ritual semata), tentang sabar yang aktif, dan tentang iman kolektif ("kami", bukan "aku").

AYAT 6-7 – Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm... (Bab 26-30)
Tentang memohon jalan yang tidak pernah selesai dimohonkan, tentang jalan lurus yang ternyata berliku, tentang belajar dari teladan hidup, tentang bahaya ilmu tanpa hidayah, dan tentang terus memohon sampai akhir hayat.

TEMA-TEMA UTAMA

1. Perjalanan dari Mengetahui Tuhan ke Bergantung pada Tuhan
Abdul Wira tidak kekurangan pengetahuan tentang agama—ia hafal doa, ia tahu teori. Tapi ia belum hidup dengan iman itu. Novel ini mengikuti transformasinya dari sekadar "tahu tentang Tuhan" menjadi "bergantung kepada Tuhan"—dari kepala ke hati, dari teori ke praktik.

2. Al-Fatihah sebagai Doa yang Tidak Pernah Selesai
Doa yang dibaca 17 kali sehari ini bukan pembuka shalat semata—tetapi pembuka hidup. Setiap ayat bukan teori teologi, tetapi panduan praktis: bagaimana memulai dengan benar, bagaimana bersyukur dalam kekurangan, bagaimana menerima ujian, bagaimana memohon petunjuk setiap hari.

3. Iman di Tengah Penjajahan dan Modernitas
Latar Hindia Belanda memberikan konteks historis yang kaya: ketegangan antara nilai tradisional dan modernitas, antara penjajahan fisik dan penjajahan pikiran, antara mempertahankan identitas spiritual di tengah tekanan asimilasi budaya.

4. Teladan Hidup, Bukan Teori Abstrak
Tokoh-tokoh seperti Ibu Wira (perempuan sederhana yang hidupnya adalah doa), Kyai Hasan Basri (ulama yang menafsir kehidupan lewat Al-Qur'an), dan Pak Darmo (petani yang sabar mengajarkan ketergantungan pada Tuhan) menjadi guru sejati—bukan lewat ceramah, tetapi lewat cara mereka hidup.

5. Komunitas sebagai Penjaga Iman
Kata "kami" dalam Al-Fatihah (bukan "aku") menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa iman tidak bisa dijalani sendirian. Kita saling menguatkan, saling mengingatkan, saling membawa pulang.

KARAKTER-KARAKTER KUNCI

Abdul Wira Pranata – Tokoh utama yang reflektif, keras pada diri sendiri, lembut dalam doa. Perjalanannya dari intelektual yang ragu menjadi hamba yang bergantung adalah inti novel.

Ibu Wira – Perempuan sederhana yang tidak bisa menulis, tetapi hidupnya adalah tafsir hidup Al-Fatihah. Kematiannya menjadi titik balik Abdul Wira.

Kyai Hasan Basri – Ulama kampung yang menafsir kehidupan lewat Al-Qur'an, membimbing Abdul Wira dengan kebijaksanaan yang membumi.

Siti Maryam – Istri Abdul Wira yang menjadi wajah kasih Tuhan dalam keluarga, menemaninya dalam suka dan duka.

Raden Soedarmo – Sahabat Abdul Wira, simbol intelektual terdidik Barat yang akhirnya menemukan kedamaian dalam kesederhanaan iman.

Tuan Hendrik – Guru Belanda yang pintar namun sesat, cermin dari apa yang hampir terjadi pada Abdul Wira: ilmu tanpa hidayah.

GAYA PENULISAN

Novel ini ditulis dengan gaya puitis-religius yang mengalir lembut namun menghunjam batin. Tidak ada khotbah, tidak ada ceramah—makna muncul dari peristiwa, dari dialog sederhana, dari momen-momen sunyi yang penuh tafakur. Setiap bab berakhir dengan refleksi yang terasa seperti doa, mengajak pembaca tidak hanya membaca, tetapi ikut merenungkan perjalanan spiritual mereka sendiri.

PENUTUP

Di Jalan yang Dimohonkan adalah novel tentang pulang—pulang ke kampung, pulang ke iman, pulang ke Tuhan. Ini adalah novel yang mengajak pembaca melihat kembali bacaan yang paling sering mereka ulang dengan mata yang baru: Al-Fatihah bukan sekadar pembuka shalat, tetapi peta lengkap kehidupan yang harus terus dibaca, terus dihayati, terus dimohonkan—sampai napas terakhir.

Novel ini menutup dengan epilog yang membawa Abdul Wira di usia senja, memimpin shalat maghrib berjamaah bersama keluarganya. Dan saat ia membaca Al-Fatihah, ia memahami: doa ini tidak pernah tamat. Kita tidak pernah selesai membacanya—kita hanya terus membacanya, sampai akhirnya hidup kita yang menjadi tafsirnya.

Dengan nama-Mu kami mulai, dan kepada-Mu kami kembali.

***

Genre: Novel Sejarah-Religius
Setting: Hindia Belanda, 1915-1945
Tema: Spiritualitas, Pencarian Makna, Al-Fatihah sebagai Panduan Hidup
Target Pembaca: Pembaca dewasa yang mencari kedalaman spiritual, penggemar sastra religius, siapa pun yang ingin memahami Al-Fatihah bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai cara hidup.

📚 Daftar Chapter