EPILOG
Doa yang Tidak Pernah Tamat
"Kita tidak pernah selesai belajar membaca Al-Fatihah—kita hanya terus membacanya, sampai akhirnya hidup kita yang menjadi tafsirnya."
Maghrib turun dengan lembut di kampung itu.
Abdul Wira berdiri di beranda rumah panggung yang sama—rumah yang sudah melewati tiga generasi, yang atapnya sudah diganti berkali-kali, yang lantainya sudah aus dimakan waktu. Rambutnya putih semua, punggungnya bungkuk, tapi matanya masih jernih—jernih dengan cahaya yang hanya dimiliki orang-orang yang sudah lama berjalan.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Di belakangnya, suara anak-anak dan cucu-cucunya mulai berkumpul. Mereka datang dari berbagai arah—dari rumah sebelah, dari kampung tetangga, dari kota—berkumpul seperti biasa setiap Jumat sore untuk shalat maghrib berjamaah di rumah kakek mereka.
Siti Maryam—istrinya yang juga sudah beruban—keluar dari dapur dengan senyum yang hangat. Perempuan yang sudah menemaninya lima puluh tahun, yang wajahnya menjadi saksi semua doa yang pernah ia panjatkan, semua air mata yang pernah ia jatuhkan.
"Sudah waktu shalat, Mas," katanya lembut.
Abdul Wira mengangguk, tersenyum. "Iya, Bu. Ayo kita tunggu yang lain."
Satu per satu, mereka datang. Anak-anaknya yang sudah dewasa. Cucu-cucunya yang masih kecil. Bahkan Soedarmo—sahabat seumur hidupnya—datang dengan langkah pelan, tongkat di tangan, tapi senyum di wajah.
Mereka semua berkumpul di ruang tengah yang sederhana—ruang yang sama tempat Abdul Wira dulu belajar shalat dari ibunya, tempat ia dulu menangis saat bingung mencari jalan, tempat ia dulu menemukan kembali Tuhan setelah sempat jauh.
Dan sekarang, di ruang yang sama, ia akan memimpin keluarganya shalat—warisan yang paling berharga yang bisa ia tinggalkan.
***
Mereka berdiri dalam shaf—Abdul Wira di depan sebagai imam, anak-anaknya di belakang, cucu-cucunya di belakang lagi. Perempuan-perempuan di shaf terpisah, dipimpin oleh Siti Maryam.
Abdul Wira mengangkat tangan, takbir terdengar—suara yang sudah gemetar karena usia, tapi tetap khusyuk.
Allāhu Akbar.
Dan shalat dimulai.
Dalam berdiri, Abdul Wira merasakan sesuatu yang aneh—seolah seluruh perjalanan hidupnya terangkum dalam shalat ini. Semua jatuh dan bangkit, semua tersesat dan kembali, semua ragu dan yakin—semua ada di sini, dalam berdiri yang sederhana ini.
Lalu ia mulai membaca Al-Fatihah—doa yang sudah ia baca puluhan ribu kali, yang dulunya hanya hafalan, yang kini menjadi doa paling jujur.
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Dengan nama-Mu aku mulai—bukan dengan kekuatanku, bukan dengan kepintaranku, tetapi dengan nama-Mu. Karena aku tahu, tanpa nama-Mu, aku tidak bisa memulai apa pun.
Al-ḥamdu lillāhi rabbil 'ālamīn.
Segala puji bagi-Mu—untuk semua yang Engkau beri, untuk semua yang Engkau ambil, untuk semua yang Engkau izinkan terjadi. Karena aku tahu, semua itu ada hikmah-Nya, meski aku tidak selalu mengerti.
Ar-raḥmānir-raḥīm.
Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang—yang kasih-Nya luas untuk semua, yang sayang-Nya dalam untuk yang kembali. Terima kasih karena tidak pernah menutup pintu, meski aku sering pergi tanpa pamit.
Māliki yaumid-dīn.
Pemilik Hari Pembalasan—hari yang aku takuti, tapi juga aku harapkan. Karena di hari itu, semua akan adil. Semua akan jelas. Semua akan kembali kepada-Mu.
Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn.
Hanya Engkau yang kami sembah, hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan. Pengakuan yang membebaskan—bahwa kami lemah, bahwa kami butuh, bahwa tanpa-Mu kami tidak bisa apa-apa.
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.
Tunjukilah kami jalan yang lurus. Doa yang tidak pernah selesai, yang harus diulang setiap hari, setiap shalat, setiap napas. Karena kami tidak pernah sampai—kami hanya terus berjalan, terus memohon, terus meminta ditunjukkan.
Ṣirāṭal-lażīna an'amta 'alaihim ghairi l-maghḍūbi 'alaihim wa lāḍ-ḍāllīn.
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat—bukan jalan yang paling mudah, tetapi jalan yang paling diridhai. Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat—tetapi jalan yang lurus, yang terus menuju kepada-Mu.
Abdul Wira menyelesaikan bacaan dengan āmīn yang pelan—amin yang terasa seperti permohonan terakhir, seperti harapan yang tidak pernah padam.
***
Shalat selesai. Mereka duduk dalam sunyi sejenak—sunyi yang penuh, yang tidak perlu diisi dengan kata-kata.
Lalu salah satu cucunya—anak perempuan berusia tujuh tahun—merangkak mendekati Abdul Wira.
"Kakek," bisiknya, "kenapa kita harus baca Al-Fatihah setiap shalat? Bukankah kita sudah hafal?"
Abdul Wira tersenyum, mengangkat cucunya ke pangkuan. "Karena, Sayang, Al-Fatihah itu bukan hanya bacaan. Itu doa. Dan doa itu tidak pernah selesai."
"Maksud Kakek?"
Abdul Wira menatap mata cucunya yang polos. "Kita membaca Al-Fatihah setiap hari karena kita butuh diingatkan setiap hari—siapa kita, siapa Tuhan kita, jalan mana yang harus kita mohon. Karena kita mudah lupa, Sayang. Kita mudah tersesat. Jadi kita harus terus memohon, terus meminta ditunjukkan."
Cucunya mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti. Tapi Abdul Wira tahu—suatu hari, ia akan mengerti. Seperti ia dulu tidak mengerti saat ibunya mengajarkan hal yang sama, tapi akhirnya mengerti setelah melewati perjalanan panjang.
***
Malam itu, setelah semua pulang, Abdul Wira dan Siti Maryam duduk bersama di beranda. Langit penuh bintang, seperti saksi sunyi dari semua doa yang pernah mereka panjatkan.
"Bu," kata Abdul Wira pelan, "aku sudah tua."
Siti Maryam tersenyum. "Saya juga, Mas."
"Dan aku masih belum merasa sampai," lanjut Abdul Wira. "Masih merasa perlu belajar, masih merasa perlu memohon petunjuk."
"Dan itu baik, Mas," kata Siti Maryam, menggenggam tangan suaminya. "Karena yang merasa sudah sampai itu yang bahaya. Yang tidak merasa perlu memohon lagi itu yang tersesat."
Mereka duduk dalam sunyi, hanya mendengarkan suara malam—jangkrik yang bernyanyi, angin yang berhembus pelan, daun-daun yang bergesek.
"Bu," bisik Abdul Wira, "kalau nanti waktunya tiba—kalau salah satu dari kita dipanggil duluan—jangan lupa tetap baca Al-Fatihah untuk yang ditinggalkan. Karena yang ditinggalkan juga butuh petunjuk, juga butuh kekuatan, juga butuh diingatkan untuk tetap di jalan-Nya."
Siti Maryam mengangguk, air matanya jatuh. "Akan saya ingat, Mas. Akan saya baca setiap hari."
***
Subuh datang dengan sunyi.
Abdul Wira bangun lebih awal dari biasanya, berwudu di sumur yang sama, berdiri di sajadah yang sama. Tapi ada yang berbeda pagi ini—seolah ini shalat pertamanya, seolah ia baru belajar membaca Al-Fatihah.
Ia takbir, lalu mulai membaca—pelan, dengan penuh kesadaran, setiap kata dirasakan, setiap makna dihayati.
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Dengan nama-Mu aku mulai—seperti aku mulai setiap hari, setiap shalat, setiap napas.
Dan saat ia sujud, saat dahinya menyentuh sajadah lusuh yang sudah menemaninya puluhan tahun, ia memahami—dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati:
Inilah doa yang tidak pernah tamat. Doa yang dimulai saat kita lahir dan diakhiri saat kita mati. Doa yang mengajarkan kita siapa kita, siapa Tuhan kita, dan jalan mana yang harus kita mohon—setiap hari, setiap shalat, setiap napas.
Al-Fatihah bukan pembuka shalat. Al-Fatihah adalah pembuka hidup—yang terus dibuka, terus dibaca, terus dimohonkan, sampai akhirnya kita benar-benar pulang.
Pulang kepada Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang memiliki Hari Pembalasan, Yang hanya kepada-Nya kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan.
Dan di sana—di rumah yang sesungguhnya—kita akhirnya sampai pada jalan yang selama ini kita mohonkan.
Jalan yang lurus. Jalan yang tidak menyesatkan. Jalan yang menuju kepada-Nya, dan berakhir di haribaan rahmat-Nya.
***
Dengan nama-Mu kami mulai, dan kepada-Mu kami kembali. Segala puji bagi-Mu—untuk jalan yang Engkau tunjukkan, untuk kasih yang Engkau beri, untuk petunjuk yang tidak pernah padam. Kami lemah, kami butuh, kami tidak tahu—maka tunjukilah, tunjukilah, tunjukilah. Sampai napas terakhir, sampai langkah terakhir, sampai akhirnya kami pulang—ke jalan yang selama ini kami mohonkan, ke rumah yang selama ini kami cari, ke haribaan-Mu yang tidak pernah menolak kami yang pulang terlambat, yang tersesat terlalu lama, yang jatuh terlalu sering. Terimalah kami—bukan karena kami sempurna, tetapi karena kami terus memohon. Karena doa ini—doa yang Engkau ajarkan sejak ribuan tahun lalu—adalah doa yang tidak pernah tamat, sampai kami benar-benar sampai.
"Dan kami terus membacanya—dengan nama-Mu kami mulai, kepada-Mu kami kembali—sampai akhirnya bacaan ini menjadi jalan itu sendiri, dan jalan itu membawa kami pulang."
TAMAT
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar