BAB 13

Rahmat di Medan Sejarah


"Di tengah penjajahan, iman bukan pelarian—tetapi perlawanan yang paling sunyi dan paling kekal."


Tahun 1926. Abdul Wira berusia dua puluh tahun ketika pemberontakan pecah.

Ia tidak ikut memberontak—bukan karena tidak berani, tetapi karena Kyai Hasan melarangnya. "Melawan itu baik, Nak. Tapi melawan dengan cara yang salah hanya akan menambah mayat, bukan kemerdekaan," kata kyai waktu itu.


šŸ”’ Konten Terkunci

Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)

šŸ“š Daftar Chapter