BAB 13
Rahmat di Medan Sejarah
"Di tengah penjajahan, iman bukan pelarian—tetapi perlawanan yang paling sunyi dan paling kekal."
Tahun 1926. Abdul Wira berusia dua puluh tahun ketika pemberontakan pecah.
Ia tidak ikut memberontak—bukan karena tidak berani, tetapi karena Kyai Hasan melarangnya. "Melawan itu baik, Nak. Tapi melawan dengan cara yang salah hanya akan menambah mayat, bukan kemerdekaan," kata kyai waktu itu.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Tapi larangan tidak menghentikan yang lain. Pemuda-pemuda kampung mengangkat bambu runcing, mengumpulkan keberanian yang selama ini terpendam, lalu bergerak ke kota—berharap bisa mengusir Belanda, berharap bisa merebut tanah mereka kembali.
Hasilnya? Pembantaian.
Belanda datang dengan senjata api, meriam, dan kekejaman yang terlatih. Dalam tiga hari, pemberontakan padam. Ratusan tewas. Ribuan ditangkap. Dan yang tersisa hanya abu—abu dari rumah-rumah yang dibakar, abu dari harapan yang hancur.
Abdul Wira berdiri di tepi kampung, menatap asap hitam yang mengepul dari arah kota. Di sampingnya, tetangga-tetangga menangis—kehilangan anak, kehilangan suami, kehilangan saudara. Kyai Hasan berdiri di tengah mereka, wajahnya tenang meski hatinya pasti hancur.
"Kenapa, Kyai?" tanya seseorang dengan suara bergetar. "Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Kenapa Dia tidak menolong kita?"
Kyai Hasan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap asap itu lama, lalu berkata pelan, "Tuhan sedang menguji—bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk melihat apakah kita masih percaya pada-Nya, bahkan saat dunia terasa seperti neraka."
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda, menatap langit yang gelap—tidak ada bintang, seolah langit ikut berduka. Di kejauhan, masih terdengar teriakan, tangisan, dan sesekali dentuman yang membuat bumi bergetar.
Ia memikirkan kata-kata Kyai Hasan. Memikirkan kenapa iman harus diuji di medan sejarah yang begitu kejam. Memikirkan kenapa Tuhan membiarkan penjajahan ini berlangsung begitu lama—puluhan tahun, ratusan tahun—sampai orang-orang mulai lupa seperti apa rasanya merdeka.
Ar-raįø„mÄnir-raįø„Ä«m.
Kata-kata itu bergema di benaknya, tapi kali ini terasa asing. Yang Maha Pengasih? Yang Maha Penyayang? Di mana kasih-Nya saat anak-anak kampung mati tertembak? Di mana sayang-Nya saat tanah ini dirampas, saat rakyat dipaksa kerja rodi, saat harga diri diinjak-injak?
Abdul Wira merasakan kemarahan—kemarahan yang jarang ia rasakan, kemarahan yang menusuk seperti duri yang tidak bisa dicabut.
"Kenapa?" bisiknya pada malam. "Kenapa harus begini?"
Tidak ada jawaban. Hanya angin yang berhembus dingin, membawa aroma darah dan tanah yang terbakar.
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi ke surau. Ia menemukan Kyai Hasan sedang duduk sendirian, membaca Al-Qur'an dengan suara pelan. Wajah kyai lelah—lelah bukan hanya karena tidak tidur, tetapi karena menyaksikan begitu banyak kehilangan.
"Kyai," panggil Abdul Wira.
Kyai Hasan mengangkat kepala, tersenyum lemah. "Duduk, Nak."
Abdul Wira duduk bersimpuh, ada pertanyaan yang membakar di dadanya. "Kyai, aku tidak mengerti. Kita berdoa setiap hari, kita shalat lima waktu, kita baca Al-Qur'an. Tapi kenapa kita masih dijajah? Kenapa kita masih tertindas? Kenapa Tuhan tidak menolong kita?"
Kyai Hasan menutup mushaf dengan lembut, menatap Abdul Wira dengan mata yang penuh hikmat. "Wira, kau pikir rahmat Tuhan itu hanya datang dalam bentuk kemenangan?"
Abdul Wira terdiam.
"Rahmat Tuhan itu lebih luas dari itu, Nak. Rahmat-Nya ada dalam setiap napas yang kita hirup meski hidup dalam penjajahan. Rahmat-Nya ada dalam setiap shalat yang kita masih bisa lakukan meski surau ini nyaris dibakar. Rahmat-Nya ada dalam setiap hati yang masih percaya meski dunia begitu gelap."
Kyai Hasan berhenti sejenak, menarik napas dalam. "Tuhan tidak berjanji bahwa hidup akan mudah, Nak. Tuhan berjanji bahwa Dia akan bersama kita—dalam suka dan duka, dalam kemenangan dan kekalahan, dalam merdeka dan terjajah. Dan kebersamaan-Nya itulah rahmat yang paling besar."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak. "Tapi Kyai, bagaimana kita bisa tetap percaya saat semuanya hancur?"
Kyai Hasan tersenyum—senyum yang sedih tapi tulus. "Justru di saat semuanya hancur, iman kita diuji. Apakah kita percaya Tuhan hanya saat Dia memberi kemenangan? Atau kita percaya Tuhan bahkan saat Dia memberi ujian yang terasa seperti hukuman?"
***
Sore itu, Abdul Wira berjalan ke makam ibunya. Ia duduk di sisi gundukan tanah, menatap nisan sederhana yang sudah mulai ditumbuhi lumut.
"Bu," bisiknya pelan, "aku bingung. Aku tidak tahu lagi harus percaya apa. Dunia ini terlalu kejam. Sejarah ini terlalu tidak adil."
Angin sore berhembus, membawa aroma tanah dan bunga kamboja yang rontok.
"Tapi aku ingat, Bu," lanjut Abdul Wira, "Ibu pernah bilang—iman bukan tentang mengerti kenapa sesuatu terjadi, tetapi tentang percaya bahwa ada Yang Mengatur, bahkan saat kita tidak paham rencana-Nya."
Abdul Wira menutup mata, merasakan air mata mengalir. "Ajari aku, Bu. Ajari aku untuk tetap percaya—bahkan di tengah penjajahan ini, bahkan di tengah kehilangan ini, bahkan di tengah dunia yang terasa seperti neraka."
Ia terdiam lama, hanya duduk di sana, merasakan kehadiran yang tidak terlihat—kehadiran ibunya, kehadiran Tuhan, kehadiran sesuatu yang lebih besar dari sejarah yang kejam ini.
Dan dalam sunyi itu, ia merasakan sesuatu yang aneh: kedamaian. Bukan kedamaian yang datang dari jawaban, tetapi kedamaian yang datang dari kepercayaan—kepercayaan bahwa meski dunia gelap, masih ada Cahaya. Meski sejarah kejam, masih ada Rahmat. Meski kita tertindas, kita tidak ditinggalkan.
***
Minggu berganti minggu. Penjajahan berlanjut, tapi kehidupan juga berlanjut. Orang-orang kembali ke sawah, kembali ke pasar, kembali ke rutinitas—bukan karena mereka menyerah, tetapi karena hidup harus terus berjalan.
Abdul Wira mulai memahami sesuatu: melawan penjajahan bukan hanya dengan bambu runcing atau senjata api. Melawan penjajahan juga dengan tetap hidup—dengan tetap shalat, dengan tetap berdoa, dengan tetap menjaga iman di tengah dunia yang mencoba menghancurkannya.
Karena penjajah bisa mengambil tanah, bisa mengambil harta, bisa mengambil nyawa. Tapi penjajah tidak bisa mengambil iman—selama kita memilih untuk menjaganya.
Suatu malam, setelah shalat isya berjamaah di surau yang kecil dan reot, Kyai Hasan berdiri di depan jamaah yang hanya sepuluh orang—sisa dari yang dulu puluhan.
"Saudara-saudaraku," kata kyai pelan, "kita hidup di zaman yang sulit. Kita dijajah, ditindas, diinjak. Tapi ingatlah—rahmat Tuhan tidak pernah berhenti. Rahmat-Nya ada dalam setiap napas kita, dalam setiap shalat kita, dalam setiap doa kita."
Kyai Hasan menatap satu per satu wajah jamaah dengan mata berkaca-kaca. "Suatu hari, penjajahan ini akan berakhir. Tapi iman kita harus tetap ada—sebelum merdeka, saat merdeka, dan setelah merdeka. Karena iman itulah yang membuat kita tetap manusia, bukan budak."
***
Malam itu, Abdul Wira pulang dengan hati yang lebih tenang. Ia mulai memahami: rahmat Tuhan di medan sejarah bukan selalu berbentuk kemenangan atau kemerdekaan. Rahmat Tuhan di medan sejarah adalah ketabahan untuk bertahan, kekuatan untuk tetap percaya, dan harapan untuk tetap hidup—bahkan saat dunia mencoba mematikan kita.
Ia menatap langit yang mulai berbintang—bintang-bintang yang sama yang dilihat kakeknya, yang dilihat ibunya, yang dilihat generasi sebelumnya yang juga hidup dalam penjajahan.
Dan ia memahami: sejarah panjang, penuh luka, penuh ketidakadilan. Tapi di setiap generasi, selalu ada yang tetap percaya—yang tetap shalat, yang tetap berdoa, yang tetap menjaga iman meski dunia gelap.
Dan mungkin, itulah rahmat yang paling besar: bahwa di tengah penjajahan yang begitu lama, iman tidak mati. Di tengah penindasan yang begitu kejam, doa tidak berhenti. Di tengah kegelapan sejarah, masih ada cahaya—cahaya yang kecil, tapi cukup untuk membuat kita tidak tersesat total.
Ar-raįø„mÄnir-raįø„Ä«m.
Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang—bahkan di medan sejarah yang paling kejam, bahkan di zaman yang paling gelap, kasih-Nya tetap ada. Bukan selalu dalam bentuk yang kita inginkan, tetapi selalu dalam bentuk yang kita butuhkan: ketabahan, harapan, dan iman yang tidak mati.
***
Ya Rahman, ya Rahim—Engkau yang kasih-Nya melampaui sejarah, yang rahmat-Nya menembus zaman—ajari kami untuk tetap percaya, bahkan saat dunia begitu kejam. Ajari kami untuk tetap shalat, bahkan saat surau nyaris dibakar. Ajari kami untuk tetap berdoa, bahkan saat doa terasa tidak dijawab. Karena kami tahu, rahmat-Mu bukan hanya dalam kemenangan, tetapi dalam ketabahan untuk bertahan. Bukan hanya dalam kemerdekaan, tetapi dalam kekuatan untuk tetap hidup—sebagai manusia yang beriman, bukan budak yang putus asa.
***
"Rahmat Tuhan di medan sejarah bukan selalu kemenangan—tetapi ketabahan untuk bertahan, dan iman yang tidak mati meski dunia mencoba membunuhnya."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar