š» Kamu tidak akan pernah tenang… sampai kamu kembali pada-Nya.
Al-An'am dibuka dengan pujian.
"Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya."
(QS. Al-An'am: 1)
Langit dan bumi.
Gelap dan terang.
Malam dan siang.
Semua diciptakan Allah.
Tapi ayat selanjutnya… menohok.
"Kemudian orang-orang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka."
(QS. Al-An'am: 1)
Mereka tahu Allah Pencipta.
Tapi mereka tetap menyembah yang lain.
Dan ini bukan hanya tentang zaman dulu.
Ini tentang kita… hari ini.
Kita tahu Allah yang memberi rezeki.
Tapi kita lebih takut kehilangan pekerjaan daripada kehilangan ridha-Nya.
Kita tahu Allah yang menyembuhkan.
Tapi kita lebih percaya pada manusia daripada pada doa.
Kita tahu Allah yang berkuasa.
Tapi kita lebih mencari perlindungan dari yang berkuasa di dunia.
Dan tanpa sadar…
Kita telah menjadikan dunia sebagai tuhan kecil kita.
š» Syirik bukan hanya menyembah berhala… tapi menaruh harapan pada selain Allah.
Lalu Allah berbicara tentang tanda-tanda kebesaran-Nya.
Tentang malam dan siang yang bergantian.
Tentang bumi yang menumbuhkan tanaman.
Tentang binatang ternak yang diciptakan untuk manusia.
"Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya, kemudian kamu masih ragu-ragu."
(QS. Al-An'am: 2)
Kamu diciptakan dari tanah.
Dan kelak… kamu akan kembali ke tanah.
Semua yang kamu banggakan hari ini…
Akan tertinggal.
Rumah mewah.
Mobil mahal.
Gelar tinggi.
Semua akan ditinggalkan.
Yang dibawa hanya amal.
Dan saat kamu merenungkan ini…
Kamu jadi paham.
Bahwa hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan hal-hal yang tidak kekal.
Terlalu berharga untuk dihabiskan mengejar dunia…
Yang pada akhirnya akan meninggalkanmu juga.
Di tengah Al-An'am…
Allah menceritakan tentang Nabi Ibrahim.
Kisah seorang pemuda yang mencari Tuhan.
Dia melihat bintang… dia pikir itu Tuhannya.
Tapi bintang itu tenggelam.
Dia melihat bulan… dia pikir itu Tuhannya.
Tapi bulan itu juga tenggelam.
Dia melihat matahari… dia pikir itu Tuhannya.
Tapi matahari pun terbenam.
"Kemudian ketika matahari terbenam, dia (Ibrahim) berkata, 'Wahai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh keyakinan, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).'"
(QS. Al-An'am: 78-79)
Ini adalah perjalanan kita semua.
Kadang kita bergantung pada manusia…
Lalu dia pergi.
Kadang kita bergantung pada harta…
Lalu dia hilang.
Kadang kita bergantung pada jabatan…
Lalu dia berakhir.
Dan saat semua itu tenggelam…
Kita baru sadar.
Bahwa yang kekal hanya Allah.
Yang setia hanya Allah.
Yang tidak akan pernah meninggalkan kita… hanya Allah.
š» Berhentilah mencari ketenangan di tempat yang tidak kekal.
Lalu Allah berbicara tentang rezeki.
Tentang binatang ternak.
Tentang tanaman yang tumbuh.
Tentang hujan yang turun.
"Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Kami tumbuhkan segala macam tumbuh-tumbuhan."
(QS. Al-An'am: 99)
Semua dari Allah.
Bukan dari usahamu semata.
Bukan dari kepintaranmu.
Bukan dari koneksimu.
Usaha itu penting.
Tapi yang memberi hasil… adalah Allah.
Dan saat kamu paham ini…
Kamu tidak akan sombong saat berhasil.
Kamu tidak akan putus asa saat gagal.
Karena kamu tahu…
Bahwa semua sudah diatur oleh-Nya.
Di ayat lain…
Allah melarang kita membunuh anak karena takut miskin.
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu."
(QS. Al-An'am: 151)
Di zaman jahiliyah, mereka mengubur anak perempuan hidup-hidup karena takut miskin.
Tapi sekarang?
Mungkin kita tidak membunuh secara fisik.
Tapi kita mengabaikan hak anak karena terlalu sibuk mencari dunia.
Kita tidak punya waktu untuk mereka.
Kita tidak hadir di masa tumbuh kembang mereka.
Karena kita takut miskin.
Karena kita takut tidak cukup.
Padahal Allah sudah jamin…
Rezeki mereka dan rezekimu.
Jadi, kenapa kamu masih khawatir berlebihan?
Kenapa kamu rela mengorbankan keluargamu…
Demi dunia yang tidak akan kamu bawa mati?
š» Rezeki bukan hanya uang… tapi waktu yang kamu habiskan untuk orang yang kamu cintai.
Dan kemudian…
Allah memberikan perintah yang sangat jelas.
"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.'"
(QS. Al-An'am: 162)
Ini adalah deklarasi.
Bahwa hidup ini bukan untuk dirimu sendiri.
Bukan untuk menyenangkan orang lain.
Bukan untuk mengejar dunia semata.
Tapi untuk Allah.
Shalatmu untuk Allah.
Ibadahmu untuk Allah.
Hidupmu untuk Allah.
Bahkan kematianmu… untuk Allah.
Dan saat kamu hidup dengan prinsip ini…
Kamu tidak akan lagi merasa hampa.
Karena kamu tahu… untuk apa kamu ada.
Kamu tidak akan lagi merasa kehilangan arah.
Karena kamu tahu… ke mana kamu harus kembali.
š» Hidup yang punya makna adalah hidup yang dipersembahkan untuk-Nya.
Sahabat…
Al-An'am mengajarkan kita tentang tauhid yang murni.
Tentang mengesakan Allah dalam setiap aspek hidup.
Bukan hanya di sholat.
Tapi di kantor.
Di rumah.
Di hubunganmu dengan orang lain.
Karena tauhid bukan hanya ucapan "Laa ilaaha illallah" di lisan.
Tapi keyakinan mendalam di hati…
Bahwa tidak ada yang pantas ditakuti, diharapkan, dan dicintai… melebihi Allah.
Dan kalau hari ini kamu merasa gelisah…
Kalau kamu merasa hidupmu tidak tenang meski sudah punya banyak…
Mungkin kamu perlu bertanya pada dirimu sendiri:
Siapa yang sebenarnya aku andalkan?
Apa yang sebenarnya aku kejar?
Untuk siapa aku hidup?
Karena ketenangan sejati…
Hanya datang saat kamu kembali pada Allah.
Hanya datang saat kamu melepaskan semua ketergantungan pada selain-Nya.
Hanya datang saat kamu menyerahkan semuanya… pada yang Maha Mengatur.
Jadi, pulanglah.
Pulang pada tauhid yang murni.
Pulang pada Allah yang tidak pernah meninggalkanmu.
Pulang pada Dzat yang menciptakanmu…
Dan yang akan menerimamu kembali kelak.
Karena Al-An'am mengajarkan…
Bahwa kamu tidak akan pernah utuh…
Sampai kamu kembali pada Sang Pencipta.
Dan saat kamu kembali…
Kamu akan menemukan kedamaian yang selama ini kamu cari di tempat yang salah.
Karena hanya di sisi Allah…
Hati yang gelisah menemukan tenangnya.
"Tauhid bukan sekadar keyakinan… tapi cara kamu hidup, berharap, dan kembali pada-Nya setiap waktu."
Komentar
Posting Komentar