BAB 10

Puji yang Terlambat


"Kita sering baru merasakan kehangatan matahari setelah ia terbenam."


Abdul Wira tidak pernah menyangka bahwa suara ibunya akan hilang begitu cepat.


Pagi itu, ia bangun seperti biasa—dengan harapan mendengar suara ibunya yang lembut memanggilnya dari dapur, dengan aroma nasi yang baru dimasak, dengan kehangatan rumah yang selalu sama. Tapi yang ia dengar hanya sunyi.

Sunyi yang aneh. Sunyi yang salah.

Ia bangkit dari tikar, melangkah ke dapur. Kosong. Api tungku tidak menyala. Kendi air masih penuh—tidak tersentuh. Ia menoleh ke kamar ibunya, pintu setengah terbuka.

šŸ”’ Konten Terkunci

Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)

šŸ“š Daftar Chapter