BAB 12
Doa Ibu
"Cinta ibu bukan karena anaknya sempurna—tetapi meski anaknya tidak sempurna."
Abdul Wira menemukan buku itu saat membersihkan lemari tua ibunya.
Buku kecil bersampul kain lusuh, dijahit tangan dengan benang yang sudah mulai putus. Ia membukanya dengan hati-hati, takut halaman-halaman tipisnya robek. Di dalamnya, bukan tulisan—ibunya tidak bisa menulis—tetapi coretan-coretan sederhana: garis-garis, lingkaran-lingkaran, tanda-tanda yang hanya ibunya yang mengerti artinya.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Tapi di halaman terakhir, ada tulisan—tulisan yang jelas bukan tulisan ibunya. Tulisan rapi dengan tinta yang sudah memudar:
"Untuk Wira, anakku. Semoga suatu hari kau membaca ini dan tahu—Ibu selalu mendoakanmu, bahkan saat kau lupa pada Ibu."
Abdul Wira mengenali tulisan itu. Tulisan Kyai Hasan—yang dulu pernah membantu ibunya menulis surat untuk ayahnya yang pergi melaut dan tidak pernah kembali.
Tangannya gemetar. Ia membalik halaman, menemukan halaman-halaman lain yang ternyata bukan coretan—tetapi catatan doa. Setiap garis adalah hari. Setiap lingkaran adalah doa yang dipanjatkan. Setiap tanda adalah permohonan untuk anaknya—kesehatan, keselamatan, hidayah, jalan yang lurus.
Dan ada satu halaman yang penuh coretan—hari ketika Abdul Wira sakit demam, hari ketika ia hampir mati. Ibunya tidak tidur, hanya berdoa—satu doa demi satu doa, sampai fajar, sampai anaknya sembuh.
Abdul Wira menutup buku itu, memeluknya erat ke dada. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Ia tidak pernah tahu. Tidak pernah tahu bahwa setiap hari, ibunya mendoakannya—bahkan saat ia sibuk sekolah, bahkan saat ia lupa pulang, bahkan saat ia tidak pernah bertanya, "Bu, sudah makan?"
Ar-raįø„mÄnir-raįø„Ä«m.
Kata-kata itu bergema di benaknya. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami: kasih ibu adalah bayangan kasih Tuhan. Kasih yang tidak bersyarat. Kasih yang tidak menghitung. Kasih yang tetap ada—meski anaknya lupa, meski anaknya jauh, meski anaknya tidak pernah berterima kasih.
***
Sore itu, Abdul Wira pergi ke rumah Kyai Hasan, membawa buku kecil itu.
"Kyai," katanya, suaranya bergetar, "apa yang Ibu tulis di sini?"
Kyai Hasan mengambil buku itu, membukanya dengan hati-hati. Ia tersenyum—senyum yang sedih tapi hangat.
"Ini bukan tulisan, Nak. Ini doa. Ibumu tidak bisa menulis, jadi ia membuat tanda sendiri. Setiap garis adalah hari. Setiap tanda adalah nama yang ia sebut dalam doa—namamu, nama ayahmu, nama kakekmu, nama semua orang yang ia cintai."
Kyai Hasan membalik halaman-halaman dengan lembut. "Setiap subuh, ibumu membuka buku ini setelah shalat. Ia melihat tanda-tanda itu, lalu berdoa—satu per satu, dengan sabar, tanpa terburu-buru. Itu rutinitas yang ia lakukan selama bertahun-tahun—sampai hari terakhirnya."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak. "Kenapa Ibu tidak pernah bilang?"
"Karena doa ibu bukan untuk diketahui, Nak. Doa ibu adalah rahasia antara dia dan Tuhan—rahasia yang tidak perlu pengakuan, tidak perlu pujian, tidak perlu balas jasa. Ibumu berdoa karena mencintaimu, bukan karena mengharapkan kau tahu."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dengan mata yang penuh kasih. "Itulah cinta tanpa syarat, Nak. Cinta yang memberi tanpa mengharapkan kembali. Cinta yang berdoa tanpa perlu didengar. Cinta yang menjaga tanpa perlu dilihat."
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia terbaring di tikar, memegang buku kecil itu di dada, merasakan beratnya kasih yang selama ini ia terima tanpa pernah ia sadari.
Ia teringat semua kali ia pulang terlambat, semua kali ia lupa bilang terima kasih, semua kali ia menganggap kehadiran ibunya sebagai hal yang biasa—seolah ibunya akan selalu ada, seolah doa ibunya adalah hak yang otomatis ia terima.
Tapi sekarang ibunya sudah tiada. Dan yang tersisa hanya buku kecil ini—saksi sunyi dari doa-doa yang tidak pernah berhenti, dari kasih yang tidak pernah habis, dari cinta yang tidak pernah meminta imbalan.
Abdul Wira menutup mata, membisikkan sesuatu yang sudah lama tertahan:
"Maafkan aku, Bu. Maafkan aku yang tidak pernah tahu. Maafkan aku yang menerima doamu tanpa pernah berterima kasih. Maafkan aku yang menganggap kasihmu sebagai hal yang biasa—padahal itu luar biasa."
Ia menarik napas dalam, merasakan dadanya penuh dengan penyesalan dan syukur yang bercampur.
"Tapi terima kasih, Bu. Terima kasih untuk setiap doa yang tidak kuketahui. Terima kasih untuk setiap malam yang Ibu habiskan untuk mendoakanku. Terima kasih untuk kasih yang tidak pernah bersyarat—yang tetap ada, meski aku tidak layak."
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi ke makam ibunya, membawa buku kecil itu. Ia duduk di sisi gundukan tanah, membuka buku itu halaman demi halaman, membaca setiap tanda, mencoba memahami setiap doa.
Dan di sana, di bawah pohon kamboja yang bunganya mulai rontok, ia berdoa—bukan doa yang panjang, bukan doa yang indah, hanya doa yang jujur:
Ya Allah, aku baru tahu bahwa selama ini aku dijaga oleh doa. Doa ibu yang tidak pernah berhenti, doa yang tidak pernah lelah, doa yang tetap naik ke langit-Mu—bahkan saat aku lupa berdoa untuk diriku sendiri.
Angin pagi berhembus, membawa aroma tanah basah dan bunga.
Terima kasih untuk ibu yang Engkau titipkan. Terima kasih untuk kasih yang ia berikan tanpa batas. Terima kasih untuk doa-doa yang menjagaku—bahkan saat aku tidak tahu, bahkan saat aku tidak layak.
Abdul Wira membuka mata, menatap nisan sederhana di hadapannya.
Dan aku mohon, ya Allah—jaga ibu di sisi-Mu. Balas doanya yang tidak pernah terhitung. Ampuni dosanya yang mungkin ada. Dan pertemukan aku dengannya kelak—di tempat di mana aku bisa berterima kasih dengan semestinya, di tempat di mana tidak ada lagi penyesalan karena terlambat.
***
Hari-hari berlalu, dan Abdul Wira mulai melakukan sesuatu yang baru: setiap subuh, setelah shalat, ia membuka buku kecil itu. Ia melihat tanda-tanda yang ibunya buat, lalu ia berdoa—seperti ibunya dulu berdoa untuknya.
Ia berdoa untuk ibunya yang sudah tiada. Ia berdoa untuk ayahnya yang jasadnya tidak pernah ditemukan. Ia berdoa untuk orang-orang yang pernah berbuat baik padanya. Ia berdoa untuk anak-anak yatim di kampung, untuk janda-janda yang sendirian, untuk orang-orang yang tidak punya siapa-siapa.
Dan dalam doa-doa itu, ia merasakan sesuatu yang aneh: kedekatan. Kedekatan dengan ibunya yang sudah pergi. Seolah dengan berdoa, ia melanjutkan estafet kasih yang ibunya mulai—kasih yang tidak berhenti meski yang memberi sudah tiada.
Suatu hari, Kyai Hasan datang menjenguk, melihat Abdul Wira sedang membuka buku kecil itu di beranda.
"Kau melanjutkan tradisi ibumu?" tanya kyai, tersenyum.
Abdul Wira mengangguk. "Aku tidak bisa membalas doanya, Kyai. Tapi aku bisa melanjutkannya—mendoakan dia, seperti dia dulu mendoakanku."
Kyai Hasan duduk di samping Abdul Wira, menatap buku kecil itu dengan penuh hormat. "Kau tahu, Nak, kenapa doa ibu itu istimewa?"
Abdul Wira menggeleng.
"Karena doa ibu adalah doa yang paling tulus. Tidak ada pamrih. Tidak ada agenda. Hanya kasih—kasih yang murni, yang rela mengorbankan tidur, mengorbankan kenyamanan, mengorbankan segalanya—demi anak yang dicintainya."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dengan mata berkaca-kaca. "Dan Tuhan sangat menghormati doa seperti itu. Doa yang lahir dari kasih tanpa syarat. Doa yang naik ke langit dengan air mata, dengan ketulusan, dengan harapan yang tidak pernah padam."
***
Malam itu, Abdul Wira menatap langit yang penuh bintang. Ia memikirkan semua yang Kyai Hasan katakan. Memikirkan semua doa ibunya yang tidak pernah ia ketahui. Memikirkan kasih yang terus mengalir—bahkan setelah yang mencintai sudah pergi.
Dan ia memahami: Ar-raįø„mÄnir-raįø„Ä«m—kasih Tuhan yang luas dan dalam—sering kali datang lewat tangan-tangan manusia. Lewat ibu yang mendoakan, lewat ayah yang bekerja keras, lewat orang-orang yang mencintai kita tanpa kita minta.
Kasih Tuhan bukan hanya yang abstrak, yang jauh di langit. Kasih Tuhan juga yang konkret—yang hadir dalam pelukan ibu, dalam doa yang sunyi, dalam pengorbanan yang tidak pernah dilihat.
Dan mungkin, itulah kenapa Al-Fatihah mengulang Ar-raįø„mÄnir-raįø„Ä«m—di ayat pertama dan ayat ketiga—seolah mengingatkan: kasih-Ku tidak pernah tunggal, kasih-Ku berlapis. Kasih-Ku datang dari langit, tapi juga lewat bumi. Kasih-Ku datang langsung dari-Ku, tapi juga lewat orang-orang yang Aku kirimkan untuk menjagamu.
Dan ibu adalah salah satu bentuk kasih Tuhan yang paling nyata—yang paling tulus, yang paling rela berkorban, yang paling tidak pernah berhenti mencintai.
Bahkan setelah napasnya berhenti, doanya masih naik. Bahkan setelah tangannya dingin, kasihnya masih hangat. Bahkan setelah suaranya sunyi, namanya masih disebut—dalam doa anak yang akhirnya mengerti, dalam air mata anak yang akhirnya bersyukur.
Ya Rahim, terima kasih untuk ibu—untuk kasihnya yang tidak bersyarat, untuk doanya yang tidak berhenti, untuk pengorbanannya yang tidak terhitung. Ajari aku untuk mencintai seperti dia mencintai—tanpa syarat, tanpa hitung-hitungan, tanpa mengharapkan balasan. Karena cinta seperti itulah yang paling mirip dengan cinta-Mu—cinta yang murni, cinta yang kekal, cinta yang tidak pernah mati meski tubuh sudah kembali ke tanah.
***
"Doa ibu adalah kasih yang tidak pernah mati—ia terus naik ke langit, bahkan setelah suara yang melantunkannya sudah sunyi."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar