BAB 1.2. MENIMBANG HIDUP DENGAN DUA TANGAN

"Kemakmuran sejati adalah ketika tangan kanan menghitung rupiah, sementara tangan kiri merangkul makna—dan keduanya saling menguatkan, bukan saling melemahkan."

Cover Buku

Ketika Jutawan Menangis di Puncak Kesuksesan

Januari 2024, sebuah video viral mengguncang media sosial Indonesia. Seorang pengusaha properti sukses berusia 38 tahun berbicara di sebuah podcast, tiba-tiba meneteskan air mata di tengah wawancara. "Saya punya 12 apartemen, tiga rumah, mobil mewah—tapi saya tidak tahu untuk apa semua ini," ujarnya tercekat. "Istri saya lebih akrab dengan sekretaris saya daripada dengan saya. Anak saya memanggil saya 'Paman' karena jarang bertemu."

Kisah ini bukan anomali. Di ruang-ruang terapi psikolog Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar Indonesia, narasi serupa berulang: orang-orang yang berhasil secara finansial namun mengalami kebangkrutan emosional dan spiritual. Mereka telah menguasai seni menghasilkan uang, tetapi kehilangan kemampuan untuk menghasilkan makna. Paradoks ini memaksa kita untuk membedah anatomi kemakmuran yang sesungguhnya: bagaimana menyeimbangkan materi dan makna dalam satu kehidupan yang utuh?

Akar Sejarah: Dikotomi yang Dipaksakan

Pemisahan antara materi dan makna sebenarnya adalah konstruksi yang relatif baru dalam sejarah peradaban manusia. Dalam masyarakat tradisional Jawa, konsep "urip mung mampir ngombe"—hidup hanya singgah minum—mengandung pemahaman bahwa kehidupan duniawi (termasuk harta) dan kehidupan spiritual adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keduanya harus dijalani dengan kesadaran penuh.

Filsuf Yunani kuno, Aristoteles, dalam Nicomachean Ethics (350 SM) memperkenalkan konsep "eudaimonia"—flourishing atau berkembangnya potensi manusia secara utuh. Baginya, kehidupan yang baik mencakup kesejahteraan material yang cukup (karena kemiskinan ekstrem menghambat kebajikan) dan pengembangan karakter serta intelektual. Ini bukan pilihan either-or, melainkan integrative-and.

Namun, Revolusi Industri abad ke-18 memecah kesatuan ini. Sistem produksi kapitalis memisahkan kerja dari kehidupan, materi dari makna, produktivitas dari spiritualitas. Karl Marx dalam Economic and Philosophic Manuscripts (1844) menyebutnya sebagai "alienasi"—pekerja terasing dari hasil kerjanya, dari dirinya sendiri, dan dari esensi kemanusiaannya. Kerja yang seharusnya adalah ekspresi diri berubah menjadi sekadar alat untuk bertahan hidup.

Di Indonesia, transformasi dari ekonomi subsisten ke ekonomi pasar terjadi secara dramatis dalam 50 tahun terakhir. Ekonom Boediono mencatat bahwa pada 1970, 90% penduduk Indonesia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kini, dengan GDP per kapita yang meningkat dari $80 (1970) menjadi $4,788 (2023), kita memasuki era di mana pertanyaan eksistensial "untuk apa semua ini?" menjadi relevan bagi jutaan orang.

Bukti Empiris: Ketika Sains Memvalidasi Kebijaksanaan Kuno

Penelitian terkini dalam psikologi positif dan neurosains memberikan bukti ilmiah untuk apa yang telah dipahami oleh tradisi spiritual selama ribuan tahun: kebahagiaan sejati membutuhkan keseimbangan antara kesejahteraan eksternal dan internal.

Studi longitudinal yang dipimpin oleh psikolog Carol Ryff dari University of Wisconsin-Madison, yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology (2014), mengidentifikasi enam dimensi kesejahteraan psikologis: penerimaan diri, pertumbuhan personal, tujuan hidup, penguasaan lingkungan, otonomi, dan relasi positif dengan orang lain. Yang menarik, dimensi "penguasaan lingkungan"—yang mencakup kemampuan finansial—hanya satu dari enam, dan tidak otomatis menjamin lima dimensi lainnya.

Lebih lanjut, penelitian dari Princeton University yang dipimpin ekonom Angus Deaton dan psikolog Daniel Kahneman (2010) menemukan bahwa pendapatan memang meningkatkan kepuasan hidup, tetapi efeknya mengikuti kurva logaritmik: setiap penggandaan pendapatan memberikan peningkatan kepuasan yang semakin mengecil. Lebih penting lagi, studi mereka membedakan antara "life evaluation" (penilaian kognitif tentang hidup) dan "emotional well-being" (pengalaman emosi sehari-hari). Pendapatan tinggi meningkatkan evaluasi hidup tetapi tidak secara proporsional meningkatkan kebahagiaan emosional sehari-hari.

Di Indonesia, riset yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) bekerja sama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (2022) terhadap 1.220 responden kelas menengah Indonesia mengungkapkan temuan mengejutkan: 73% responden merasa "sukses secara finansial" tetapi hanya 41% yang merasa "hidup mereka bermakna." Gap 32% ini menunjukkan jurang antara kemakmuran materi dan kesejahteraan makna.

Neurosains juga memberikan kontribusi penting. Penelitian oleh Richard Davidson dari University of Wisconsin menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) menunjukkan bahwa aktivitas yang memberikan makna—seperti meditasi, kerja sukarela, atau waktu berkualitas dengan keluarga—mengaktifkan prefrontal cortex kiri, area otak yang berkaitan dengan emosi positif dan resiliensi. Sementara itu, fokus berlebihan pada pencapaian material dan perbandingan sosial mengaktifkan amygdala, pusat respons stres dan kecemasan (Davidson & Begley, 2012).

Kritik dan Kontemplasi: Jebakan Modernitas

Mengapa begitu sulit menyeimbangkan materi dan makna? Jawabannya terletak pada struktur sistem yang kita hidupi. Ekonom behavioral Dan Ariely dalam Predictably Irrational (2008) menjelaskan bahwa kita hidup dalam dua dunia simultan: "social norms" (norma sosial yang didasarkan pada hubungan, komunitas, makna) dan "market norms" (norma pasar yang didasarkan pada transaksi, efisiensi, profit). Masalahnya, norma pasar yang dominan dalam masyarakat kapitalistik sering menggerus norma sosial.

Perhatikan bagaimana kita berbicara tentang hidup menggunakan metafora bisnis: "investasi waktu," "return on relationship," "opportunity cost" dari menghadiri acara keluarga. Bahkan hubungan dan pengalaman spiritual dikuantifikasi dan dikomodifikasi. Aplikasi meditasi menjual "produktivitas spiritual." Retreat yoga dipasarkan sebagai "investasi kesehatan mental untuk kinerja optimal."

Saya teringat percakapan dengan seorang teman yang bekerja di bank investasi. Ia bercerita bahwa dalam performance review tahunan, atasan bertanya: "Berapa nilai deal yang kamu close tahun ini?" Tidak ada pertanyaan tentang "Apakah kamu berkembang sebagai manusia? Apakah pekerjaanmu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat? Apakah kamu masih punya energi untuk keluargamu?"

Sistem metrik modern kita dirancang untuk mengukur yang terukur—GDP, profit margin, KPI—tetapi mengabaikan yang tidak terukur namun lebih penting: kedalaman hubungan, kedamaian batin, kontribusi kepada komunitas, legacy yang bermakna. Seperti kata Albert Einstein: "Not everything that can be counted counts, and not everything that counts can be counted."

Anatomi Keseimbangan: Blueprint Kemakmuran Ganda

Lalu bagaimana praktiknya menyeimbangkan materi dan makna? Framework "Kemakmuran Ganda" yang saya kembangkan terdiri dari lima prinsip integratif:

Pertama, prinsip "cukup sadar." Berbeda dari asketisme yang menolak materi atau konsumerisme yang tidak pernah puas, prinsip ini mengajak kita mendefinisikan dengan sadar: berapa cukup untuk hidup dengan nyaman, aman, dan bermartabat? Penelitian dari Journal of Happiness Studies (2018) menunjukkan bahwa orang yang memiliki "nilai cukup" yang jelas lebih bahagia daripada mereka yang terus mengejar "lebih banyak" tanpa batas.

Kedua, prinsip "uang sebagai alat, bukan tujuan." Filsuf kontemporer Michael Sandel dalam What Money Can't Buy (2012) mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dijual-belikan: integritas, keadilan, kearifan. Ketika uang menjadi tujuan akhir, kita berisiko menjual hal-hal yang seharusnya tidak dijual.

Ketiga, prinsip "kerja bermakna." Penelitian oleh Amy Wrzesniewski dari Yale University menemukan bahwa orang yang melihat pekerjaan mereka sebagai "calling" (panggilan), bukan sekadar "job" (pekerjaan) atau "career" (karier), melaporkan tingkat kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi, terlepas dari tingkat pendapatan atau status pekerjaan mereka (Wrzesniewski et al., 1997).

Keempat, prinsip "kekayaan relasional." Harvard Study of Adult Development, penelitian terpanjang tentang kebahagiaan manusia yang berlangsung 85 tahun, menemukan bahwa kualitas hubungan adalah prediktor terkuat untuk kebahagiaan dan kesehatan jangka panjang—lebih kuat daripada kelas sosial, IQ, atau bahkan genetik (Waldinger & Schulz, 2023).

Kelima, prinsip "kontribusi sebagai kompensasi." Paradoksnya, kita merasa paling kaya ketika memberi. Studi oleh Elizabeth Dunn dari University of British Columbia menemukan bahwa "prosocial spending"—menggunakan uang untuk orang lain—memberikan kebahagiaan yang lebih besar dan lebih tahan lama daripada spending untuk diri sendiri (Dunn et al., 2008).

Visi Transformatif: Membuka Era Kemakmuran Holistik

Membayangkan masa depan di mana kemakmuran ganda menjadi norma, bukan pengecualian, membutuhkan transformasi di tiga level. Level personal: setiap individu perlu melakukan "life audit"—evaluasi berkala tentang keseimbangan hidup. Pertanyaan panduannya sederhana: jika hidup saya berakhir hari ini, apa yang akan saya sesali—terlalu sedikit bekerja atau terlalu sedikit hidup?

Level organisasional: perusahaan perlu mengadopsi metrik kesuksesan yang lebih holistik. B Corporation movement, yang kini mencakup lebih dari 6.000 perusahaan di 80 negara, menawarkan model bisnis yang menyeimbangkan profit, people, dan planet. Di Indonesia, perusahaan seperti Javara Indigenous Indonesia telah membuktikan bahwa bisnis dapat menguntungkan secara finansial sambil memberdayakan petani lokal dan melestarikan biodiversitas.

Level kebijakan: pemerintah perlu mengintegrasikan indikator kesejahteraan holistik dalam perencanaan pembangunan. Bhutan dengan Gross National Happiness Index-nya, Selandia Baru dengan Wellbeing Budget-nya, memberikan inspirasi bahwa GDP bukan satu-satunya ukuran kemajuan bangsa.

Mari kita ciptakan budaya baru di mana kesuksesan dirayakan bukan hanya dengan champagne di rooftop bar, tetapi juga dengan ketenangan tidur malam, kehangatan makan malam keluarga, dan kepuasan dari pekerjaan yang bermakna. Di mana orang tidak ditanya "Berapa penghasilanmu?" tetapi "Seberapa hidup kamu menjalani hidup?" Di mana anak-anak kita tumbuh memahami bahwa kaya raga tanpa kaya jiwa adalah kemiskinan terburuk, dan kaya jiwa tanpa kaya raga adalah idealisme yang tidak berkelanjutan—yang kita butuhkan adalah keduanya, dalam proporsi yang bijaksana.

"Kemakmuran sejati bukan tentang memilih antara dunia dan akhirat, antara materi dan makna—melainkan tentang menyadari bahwa keduanya adalah dua sisi dari satu mata uang kehidupan yang utuh."


DAFTAR PUSTAKA

Ariely, D. (2008). Predictably irrational: The hidden forces that shape our decisions. New York: HarperCollins.

Aristotle. (350 BCE/2009). The Nicomachean ethics (D. Ross, Trans.). Oxford: Oxford University Press.

Boediono. (2016). Ekonomi Indonesia dalam lintasan sejarah. Bandung: Mizan.

Center for Strategic and International Studies & Saiful Mujani Research and Consulting. (2022). Survei kelas menengah Indonesia 2022. Jakarta: CSIS.

Davidson, R. J., & Begley, S. (2012). The emotional life of your brain. New York: Hudson Street Press.

Dunn, E. W., Aknin, L. B., & Norton, M. I. (2008). Spending money on others promotes happiness. Science, 319(5870), 1687-1688.

Kahneman, D., & Deaton, A. (2010). High income improves evaluation of life but not emotional well-being. Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(38), 16489-16493.

Marx, K. (1844/1988). Economic and philosophic manuscripts of 1844 (M. Milligan, Trans.). New York: Prometheus Books.

Ryff, C. D. (2014). Psychological well-being revisited: Advances in the science and practice of eudaimonia. Psychotherapy and Psychosomatics, 83(1), 10-28.

Sandel, M. J. (2012). What money can't buy: The moral limits of markets. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Waldinger, R. J., & Schulz, M. S. (2023). The good life: Lessons from the world's longest scientific study of happiness. New York: Simon & Schuster.

World Bank. (2023). World development indicators 2023. Washington, DC: World Bank.

Wrzesniewski, A., McCauley, C., Rozin, P., & Schwartz, B. (1997). Jobs, careers, and callings: People's relations to their work. Journal of Research in Personality, 31(1), 21-33.

šŸ“š Daftar Chapter Buku Kaya Raga, Kaya Jiwa