BAB 1.3. KAYA DI ANGKA, MISKIN DI RASA

"Kemiskinan sejati bukanlah ketika dompet kosong, melainkan ketika jiwa hampa di tengah limpahan harta—karena yang paling menyedihkan adalah orang yang memiliki segalanya, namun tidak merasakan apa-apa."

Cover Buku

Ketika Pencapaian Menjadi Penjara

Maret 2024, sebuah konfrensi pers mengejutkan publik Indonesia. Seorang CEO perusahaan teknologi unicorn berusia 41 tahun mengumumkan pengunduran dirinya. Bukan karena skandal atau kegagalan bisnis—justru perusahaannya baru saja mencatatkan valuasi tertinggi dalam sejarah. Alasannya sederhana namun menggetarkan: "Saya merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Saya tidak mengenali wajah di cermin setiap pagi."

Dalam konferensi pers yang penuh hening itu, ia melanjutkan dengan suara bergetar: "Saya punya jet pribadi tetapi tidak punya tujuan. Rekening penuh tetapi hati kosong. Saya berhasil membangun kerajaan bisnis, tetapi kehilangan kerajaan dalam diri saya." Pernyataan ini menjadi viral bukan karena sensasional, melainkan karena resonansi—jutaan orang yang tampak sukses diam-diam merasakan hal yang sama.

Inilah yang saya sebut sebagai "jebakan kesuksesan semu"—fenomena di mana pencapaian eksternal yang gemilang justru menutupi kehancuran internal yang tersembunyi. Paradoks di mana seseorang bisa memiliki segalanya yang diinginkan dunia, namun kehilangan segalanya yang dibutuhkan jiwa.

Genealogi Ilusi: Dari Mimpi Amerika hingga Mimpi Milenial

Untuk memahami jebakan ini, kita perlu menelusuri akarnya dalam sejarah. Konsep "American Dream" yang dipopulerkan James Truslow Adams dalam The Epic of America (1931) menjanjikan bahwa siapa pun, terlepas dari latar belakangnya, bisa mencapai kesuksesan melalui kerja keras. Masalahnya, kesuksesan didefinisikan secara sempit: kekayaan material, status sosial, dan konsumsi.

Pasca Perang Dunia II, ekonom Thorstein Veblen mengidentifikasi fenomena "conspicuous consumption"—konsumsi mencolok sebagai penanda status. Kepemilikan barang mewah bukan lagi tentang fungsi, melainkan tentang signal sosial. Mobil sport bukan hanya alat transportasi, tetapi pernyataan "Saya berhasil." Jam tangan seharga mobil bukan untuk melihat waktu, tetapi untuk menunjukkan bahwa waktu Anda lebih berharga.

Di Indonesia, transformasi ini terjadi dengan kecepatan luar biasa. Dalam satu generasi, kita bergerak dari masyarakat yang mengagungkan kesederhanaan (konsep "nrimo" dalam filosofi Jawa) menjadi masyarakat yang merayakan kemewahan. Media sosial mempercepat proses ini secara eksponensial. Instagram bukan lagi album foto, melainkan arena kompetisi untuk menampilkan versi terbaik—atau lebih tepatnya, versi paling mewah—dari kehidupan kita.

Sosiolog Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1956) menjelaskan bahwa kita semua adalah aktor yang mengelola impresi di panggung sosial. Namun, jika dulu panggung itu terbatas pada interaksi langsung, kini dengan media sosial, kita harus tampil 24/7 di hadiran audiens global. Kelelahan eksistensial dari terus-menerus "tampil sukses" ini yang menciptakan jebakan kesuksesan semu.

Bukti Empiris: Data yang Membongkar Ilusi

Riset terkini memberikan bukti mengejutkan tentang kesenjangan antara kesuksesan objektif dan kesejahteraan subjektif. Studi longitudinal yang dipublikasikan dalam American Journal of Psychiatry (2023) menemukan bahwa tingkat depresi dan kecemasan di kalangan individu berpenghasilan tinggi (top 10%) meningkat 47% dalam dekade terakhir—peningkatan tertinggi dibanding kelompok ekonomi lainnya.

Penelitian dari Yale Center for Emotional Intelligence yang melibatkan 5.000 profesional sukses di 12 negara (2022) mengungkapkan temuan mengkhawatirkan: 71% responden melaporkan "merasa hampa meskipun mencapai semua target karier," 68% mengalami "impostor syndrome" (merasa tidak layak atas kesuksesan mereka), dan 64% merasa "terisolasi di puncak kesuksesan."

Di Indonesia, survei yang dilakukan oleh Indonesian Mental Health Association bekerja sama dengan Universitas Indonesia (2023) terhadap 1.500 eksekutif dan entrepreneur menemukan bahwa 79% responden mengalami "success-induced anxiety"—kecemasan yang justru dipicu oleh pencapaian. Mereka mengkhawatirkan: "Bagaimana mempertahankan ini?" "Bagaimana jika saya gagal?" "Apakah saya benar-benar pantas?"

Yang lebih mengejutkan, riset dari Harvard Medical School (2024) mengidentifikasi fenomena yang mereka sebut "affluenza"—penyakit psikologis yang dialami oleh orang-orang kaya yang ditandai dengan depresi, kecemasan, penyalahgunaan substansi, dan krisis identitas. Istilah ini bukan metafora, tetapi diagnosis klinis yang semakin sering muncul dalam praktik psikiatri.

Bank Dunia dalam laporan Happiness and Wealth: Beyond Income (2023) menyajikan data paradoks: negara-negara dengan GDP per kapita tertinggi tidak berkorelasi langsung dengan tingkat kebahagiaan tertinggi. Qatar, dengan GDP per kapita $89.948 (tertinggi di dunia), berada di peringkat 47 dalam World Happiness Index. Sementara Kosta Rika, dengan GDP per kapita hanya $12.238, berada di peringkat 12.

Lebih lanjut, studi dari University of California, Berkeley yang dipublikasikan dalam Psychological Science (2023) menemukan bahwa individu yang obsesif mengejar kekayaan mengalami penurunan signifikan dalam empati, kedermawanan, dan kepuasan relasi—ironisnya, hal-hal yang justru terbukti secara ilmiah sebagai prediktor kebahagiaan terkuat.

Anatomi Jebakan: Mengapa Orang Kaya Merasa Miskin?

Apa yang menyebabkan jebakan ini? Saya mengidentifikasi lima mekanisme psikologis yang saling mengunci:

Pertama, "hedonic treadmill"—treadmill hedonik. Psikolog Philip Brickman menemukan bahwa manusia cepat beradaptasi dengan peningkatan standar hidup. Mobil mewah pertama memberikan euforia, mobil kedua memberikan kepuasan, mobil ketiga? Hampir tidak ada perasaan. Seperti berlari di treadmill, kita terus berlari lebih cepat tetapi tidak kemana-mana.

Kedua, "social comparison trap"—jebakan perbandingan sosial. Ekonom Richard Easterlin menemukan bahwa kebahagiaan lebih ditentukan oleh pendapatan relatif (dibanding orang lain) daripada pendapatan absolut. Seseorang berpenghasilan Rp 50 juta per bulan bisa merasa miskin jika lingkungannya berpenghasilan Rp 100 juta. Di era media sosial, kita terus-menerus membandingkan kehidupan kita dengan highlight reel orang lain.

Ketiga, "goal displacement"—pergeseran tujuan. Yang awalnya adalah alat (uang untuk hidup nyaman) menjadi tujuan itu sendiri (hidup untuk uang). Seperti yang dikatakan filsuf Erich Fromm dalam To Have or To Be? (1976), orientasi "having" (memiliki) menggantikan orientasi "being" (menjadi), dan kita kehilangan esensi diri.

Keempat, "success isolation"—isolasi kesuksesan. Semakin tinggi seseorang dalam hierarki sosial-ekonomi, semakin sulit menemukan hubungan yang otentik. Apakah orang-orang menyukai saya atau posisi saya? Apakah mereka tulus atau ada agenda? Ketidakpastian ini menciptakan tembok psikologis yang mengisolasi.

Kelima, "meaning deficit"—defisit makna. Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning (1946) menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya adalah pencari makna, bukan pencari kesenangan. Ketika kesuksesan material tidak dibarengi dengan tujuan yang lebih besar dari diri sendiri, kekosongan eksistensial tidak terelakkan.

Saya teringat percakapan dengan seorang bankir investasi senior di Jakarta. "Setiap deal yang saya tutup, saya bertanya pada diri sendiri: untuk siapa semua ini? Anak-anak saya tidak mengenal saya. Istri saya tidak lagi menunggu saya pulang. Teman-teman lama sudah tidak relevan dengan kehidupan saya sekarang. Saya kaya dalam setiap definisi—kecuali definisi yang benar-benar penting."

Kritik dan Kontemplasi: Budaya yang Melahirkan Monster

Jebakan kesuksesan semu bukan sekadar masalah individual—ini adalah produk dari sistem budaya dan ekonomi yang kita ciptakan dan lestarikan. Kapitalisme neoliberal, dengan doktrin "maksimalisasi profit" sebagai satu-satunya metrik, telah mereduksi manusia menjadi homo economicus—makhluk yang hanya menghitung untung-rugi, tanpa dimensi spiritual, emosional, atau sosial.

Budaya hustle yang dipuja media dan influencer memperparah situasi. "Work hard, play hard," "No pain, no gain," "Sleep is for the weak"—slogan-slogan ini bukan motivasi, melainkan resep untuk burnout dan kehampaan. Kita merayakan entrepreneur yang bekerja 100 jam per minggu sebagai pahlawan, bukan sebagai tragedi.

Sistem pendidikan kita turut bersalah. Dari TK hingga universitas, anak-anak kita diajarkan untuk mengejar nilai tinggi, masuk perusahaan bergengsi, dan menghasilkan uang banyak—tetapi tidak pernah diajarkan tentang makna, tujuan, atau kesejahteraan batin. Kita melahirkan generasi yang sangat terampil dalam mencari nafkah, tetapi sama sekali tidak terampil dalam mencari makna.

Media sosial, dengan algoritma yang didesain untuk mengeksploitasi insecurity kita, menciptakan reality distortion field di mana semua orang tampak lebih sukses, lebih bahagia, lebih sempurna. FOMO (Fear of Missing Out) berevolusi menjadi FOLO (Fear of Living Ordinarily)—ketakutan untuk menjalani kehidupan biasa-biasa saja.

Jalan Keluar: Merombak Definisi Kesuksesan

Keluar dari jebakan kesuksesan semu membutuhkan redefinisi radikal tentang apa artinya "berhasil." Ini bukan tentang meninggalkan ambisi atau kemakmuran material, tetapi tentang menempatkannya dalam konteks yang lebih luas dan lebih mendalam.

Pertama, kita perlu menginternalisasi apa yang disebut psikolog Mihaly Csikszentmihalyi sebagai "flow"—kondisi ketika kita sepenuhnya terlibat dalam aktivitas yang bermakna, di mana waktu berlalu tanpa terasa, dan kita merasa hidup dengan utuh. Kesuksesan sejati adalah memiliki banyak momen flow dalam hidup, bukan memiliki banyak angka di rekening.

Kedua, mengadopsi konsep "enough"—cukup. Lynne Twist dalam The Soul of Money (2003) menjelaskan bahwa "enough" bukan berarti miskin atau terbatas, melainkan titik di mana kebutuhan terpenuhi dengan bermartabat dan kita bisa fokus pada apa yang benar-benar penting: hubungan, kontribusi, pertumbuhan personal.

Ketiga, membangun "portfolio kehidupan" yang seimbang. Seperti diversifikasi investasi finansial, kita perlu diversifikasi investasi eksistensial: kesehatan fisik dan mental, relasi yang bermakna, pengembangan diri, kontribusi sosial, spiritualitas—tidak hanya akumulasi material.

Keempat, menciptakan "success accountability"—orang atau komunitas yang mengingatkan kita tentang definisi kesuksesan yang sebenarnya ketika kita terjebak dalam metrik palsu. Seperti yang dilakukan Raja Iskandar yang meminta seseorang di istananya untuk terus mengingatkan: "Ingatlah, engkau juga manusia biasa."

Visi Baru: Kesuksesan yang Memerdekakan

Mari kita bayangkan masa depan di mana kesuksesan diukur bukan dari seberapa tinggi kita naik, tetapi seberapa utuh kita hidup. Di mana orang tidak lagi bertanya "Berapa gaji kamu?" tetapi "Seberapa bermakna hidupmu?" Di mana anak-anak kita tidak lagi dibesarkan dengan mimpi menjadi kaya, tetapi dengan mimpi menjadi utuh—secara finansial cukup, emosional sehat, spiritual terhubung, dan sosial berkontribusi.

Perusahaan perlu mengadopsi metrik kesuksesan karyawan yang lebih holistik. Beberapa perusahaan progresif sudah mulai: Patagonia mengukur "employee thriving," Salesforce memiliki "Ohana Culture" yang memprioritaskan kesejahteraan holistik, dan banyak startup di Skandinavia menerapkan kebijakan "sustainable success"—kesuksesan yang tidak membakar orang.

Pemerintah perlu mempertimbangkan indikator kemakmuran yang lebih komprehensif. Seperti Bhutan dengan Gross National Happiness atau Selandia Baru dengan Living Standards Framework, Indonesia dengan falsafah Pancasila dan kearifan lokalnya memiliki fondasi kuat untuk mengembangkan model pembangunan yang lebih manusiawi.

Yang terpenting, secara individual, kita perlu melakukan audit hidup secara berkala: "Apakah saya mengejar kesuksesan yang saya definisikan sendiri atau yang didefinisikan orang lain? Apakah pencapaian saya membuat saya merasa lebih hidup atau lebih mati? Apakah saya membangun kehidupan yang ingin saya jalani atau kehidupan yang ingin saya pamerkan?"

Jebakan kesuksesan semu adalah salah satu tragedi terbesar era modern—bukan karena kekurangan, tetapi justru karena kelimpahan yang dikejar dengan cara yang salah dan untuk alasan yang salah. Saatnya kita keluar dari jebakan itu, bukan dengan meninggalkan ambisi, tetapi dengan mendefinisikan ulang apa artinya benar-benar berhasil.

"Kesuksesan sejati bukanlah ketika dunia bertepuk tangan untuk pencapaian kita, melainkan ketika jiwa kita berbisik: 'Ini adalah kehidupan yang aku pilih, dan aku hidup sepenuh hati.'"


DAFTAR PUSTAKA

Adams, J. T. (1931). The epic of America. Boston: Little, Brown, and Company.

Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic relativism and planning the good society. In M. H. Appley (Ed.), Adaptation-level theory (pp. 287-305). New York: Academic Press.

Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The psychology of optimal experience. New York: Harper & Row.

Frankl, V. E. (1946). Man's search for meaning. Boston: Beacon Press.

Fromm, E. (1976). To have or to be? New York: Harper & Row.

Goffman, E. (1956). The presentation of self in everyday life. Edinburgh: University of Edinburgh Social Sciences Research Centre.

Indonesian Mental Health Association & Universitas Indonesia. (2023). Survei kesehatan mental eksekutif dan entrepreneur Indonesia 2023. Jakarta: IMHA-UI.

Twist, L. (2003). The soul of money: Transforming your relationship with money and life. New York: W. W. Norton & Company.

Veblen, T. (1899/1994). The theory of the leisure class. New York: Dover Publications.

World Bank. (2023). Happiness and wealth: Beyond income. Washington, DC: World Bank.

Yale Center for Emotional Intelligence. (2022). The state of emotional well-being in high achievers: A global study. New Haven: Yale University.

šŸ“š Daftar Chapter Buku Kaya Raga, Kaya Jiwa