š» Amanahmu adalah tanggung jawabmu pada Allah… bukan pada manusia.
Al-Ma'idah dibuka dengan perintah yang sangat tegas.
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janjimu."
(QS. Al-Ma'idah: 1)
Langsung.
Tanpa basa-basi.
Tanpa pengantar panjang.
Allah perintahkan kita untuk menepati janji.
Janji pada Allah.
Janji pada diri sendiri.
Janji pada sesama manusia.
Dan kamu tahu kenapa Allah menekankan ini di awal surat?
Karena janji adalah fondasi dari kepercayaan.
Tanpa janji yang ditepati…
Tidak ada kepercayaan.
Tanpa kepercayaan…
Tidak ada hubungan yang sehat.
Tidak ada keluarga yang harmonis.
Tidak ada pertemanan yang tulus.
Tidak ada masyarakat yang damai.
Semuanya runtuh… saat janji dilanggar.
Dan mungkin kamu pernah merasakannya.
Saat seseorang mengingkari janjinya padamu…
Rasanya seperti ditikam dari belakang.
Tapi ingat…
Jangan biarkan pengkhianatan orang lain…
Membuatmu jadi orang yang sama.
Tetaplah jadi orang yang menepati janji.
Meski orang lain tidak.
Lalu Allah berbicara tentang makanan yang halal dan haram.
Tentang batasan yang jelas.
Tentang apa yang boleh dan apa yang tidak.
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu."
(QS. Al-Ma'idah: 3)
Ayat ini turun di Arafah.
Saat Rasulullah SAW menyampaikan khutbah terakhir.
Dan ini adalah penanda…
Bahwa agama ini sudah sempurna.
Tidak ada yang kurang.
Tidak ada yang perlu ditambah.
Allah sudah memberikan panduan lengkap.
Tentang cara hidup.
Tentang cara makan.
Tentang cara berhubungan dengan sesama.
Dan tugas kita hanya satu:
Menjalankannya dengan sepenuh hati.
Tapi kenapa kita sering merasa berat?
Karena kita melihat batasan Allah sebagai pengekangan.
Padahal itu adalah perlindungan.
Seperti pagar di tepi jurang.
Bukan untuk mengurungmu…
Tapi untuk menjagamu agar tidak jatuh.
š» Batasan Allah bukan penjara… tapi benteng yang menyelamatkanmu.
Di tengah Al-Ma'idah…
Allah menceritakan kisah dua putra Adam.
Habil dan Qabil.
Kisah tentang persembahan.
Tentang hati yang tulus dan hati yang penuh dengki.
Habil mempersembahkan yang terbaik.
Qabil mempersembahkan yang asal-asalan.
Allah menerima persembahan Habil.
Dan Qabil… marah.
Bukan karena Allah tidak adil.
Tapi karena dia tidak ikhlas dari awal.
Dan karena dengki itu…
Qabil membunuh Habil.
"Karena itu Kami tetapkan bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia."
(QS. Al-Ma'idah: 32)
Ini adalah pelajaran yang sangat dalam.
Bahwa dengki itu berbahaya.
Dengki bisa membunuh hubungan.
Dengki bisa menghancurkan persaudaraan.
Dengki bisa membuatmu melakukan hal yang tidak pernah kamu bayangkan.
Dan mungkin kamu pernah merasakan…
Saat kamu melihat orang lain diberkahi…
Sementara kamu merasa tertinggal.
Hati kecilmu berbisik…
"Kenapa dia? Kenapa bukan aku?"
Tapi ingat, sahabat…
Rezeki Allah itu luas.
Orang lain diberi bukan berarti kamu tidak.
Orang lain bahagia bukan berarti kamu harus sedih.
Karena Allah punya rencana untuk setiap orang.
Dan yang terbaik untukmu…
Belum tentu sama dengan yang terbaik untuk dia.
š» Jangan pernah iri dengan rezeki orang lain… Allah sedang menyiapkan milikmu.
Lalu Allah menceritakan tentang Bani Israil.
Tentang bagaimana mereka diberi nikmat yang luar biasa…
Tapi tetap ingkar.
Mereka diberi mukjizat.
Mereka diberi manna dan salwa dari langit.
Mereka diselamatkan dari Firaun.
Tapi saat diminta untuk berperang…
Mereka menolak.
"Mereka berkata, 'Wahai Musa! Kami tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami hanya duduk menunggu di sini saja.'"
(QS. Al-Ma'idah: 24)
Ini adalah cerminan kita.
Kadang kita meminta pada Allah…
"Ya Allah, beri aku jalan keluar."
Tapi saat Allah buka pintunya…
Kita takut melangkah.
Kita minta diberi rezeki…
Tapi saat ada peluang, kita ragu.
Kita minta diberi perubahan…
Tapi kita tidak mau berubah.
Dan akhirnya…
Kita tetap di tempat yang sama.
Mengeluh.
Berharap.
Tapi tidak bergerak.
Padahal Allah sudah membuka jalan.
Tinggal kita… yang harus berani melangkah.
Dan di ayat lain…
Allah berbicara tentang keadilan.
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa."
(QS. Al-Ma'idah: 8)
Ini adalah standar yang tinggi.
Bahwa keadilan tidak boleh dipengaruhi oleh perasaan pribadi.
Meski kamu benci seseorang…
Kamu tetap harus adil.
Meski kamu sayang seseorang…
Kamu tetap harus adil.
Karena keadilan adalah hak.
Bukan hadiah yang diberikan pada orang yang kamu suka.
Bukan hukuman untuk orang yang kamu benci.
Dan ini adalah ujian terberat.
Bisa tidak kamu adil…
Meski hatimu terluka?
Bisa tidak kamu adil…
Meski kamu dirugikan?
Karena di situlah letak ketakwaan yang sesungguhnya.
š» Keadilan bukan tentang perasaanmu… tapi tentang kebenaran yang harus ditegakkan.
Sahabat…
Al-Ma'idah mengajarkan kita tentang komitmen.
Komitmen pada janji.
Komitmen pada amanah.
Komitmen pada kebenaran… meski berat.
Dan kalau hari ini kamu merasa…
Bahwa kebaikanmu tidak dihargai…
Kalau kamu merasa…
Bahwa orang-orang mengkhianati kepercayaanmu…
Ingatlah…
Bahwa kamu tidak menjaga amanah untuk mereka.
Kamu menjaga amanah untuk Allah.
Kamu tidak menepati janji untuk dilihat manusia.
Kamu menepati janji karena Allah melihatmu.
Dan meski dunia tidak membalas kebaikanmu…
Allah pasti membalas.
Tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia.
Tidak ada satu pun amanah yang dilupakan.
Allah mencatat semuanya.
Jadi, tetaplah jadi orang yang bisa dipercaya.
Meski orang lain mengkhianatimu.
Tetaplah jadi orang yang menepati janji.
Meski orang lain mengingkarinya.
Tetaplah jadi orang yang adil.
Meski dunia tidak selalu adil padamu.
Karena Al-Ma'idah mengajarkan…
Bahwa integritasmu bukan ditentukan oleh bagaimana orang memperlakukanmu.
Tapi oleh bagaimana kamu tetap memegang prinsipmu…
Meski dunia mencoba menggoyahkanmu.
Dan percayalah…
Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang menjaga amanahnya.
Tidak akan.
Karena di akhirat nanti…
Semua yang kamu jaga dengan susah payah…
Akan jadi saksi yang membelamu.
"Amanahmu adalah cermin imanmu… jaga dia meski dunia mencoba merebutnya."
Komentar
Posting Komentar