EPILOG

Doa yang Tidak Pernah Tamat


"Kita tidak pernah selesai belajar membaca Al-Fatihah—kita hanya terus membacanya, sampai akhirnya hidup kita yang menjadi tafsirnya."


Maghrib turun dengan lembut di kampung itu.


Abdul Wira berdiri di beranda rumah panggung yang sama—rumah yang sudah melewati tiga generasi, yang atapnya sudah diganti berkali-kali, yang lantainya sudah aus dimakan waktu. Rambutnya putih semua, punggungnya bungkuk, tapi matanya masih jernih—jernih dengan cahaya yang hanya dimiliki orang-orang yang sudah lama berjalan.

🔒 Konten Terkunci

Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)

📚 Daftar Chapter