BAB 9
Belajar Berserah
"Saat rencana runtuh, kita belajar bahwa ada Tangan lain yang mengatur—dan Tangan itu lebih tahu."
Abdul Wira tidak pernah menyangka bahwa mimpinya akan hancur dalam satu surat.
Surat itu datang pada pagi yang cerah—terlalu cerah untuk berita buruk. Amplop cokelat dengan cap resmi sekolah gubernemen, dibawa oleh tukang pos yang mengendarai sepeda tua. Ibunya menerima surat itu dengan tangan gemetar, lalu menyerahkannya kepada Abdul Wira.
"Buka, Nak. Ini pasti tentang beasiswamu."
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya! klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Abdul Wira merobek amplop dengan hati berdebar. Selama enam bulan terakhir, ia belajar mati-matian untuk mendapatkan beasiswa ke sekolah menengah di kota—sekolah yang lebih baik, yang bisa memberinya kesempatan melanjutkan ke universitas, yang bisa mengubah nasib keluarganya.
Ia sudah membayangkan semuanya: pulang dengan ijazah, mendapat pekerjaan yang layak, membangun rumah baru untuk ibunya, membayar semua pengorbanannya. Semua sudah direncanakan dengan rapi—tinggal menunggu surat ini sebagai penegasan.
Tapi yang ia baca membuat dunia seolah berhenti berputar.
"Dengan ini kami sampaikan bahwa beasiswa yang Saudara ajukan tidak dapat kami setujui karena kuota untuk pribumi sudah penuh. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."
Abdul Wira membaca ulang. Satu kali. Dua kali. Berharap ada yang salah, berharap ia salah baca.
Tapi tidak. Kata-katanya tetap sama. Beasiswa ditolak. Mimpinya runtuh.
Ia menatap ibunya yang berdiri di hadapannya, wajahnya penuh harap. Lalu ia menyerahkan surat itu tanpa kata. Ibunya membaca—pelan, karena ia tidak terbiasa dengan huruf Latin—lalu terdiam.
"Tidak apa-apa, Nak," bisik ibunya akhirnya, suaranya bergetar. "Mungkin ada jalan lain."
Tapi Abdul Wira tidak mendengar. Ia berbalik, keluar dari rumah, berjalan tanpa tujuan—hanya ingin menjauh, ingin sendirian, ingin marah pada dunia yang tidak adil ini.
***
Ia berjalan sampai ke tepi pantai, tempat ia biasa datang saat hati gelisah. Ombak datang dan pergi, tidak peduli dengan kekecewaan manusia. Langit tetap biru. Matahari tetap bersinar. Dunia tetap berjalan—sementara rencana Abdul Wira hancur berkeping-keping.
Ia duduk di pasir, memeluk lututnya, menatap laut yang luas. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasakan kehampaan yang dalam—kehampaan yang datang bukan karena kehilangan sesuatu yang ia miliki, tetapi karena kehilangan sesuatu yang ia yakini akan ia dapatkan.
"Kenapa?" bisiknya pada angin. "Kenapa aku belajar keras kalau ujungnya ditolak? Kenapa aku berharap kalau ujungnya kecewa?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara ombak yang terus berulang—datang, pergi, datang, pergi.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Yang ia tahu, matahari sudah mulai condong ke barat ketika ia mendengar suara langkah di pasir.
"Wira."
Ia menoleh. Kyai Hasan Basri berdiri di belakangnya, sarung lusuh berkibar tertiup angin, wajahnya tenang seperti biasa.
"Kyai mencari saya?" tanya Abdul Wira, suaranya datar.
Kyai Hasan duduk di sampingnya, menatap laut dengan mata yang penuh hikmat. "Ibumu bilang kau pergi sejak pagi. Aku tahu kau pasti di sini."
Mereka terdiam sejenak, hanya mendengarkan ombak.
"Beasiswamu tidak disetujui, ya?" tanya kyai pelan.
Abdul Wira mengangguk, tidak sanggup bicara.
"Dan sekarang kau merasa semua rencanamu hancur?"
Abdul Wira mengangguk lagi, merasakan matanya panas.
Kyai Hasan menarik napas panjang. "Wira, aku mau tanya. Siapa yang membuat rencana itu?"
"Saya, Kyai."
"Dan siapa yang kau kira akan menyetujui rencana itu?"
Abdul Wira terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau buat rencana seolah kau yang mengatur hidup," lanjut kyai, suaranya lembut tapi tegas. "Seolah kau tahu apa yang terbaik untukmu. Tapi kau lupa satu hal, Nak: ada Yang Mengatur lebih dari kita. Dan Dia lebih tahu jalan mana yang sebenarnya baik untukmu."
Abdul Wira menatap kyai, dadanya sesak. "Tapi Kyai, aku sudah berusaha keras. Aku belajar sampai larut malam. Aku—"
"Usaha itu baik, Nak. Tapi usaha bukan jaminan bahwa hasilnya akan sesuai keinginanmu. Usaha itu kewajiban kita. Tapi hasil? Itu hak Tuhan. Dan kadang, apa yang kita anggap gagal, justru adalah jalan-Nya untuk membawa kita ke tempat yang lebih baik."
Kyai Hasan menatap Abdul Wira dengan mata yang penuh kasih. "Berserah bukan berarti menyerah, Nak. Berserah artinya mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya. Mengakui bahwa ada Yang Lebih Tahu. Dan mempercayai bahwa apapun yang terjadi—baik atau buruk menurut kita—adalah yang terbaik menurut-Nya."
***
Malam itu, Abdul Wira pulang dengan hati yang masih berat, tapi sedikit lebih tenang. Ibunya sudah menunggu di beranda, wajahnya cemas.
"Sudah makan, Nak?" tanya ibunya lembut.
Abdul Wira menggeleng.
Ibunya masuk ke dalam, lalu keluar membawa sepiring nasi dan ikan asin—makanan sederhana yang sudah disiapkan sejak sore, menunggu anaknya pulang.
Mereka makan bersama dalam diam. Tidak banyak kata, tapi ada kehangatan—kehangatan yang hanya ada di rumah, di antara orang yang saling mencintai tanpa syarat.
Setelah makan, ibunya berkata pelan, "Nak, Ibu tahu kau kecewa. Ibu juga kecewa. Tapi Ibu percaya, Tuhan tidak menutup satu pintu tanpa membuka pintu lain—bahkan kalau pintu itu belum terlihat sekarang."
Abdul Wira menatap ibunya, merasakan air mata mulai mengalir.
"Kau ingat saat ayahmu meninggal?" lanjut ibunya, suaranya bergetar. "Ibu merasa dunia runtuh. Rencana Ibu hancur. Ibu tidak tahu harus bagaimana membesarkanmu sendirian. Tapi Ibu belajar satu hal: saat rencana manusia runtuh, rencana Tuhan baru terlihat."
Ibunya menggenggam tangan Abdul Wira. "Dan lihatlah sekarang. Kita masih hidup. Kau masih sekolah. Kita masih punya rumah, masih punya makan, masih punya satu sama lain. Itu bukan kebetulan, Nak. Itu karena ada Yang Mengatur—dan Dia tidak pernah meninggalkan kita, bahkan saat kita merasa ditinggalkan."
***
Malam semakin larut. Abdul Wira berbaring di tikar, menatap langit-langit bambu yang retak. Pikirannya masih berkecamuk—antara kecewa, marah, dan mencoba menerima.
Ia menutup mata, mencoba berdoa—tapi kata-kata tidak keluar. Yang keluar hanya tangisan sunyi, tangisan yang sudah ia tahan sejak pagi.
Dan dalam tangisan itu, ia membisikkan satu kalimat—bukan doa yang indah, bukan doa yang fasih, hanya pengakuan yang jujur:
Ya Rabb, aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti kenapa ini terjadi. Tapi... tapi aku percaya Engkau tahu yang lebih baik.
Ia menarik napas dalam, merasakan dadanya yang sesak perlahan melonggar.
Aku sudah merancang hidup seolah aku yang mengatur. Aku sudah membayangkan masa depan seolah aku yang menentukan. Tapi aku lupa—aku hanya manusia. Aku tidak tahu apa yang terbaik. Hanya Engkau yang tahu.
Air matanya terus mengalir, tapi kali ini bukan air mata kemarahan—melainkan air mata penyerahan.
Ajari aku berserah, ya Rabb. Ajari aku menerima bahwa tidak semua rencana harus berjalan sesuai keinginanku. Ajari aku percaya bahwa setiap penolakan adalah perlindungan, setiap kegagalan adalah pengalihan—menuju jalan yang sebenarnya lebih baik, meski aku belum melihatnya sekarang.
***
Pagi harinya, Abdul Wira bangun dengan hati yang lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai—beasiswa masih ditolak, masa depan masih kabur—tetapi karena ia tidak lagi membawa beban sendirian.
Ia shalat subuh dengan lebih khusyuk dari biasanya. Dalam sujud yang panjang, ia merasakan sesuatu yang aneh: kedamaian. Kedamaian yang datang bukan dari kepastian, tetapi dari kepercayaan—kepercayaan bahwa ada Yang Mengatur, dan Dia tidak akan salah.
Setelah shalat, ibunya sudah bangun, menyiapkan sarapan sederhana.
"Bu," panggil Abdul Wira.
Ibunya menoleh.
"Maafkan aku kemarin. Aku... aku terlalu sibuk marah, sampai lupa bersyukur."
Ibu Wira tersenyum, mata berkaca-kaca. "Tidak apa-apa, Nak. Kau manusia. Kecewa itu wajar. Yang penting, kau tidak tenggelam dalam kekecewaan. Kau masih bisa bangkit, masih bisa berserah."
Mereka sarapan bersama, lalu Abdul Wira bersiap ke sekolah—sekolah yang sama, yang tidak akan berubah. Tapi ada yang berubah dalam dirinya: ia tidak lagi berjalan dengan beban rencana yang harus dipenuhi. Ia berjalan dengan kepercayaan bahwa apapun yang terjadi, ada Tangan yang mengatur—dan Tangan itu tidak pernah salah.
***
Di jalan, ia bertemu Soedarmo yang wajahnya pucat.
"Wira, kau dengar? Sekolah menengah yang kau incar itu... mereka baru saja ditutup sementara karena wabah kolera. Beberapa siswa meninggal."
Abdul Wira terdiam, merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Kau beruntung tidak diterima," lanjut Soedarmo. "Kalau kau diterima, kau mungkin sudah di sana sekarang."
Abdul Wira tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, merasakan sesuatu yang lebih besar dari pemahaman—sebuah kesadaran bahwa penolakan kemarin mungkin adalah perlindungan hari ini.
Ya Rabb...
Ia tidak tahu harus berkata apa. Hanya satu kata yang keluar dari hatinya: syukur.
Syukur untuk rencana yang runtuh. Syukur untuk pintu yang tertutup. Syukur untuk kekecewaan kemarin—yang ternyata adalah penyelamatan hari ini.
***
Berserah bukan berarti pasrah. Berserah adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya, bahwa ada Yang Lebih Tahu, dan apapun yang Dia tetapkan—baik terasa manis atau pahit—adalah yang terbaik.
Saat rencana runtuh, kita belajar bahwa hidup bukan tentang mengatur segalanya dengan sempurna, tetapi tentang mempercayai Yang Mengatur dengan penuh. Kita belajar bahwa kegagalan bukan akhir, tetapi pengalihan. Penolakan bukan hukuman, tetapi perlindungan.
Dan mungkin, itulah makna Rabbil 'ÄlamÄ«n—Tuhan yang mengasuh semesta. Ia tidak hanya menciptakan, tetapi mengatur dengan kasih. Ia tidak hanya memberi ujian, tetapi memberi jalan keluar. Ia tidak hanya menutup pintu, tetapi membuka jendela—di tempat yang tidak pernah kita duga.
AlhamdulillÄhi rabbil 'ÄlamÄ«n.
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengasuh semesta—yang rencananya lebih baik dari rencana kita, yang jalannya lebih lurus dari jalan yang kita pilih, yang kasihnya lebih besar dari kekecewaan yang kita rasakan.
***
"Saat rencana runtuh, jangan tanya 'Kenapa aku?'—tetapi percayalah: 'Ini untuk aku.'"
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar