š» Barisan untuk Allah tidak dihitung dari jumlah… tapi dari ketulusan.
As-Saffat artinya "Yang Berbaris".
Dan surat ini dibuka dengan sumpah yang indah:
"Demi (malaikat-malaikat) yang berbaris dengan sebenar-benarnya, dan (malaikat-malaikat) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan maksiat), dan (malaikat-malaikat) yang membacakan pelajaran."
(QS. As-Saffat: 1-3)
Malaikat berbaris.
Rapi.
Tertib.
Tulus.
Tidak ada yang menyerobot.
Tidak ada yang mencari perhatian.
Tidak ada yang… pura-pura.
Mereka berbaris untuk Allah.
Bukan untuk dilihat.
Bukan untuk dipuji.
Hanya untuk Allah.
Dan ini adalah pelajaran pertama.
Bahwa berbaris dalam kebaikan… bukan tentang ramai atau sepi.
Tapi tentang ketulusan.
Kamu bisa sholat di masjid yang penuh jamaah.
Tapi kalau hatimu tidak hadir… kamu tidak berbaris.
Kamu bisa sendirian di sudut kamar.
Tapi kalau hatimu tulus… kamu sudah berbaris bersama malaikat.
š» Kebaikan yang tulus meski sendirian… lebih mulia dari kebaikan yang ramai tapi pura-pura.
Lalu As-Saffat menceritakan kisah para nabi.
Nabi Ibrahim yang siap mengorbankan Ismail.
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim), (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'"
(QS. As-Saffat: 102)
Ibrahim diperintahkan menyembelih anaknya.
Perintah yang sangat berat.
Perintah yang tidak masuk akal.
Perintah yang… hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar tulus pada Allah.
Dan Ibrahim taat.
Bukan karena dia tidak sayang pada Ismail.
Tapi karena dia lebih sayang pada Allah.
Dan Ismail?
Dia rela.
Bukan karena dia tidak takut mati.
Tapi karena dia percaya… bahwa perintah Allah pasti ada hikmahnya.
Lalu saat pisau sudah di atas leher Ismail…
Allah hentikan.
"Dan Kami tebus dia dengan seekor sembelihan yang besar."
(QS. As-Saffat: 107)
Allah ganti Ismail dengan seekor domba.
Karena ujian itu bukan untuk melihat apakah Ibrahim benar-benar menyembelih.
Tapi untuk melihat… seberapa tulus Ibrahim pada Allah.
Dan Ibrahim lulus.
š» Ujian bukan tentang hasilnya… tapi tentang ketulusan hatimu saat menjalaninya.
Ini adalah cerminan kehidupan kita.
Kadang Allah minta kamu meninggalkan sesuatu yang sangat kamu sayang.
Pekerjaan yang haram tapi menghasilkan.
Hubungan yang toxic tapi nyaman.
Kebiasaan buruk yang sudah jadi bagian dari hidupmu.
Dan kamu berpikir… "Apa aku sanggup?"
Sahabat…
Ibrahim juga berpikir begitu.
Tapi dia tetap taat.
Dan Allah ganti apa yang dia korbankan… dengan yang lebih baik.
Begitu juga denganmu.
Saat kamu rela meninggalkan sesuatu untuk Allah…
Allah akan ganti dengan yang lebih baik.
Mungkin bukan hari ini.
Mungkin bukan besok.
Tapi pasti.
š» Apa yang kamu korbankan untuk Allah… tidak akan pernah sia-sia.
Lalu As-Saffat menceritakan Nabi Yunus.
Yang lari dari tugasnya.
"Dan sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika dia lari menuju kapal yang penuh muatan. Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang yang kalah dalam undian. Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan dia tercela."
(QS. As-Saffat: 139-142)
Yunus lari.
Dia lelah berdakwah pada kaumnya yang tidak mau mendengar.
Dia merasa tidak ada gunanya lagi.
Dia… menyerah.
Lalu dia ditelan ikan.
Di dalam perut ikan yang gelap.
Sendirian.
Tanpa cahaya.
Dan di sana… dia bertasbih.
"Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih), niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan sampai hari (manusia) dibangkitkan."
(QS. As-Saffat: 143-144)
Dia bertasbih.
Di tempat yang paling gelap.
Di saat paling sendirian.
Di kondisi paling tidak mungkin.
Dan Allah selamatkan dia.
Ini adalah pelajaran.
Bahwa saat kamu merasa di titik paling rendah…
Saat kamu merasa di "perut ikan" kehidupanmu…
Saat semua terasa gelap dan sesak…
Bertasbihlah.
Ingatlah Allah.
Karena di kegelapan itulah… Allah paling dekat mendengarmu.
š» Di "perut ikan" kehidupanmu… Allah mendengar tasbihmu lebih jelas dari apapun.
Sahabat…
As-Saffat mengajarkan kita tentang berbaris.
Berbaris dalam kebaikan.
Berbaris dalam ketaatan.
Berbaris… untuk Allah.
Dan hari ini, mungkin kamu merasa sendirian.
Sendirian dalam menegakkan sholat.
Sendirian dalam meninggalkan maksiat.
Sendirian dalam memilih jalan yang benar.
Tapi ingatlah…
Kamu tidak sendirian.
Ada malaikat yang berbaris bersamamu.
Ada Allah yang melihatmu.
Ada Ibrahim yang pernah berdiri sendirian… dan Allah muliakan dia.
Jadi, jangan menyerah.
Jangan merasa salah karena kamu berbeda.
Jangan merasa bodoh karena kamu memilih yang benar.
Karena berbaris untuk Allah… tidak butuh kerumunan.
Cukup satu hati yang tulus.
Cukup satu langkah yang istiqomah.
Cukup satu keyakinan… bahwa Allah melihat.
š» Berbaris untuk Allah tidak perlu ramai… cukup tulus, meski sendirian.
Dan percayalah…
Suatu hari nanti…
Saat semua orang berkumpul di hari kiamat…
Kamu yang hari ini berbaris sendirian untuk Allah…
Akan berbaris di barisan terdepan.
Bersama para nabi.
Bersama para malaikat.
Bersama orang-orang yang… memilih taat meski harus sendirian.
Karena As-Saffat mengajarkan…
Bahwa barisan terbaik bukan yang paling ramai.
Tapi yang paling tulus.
Bukan yang paling terlihat.
Tapi yang paling ikhlas.
Bukan yang paling banyak tepuk tangannya.
Tapi yang paling banyak… ridha Allah di dalamnya.
Jadi, teruslah berbaris.
Meski sendirian.
Meski tidak ada yang mendukung.
Meski tidak ada yang melihat.
Karena Allah melihat.
Dan barisan untuk Allah…
Tidak akan pernah sia-sia.
Tidak pernah.
"Berbaris untuk Allah meski sendirian… lebih mulia dari berbaris bersama ribuan orang tapi tanpa ketulusan."
Komentar
Posting Komentar