BAB 28
Yang Diberi Nikmat
"Jalan lurus bukan yang kita temukan sendiri—tetapi yang kita pelajari dari mereka yang sudah melewatinya sebelum kita."
Abdul Wira tidak pernah menganggap ibunya sebagai teladan.
Bukan karena tidak sayang—tetapi karena ia pikir, teladan itu harus orang besar. Teladan itu harus ulama terkenal, pejuang kemerdekaan, orang yang namanya dicatat sejarah.
Ibunya? Hanya perempuan kampung yang tidak bisa baca tulis, yang hidupnya habis di dapur dan sawah, yang tidak pernah ke luar kampung lebih dari sepuluh kilometer.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Tapi malam itu—lima tahun setelah ibunya meninggal—Abdul Wira menemukan sesuatu yang mengubah cara pandangnya.
Ia sedang membersihkan lemari lama, mencari kain kafan untuk tetangga yang meninggal. Di pojok lemari, tersembunyi di balik kain lusuh, ia menemukan sebuah buku kecil—buku catatan ibunya yang ia pikir sudah hilang.
Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Halaman demi halaman berisi coretan—bukan tulisan, karena ibunya tidak bisa menulis. Tetapi tanda-tanda sederhana: garis untuk hari, lingkaran untuk doa, titik untuk orang yang didoakan.
Dan di halaman terakhir, ada tulisan—tulisan yang ia kenali sebagai tulisan Kyai Hasan, yang dulu membantu ibunya menulis pesan untuk Abdul Wira:
"Untuk Wira, anakku. Jika suatu hari kau bingung mencari jalan, ingatlah: jalan lurus itu bukan yang kau temukan sendiri, tetapi yang kau lihat dari orang-orang yang Tuhan beri nikmat. Lihatlah cara mereka hidup—bukan kata-kata mereka, tetapi tindakan mereka. Lihatlah cara mereka sujud, cara mereka sabar, cara mereka mencintai. Itulah teladan yang hidup. Itulah jalan yang lurus."
Abdul Wira menutup buku itu, memeluknya erat ke dada. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.
Selama ini ia mencari teladan di tempat yang salah—di buku-buku besar, di tokoh-tokoh terkenal, di orang-orang yang jauh. Padahal teladan paling nyata ada di depan matanya—ibunya yang sederhana, yang tidak pernah mengeluh meski hidup susah, yang tidak pernah berhenti berdoa meski doa terasa tidak dijawab, yang tidak pernah kehilangan iman meski dunia tidak adil.
Itulah yang diberi nikmat. Bukan yang paling kaya, bukan yang paling terkenal—tetapi yang paling dekat dengan Tuhan.
***
Esok paginya, Abdul Wira pergi ke makam ibunya. Ia duduk di sisi gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput, berbicara seolah ibunya masih bisa mendengar.
"Bu," bisiknya, "maafkan aku yang selama ini tidak mengerti. Aku mencari teladan ke mana-mana, padahal teladan paling nyata ada di hadapanku—Ibu. Cara Ibu shalat dengan khusyuk meski lelah seharian. Cara Ibu sabar meski hidup susah. Cara Ibu mencintai tanpa syarat meski aku sering mengecewakan."
Angin pagi berhembus, membawa aroma tanah dan bunga kamboja yang rontok.
"Sekarang aku paham, Bu. Yang diberi nikmat itu bukan yang hidupnya paling enak—tetapi yang hatinya paling tenang. Bukan yang paling sukses di mata dunia—tetapi yang paling berhasil di mata Tuhan. Dan Ibu... Ibu adalah salah satunya."
Abdul Wira menutup mata, merasakan kehangatan yang aneh—seolah ibunya tersenyum, seolah ibunya berkata: Syukurlah kau akhirnya mengerti.
***
Siang itu, Abdul Wira duduk bersama Soedarmo di beranda surau, menatang anak-anak yang sedang bermain di halaman.
"Darmo," kata Abdul Wira, "aku baru menyadari sesuatu. Selama ini kita mencari teladan di tempat yang salah."
Soedarmo menoleh. "Maksudmu?"
"Kita mencari teladan di tokoh-tokoh besar, di buku-buku sejarah. Padahal teladan paling nyata ada di sekitar kita—orang-orang sederhana yang hidupnya mencerminkan jalan lurus meski tidak pernah dikenal dunia."
Abdul Wira menunjuk ke arah Pak Darmo yang sedang membantu tetangga memperbaiki atap bocor. "Lihatlah Pak Darmo. Tidak kaya, tidak terkenal. Tapi setiap kali ada yang butuh bantuan, dia datang—tidak peduli lelah, tidak peduli sibuk. Itu teladan."
Ia menunjuk ke arah Bu Aminah yang sedang membagi-bagikan nasi untuk anak-anak yatim. "Lihatlah Bu Aminah. Janda miskin, tapi selalu berbagi dari yang sedikit yang dia punya. Itu teladan."
Soedarmo terdiam, mengikuti tatapan Abdul Wira.
"Mereka tidak pernah mengajarkan dengan kata-kata," lanjut Abdul Wira, "tetapi dengan tindakan. Mereka tidak pernah berceramah tentang jalan lurus—tetapi mereka menjalaninya. Dan dari merekalah kita belajar—bukan dari buku, tetapi dari kehidupan yang nyata."
***
Sore itu, Abdul Wira mengumpulkan pemuda-pemuda kampung di surau.
"Saudara-saudaraku," katanya, "aku ingin kita membuat sesuatu—sebuah buku sederhana yang mencatat orang-orang di kampung ini yang bisa jadi teladan. Bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka mencoba hidup di jalan yang lurus."
Salah satu pemuda bertanya, "Siapa saja yang akan kita catat, Kang?"
"Siapa pun yang hidupnya mencerminkan jalan lurus," jawab Abdul Wira. "Pak Darmo yang selalu menolong tanpa pamrih. Bu Aminah yang selalu berbagi meski tidak punya banyak. Pak Harto yang memilih miskin tapi jujur daripada kaya tapi korup. Bahkan anak-anak kecil yang rajin shalat, yang tidak pernah berbohong."
Soedarmo menambahkan, "Dan yang penting—kita tidak mencatat mereka untuk dipuji. Kita mencatat mereka untuk diingat, untuk ditiru, untuk menjadi pengingat bagi kita semua bahwa jalan lurus itu nyata—bukan hanya teori, tetapi dipraktikkan oleh orang-orang di sekitar kita."
Satu per satu, pemuda-pemuda itu mengangguk. Mereka sepakat.
Dari hari itu, setiap minggu, mereka berkumpul—berbagi cerita tentang orang-orang di kampung yang menjadi teladan. Bukan untuk menggosip, tetapi untuk belajar. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk meniru.
Dan perlahan, kampung itu berubah—bukan karena ada aturan baru, tetapi karena ada teladan hidup yang menginspirasi.
***
Suatu malam, setelah shalat isya, seorang pemuda bernama Hasan—yang dulu jarang shalat—datang menemui Abdul Wira dengan wajah bersemangat.
"Kang Wira," katanya, "aku sudah mulai rajin shalat sekarang. Dan kau tahu kenapa?"
Abdul Wira tersenyum. "Kenapa?"
"Karena aku lihat Pak Darmo," jawab Hasan. "Setiap hari, meski lelah bekerja, dia tidak pernah meninggalkan shalat. Bahkan saat di sawah, dia berhenti, berwudu di sungai, lalu shalat di pematang. Dan aku pikir—kalau orang setua dia masih semangat shalat, masa aku yang masih muda tidak bisa?"
Abdul Wira merasakan dadanya penuh. "Itulah kekuatan teladan, Hasan. Kata-kata bisa dilupakan, tetapi tindakan diingat. Ceramah bisa diabaikan, tetapi contoh diikuti."
Hasan mengangguk. "Dan sekarang, aku juga ingin jadi teladan—bukan yang sempurna, tetapi yang mencoba. Supaya suatu hari, mungkin ada yang terinspirasi dari aku, seperti aku terinspirasi dari Pak Darmo."
***
Malam itu, Abdul Wira duduk sendirian di beranda, menatang langit yang penuh bintang. Ia memikirkan perjalanannya—dari mencari teladan di tempat yang jauh, hingga menemukan teladan di tempat yang dekat.
Ia memikirkan ibunya, Pak Darmo, Bu Aminah, Pak Harto—orang-orang sederhana yang hidupnya mencerminkan jalan lurus. Mereka tidak sempurna, mereka punya kekurangan, mereka juga pernah jatuh.
Tapi mereka bangkit. Mereka mencoba. Mereka tidak menyerah.
Dan dari merekalah Abdul Wira belajar—bahwa jalan lurus itu bukan jalan tanpa jatuh, tetapi jalan yang tetap bangkit meski jatuh. Bukan jalan tanpa kesalahan, tetapi jalan yang tetap bertobat meski salah.
į¹¢irÄį¹al-lażīna an'amta 'alaihim.
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.
Bukan jalan yang paling mudah. Bukan jalan yang paling terkenal. Tetapi jalan yang paling diridhai—jalan yang dipilih oleh orang-orang yang Tuhan cintai, yang Tuhan beri ketenangan hati meski hidup susah, yang Tuhan beri kedamaian jiwa meski dunia tidak adil.
Abdul Wira menutup mata, membisikkan doa:
Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat—bukan nikmat dunia yang fana, tetapi nikmat hati yang tenang, nikmat jiwa yang damai, nikmat dekat dengan-Mu. Tunjukkanlah kami teladan-teladan hidup—bukan yang jauh dan abstrak, tetapi yang dekat dan nyata. Yang bisa kami lihat, bisa kami tiru, bisa kami ikuti.
Ia menarik napas dalam, merasakan dadanya penuh.
Terima kasih untuk ibu yang mengajariku jalan lurus lewat tindakan, bukan kata-kata. Terima kasih untuk Pak Darmo, Bu Aminah, Pak Harto—yang hidupnya menjadi teladan hidup. Dan ajari kami—ajari kami untuk juga menjadi teladan, bukan yang sempurna, tetapi yang mencoba. Supaya suatu hari, mungkin ada yang belajar dari kami, seperti kami belajar dari mereka.
***
Esok paginya, Abdul Wira bangun dengan semangat yang baru. Ia tidak lagi mencari teladan di tempat yang jauh—ia melihat teladan di sekelilingnya, belajar dari orang-orang yang Tuhan tempatkan di hidupnya.
Dan ia juga mulai menyadari: ia sendiri bisa jadi teladan—bukan dengan sempurna, tetapi dengan mencoba. Bukan dengan tidak pernah jatuh, tetapi dengan selalu bangkit. Bukan dengan tidak pernah salah, tetapi dengan selalu bertobat.
Karena jalan lurus itu bukan yang ditempuh sendirian—tetapi yang dipelajari dari yang sudah melewatinya sebelum kita, dan yang kita wariskan untuk yang akan melewatinya setelah kita.
į¹¢irÄį¹al-lażīna an'amta 'alaihim.
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat—jalan yang hidup, yang nyata, yang bisa dilihat, yang bisa ditiru. Bukan jalan yang hanya ada di buku, tetapi jalan yang dipraktikkan oleh orang-orang di sekitar kita—yang sederhana, yang tidak sempurna, tetapi yang terus mencoba, yang tidak menyerah, yang tetap bangkit meski jatuh.
Dan dari mereka, kita belajar—bukan hanya teori tentang jalan lurus, tetapi praktik nyata tentang bagaimana menjalaninya. Bukan hanya kata-kata tentang iman, tetapi tindakan nyata tentang bagaimana hidup dengan iman.
Ya Allah, jadikan kami bagian dari mereka yang diberi nikmat—bukan nikmat harta atau tahta, tetapi nikmat hati yang tenang, jiwa yang damai, hidup yang menjadi teladan. Dan tunjukkanlah kami selalu—pada mereka yang sudah melewati jalan ini sebelum kami, supaya kami bisa belajar. Dan kuatkanlah kami—supaya kami juga bisa menjadi teladan bagi mereka yang akan melewati jalan ini setelah kami. Karena jalan lurus itu bukan yang kita temukan sendiri—tetapi yang kita pelajari bersama, yang kita jalani bersama, yang kita wariskan bersama.
***
"Teladan sejati bukan yang sempurna—tetapi yang nyata: yang jatuh lalu bangkit, yang salah lalu bertobat, yang lemah lalu meminta pertolongan-Nya."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar