BAB 10
Puji yang Terlambat
"Kita sering baru merasakan kehangatan matahari setelah ia terbenam."
Abdul Wira tidak pernah menyangka bahwa suara ibunya akan hilang begitu cepat.
Pagi itu, ia bangun seperti biasa—dengan harapan mendengar suara ibunya yang lembut memanggilnya dari dapur, dengan aroma nasi yang baru dimasak, dengan kehangatan rumah yang selalu sama. Tapi yang ia dengar hanya sunyi.
Sunyi yang aneh. Sunyi yang salah.
Ia bangkit dari tikar, melangkah ke dapur. Kosong. Api tungku tidak menyala. Kendi air masih penuh—tidak tersentuh. Ia menoleh ke kamar ibunya, pintu setengah terbuka.š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
"Bu?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah mendekat, mendorong pintu perlahan. Ibunya terbaring di tikar, mata terpejam, napas tersengal-sengal. Wajahnya pucat, keringat membasahi dahinya.
"Bu!" Abdul Wira berlutut di samping ibunya, memegang tangannya yang dingin. "Bu, kenapa tidak bilang sakit?"
Ibu Wira membuka mata perlahan, tersenyum lemah. "Tidak apa-apa, Nak. Cuma demam biasa."
Tapi Abdul Wira tahu ini bukan demam biasa. Tubuh ibunya panas seperti bara, napasnya pendek-pendek, bibirnya kering.
"Aku panggil dukun, Bu. Tunggu sebentar."
"Tidak usah, Nak," bisik ibunya. "Ibu sudah tua. Ini sudah waktunya."
"Jangan bicara begitu, Bu!" suara Abdul Wira bergetar. "Ibu harus sembuh. Aku... aku masih butuh Ibu."
Ibu Wira mengusap tangan anaknya dengan lembut, meski tangannya gemetar. "Semua ada waktunya, Nak. Lahir ada waktunya. Mati ada waktunya. Kita hanya titipan—cepat atau lambat, kita harus dikembalikan."
***
Tiga hari ibunya terbaring sakit.
Abdul Wira tidak pergi ke sekolah, tidak tidur dengan nyenyak, tidak makan dengan tenang. Ia hanya duduk di samping ibunya, menyeka keringat di dahinya, memberinya minum sedikit demi sedikit, berdoa dalam hati—doa yang penuh ketakutan, doa yang memohon waktu.
Di malam ketiga, ibunya terbangun sebentar, menatap Abdul Wira dengan mata yang jernih meski lemah.
"Nak, Ibu mau bilang sesuatu."
Abdul Wira mendekat, memegang tangan ibunya erat.
"Jangan sedih kalau Ibu pergi nanti," bisik ibunya. "Ibu sudah cukup bahagia. Ibu sudah melihat kamu tumbuh jadi anak baik. Itu sudah lebih dari cukup."
"Bu, jangan bicara begitu. Ibu akan sembuh."
Ibu Wira tersenyum—senyum yang sedih tapi damai. "Nak, berjanji sama Ibu. Apapun yang terjadi, jangan lupakan shalat. Jangan lupakan doa. Dan jangan lupa bersyukur—untuk semua yang sudah diberikan, bukan yang belum."
Air mata Abdul Wira mengalir. "Aku janji, Bu."
Ibunya memejamkan mata, napasnya semakin pelan. "Alhamdulillah," bisiknya—kata terakhir yang keluar dari bibirnya sebelum ia kembali terlelap.
Dan di subuh yang dingin itu, napas ibunya berhenti.
Sunyi. Benar-benar sunyi.
Abdul Wira memegang tangan ibunya yang sudah dingin, tidak percaya. Ia menunggu napas berikutnya, menunggu dada ibunya naik turun lagi. Tapi tidak. Ibunya sudah pergi—meninggalkan dunia dengan tenang, seperti orang yang tidur setelah bekerja keras.
Abdul Wira tidak menangis. Belum. Ia hanya duduk di sana, memegang tangan ibunya, merasakan kehampaan yang begitu besar—kehampaan yang datang bukan dari kehilangan sesuatu, tetapi dari kehilangan segalanya.
***
Pemakaman dilakukan sore itu juga, sesuai adat kampung. Tetangga datang membantu—memandikan, mengkafani, menyalatkan. Abdul Wira hanya berdiri di sudut, menyaksikan tubuh ibunya dibungkus kain putih, diturunkan ke liang tanah, ditimbun satu persatu.
Tanah merah basah menutupi jasad ibunya perlahan. Setiap gumpalan tanah yang jatuh terasa seperti menutup sesuatu dalam diri Abdul Wira—sesuatu yang tidak akan pernah terbuka lagi.
Saat semua sudah selesai, orang-orang pulang satu per satu. Hanya Abdul Wira yang masih berdiri di sana, menatap gundukan tanah yang baru saja dibuat.
Kyai Hasan Basri mendekat, berdiri di sampingnya tanpa bicara. Mereka terdiam lama, hanya mendengarkan angin sore yang berhembus pelan.
"Kau tahu, Wira," kata kyai akhirnya, "kita sering baru merasakan nikmat setelah ia hilang. Baru merasakan kehangatan setelah dingin. Baru merasakan cahaya setelah gelap."
Abdul Wira tidak menjawab. Dadanya terlalu sesak untuk bicara.
"Ibumu sudah pergi," lanjut kyai. "Tapi ajaran-ajarannya masih hidup—di hatimu, di tindakanmu, di doamu. Dia tidak benar-benar hilang, selama kau masih ingat."
Kyai Hasan meletakkan tangannya di bahu Abdul Wira. "Dan sekarang, kau harus belajar mengucap alhamdulillah bukan hanya saat ada, tetapi juga saat sudah tiada. Karena dia pernah ada—itu sudah nikmat yang luar biasa."
***
Malam itu, Abdul Wira pulang ke rumah yang kosong.
Benar-benar kosong.
Tidak ada suara ibunya di dapur. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada kehangatan yang biasa menyambut. Hanya sunyi—sunyi yang memekakkan telinga, sunyi yang membuat dada sesak.
Ia duduk di beranda, menatap sajadah ibunya yang tergantung di dinding. Lusuh, penuh noda, tapi penuh kenangan. Di atas sajadah itu, ibunya pernah sujud berjam-jam, mendoakan anaknya, memohon yang terbaik.
Dan Abdul Wira baru menyadari—selama ini ia terlalu sibuk menerima doa, sampai lupa mengucap syukur untuk yang mendoakan.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan, akhirnya menangis—tangis yang tertahan sejak pagi, tangis yang tidak bisa dibendung lagi. Ia menangis untuk semua yang tidak pernah ia katakan: terima kasih untuk sarapan setiap pagi, terima kasih untuk doa setiap malam, terima kasih untuk kesabaran yang tidak pernah habis, terima kasih untuk kasih yang tidak pernah bersyarat.
Ia menangis karena semua ucapan terima kasih itu datang terlambat—datang saat yang menerima sudah tidak bisa mendengar.
Alhamdulillah.
Kata itu tiba-tiba keluar dari bibirnya—bukan karena kebiasaan, tetapi karena kesadaran yang dalam. Kesadaran bahwa meski ibunya sudah pergi, dia pernah ada. Dan "pernah ada" itu sendiri sudah nikmat yang tidak bisa dinilai dengan apapun.
Alhamdulillah untuk setiap pagi yang Ibu bangunkan aku. Alhamdulillah untuk setiap nasi yang Ibu masak meski tanganmu lelah. Alhamdulillah untuk setiap doa yang Ibu panjatkan meski aku tidak tahu. Alhamdulillah untuk setiap pelukan yang Ibu beri meski aku sering menolak.
Air matanya terus mengalir, tapi kali ini bukan hanya air mata kesedihan—tetapi juga air mata syukur.
Alhamdulillah, ya Rabb, untuk ibu yang Engkau titipkan padaku. Meski hanya sebentar—meski aku merasa terlalu cepat—tapi dia ada. Dan kehadirannya mengubah hidupku dengan cara yang tidak akan pernah bisa digantikan.
***
Esok paginya, Abdul Wira bangun lebih awal dari biasanya. Ia shalat subuh sendirian—untuk pertama kalinya tanpa ibunya di samping. Sajadahnya terasa lebih dingin, doanya terasa lebih berat, tapi ia tetap shalat—karena ibunya pernah berpesan: Apapun yang terjadi, jangan lupakan shalat.
Setelah shalat, ia duduk tafakur lebih lama. Menatap langit yang perlahan terang, mendengar burung-burung yang mulai berkicau, merasakan angin pagi yang menyentuh wajahnya.
Semua itu masih ada. Dunia masih berjalan. Matahari masih terbit. Kehidupan masih berlanjut.
Dan di tengah kesedihan yang masih membekas, Abdul Wira merasakan sesuatu yang aneh: kedamaian. Bukan kedamaian yang datang dari melupakan, tetapi kedamaian yang datang dari menerima—menerima bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup, bahwa perpisahan adalah bagian dari pertemuan, bahwa kesedihan adalah harga dari kasih yang pernah kita terima.
Ia berdiri, melangkah ke dapur, mencoba menyalakan api tungku seperti yang ibunya lakukan setiap pagi. Tangannya canggung, kayu bakarnya basah, tapi ia terus mencoba—karena hidup harus terus berjalan, meski tanpa orang yang selama ini menjaganya.
Dan saat api akhirnya menyala—kecil, tapi cukup untuk memasak—Abdul Wira tersenyum. Senyum yang pahit, tapi tulus.
"Terima kasih, Bu," bisiknya pada sunyi. "Untuk mengajariku hidup—bahkan setelah Ibu pergi."
***
Hari-hari berlalu. Minggu berganti minggu. Abdul Wira belajar hidup sendiri—memasak sendiri, mencuci sendiri, bangun sendiri. Tidak mudah. Sering kali ia lupa bahwa ibunya sudah tidak ada, sering kali ia berbalik untuk bertanya sesuatu lalu menyadari tidak ada yang akan menjawab.
Tapi perlahan, ia belajar. Belajar mengucap alhamdulillah bukan hanya untuk yang ada, tetapi juga untuk yang pernah ada. Belajar bersyukur bukan hanya saat menerima, tetapi juga setelah kehilangan—karena pernah menerima saja sudah nikmat yang luar biasa.
Dan ia mulai memahami: kita sering menganggap nikmat sebagai hal yang biasa—sampai nikmat itu hilang. Kita sering menganggap kehadiran sebagai hal yang pasti—sampai yang hadir sudah tiada. Kita sering lupa mengucap syukur saat masih ada—sampai kita hanya bisa menyesal saat sudah pergi.
AlhamdulillÄhi rabbil 'ÄlamÄ«n.
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengasuh semesta—yang memberi dan mengambil, yang mempertemukan dan memisahkan, yang menitipkan dan meminta kembali.
Dan meski kehilangan itu sakit, Abdul Wira belajar bahwa di balik setiap kehilangan, ada pelajaran: hargai yang ada sebelum ia pergi. Ucapkan terima kasih sebelum terlambat. Peluk erat yang kau cintai sebelum tangan itu dingin.
Karena hidup ini singkat. Waktu bersama orang yang kita cintai lebih singkat lagi. Dan penyesalan paling dalam adalah penyesalan karena tidak pernah mengucap syukur—sampai yang disyukuri sudah menjadi kenangan.
***
Di malam yang sunyi, Abdul Wira duduk di beranda, menatang bintang yang sama yang dulu sering ia tatap bersama ibunya. Dan dalam sunyi itu, ia membisikkan doa—bukan doa meminta, tetapi doa mengucap syukur:
Ya Rabb, maafkan aku yang terlambat menyadari nikmat-Mu. Maafkan aku yang baru mengucap syukur setelah kehilangan. Maafkan aku yang mengira kehadiran itu pasti—padahal itu titipan yang bisa Engkau ambil kapan saja.
Terima kasih untuk ibu yang Engkau titipkan. Meski sekarang dia sudah kembali kepada-Mu, kenangan dan ajarannya masih hidup—di setiap shalat yang kulakukan, di setiap doa yang kupanjatkan, di setiap kasih yang coba kuberikan kepada orang lain.
Ajari aku, ya Rabb, untuk tidak menunggu kehilangan sebelum bersyukur. Ajari aku untuk mengucap alhamdulillah setiap hari—untuk yang ada, untuk yang hadir, untuk yang masih bisa kusentuh dan kupeluk. Karena aku tidak tahu sampai kapan mereka akan tetap ada.
***
"Jangan tunggu kehilangan untuk bersyukur. Ucapkan terima kasih hari ini—untuk yang masih ada, yang masih hadir, yang masih bisa kau peluk."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar