BAB 8
Alam Kecil
"Sebelum kita memahami dunia, kita harus memahami rumah. Karena rumah adalah alam pertama yang mengajarkan kita tentang kasih, sabar, dan Tuhan."
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya! klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Abdul Wira tidak pernah berpikir bahwa rumahnya adalah sekolah.
Rumah panggung sederhana di tepi kampung itu tidak punya papan tulis, tidak punya meja kayu rapi, tidak punya guru berjas seperti di sekolah gubernemen. Yang ada hanya lantai bambu yang kadang berderit, dinding anyaman yang bolong di sana-sini, dan atap daun nipah yang bocor saat hujan deras.
Tapi pagi itu, saat ia duduk di dapur kecil menatap ibunya yang sedang memasak dengan kayu bakar, ia mulai mengerti: ada pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah, tetapi diajarkan di sini—di rumah, di antara aroma nasi yang mengukus dan suara api yang mendesis.
Ibu Wira sedang mengaduk sayur dengan sendok kayu, gerakannya perlahan tapi penuh kesabaran. Wajahnya lelah—selalu lelah—tapi tidak pernah mengeluh. Ia bangun sebelum subuh, menyalakan api, memasak air, menyiapkan sarapan, lalu membangunkan Abdul Wira dengan lembut.
"Bu," panggil Abdul Wira, "kenapa Ibu selalu bangun paling awal?"
Ibu Wira tidak menoleh, tetap fokus pada masakannya. "Karena keluarga ini butuh sarapan, Nak. Kalau Ibu tidak bangun, siapa yang akan menyiapkan?"
"Tapi Ibu capek, Bu. Kemarin Ibu tidur larut karena menjahit."
Ibu Wira tersenyum tipis. "Capek itu wajar, Nak. Tapi keluarga itu tanggung jawab. Dan tanggung jawab bukan soal capek atau tidak—tapi soal cinta atau tidak."
Abdul Wira terdiam. Kata-kata ibunya sederhana, tapi menohok.
"Rumah ini kecil, Nak," lanjut ibunya, kali ini menoleh menatap Abdul Wira. "Tapi di rumah kecil inilah kau belajar hal-hal besar: sabar, ikhlas, berbagi, menghargai. Nanti, saat kau keluar ke dunia yang lebih luas, kau akan paham—semua yang kau butuhkan untuk hidup, sudah diajarkan di sini."
***
Siang itu, setelah pulang dari sekolah, Abdul Wira melihat adegan yang membuatnya berhenti di ambang pintu.
Ibunya sedang duduk di lantai, mengajarkan anak tetangga—seorang bocah kecil bernama Husin yang ayahnya meninggal dan ibunya bekerja di ladang—cara membaca huruf Hijaiyah. Ibunya sendiri tidak pernah sekolah, tidak bisa baca tulis Latin, tapi ia hafal Al-Qur'an dari mendengar, dan ia bisa mengajar Hijaiyah dengan sabar yang luar biasa.
"Alif... ba... ta..." bisik Husin terbata-bata.
"Bagus, Nak. Pelan-pelan saja. Tidak usah terburu-buru," kata ibunya lembut, mengusap kepala Husin dengan sayang.
Abdul Wira melangkah masuk, duduk di sudut ruangan, hanya mengamati. Ia melihat kesabaran ibunya—tidak marah saat Husin salah, tidak jengkel saat Husin lupa, hanya terus mengulang, terus membimbing, seperti seorang ibu yang mengajarkan anaknya berjalan.
Setelah Husin pulang, Abdul Wira bertanya, "Bu, kenapa Ibu mengajari Husin? Padahal kita sendiri tidak punya apa-apa."
Ibu Wira menatap anaknya dengan mata yang dalam. "Justru karena tidak punya apa-apa, Nak, kita harus berbagi apa yang kita punya—walau itu hanya ilmu, walau itu hanya waktu. Rumah ini kecil, tapi pintunya harus tetap terbuka. Karena rumah yang terbuka adalah rumah yang penuh berkah."
Abdul Wira merasakan dadanya sesak—bukan karena sedih, tetapi karena kagum. Ibunya, yang tidak pernah sekolah, yang tidak punya harta, ternyata punya sesuatu yang lebih berharga: hati yang luas.
"Ibu belajar dari mana, Bu? Tentang semua ini—tentang sabar, tentang berbagi?"
Ibu Wira tersenyum, tatapannya jauh. "Dari kakekmu, Nak. Dari rumah tempat Ibu dibesarkan. Rumah kami dulu lebih kecil dari ini, tapi di situlah Ibu belajar bahwa keluarga bukan hanya soal darah—tetapi soal kasih. Siapa pun yang masuk ke rumah kami, diperlakukan seperti keluarga. Itulah alam pertama Ibu—alam yang mengajarkan Ibu tentang Tuhan."
***
Sore itu, Abdul Wira duduk di beranda, menatang anak-anak tetangga yang bermain di halaman. Mereka tertawa, berlari, bermain petak umpet dengan gembira—meski tidak punya mainan mahal, meski tidak punya pakaian bagus. Yang mereka punya hanya satu sama lain.
Ia teringat kata-kata Kyai Hasan yang pernah diucapkan di majelis: "Rabbil 'ÄlamÄ«n—Tuhan semesta alam. Tapi sebelum kau memahami alam besar, pahami dulu alam kecilmu: keluargamu, rumahmu, orang-orang terdekatmu. Karena di alam kecil itulah Tuhan mengajarkan kasih-Nya yang paling nyata."
Abdul Wira mulai memahami. Rumah ini—rumah kecil yang sering ia anggap remeh—ternyata adalah madrasah pertama. Di sinilah ia belajar shalat dari ibunya. Di sinilah ia belajar sabar saat ibunya menunggu ayahnya pulang dari laut—dan tidak pernah pulang. Di sinilah ia belajar ikhlas saat ibunya memberikan makanan terakhir untuk tetangga yang lebih lapar.
Semua pelajaran itu tidak tertulis di buku, tidak diajarkan di kelas, tapi terukir di hati—lewat contoh, lewat tindakan, lewat kasih yang sunyi namun nyata.
"Wira."
Abdul Wira menoleh. Ibunya berdiri di ambang pintu, membawa nampan kecil berisi teh dan pisang rebus.
"Makan dulu, Nak. Nanti sore kita shalat maghrib bareng."
Abdul Wira tersenyum. "Iya, Bu."
Mereka duduk bersama di beranda, makan dalam diam yang nyaman. Tidak banyak kata, tapi ada kehangatan—kehangatan yang hanya ada di rumah, di alam kecil yang penuh kasih.
"Bu," kata Abdul Wira pelan, "di sekolah, guru bilang pendidikan itu penting untuk masa depan. Tapi aku merasa... di rumah ini, aku belajar lebih banyak daripada di sekolah."
Ibu Wira menatap anaknya, mata berkaca-kaca. "Pendidikan sekolah itu penting, Nak. Tapi pendidikan rumah itu lebih penting. Karena sekolah mengajarkanmu cara hidup di dunia, tapi rumah mengajarkanmu cara hidup dengan hati."
Ia meletakkan tangannya di atas tangan Abdul Wira. "Nanti, saat kau punya keluarga sendiri, ingatlah: rumahmu adalah alam pertama bagi anak-anakmu. Jika alam itu penuh kasih, mereka akan tumbuh dengan kasih. Jika alam itu penuh doa, mereka akan tumbuh dengan iman. Jika alam itu penuh kesabaran, mereka akan tumbuh dengan ketabahan."
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk sendirian di beranda. Langit gelap, tapi bintang-bintang bersinar terang. Ia menatap rumah-rumah tetangga yang lampunya mulai padam satu per satu—tanda bahwa hari sudah berakhir, bahwa setiap keluarga sudah berkumpul di alam kecil mereka masing-masing.
Ia memikirkan semua yang ibunya ajarkan hari ini. Tentang rumah sebagai madrasah. Tentang keluarga sebagai alam pertama. Tentang kasih yang diajarkan bukan lewat kata, tetapi lewat tindakan.
Dan ia menyadari: selama ini ia terlalu sibuk mencari ilmu di luar, sampai lupa bahwa ilmu paling berharga ada di dalam—di rumah, di antara orang-orang yang mencintainya tanpa syarat.
Ia menutup mata, membisikkan doa dalam sunyi:
Ya Rabb, Engkau adalah Tuhan semesta alam—alam yang luas, yang tak terbatas. Tapi Engkau mengajariku tentang-Mu lewat alam yang kecil: rumahku, keluargaku, orang-orang yang Engkau titipkan di sampingku.
Ia menarik napas dalam, merasakan udara malam yang sejuk.
Di rumah ini, aku belajar sabar dari ibu yang tidak pernah mengeluh. Aku belajar ikhlas dari tangan yang selalu memberi, meski tidak punya banyak. Aku belajar kasih dari pelukan yang selalu terbuka, meski aku sering pergi tanpa pamit.
Air matanya mengalir pelan, tapi ia tidak menyekanya.
Ya Rabb, jaga alam kecilku ini. Jaga ibu yang selalu mendoakan. Jaga rumah yang selalu menyambut. Karena aku tahu, tanpa alam kecil ini, aku tidak akan bisa memahami alam yang lebih besar. Tanpa rumah ini, aku tidak akan tahu arti pulang.
***
Di dalam rumah, ibunya sudah tidur. Napasnya teratur, tenang. Wajahnya damai, seperti orang yang tidak punya beban—meski Abdul Wira tahu, ia punya banyak. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak pernah menyerah. Ia hanya terus mengasihi, terus mendidik, terus memberi—lewat tindakan kecil yang mungkin tidak pernah tercatat di buku sejarah, tapi terukir di hati anak yang ia besarkan.
Abdul Wira berdiri di pintu kamar, menatap ibunya dalam gelap. Lalu ia berbisik, sangat pelan:
"Terima kasih, Bu. Untuk alam kecil ini. Untuk semua yang Ibu ajarkan tanpa kata."
Ia menutup pintu perlahan, kembali ke beranda. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga melati. Di langit, bulan sabit bersinar tipis—tidak terang, tapi cukup untuk memberi cahaya.
Dan Abdul Wira memahami: kita semua berasal dari alam kecil—keluarga yang mengajarkan kita tentang kasih sebelum kita tahu apa itu cinta, tentang sabar sebelum kita tahu apa itu kesabaran, tentang Tuhan sebelum kita tahu cara berdoa.
Rabbil 'ÄlamÄ«n. Tuhan semesta alam.
Tapi sebelum kita memahami semesta, kita harus memahami rumah. Karena di rumah itulah Tuhan menanamkan benih-benih iman—lewat ibu yang mendoakan, lewat ayah yang bekerja keras, lewat saudara yang berbagi, lewat keluarga yang saling menjaga.
Dan mungkin, itulah kenapa Al-Fatihah menyebut Tuhan sebagai Rabbil 'ÄlamÄ«n—bukan hanya Tuhan alam besar, tetapi juga Tuhan alam kecil. Tuhan yang mengasuh kita lewat orang-orang terdekat, yang mengajarkan kita lewat hal-hal sederhana, yang membentuk kita lewat kasih yang sunyi namun nyata.
Karena alam kecil itu—rumah, keluarga, orang-orang yang Tuhan titipkan di samping kita—adalah madrasah pertama, sekolah kehidupan yang paling autentik, tempat kita belajar menjadi manusia sebelum menjadi apa pun.
Dan jika alam kecil itu penuh kasih, maka saat kita keluar ke alam yang lebih besar, kita akan membawa kasih itu—menyebarkannya, mewariskannya, menjadikannya cahaya di tengah kegelapan dunia yang keras.
***
"Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi madrasah pertama—di mana kasih diajarkan tanpa kata, dan iman ditanamkan tanpa paksa."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar