š» Setiap pilihan yang kamu buat hari ini… menentukan siapa kamu nanti.
Al-A'raf adalah tempat yang unik.
Tempat di antara surga dan neraka.
Tempat bagi mereka yang amalnya seimbang.
Tidak cukup baik untuk masuk surga.
Tidak cukup buruk untuk masuk neraka.
Mereka berdiri di atas bukit… melihat kedua sisi.
Di satu sisi, mereka melihat surga.
Keindahan yang tidak terbayangkan.
Kenikmatan yang tidak ada habisnya.
Di sisi lain, mereka melihat neraka.
Api yang menyala-nyala.
Penyesalan yang tidak ada akhirnya.
Dan mereka hanya bisa menunggu.
Menunggu keputusan Allah.
"Dan di antara keduanya ada batas; dan di atas A'raf ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka."
(QS. Al-A'raf: 46)
Kamu tahu kenapa mereka ada di sana?
Karena di dunia…
Mereka tidak tegas dalam memilih.
Kadang berbuat baik.
Kadang berbuat buruk.
Kadang taat.
Kadang lalai.
Kadang ingat Allah.
Kadang lupa.
Dan akhirnya… mereka terjebak di tengah-tengah.
Ini adalah cerminan kita.
Kadang kita sholat.
Tapi kadang juga kita tinggalkan.
Kadang kita jujur.
Tapi kadang juga kita berbohong demi keuntungan.
Kadang kita sabar.
Tapi kadang juga kita meledak.
Dan tanpa sadar…
Kita sedang membangun A'raf kita sendiri.
š» Jangan biarkan hidupmu terombang-ambing… tegaslah dalam memilih kebenaran.
Al-A'raf juga menceritakan kisah penciptaan manusia.
Kisah Adam dan Iblis.
Ketika Allah menciptakan Adam…
Dia perintahkan malaikat dan iblis untuk sujud.
Malaikat sujud.
Tapi iblis menolak.
"(Allah) berfirman, 'Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku memerintahkanmu?' (Iblis) menjawab, 'Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'"
(QS. Al-A'raf: 12)
Ini adalah awal dari semua kesombongan.
Iblis merasa lebih baik.
Dia merasa lebih mulia.
Dia merasa berhak untuk tidak taat.
Dan karena kesombongan itu…
Dia jatuh.
Dari makhluk yang dekat dengan Allah…
Menjadi makhluk yang terkutuk selamanya.
Ini adalah pelajaran.
Bahwa kesombongan adalah awal dari kehancuran.
Saat kamu merasa lebih baik dari orang lain…
Saat kamu merasa tidak perlu dinasihati…
Saat kamu merasa berhak melanggar aturan karena "posisimu"…
Ingatlah Iblis.
Dia juga merasa begitu.
Lalu Allah ceritakan tentang Adam dan Hawa.
Tentang bagaimana mereka hidup di surga dengan nikmat.
Tapi ada satu larangan: jangan dekati pohon terlarang.
Dan setan datang… membisikkan.
"Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan (setan) berkata, 'Tuhan kamu tidak melarang kamu dari mendekati pohon ini, melainkan agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal.'"
(QS. Al-A'raf: 20)
Setan tidak menyuruh mereka langsung berbuat dosa.
Dia hanya membisikkan keraguan.
"Kenapa Allah melarang ini?"
"Pasti ada yang Allah sembunyikan."
"Ini untuk kebaikanmu, kok."
Dan Adam dan Hawa terpengaruh.
Bukan karena mereka jahat.
Tapi karena mereka lupa… bahwa larangan Allah adalah perlindungan.
Ini adalah cerminan kita.
Saat kita merasa batasan Allah itu mengekang…
Saat kita merasa larangan Allah itu tidak masuk akal…
Saat kita merasa tahu lebih baik dari Allah…
Kita sedang jatuh ke dalam jebakan yang sama.
š» Larangan Allah bukan untuk menyulitkanmu… tapi untuk melindungimu.
Tapi yang indah dari kisah Adam adalah…
Setelah dia jatuh dalam dosa…
Dia tidak menyalahkan Allah.
Dia tidak menyalahkan takdir.
Dia tidak menyalahkan setan.
Dia mengakui kesalahannya.
"Keduanya berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.'"
(QS. Al-A'raf: 23)
Ini adalah taubat yang sesungguhnya.
Tidak ada pembenaran.
Tidak ada alasan.
Hanya pengakuan jujur.
Dan Allah menerima taubatnya.
Karena Allah tidak mencari kesempurnaan.
Allah mencari kejujuran.
Allah tidak butuh manusia yang tidak pernah salah.
Allah butuh manusia yang mau kembali setelah salah.
Di ayat lain…
Allah perintahkan kita untuk berhias.
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid."
(QS. Al-A'raf: 31)
Tapi Allah juga ingatkan…
"Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."
(QS. Al-A'raf: 31)
Ini adalah keseimbangan.
Allah tidak melarang kita menikmati kehidupan.
Tapi Allah melarang kita tenggelam di dalamnya.
Boleh punya rumah bagus.
Tapi jangan sampai rumah itu membuatmu lupa pada akhirat.
Boleh punya pakaian bagus.
Tapi jangan sampai pakaian itu membuatmu sombong.
Boleh punya harta.
Tapi jangan sampai harta itu membuatmu pelit pada yang membutuhkan.
Karena hidup adalah tentang keseimbangan.
š» Nikmati dunia… tapi jangan biarkan dunia menguasaimu.
Lalu Allah ceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan.
Kaum Nuh.
Kaum 'Ad.
Kaum Tsamud.
Mereka diberi nikmat berlimpah.
Tapi mereka sombong.
Mereka diberi peringatan.
Tapi mereka mengabaikan.
Mereka diberi waktu untuk bertaubat.
Tapi mereka tetap di jalan yang salah.
Dan akhirnya… azab datang.
"Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan Kami binasakan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka tidak beriman."
(QS. Al-A'raf: 72)
Ini adalah peringatan untuk kita.
Bahwa kenikmatan bukan jaminan keselamatan.
Bahwa waktu bukan jaminan taubat akan diterima selamanya.
Jadi, jangan tunda.
Jangan tunggu besok untuk berbuat baik.
Jangan tunggu tua untuk bertaubat.
Jangan tunggu sakit untuk ingat Allah.
Karena kamu tidak tahu… kapan waktumu habis.
š» Taubat bukan untuk nanti… tapi untuk sekarang.
Sahabat…
Al-A'raf mengajarkan kita tentang pilihan.
Setiap hari, kamu diberi pilihan.
Pilihan untuk taat atau lalai.
Pilihan untuk jujur atau berbohong.
Pilihan untuk sabar atau marah.
Dan setiap pilihan itu…
Menentukan siapa kamu kelak.
Jadi, jangan biarkan hidupmu terombang-ambing.
Jangan biarkan dirimu terjebak di A'raf…
Tempat di antara kebenaran dan kesalahan.
Tegaslah.
Pilih jalan yang benar.
Meski berat.
Meski tidak populer.
Meski tidak menguntungkan di dunia.
Karena kelak…
Pilihan hari ini akan menentukan tempatmu di akhirat.
Dan percayalah…
Allah tidak pernah menutup pintu taubat.
Selama nyawa masih di badan…
Selama hati masih berdetak…
Kamu masih bisa kembali.
Jadi, pulanglah.
Pulang pada Allah yang tidak pernah lelah menunggumu.
Pulang pada jalan yang benar… meski kamu sudah terlalu jauh menyimpang.
Karena Al-A'raf mengajarkan…
Bahwa yang terpenting bukan seberapa sering kamu jatuh.
Tapi seberapa cepat kamu bangkit… dan kembali pada-Nya.
"Hidupmu adalah kumpulan pilihan… dan setiap pilihan adalah doa tentang siapa kamu ingin menjadi."
Komentar
Posting Komentar