BAB 11
Luka yang Dijaga
"Kadang Tuhan tidak mengambil luka kita—Dia menjaganya, agar kita belajar bahwa di balik rasa sakit, ada kasih yang lebih dalam."
Enam bulan setelah ibunya meninggal, Abdul Wira jatuh sakit.
Bukan sakit biasa—demam yang tidak kunjung turun, batuk yang merobek dada, tubuh yang lemah sampai tidak bisa bangkit dari tikar. Ia terbaring sendirian di rumah yang kosong, menatap langit-langit bambu yang retak, bertanya-tanya apakah ini saatnya ia menyusul ibunya.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Tidak ada yang merawat. Tidak ada yang menyeka keringat di dahinya. Tidak ada yang memberinya minum saat tenggorokannya kering. Hanya sunyi—dan rasa sakit yang terus menusuk seperti jarum yang tidak pernah dicabut.
Di malam ketiga, saat demamnya memuncak, Abdul Wira membuka mata dalam gelap, merasakan dadanya sesak. Ia mencoba bernapas, tapi udara terasa berat. Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya tidak mau menurut.
Apakah ini akhirnya? pikirnya. Apakah aku akan mati sendirian di rumah ini, seperti ibu yang mati di pelukanku?
Tapi kemudian, di tengah delirium demam, ia mendengar suara—suara ketukan di pintu.
"Wira? Kau di dalam?"
Suara Kyai Hasan Basri.
Abdul Wira mencoba menjawab, tapi suaranya hanya keluar sebagai desahan lemah. Pintu terbuka perlahan, cahaya lentera masuk, dan kyai melangkah mendekat dengan wajah cemas.
"Ya Allah, Nak. Kenapa tidak bilang kau sakit?" Kyai Hasan meletakkan lentera, menyentuh dahi Abdul Wira yang panas seperti bara. "Tunggu di sini. Aku ambil air dan obat."
Kyai pergi, lalu kembali dengan kain basah dan ramuan herbal. Ia menyeka wajah Abdul Wira dengan lembut, memberinya minum sedikit demi sedikit, duduk di sampingnya sepanjang malam—menjaga, berdoa, tidak tidur.
Dan di tengah rasa sakit yang menusuk, Abdul Wira merasakan sesuatu yang aneh: kehangatan. Kehangatan yang datang bukan dari tubuhnya yang demam, tetapi dari kehadiran seseorang yang peduli—seseorang yang tidak meninggalkannya sendirian dalam gelap.
***
Pagi harinya, demam sedikit turun. Abdul Wira membuka mata, menemukan Kyai Hasan masih duduk di sampingnya, mata merah karena begadang.
"Kyai... kenapa tidak pulang?"
Kyai Hasan tersenyum lelah. "Karena kau tidak boleh sendirian, Nak. Tidak ada yang boleh sendirian saat sakit."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak—bukan karena sakit, tetapi karena terharu. "Terima kasih, Kyai."
Kyai Hasan menggeleng. "Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada Yang menggerakkan hatiku untuk datang malam ini—padahal aku tidak tahu kau sakit. Aku hanya merasa gelisah, seperti ada yang memanggilku untuk ke sini. Itu bukan kebetulan, Nak. Itu kasih-Nya."
Abdul Wira terdiam, menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia merasakan sesuatu yang hampir ia lupa: bahwa ia tidak sendirian. Bahwa ada Tangan yang menjaga—bahkan saat ia tidak sadar, bahkan saat ia merasa ditinggalkan.
"Kyai," kata Abdul Wira pelan, "kenapa Tuhan membiarkan kita sakit? Kenapa Dia tidak langsung menyembuhkan? Kenapa... kenapa harus ada rasa sakit?"
Kyai Hasan terdiam sejenak, menatap lentera yang nyalanya mulai redup. "Karena kadang, Nak, kita baru merasakan kasih-Nya saat kita lemah. Saat kita kuat, kita merasa bisa sendiri. Tapi saat kita sakit, saat kita jatuh, kita baru sadar—kita butuh-Nya. Kita butuh orang lain. Kita tidak bisa hidup sendirian."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dengan mata yang penuh hikmat. "Luka itu tidak selalu Tuhan ambil, Nak. Kadang Dia menjaganya—bukan untuk menyiksa, tetapi untuk mengajarkan. Mengajarkan kita tentang kerendahan hati, tentang ketergantungan, tentang kasih yang datang saat kita paling membutuhkan."
***
Dua minggu berlalu sebelum Abdul Wira benar-benar pulih. Selama itu, Kyai Hasan datang setiap hari—membawa makanan, obat, kadang hanya menemani dalam diam. Tetangga juga datang bergantian—Bu Aminah membawa bubur, Pak Sarmin membawa air sumur, anak-anak kecil membawa bunga liar yang mereka petik di sawah.
Abdul Wira yang biasanya hidup sendiri, tiba-tiba merasakan bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian. Ada komunitas yang menjaganya—diam-diam, tanpa diminta, tanpa pamrih.
Dan dalam kelemahan itu, ia belajar sesuatu yang tidak pernah ia pelajari saat ia kuat: menerima kasih. Selama ini ia selalu ingin memberi, selalu ingin kuat, selalu ingin tidak merepotkan orang lain. Tapi sakit mengajarkannya bahwa kadang, menerima kasih adalah bentuk kerendahan hati—mengakui bahwa kita lemah, bahwa kita butuh, bahwa kita tidak bisa sendirian.
Saat sudah bisa duduk, Abdul Wira keluar ke beranda, menatap kampung yang sama tapi terasa berbeda. Sawah masih hijau. Langit masih biru. Tapi ada sesuatu yang berubah—bukan di luar, tetapi di dalam.
Ia menatap tangannya yang masih gemetar, tubuhnya yang masih lemah. Luka dalam tubuhnya belum sepenuhnya sembuh, tapi ada sesuatu yang sembuh di hatinya—sesuatu yang patah sejak ibunya meninggal.
Ar-raįø„mÄnir-raįø„Ä«m.
Kata-kata itu tiba-tiba terngiang di benaknya. Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Bukan hanya satu, tetapi dua sifat—seolah Tuhan ingin menegaskan: kasih-Ku bukan sekali, tetapi berkali-kali. Bukan sesaat, tetapi menetap. Bukan hanya saat kau kuat, tetapi terutama saat kau lemah.
***
Suatu sore, setelah Abdul Wira cukup kuat untuk berjalan, ia pergi ke makam ibunya. Ia duduk di sisi gundukan tanah yang sudah mulai ditumbuhi rumput liar, menatap nama yang terukir sederhana di nisan kayu.
"Bu," bisiknya pelan, "aku sakit kemarin. Sakit yang sama seperti Ibu dulu. Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti kenapa Ibu tidak pernah mengeluh. Karena di balik rasa sakit, ada kasih—kasih yang datang dari orang-orang yang Tuhan kirimkan untuk menjaga kita."
Angin sore berhembus, membawa aroma tanah dan bunga kamboja. Abdul Wira menutup mata, merasakan kehangatan yang aneh—seolah ibunya mendengar, seolah ibunya tersenyum.
"Aku dulu pikir, kalau Tuhan sayang, Dia akan mengambil semua rasa sakit kita," lanjut Abdul Wira. "Tapi sekarang aku paham—kadang Tuhan menjaga luka kita, bukan untuk menyiksa, tetapi untuk mengajarkan. Mengajarkan bahwa kita tidak sendirian. Mengajarkan bahwa kasih-Nya datang lewat tangan-tangan yang mengulurkan bantuan, lewat hati-hati yang peduli, lewat orang-orang yang Dia kirimkan saat kita paling lemah."
Abdul Wira membuka mata, menatap langit yang mulai jingga. "Terima kasih, Bu, untuk tidak pernah mengeluh saat sakit. Sekarang aku tahu—itu bukan karena Ibu tidak kesakitan. Tapi karena Ibu melihat kasih Tuhan di balik rasa sakit itu."
***
Malam itu, Abdul Wira shalat dengan perasaan yang berbeda. Dalam sujud yang panjang, ia tidak meminta kesembuhan total—ia meminta pemahaman. Pemahaman tentang kenapa luka ada, kenapa rasa sakit hadir, kenapa kadang Tuhan tidak langsung mengambil derita kita.
Dan dalam sunyi sujud itu, ia merasakan jawaban—bukan dengan kata-kata, tetapi dengan rasa: Aku menjaga lukamu bukan untuk menyiksamu, tetapi untuk mengajarkanmu. Agar kau tahu bahwa kau lemah tanpa-Ku. Agar kau tahu bahwa kasih-Ku datang lewat orang-orang yang Aku kirimkan. Agar kau belajar menerima, bukan hanya memberi.
Abdul Wira mengangkat kepala dari sujud, merasakan air mata mengalir. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan—melainkan air mata syukur. Syukur untuk luka yang dijaga, untuk sakit yang mengajarkan, untuk kelemahan yang membuka mata hati.
Ya Rahman, ya Rahim...
Ia membisikkan kedua nama itu dengan penuh kesadaran—bukan lagi sekadar hafalan, tetapi pengalaman. Rahman yang kasihnya luas untuk semua. Rahim yang kasihnya dalam untuk yang dekat—untuk yang percaya, untuk yang kembali, untuk yang meski jatuh, tetap mencari-Nya.
Terima kasih untuk sakit yang mengajariku bahwa aku lemah. Terima kasih untuk luka yang mengingatkanku bahwa aku butuh-Mu. Terima kasih untuk rasa sakit yang membuka mataku—bahwa kasih-Mu datang bukan hanya saat aku kuat, tetapi terutama saat aku lemah.
***
Hari-hari berlalu. Tubuh Abdul Wira perlahan pulih, tapi ada yang tidak pernah kembali seperti semula—batuknya masih kadang datang, tubuhnya tidak sekuat dulu. Tapi ia tidak lagi melihat itu sebagai kutukan. Ia melihatnya sebagai pengingat—pengingat bahwa ia lemah, bahwa ia butuh Tuhan, bahwa ia butuh orang lain.
Dan setiap kali rasa sakit itu datang, ia tidak lagi bertanya, "Kenapa aku?" Ia bertanya, "Apa yang Engkau ajarkan lewat ini?"
Karena ia sudah belajar: luka yang dijaga bukan hukuman, tetapi pelajaran. Sakit yang tidak diambil bukan karena Tuhan tidak sayang, tetapi karena Dia ingin kita belajar sesuatu yang tidak bisa dipelajari saat kita kuat—tentang kerendahan hati, tentang ketergantungan, tentang kasih yang datang saat kita paling membutuhkan.
Ar-raįø„mÄnir-raįø„Ä«m.
Dua sifat yang selalu berpasangan—seolah Tuhan ingin mengatakan: Kasih-Ku tidak pernah tunggal. Kasih-Ku berlapis. Kasih-Ku datang berkali-kali—saat kau kuat dan saat kau lemah, saat kau sehat dan saat kau sakit, saat kau tertawa dan saat kau menangis.
Dan mungkin, itulah kenapa Al-Fatihah mengulang kedua sifat ini—di ayat pertama dan ayat ketiga—seolah mengingatkan: jangan pernah ragu akan kasih-Ku. Meski kau sakit, meski kau lemah, meski kau merasa ditinggalkan—Aku tetap di sini, menjagamu, mencintaimu, mengirimkan pertolongan lewat cara-cara yang tidak kau duga.
Karena kasih Tuhan bukan seperti kasih manusia yang datang hanya saat kita baik-baik saja. Kasih Tuhan justru paling nyata saat kita jatuh—saat kita lemah, saat kita sakit, saat kita tidak bisa apa-apa selain berbaring dan berdoa.
Dan di situlah kita belajar: kita tidak pernah sendirian. Bahkan di luka yang paling dalam, ada Tangan yang menjaga. Bahkan di sakit yang paling menyiksa, ada kasih yang tidak pernah pergi.
***
"Luka yang Tuhan jaga bukan untuk menyiksamu, tetapi untuk mengajarkanmu—bahwa di balik rasa sakit, ada kasih yang lebih dalam dari yang pernah kau rasakan."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar