BAB 30
Tetap Memohon
"Doa ini tidak pernah selesai—karena perjalanan ini tidak pernah selesai sampai napas terakhir."
Abdul Wira sudah tua.
Rambutnya memutih, punggungnya mulai bungkuk, langkahnya tidak selincah dulu. Tapi setiap subuh, ia tetap bangun—berwudu di sumur yang sama, berdiri di sajadah yang sama, membaca doa yang sama.
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Doa yang sudah ia baca ribuan kali—bahkan mungkin puluhan ribu kali—sejak ia kecil. Doa yang dulu hanya hafalan, kini menjadi permohonan yang paling jujur.
Karena setelah semua yang ia alami—setelah jatuh dan bangkit, setelah tersesat dan kembali, setelah ragu dan yakin—ia akhirnya memahami: doa ini tidak pernah selesai. Kita tidak pernah sampai pada titik di mana kita tidak perlu memohon lagi.
Jalan lurus bukan tujuan yang sudah tercapai—tetapi permohonan yang terus dipanjatkan, sampai napas terakhir.
***
Pagi itu, setelah shalat subuh, Abdul Wira duduk di beranda seperti biasa. Tapi ada yang berbeda—dadanya terasa sesak, napasnya pendek. Ia tahu, tubuhnya sudah tua, sudah lelah.
Soedarmo—yang juga sudah beruban—datang seperti biasa, membawa teh hangat.
"Wira," sapanya, "kau baik-baik saja? Wajahmu pucat."
Abdul Wira tersenyum lemah. "Aku baik, Darmo. Hanya... hanya merasa waktu sudah dekat."
Soedarmo duduk di sampingnya, tidak bicara—hanya menemani dalam sunyi yang hangat.
"Darmo," kata Abdul Wira pelan, "kita sudah tua. Kita sudah melewati begitu banyak. Tapi kau tahu apa yang paling aku syukuri?"
Soedarmo menggeleng.
"Bahwa sampai hari ini, aku masih bisa memohon. Masih bisa berdoa. Masih bisa mengucap ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm—dan merasakannya dengan sungguh-sungguh."
Abdul Wira menatap langit yang mulai terang. "Dulu, aku pikir suatu hari aku akan sampai—sampai pada titik di mana aku sudah di jalan lurus, sudah tidak perlu memohon lagi. Tapi sekarang aku paham—kita tidak pernah sampai. Kita hanya terus berjalan, terus memohon, terus meminta ditunjukkan."
Soedarmo merasakan dadanya penuh. "Dan itu bukan kelemahan, kan?"
"Bukan," jawab Abdul Wira. "Itu pengakuan. Pengakuan bahwa kita lemah, bahwa kita butuh-Nya, bahwa tanpa petunjuk-Nya, kita tidak tahu ke mana harus melangkah."
***
Siang itu, Abdul Wira mengumpulkan anak-anak dan cucu-cucunya—anak-anak yang sudah ia didik dengan cara yang sama ibunya dulu mendidiknya: dengan doa, dengan teladan, dengan kasih yang tidak pernah bersyarat.
Mereka duduk melingkar di ruang tamu yang sederhana. Abdul Wira menatap wajah-wajah muda itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Anak-anakku," katanya pelan, "kakek ingin kalian mengingat satu hal. Jangan pernah berhenti memohon petunjuk. Jangan pernah merasa sudah sampai, sudah tahu, sudah tidak butuh Tuhan lagi."
Salah satu cucunya—anak perempuan berusia sepuluh tahun—bertanya, "Tapi Kakek sudah shalih, sudah baik. Bukankah Kakek sudah di jalan yang lurus?"
Abdul Wira tersenyum, mengusap kepala cucunya. "Justru karena kakek sudah tua, kakek semakin sadar—bahwa aku tidak tahu apa-apa. Bahwa setiap hari aku masih butuh petunjuk. Bahwa sampai napas terakhir, aku masih harus memohon."
Ia menatap semua yang hadir. "Jalan lurus itu bukan yang sudah kita temukan dan selesai. Jalan lurus itu yang terus kita mohonkan—setiap shalat, setiap doa, setiap langkah. Karena kita lemah, mudah lupa, mudah tersesat. Dan hanya dengan terus memohon, kita tetap di jalan-Nya."
***
Sore itu, Abdul Wira pergi ke makam—makam ibunya, makam Kyai Hasan, makam orang-orang yang dulu mengajarnya tentang jalan lurus.
Ia duduk di sana lama, berbicara seolah mereka masih bisa mendengar.
"Bu," bisiknya di makam ibunya, "aku sudah tua sekarang. Sudah melewati begitu banyak. Tapi aku masih ingat—cara Ibu sujud yang panjang, cara Ibu berdoa dengan air mata, cara Ibu tidak pernah berhenti memohon petunjuk."
Angin sore berhembus, membawa aroma tanah dan bunga kamboja.
"Dulu aku tidak mengerti kenapa Ibu selalu berdoa untuk hal yang sama: jalan yang lurus. Aku pikir, Ibu kan sudah baik, sudah shalih, masih perlu memohon apa lagi? Tapi sekarang aku paham—justru karena Ibu baik, Ibu semakin sadar bahwa tanpa petunjuk-Nya, Ibu bisa tersesat kapan saja."
Abdul Wira berpindah ke makam Kyai Hasan. "Kyai, terima kasih. Terima kasih untuk mengajariku bahwa doa ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm itu bukan sekadar hafalan—tetapi pengakuan. Pengakuan bahwa kita lemah, bahwa kita butuh, bahwa kita tidak bisa sendiri."
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira sujud lebih lama dari biasanya. Dalam sujud itu, ia tidak meminta apa-apa yang baru—ia hanya mengulang doa yang sama, doa yang sudah ia ucapkan sejak kecil:
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Tapi kali ini, doa itu terasa berbeda—terasa lebih dalam, lebih jujur, lebih sungguh-sungguh. Karena ia tahu, ia tidak punya banyak waktu lagi. Ia tidak tahu berapa kali lagi ia bisa mengucap doa ini.
Ya Allah, bisiknya dalam sujud, aku sudah tua. Aku sudah melewati begitu banyak jalan—ada yang lurus, ada yang berliku, ada yang hampir menyesatkan. Tapi Engkau selalu tunjukkan jalan kembali. Engkau selalu tarik aku saat aku hampir tersesat.
Air matanya mengalir ke sajadah.
Dan sekarang, di penghujung hidupku, aku masih memohon—masih meminta ditunjukkan. Bukan karena aku tidak percaya pada jalan yang sudah Engkau tunjukkan. Tetapi karena aku tahu—aku lemah. Aku mudah lupa. Aku mudah tersesat. Dan tanpa petunjuk-Mu yang terus-menerus, aku tidak bisa sampai.
Jadi aku mohon—sampai napas terakhir, jangan biarkan aku tersesat. Tetap tunjukkan jalan-Mu. Tetap bimbing langkahku. Tetap pegang tanganku—sampai aku bertemu dengan-Mu.
***
Esok paginya, Abdul Wira bangun dengan perasaan yang aneh—perasaan damai, seolah ia sudah menyelesaikan sesuatu yang penting.
Ia shalat subuh dengan lebih khusyuk, sujudnya lebih lama, doanya lebih panjang.
Setelah shalat, ia duduk tafakur, menatap sajadah lusuh yang sudah menemaninya puluhan tahun. Sajadah yang sama yang dulu dipakai ibunya, yang kini ia wariskan kepada anak-anaknya.
Dan ia tersenyum—senyum yang tenang, yang damai, yang sudah tidak takut lagi.
Karena ia tahu—perjalanan ini tidak sia-sia. Jatuh dan bangkit, tersesat dan kembali, ragu dan yakin—semua itu adalah bagian dari jalan. Jalan yang tidak pernah lurus sempurna, tapi tetap menuju pada-Nya.
***
Siang itu, Soedarmo datang lagi. Mereka duduk bersama di beranda untuk yang terakhir kalinya—meski mereka tidak tahu itu yang terakhir.
"Wira," kata Soedarmo, "kalau nanti waktunya tiba—kalau salah satu dari kita dipanggil duluan—apa pesan yang ingin kau tinggalkan?"
Abdul Wira terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Pesanku sederhana, Darmo. Tetap memohon. Jangan pernah berhenti memohon petunjuk. Karena doa ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm itu bukan doa yang selesai saat kita merasa sudah sampai—tetapi doa yang terus dipanjatkan sampai napas terakhir."
Soedarmo mengangguk, air matanya jatuh. "Aku akan ingat, Wira. Aku akan terus memohon."
Mereka duduk dalam sunyi, menatap matahari yang mulai condong—matahari yang sama yang menyinari mereka saat muda, yang kini menyinari mereka saat tua.
Dan dalam sunyi itu, mereka berdua memahami: hidup ini singkat. Tapi perjalanan mencari jalan lurus ini—perjalanan yang dimulai dengan doa dan diakhiri dengan doa—adalah perjalanan yang paling bermakna.
***
Malam itu, Abdul Wira berbaring di tikar dengan perasaan tenang. Napasnya pendek, tubuhnya lelah, tapi hatinya damai.
Ia menutup mata, membisikkan doa terakhir sebelum tidur:
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.
Doa yang sama. Doa yang tidak pernah berubah. Doa yang akan ia ucapkan sampai napas terakhir.
Karena ia akhirnya memahami—dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati—bahwa doa ini adalah inti dari segalanya.
Bukan doa untuk kekayaan, bukan doa untuk kesuksesan, bukan doa untuk kemudahan.
Tetapi doa untuk jalan—jalan yang lurus, yang terus menuju pada-Nya, yang tidak menyesatkan.
Dan doa ini tidak pernah selesai. Karena selama kita masih bernapas, kita masih di jalan. Dan selama kita masih di jalan, kita masih butuh petunjuk.
Ya Allah, doa ini—doa yang Engkau ajarkan sejak ribuan tahun lalu, yang diulang oleh jutaan hamba-Mu setiap hari—adalah doa yang paling jujur. Doa yang mengakui kelemahan kami, ketergantungan kami, kebutuhan kami yang tidak pernah berakhir akan petunjuk-Mu. Kami tidak pernah sampai—kami hanya terus berjalan, terus memohon, terus meminta ditunjukkan. Sampai napas terakhir, sampai bertemu dengan-Mu, sampai akhirnya kami benar-benar pulang—bukan hanya ke rumah dunia, tetapi ke rumah yang sesungguhnya: haribaan rahmat-Mu. Dan di setiap langkah perjalanan itu, kami mohon—tetap tunjukkan jalan-Mu, tetap pegang tangan kami, jangan biarkan kami tersesat. Karena tanpa-Mu, kami tidak tahu ke mana harus melangkah. Tanpa petunjuk-Mu, kami pasti sesat. Maka kami mohon, kami mohon, kami mohon—sampai akhir hayat: Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Tunjukilah kami jalan yang lurus.
***
"Doa ini tidak pernah selesai—karena perjalanan ini tidak pernah selesai. Dan sampai napas terakhir, kita tetap memohon: tunjukilah jalan-Mu, pegang tangan kami, jangan biarkan kami tersesat."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar