BAB 25
Kami
"Iman bukan perjalanan sendirian—tetapi perjalanan bersama, di mana kita saling menguatkan, saling mengingatkan, saling membawa pulang."
Abdul Wira baru menyadarinya saat ia jatuh sakit lagi.
Kali ini bukan demam biasa—tetapi sakit yang membuatnya tidak bisa bangun dari tikar selama seminggu. Tubuhnya lemah, napasnya pendek, bahkan untuk shalat pun ia harus berbaring.
Dan di tengah kelemahan itu, ia baru benar-benar merasakan arti kata kami.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Setiap pagi, Pak Darmo datang membawa bubur hangat. Setiap siang, Bu Aminah datang menyeka tubuhnya dengan air hangat. Setiap sore, Soedarmo datang membacakan Al-Qur'an. Setiap malam, tetangga-tetangga bergantian menjaga, memastikan ia tidak sendirian.
Mereka tidak diminta. Mereka datang sendiri—karena mereka tahu, dalam komunitas yang sehat, tidak ada yang boleh jatuh sendirian.
Dan Abdul Wira, yang selama ini terbiasa kuat, terbiasa mandiri, terbiasa merasa bisa sendiri—akhirnya mengerti: ia bukan sendirian. Ia bagian dari kami. Dan kami ini yang menjaganya, yang menguatkannya, yang tidak membiarkannya tenggelam.
Saat ia mulai pulih, ia duduk di beranda, menatap kampung yang sama—tapi dengan mata yang berbeda. Ia melihat rumah-rumah sederhana, orang-orang yang datang dan pergi, anak-anak yang bermain. Dan ia menyadari: inilah kami. Inilah komunitas yang Tuhan titipkan. Inilah keluarga yang lebih luas dari darah.
***
Suatu sore, setelah shalat ashar berjamaah di surau, Abdul Wira duduk bersama beberapa jamaah—Pak Darmo, Bu Aminah, Soedarmo, dan beberapa pemuda kampung.
"Saudara-saudaraku," kata Abdul Wira, "aku baru sadar sesuatu. Selama ini, aku pikir iman itu perjalanan pribadi—antara aku dan Tuhan. Tapi aku salah. Iman itu perjalanan bersama—antara kami dan Tuhan."
Pak Darmo mengangguk. "Benar, Nak. Coba kau perhatikan, dalam Al-Fatihah, kita tidak bilang 'aku menyembah' atau 'aku minta pertolongan'. Kita bilang 'kami menyembah', 'kami minta pertolongan'. Kenapa?"
Abdul Wira berpikir sejenak. "Karena... karena iman itu tidak bisa sendirian?"
"Tepat," kata Pak Darmo. "Iman yang sehat itu iman yang kolektif. Kita saling menguatkan, saling mengingatkan. Saat satu jatuh, yang lain mengangkat. Saat satu lupa, yang lain mengingatkan. Saat satu lemah, yang lain menguatkan."
Bu Aminah menambahkan, "Aku ingat waktu suamiku meninggal. Aku hampir putus asa, hampir lupa shalat karena sedih yang sangat. Tapi kalian—kampung ini—tidak membiarkan aku tenggelam. Kalian datang, menghibur, mengingatkan untuk tetap shalat. Kalian yang menarikku kembali ke jalan."
Soedarmo menatap Abdul Wira. "Aku juga, Wira. Saat aku kehilangan segalanya, aku hampir bunuh diri. Tapi kau—dan kampung ini—menyelamatkanku. Bukan dengan uang, bukan dengan jabatan, tetapi dengan kehadiran. Dengan mengingatkan bahwa aku bukan sendirian."
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia memikirkan kata-kata yang diucapkan di surau, memikirkan arti kami—kata yang selama ini ia baca tanpa menghayati.
IyyÄka na'budu wa iyyÄka nasta'Ä«n.
Bukan aku, tetapi kami.
Kenapa? Kenapa Al-Fatihah—doa yang paling sering dibaca—menggunakan kata jamak, bukan tunggal?
Abdul Wira bangkit, keluar ke beranda. Langit penuh bintang, seperti saksi sunyi dari pertanyaan yang menggantung.
Dan di tengah sunyi itu, ia mulai memahami: iman yang sendirian itu rapuh. Iman yang sendirian itu mudah goyah. Iman yang sendirian itu mudah lupa.
Tapi iman yang kolektif—iman yang dijalani bersama komunitas yang saling menjaga—itu kuat. Itu kokoh. Itu bertahan.
Karena saat satu lemah, yang lain kuat. Saat satu lupa, yang lain ingat. Saat satu jatuh, yang lain angkat.
Kami.
Bukan hanya kata—tetapi sistem penjagaan. Sistem mengingatkan. Sistem menguatkan.
***
Esok paginya, Abdul Wira mengumpulkan pemuda-pemuda kampung di surau.
"Saudara-saudaraku," katanya, "aku ingin kita membuat sesuatu—sebuah sistem saling jaga. Sistem di mana kita saling mengingatkan untuk shalat, saling mengecek siapa yang sakit, saling membantu yang kesusahan."
Salah satu pemuda bertanya, "Maksudnya seperti apa, Kang Wira?"
"Sederhana saja," jawab Abdul Wira. "Setiap subuh, kita jalan bareng ke surau—saling membangunkan yang lupa. Setiap minggu, kita kunjungi satu rumah—cek siapa yang butuh bantuan. Setiap bulan, kita kumpul—saling berbagi masalah, saling menguatkan."
Soedarmo menambahkan, "Dan yang penting, kita tidak menghakimi. Kita tidak melihat siapa yang paling shalih. Kita hanya saling menjaga—karena kita semua lemah, kita semua butuh diingatkan."
Satu per satu, pemuda-pemuda itu mengangguk. Mereka sepakat.
Dari hari itu, kampung mulai berubah—bukan dengan perubahan besar yang dramatis, tetapi dengan perubahan kecil yang konsisten. Setiap subuh, terdengar ketukan pintu—saling membangunkan untuk shalat. Setiap minggu, ada yang berkunjung—saling mengecek kabar. Setiap bulan, ada pertemuan—saling menguatkan iman.
Dan perlahan, ikatan komunitas itu menguat. Bukan hanya ikatan sosial, tetapi ikatan spiritual—ikatan kami yang saling membawa kepada Tuhan.
***
Suatu malam, setelah shalat isya, seorang pemuda bernama Hasan—yang selama ini jarang shalat—datang ke surau dengan wajah bersalah.
"Kang Wira," katanya pelan, "aku malu. Selama ini aku jarang shalat, jarang ke surau. Tapi kalian tidak pernah menghakimi aku. Kalian tetap datang, tetap mengingatkan, tetap mengajak. Dan itu... itu yang membuatku akhirnya sadar."
Abdul Wira tersenyum, memeluk Hasan. "Kita semua pernah jauh, Hasan. Tapi yang penting, kita kembali. Dan kita kembali bukan sendirian—kita kembali bersama."
Hasan mengangguk, air matanya jatuh. "Terima kasih, Kang. Terima kasih sudah tidak meninggalkan aku."
"Kita tidak akan meninggalkan siapa pun," kata Abdul Wira. "Karena kita kami. Dan kami ini saling jaga—tidak ada yang boleh tertinggal."
***
Bulan-bulan berlalu, dan kampung itu berubah—bukan dengan cara yang mencolok, tetapi dengan cara yang dalam. Orang-orang saling menyapa lebih tulus. Orang-orang saling membantu lebih cepat. Orang-orang saling mengingatkan lebih lembut.
Dan yang paling penting—tidak ada lagi yang merasa sendirian.
Suatu sore, Pak Darmo memanggil Abdul Wira, mengajaknya duduk di beranda rumahnya.
"Wira," katanya, "kau tahu apa yang paling aku syukuri dari kampung ini sekarang?"
Abdul Wira menggeleng.
"Bahwa tidak ada lagi yang jatuh sendirian," kata Pak Darmo, matanya berkaca-kaca. "Dulu, kalau ada yang sakit, dia sendirian. Kalau ada yang susah, dia malu bilang. Kalau ada yang jauh dari Tuhan, kita biarkan saja. Tapi sekarang? Kita saling jaga. Kita kami."
Abdul Wira merasakan dadanya penuh. "Itu yang Tuhan inginkan, kan, Pak? Bukan iman yang individual, yang masing-masing jalan sendiri. Tetapi iman yang kolektif, yang saling membawa kepada-Nya."
Pak Darmo mengangguk. "Dan kau tahu yang paling indah? Saat kita saling jaga, bukan hanya yang lemah yang tertolong—yang kuat juga tertolong. Karena dengan menjaga orang lain, kita juga menjaga diri kita sendiri dari lupa, dari sombong, dari merasa bisa sendiri."
***
Malam itu, setelah shalat isya berjamaah, Abdul Wira duduk tafakur lebih lama. Dalam sunyi itu, ia membisikkan sesuatu yang baru ia pahami:
IyyÄka na'budu wa iyyÄka nasta'Ä«n.
Bukan aku, tetapi kami.
Karena iman yang sehat itu tidak individual—tetapi kolektif. Tidak sendiri—tetapi bersama. Tidak egois—tetapi saling membawa.
Dan dalam kami itu, ada kekuatan—kekuatan yang tidak dimiliki aku yang sendirian. Kekuatan untuk bertahan saat lemah, kekuatan untuk bangkit saat jatuh, kekuatan untuk ingat saat lupa.
Ya Allah, terima kasih untuk kami ini. Untuk komunitas yang Engkau titipkan. Untuk orang-orang yang saling menjaga, saling mengingatkan, saling membawa kepada-Mu. Ajari kami untuk tidak hidup dalam iman yang individual, yang merasa bisa sendiri. Ajari kami untuk hidup dalam iman yang kolektif, yang saling menguatkan—sehingga tidak ada yang jatuh sendirian, tidak ada yang lupa sendirian, tidak ada yang jauh dari-Mu sendirian.
Abdul Wira membuka mata, menatap jamaah yang masih duduk di surau—Pak Darmo, Bu Aminah, Soedarmo, Hasan, dan yang lainnya. Mereka semua sedang tafakur, masing-masing dengan doanya sendiri.
Tapi mereka tidak sendirian. Mereka bersama. Mereka kami.
Dan dalam kebersamaan itu, mereka menemukan kekuatan—kekuatan untuk terus berjalan, kekuatan untuk terus mencari, kekuatan untuk terus kembali kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan mereka.
***
IyyÄka na'budu wa iyyÄka nasta'Ä«n.
Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.
Kami—bukan aku.
Karena perjalanan iman bukan perjalanan sendirian. Itu perjalanan bersama—di mana kita saling menguatkan saat lemah, saling mengingatkan saat lupa, saling membawa pulang saat tersesat.
Dan dalam kami itu, ada rahmat Tuhan yang tidak ditemukan dalam aku yang sendirian—rahmat persaudaraan, rahmat kebersamaan, rahmat komunitas yang saling menjaga hingga semua sampai kepada-Nya.
Ya Allah, jangan biarkan kami hidup dalam iman yang sendirian, yang merasa bisa tanpa orang lain. Ajari kami untuk menjadi kami yang sejati—yang saling menjaga, saling mengingatkan, saling membawa kepada-Mu. Karena kami tahu, iman yang sendirian itu rapuh—tapi iman yang kolektif itu kuat. Dan kami ingin kuat—bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan kekuatan kami yang Engkau ikat dalam tali persaudaraan, dalam ikatan iman, dalam komunitas yang saling membawa pulang.
***
"Iman bukan perjalanan sendirian—tetapi perjalanan bersama, di mana kami saling menguatkan, saling mengingatkan, dan saling membawa pulang kepada-Nya."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar