BAB 14
Pulang
"Pulang bukan hanya soal tempat—tetapi soal kembali kepada Kasih yang selalu menunggu, meski kita pergi tanpa pamit."
Abdul Wira tidak tahu kapan tepatnya ia mulai menjauh.
Mungkin saat ia diterima bekerja sebagai juru tulis di kantor residen Belanda—pekerjaan yang memberinya gaji tetap, rumah yang lebih layak, dan kehidupan yang jauh dari kampung. Atau mungkin saat ia mulai merasa malu dengan asal-usulnya—kampung pesisir yang miskin, rumah panggung yang bocor, tetangga-tetangga yang tidak bisa baca tulis.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Atau mungkin saat ia mulai lupa shalat—tidak sekaligus, tetapi perlahan. Subuh dilewatkan karena kelelahan. Dzuhur ditunda karena pekerjaan. Maghrib terlupa karena rapat. Sampai akhirnya, shalat hanya tinggal di ingatan, bukan di rutinitas.
Tiga tahun. Tiga tahun ia tidak pulang kampung. Tidak menjenguk makam ibunya. Tidak bertemu Kyai Hasan. Tidak mendengar azan dari surau kecil yang dulu selalu membangunkannya.
Ia sibuk—atau setidaknya, itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Sibuk bekerja, sibuk naik pangkat, sibuk membangun kehidupan baru yang jauh dari bayangan kemiskinan.
Tapi di malam-malam sunyi, saat ia berbaring di tempat tidur yang empuk, di rumah yang punya atap genteng dan dinding bata, ia merasakan sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan gaji, tidak bisa digantikan dengan kehidupan yang lebih baik.
Ia merindukan rumah—rumah yang sebenarnya.
***
Surat itu datang pada pagi yang cerah.
Surat dari Kyai Hasan, ditulis dengan tangan yang gemetar—tanda kyai sudah tua. Isinya pendek:
"Wira, anak yang kukasihi. Pulanglah. Ada yang ingin kusampaikan sebelum terlambat."
Abdul Wira memegang surat itu lama, merasakan dadanya sesak. Ia tahu ia harus pulang. Tapi ada sesuatu yang menahannya—rasa malu. Malu karena tiga tahun tidak pulang. Malu karena melupakan orang-orang yang dulu menjaganya. Malu karena menjauh dari Tuhan yang dulu begitu dekat.
Apakah aku masih layak pulang? pikirnya.
Tapi kemudian ia teringat kata-kata ibunya yang dulu sering diulang: "Pulang itu tidak butuh alasan, Nak. Pulang itu hak—hak setiap anak yang pernah pergi."
Hari itu juga, Abdul Wira meminta izin kerja. Ia naik kereta ke arah kampung, melewati sawah-sawah yang dulu ia kenal, melewati jalan setapak yang dulu ia lalui setiap hari. Semuanya masih sama—tapi ada yang berubah. Atau mungkin, yang berubah adalah dirinya.
***
Kampung menyambutnya dengan sunyi.
Bukan sunyi yang kosong, tetapi sunyi yang penuh—penuh kenangan, penuh kerinduan, penuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Abdul Wira berjalan pelan menyusuri jalan tanah yang basah oleh hujan kemarin. Anak-anak yang dulu bermain dengannya sudah besar, sebagian sudah menikah. Rumah-rumah yang dulu ia kenal masih berdiri, meski lebih tua, lebih lapuk.
Ia berhenti di depan rumah lamanya—rumah panggung yang dulu ia tinggali bersama ibunya. Masih berdiri, meski atapnya sudah hampir runtuh. Tidak ada yang menghuni. Hanya angin yang sesekali berhembus, menggerakkan pintu yang tidak tertutup rapat.
Abdul Wira naik tangga perlahan, masuk ke dalam. Bau tanah dan kayu lapuk menyambutnya. Lantai bambu berderit di bawah kakinya. Di sudut ruangan, sajadah lusuh masih tergantung di dinding—sajadah ibunya, yang dulu selalu dibentangkan setiap subuh.
Ia berjalan mendekat, menyentuh sajadah itu dengan lembut. Kain sudah rapuh, warna sudah pudar. Tapi masih ada—masih menunggu, seperti rumah ini menunggu penghuninya pulang.
Abdul Wira merasakan air matanya mengalir. Ia berlutut di sana, memeluk sajadah itu, menangis seperti anak kecil yang kehilangan jalan pulang—dan akhirnya menemukannya lagi.
"Maafkan aku, Bu," bisiknya pada sunyi. "Maafkan aku yang terlalu lama pergi."
***
Sore itu, Abdul Wira pergi ke surau. Kyai Hasan duduk di beranda, menatap matahari yang mulai condong. Rambutnya sudah putih semua, punggungnya bungkuk, tapi matanya masih jernih—jernih dengan cahaya yang hanya dimiliki orang-orang yang dekat dengan Tuhan.
"Assalamu'alaikum, Kyai," sapa Abdul Wira dari bawah tangga, suaranya bergetar.
Kyai Hasan menoleh, tersenyum—senyum yang hangat, tanpa kemarahan, tanpa kecewa. "Wa'alaikumussalam, Wira. Akhirnya kau pulang."
Abdul Wira naik, duduk bersimpuh di hadapan kyai. "Maafkan saya, Kyai. Saya terlalu lama—"
"Tidak apa-apa," potong kyai lembut. "Yang penting kau pulang. Itu sudah cukup."
Mereka terdiam sejenak, hanya mendengarkan suara burung-burung yang mulai kembali ke sarang.
"Kyai," kata Abdul Wira pelan, "saya merasa... saya merasa tidak layak pulang. Saya sudah jauh dari shalat, jauh dari doa, jauh dari semua yang Kyai ajarkan."
Kyai Hasan menatapnya dengan mata penuh kasih. "Wira, kau tahu kenapa pintu rumah selalu terbuka?"
Abdul Wira menggeleng.
"Bukan karena tidak ada pencuri. Bukan karena tidak ada bahaya. Tapi karena pintu itu menunggu—menunggu orang yang pergi untuk pulang. Dan rumah itu tidak pernah bertanya, 'Kenapa kau lama?' Rumah hanya berkata, 'Syukurlah kau kembali.'"
Kyai Hasan meletakkan tangannya di bahu Abdul Wira. "Begitu juga Tuhan, Nak. Dia tidak menghitung berapa lama kau pergi. Dia hanya menunggu kau kembali. Dan saat kau kembali, Dia tidak memarahi—Dia menyambut."
Abdul Wira merasakan dadanya penuh—penuh dengan penyesalan, tapi juga penuh dengan syukur. Penyesalan karena terlalu lama pergi. Syukur karena masih diberi kesempatan pulang.
"Kyai ingin bilang apa dalam surat?" tanya Abdul Wira.
Kyai Hasan tersenyum, tatapannya jauh. "Aku ingin bilang—aku sudah tua, Nak. Aku tidak tahu sampai kapan masih bisa duduk di sini, menunggu anak-anak kampung pulang. Jadi, sebelum terlambat, aku ingin kau tahu: kau selalu punya rumah di sini. Tidak peduli seberapa jauh kau pergi, tidak peduli seberapa lama kau menghilang—kau selalu punya rumah untuk pulang."
***
Malam itu, Abdul Wira shalat maghrib di surau—untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Gerakannya canggung, hafalannya sempat lupa, tapi ia tetap shalat. Dan dalam sujud yang panjang itu, ia menangis—menangis untuk semua waktu yang terbuang, untuk semua shalat yang terlewat, untuk semua doa yang tidak pernah dipanjatkan.
Tapi ia juga menangis karena syukur—syukur karena masih diberi kesempatan kembali, karena pintu masih terbuka, karena Tuhan masih menyambut.
Setelah shalat, Kyai Hasan duduk di sampingnya, tidak bicara—hanya menemani dalam diam yang hangat.
"Kyai," kata Abdul Wira akhirnya, "bagaimana caranya kembali? Saya sudah terlalu jauh."
Kyai Hasan tersenyum. "Kembali itu dimulai dengan satu langkah, Nak. Satu shalat. Satu doa. Satu istighfar. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu langsung banyak. Cukup mulai—dan terus melangkah, sedikit demi sedikit."
Abdul Wira mengangguk, merasakan sesuatu yang mulai hidup lagi di dadanya—sesuatu yang hampir mati, tapi ternyata hanya tertidur: iman.
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi ke makam ibunya. Ia duduk di sisi gundukan tanah, membersihkan rumput liar yang tumbuh di sana, merapikan nisan yang miring.
"Bu," bisiknya, "aku pulang. Maaf terlambat."
Angin pagi berhembus, membawa aroma tanah dan bunga kamboja. Seolah ibunya menjawab, seolah ibunya tersenyum.
"Aku sudah jauh, Bu. Jauh dari kampung, jauh dari rumah, jauh dari Tuhan. Tapi aku pulang sekarang. Dan aku berjanji—aku tidak akan pergi lagi tanpa ingat jalan pulang."
Abdul Wira menutup mata, membisikkan doa—doa untuk ibunya, doa untuk dirinya, doa untuk semua orang yang pernah tersesat dan mencoba kembali.
***
Siang itu, Abdul Wira duduk di beranda rumah lamanya, menatap kampung yang sunyi. Ia memutuskan sesuatu: ia tidak akan kembali ke kota. Ia akan tinggal di sini—di kampung yang miskin ini, di rumah yang bocor ini, di tempat yang dulu ia tinggalkan karena malu.
Karena ia baru mengerti: kehidupan yang baik bukan yang punya banyak harta, tetapi yang punya banyak makna. Dan makna itu ada di sini—di kampung yang sederhana, di orang-orang yang tulus, di Tuhan yang selalu menunggu.
Ar-raįø„mÄnir-raįø„Ä«m.
Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Kasih-Nya yang luas dan dalam—yang tidak pernah menutup pintu, meski kita pergi tanpa pamit. Yang tidak pernah berhenti menunggu, meski kita lama tidak pulang. Yang tidak pernah memarahi, meski kita kembali dengan tangan kosong.
Pulang bukan soal tempat. Pulang adalah soal kembali kepada Kasih—kasih yang selalu ada, yang selalu terbuka, yang selalu menyambut.
Dan Abdul Wira, setelah tiga tahun tersesat, akhirnya pulang—bukan hanya ke kampung, tetapi ke rumah yang sebenarnya: ke pelukan Tuhan yang tidak pernah menutup, ke kasih yang tidak pernah habis, ke pintu yang selalu terbuka—menunggu anak yang pergi, untuk akhirnya kembali.
***
Ya Rahman, ya Rahim—Engkau yang pintu-Mu selalu terbuka, yang kasih-Mu tidak pernah tertutup—terima kasih karena masih mau menerima kami yang pulang terlambat. Terima kasih karena tidak bertanya, 'Kenapa kau lama?' tetapi hanya berkata, 'Syukurlah kau kembali.' Ajari kami untuk tidak takut pulang—meski kami merasa tidak layak, meski kami pergi terlalu jauh, meski kami kembali dengan tangan kosong. Karena kami tahu, di rumah-Mu, yang penting bukan sempurnanya kami—tetapi kesungguhan kami untuk kembali.
***
"Pulang tidak butuh kesempurnaan—hanya butuh keberanian untuk melangkah kembali, dan kepercayaan bahwa pintu selalu terbuka."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar