BAB 15
Memaafkan Diri
"Dosa yang paling berat bukan yang kita lakukan pada orang lain—tetapi yang kita simpan untuk diri sendiri, dan tidak pernah kita maafkan."
Sudah tiga bulan Abdul Wira pulang ke kampung, tapi ia masih belum bisa tidur nyenyak.
Setiap malam, saat ia berbaring di tikar, di rumah panggung yang sama tempat ia dibesarkan, pikiran-pikiran itu datang—seperti tamu yang tidak diundang, tapi selalu kembali.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Kau meninggalkan ibumu sendirian saat dia sakit.
Kau melupakan shalat bertahun-tahun.
Kau malu dengan kampung yang membesarkanmu.
Kau tidak layak dimaafkan.
Abdul Wira mencoba berdoa, mencoba istighfar, mencoba meminta ampun. Tapi ada sesuatu yang menghalangi—sebuah tembok tak terlihat antara dia dan kedamaian. Sebuah suara yang terus berbisik: Kau terlalu banyak salah. Kau tidak layak mendapat rahmat.
Ia bangun setiap subuh dengan mata merah—bukan karena begadang, tetapi karena menangis dalam gelap. Menangis untuk semua kesalahan yang tidak bisa diulang. Menangis untuk semua waktu yang tidak bisa dikembalikan.
Kyai Hasan melihatnya—melihat Abdul Wira yang pulang ke kampung, tapi tidak pulang ke dirinya sendiri. Pulang ke rumah, tapi tidak pulang ke hati yang damai.
***
Suatu pagi, setelah shalat subuh berjamaah di surau, Kyai Hasan memanggil Abdul Wira.
"Duduk sebentar, Nak. Aku mau ngobrol."
Abdul Wira duduk bersimpuh, wajahnya lelah. Kyai Hasan menatapnya lama, lalu berkata pelan, "Kau sudah minta ampun ke Tuhan?"
Abdul Wira mengangguk. "Setiap hari, Kyai. Setiap shalat."
"Lalu kenapa wajahmu masih seperti orang yang menanggung beban?"
Abdul Wira terdiam. Dadanya sesak, tapi tidak tahu harus menjawab apa.
Kyai Hasan menarik napas dalam. "Wira, kau sudah minta ampun ke Tuhan. Tapi apakah kau sudah memaafkan dirimu sendiri?"
Abdul Wira mendongak, menatap kyai dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana bisa saya memaafkan diri saya, Kyai? Saya terlalu banyak salah. Saya meninggalkan ibu saat dia sakit. Saya lupa shalat bertahun-tahun. Saya—"
"Stop," potong kyai lembut tapi tegas. "Kau pikir Tuhan belum tahu semua itu saat Dia memaafkanmu?"
Abdul Wira terdiam.
"Tuhan sudah memaafkanmu, Nak. Tapi kau belum memaafkan dirimu sendiri. Dan selama kau belum memaafkan dirimu, kau akan terus membawa beban itu—sampai kau patah."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dengan mata penuh kasih. "Rahmat Tuhan itu luas, Nak. Tapi kadang kita sendiri yang menyempitkannya—dengan tidak mau memaafkan diri. Kita menghukum diri kita sendiri lebih keras dari Tuhan menghukum kita. Dan itu... itu bukan tawadhu. Itu kesombongan—kesombongan yang merasa dosamu terlalu besar untuk diampuni, seolah rahmat Tuhan punya batas."
***
Sore itu, Abdul Wira duduk sendirian di tepi pantai—tempat yang dulu sering ia datangi saat hati gelisah. Ombak datang dan pergi, tidak pernah berhenti, seperti waktu yang terus berjalan meski kita tidak siap.
Ia menatap tangannya—tangan yang pernah menulis surat untuk kantor Belanda, tangan yang pernah lupa mengangkat untuk takbir, tangan yang pernah tidak sempat menggenggam tangan ibunya sebelum ia pergi.
Bagaimana bisa aku memaafkan tangan ini?
Tapi kemudian ia teringat kata-kata Kyai Hasan: Rahmat Tuhan itu luas. Tapi kadang kita sendiri yang menyempitkannya.
Abdul Wira menutup mata, menarik napas dalam-dalam. Lalu ia berbisik—bukan untuk laut, bukan untuk angin, tetapi untuk dirinya sendiri:
"Aku memaafkanmu."
Kata-kata itu terasa asing di lidahnya—seperti bahasa yang baru ia pelajari. Tapi ia ulangi lagi, lebih keras kali ini.
"Aku memaafkanmu, Wira. Untuk semua kesalahan. Untuk semua kelupaan. Untuk semua waktu yang terbuang."
Air matanya mengalir, tapi kali ini berbeda—bukan air mata penyesalan yang melumpuhkan, tetapi air mata pembebasan yang memerdekakan.
"Aku memaafkanmu—bukan karena kau sempurna, tetapi karena kau manusia. Dan manusia berhak untuk dimaafkan—bahkan oleh dirinya sendiri."
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk tafakur lebih lama dari biasanya. Ia menatap sajadah lusuh di hadapannya—sajadah yang dulu milik ibunya, yang sekarang ia gunakan setiap shalat.
Dalam sunyi itu, ia membisikkan sesuatu yang sudah lama terpendam:
Ya Rahim...
Bukan Ya Rahman, tetapi Ya Rahim—Yang Maha Penyayang, yang kasihnya lebih dalam, lebih khusus untuk mereka yang kembali, yang bertobat, yang mencoba lagi.
Ya Rahim, Engkau sudah memaafkanku. Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri. Aku masih menghukum diriku, masih menyiksa diriku, masih merasa tidak layak menerima rahmat-Mu.
Ia menarik napas dalam, merasakan dadanya yang sesak perlahan melonggar.
Ajari aku untuk memaafkan diriku sendiri—bukan dengan melupakan kesalahan, tetapi dengan menerima bahwa aku sudah diampuni. Ajari aku untuk tidak terus-menerus membuka luka lama, tetapi membiarkannya sembuh. Ajari aku untuk percaya bahwa rahmat-Mu lebih luas dari dosaku, lebih dalam dari penyesalanku.
***
Esok paginya, Abdul Wira bangun dengan perasaan yang berbeda. Bukan perasaan bahagia—belum. Tetapi perasaan lebih ringan, seolah beban yang selama ini ia pikul sudah mulai berkurang.
Ia shalat subuh dengan lebih khusyuk. Dalam sujud, ia tidak lagi memohon pengampunan dengan air mata penyesalan—tetapi dengan air mata syukur. Syukur karena diberi kesempatan untuk memaafkan—bahkan diri sendiri.
Setelah shalat, ia pergi ke makam ibunya. Ia duduk di sisi gundukan tanah, menatap nisan sederhana yang sudah mulai ditumbuhi lumut.
"Bu," bisiknya pelan, "aku sudah memaafkan diriku sendiri. Untuk semua yang tidak bisa kulakukan dulu. Untuk semua yang terlambat. Untuk semua yang tidak sempurna."
Angin pagi berhembus, membawa aroma tanah dan bunga kamboja yang rontok.
"Aku tahu Ibu sudah memaafkanku sejak dulu. Aku tahu Tuhan sudah memaafkanku. Tapi aku baru sekarang memaafkan diriku. Dan rasanya... rasanya seperti pulang—pulang yang sebenarnya. Bukan hanya pulang ke kampung, tetapi pulang ke hati yang damai."
Abdul Wira tersenyum—senyum yang tipis, tapi tulus. "Terima kasih, Bu. Untuk mengajariku bahwa kasih itu tidak menghitung kesalahan. Kasih itu memaafkan—bahkan sebelum diminta."
***
Hari-hari berlalu, dan Abdul Wira mulai hidup dengan cara yang berbeda. Ia masih ingat kesalahan-kesalahannya—tapi tidak lagi tenggelam di dalamnya. Ia masih menyesal untuk waktu yang terbuang—tapi tidak lagi membiarkan penyesalan itu melumpuhkan hari ini.
Ia belajar sesuatu yang sederhana tapi revolusioner: memaafkan diri bukan berarti melupakan kesalahan. Memaafkan diri adalah menerima bahwa kita sudah diampuni—oleh Tuhan, dan seharusnya juga oleh diri sendiri.
Karena dosa yang paling berat bukan yang kita lakukan pada orang lain. Dosa yang paling berat adalah yang kita simpan untuk diri sendiri—yang kita simpan dalam hati, yang kita ulang-ulang dalam pikiran, yang kita jadikan penjara yang tidak pernah kita tinggalkan.
Dan rahmat Tuhan itu luas—lebih luas dari kesalahan kita, lebih dalam dari penyesalan kita. Tapi rahmat itu baru bisa kita rasakan sepenuhnya saat kita juga memberi rahmat kepada diri kita sendiri.
Ar-raįø„mÄnir-raįø„Ä«m.
Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Kasih-Nya yang luas untuk semua, sayang-Nya yang dalam untuk yang kembali. Dan bagian dari kasih itu adalah mengajarkan kita untuk mengasihi diri sendiri—bukan dengan kesombongan, tetapi dengan kelembutan. Bukan dengan melupakan kesalahan, tetapi dengan memaafkannya.
Karena jika Tuhan saja memaafkan, siapa kita untuk tidak memaafkan diri kita sendiri? Jika Tuhan saja memberi kesempatan kedua, ketiga, keseribu, siapa kita untuk tidak memberi diri kita kesempatan untuk bangkit?
***
Suatu malam, Abdul Wira duduk di beranda rumah, menatap langit yang penuh bintang. Ia merasakan kedamaian—kedamaian yang sudah lama tidak ia rasakan. Bukan kedamaian karena sempurna, tetapi kedamaian karena diampuni—dan akhirnya, memaafkan.
Ia membisikkan doa dalam sunyi:
Ya Rahim, terima kasih karena mengajariku bahwa rahmat-Mu tidak hanya untuk orang lain—tetapi juga untuk diriku sendiri. Terima kasih karena mengajariku bahwa memaafkan diri bukan dosa, tetapi kebutuhan. Terima kasih karena mengajariku bahwa aku tidak harus sempurna untuk layak dicintai—bahkan oleh diriku sendiri.
Ajari kami—kami yang sering lebih keras menghukum diri sendiri daripada Engkau menghukum kami—untuk memberi rahmat kepada jiwa kami sendiri. Ajari kami untuk tidak tenggelam dalam penyesalan yang melumpuhkan, tetapi bangkit dengan ampunan yang membebaskan. Karena kami tahu, selama kami tidak memaafkan diri kami, kami tidak akan pernah benar-benar bebas—meski Engkau sudah membebaskan kami sejak lama.
***
"Memaafkan diri bukan melupakan kesalahan—tetapi menerima bahwa kita sudah diampuni, dan layak untuk melanjutkan hidup dengan hati yang damai."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar