š» Nasihat yang mengubah bukan yang paling keras… tapi yang paling tulus.
Luqman adalah seorang hamba yang Allah beri hikmah.
Bukan nabi.
Bukan raja.
Hanya hamba biasa.
Tapi Allah abadikan nasihatnya dalam Al-Qur'an.
Kenapa?
Karena nasihatnya… keluar dari hati yang penuh kasih sayang.
Dia tidak menasihati untuk terlihat hebat.
Dia tidak menasihati untuk menunjukkan bahwa dia lebih baik.
Dia menasihati… karena dia sayang.
Dan nasihat pertamanya pada anaknya adalah:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'"
(QS. Luqman: 13)
Wahai anakku.
Bukan "Kamu harus begini!"
Bukan "Kenapa kamu tidak begitu!"
Tapi… "Wahai anakku."
Lembut.
Penuh kasih.
š» Nasihat dimulai dari panggilan yang lembut… bukan teriakan yang menyakiti.
Lalu dia berbicara tentang tauhid.
Jangan mempersekutukan Allah.
Ini adalah nasihat terpenting.
Karena tauhid adalah fondasi.
Fondasi iman.
Fondasi hidup.
Fondasi semua kebaikan.
Tanpa tauhid…
Semua yang kamu bangun akan rapuh.
Kamu bisa punya harta.
Tapi tidak tenang.
Kamu bisa punya jabatan.
Tapi tidak bahagia.
Kamu bisa punya banyak orang di sekitarmu.
Tapi tetap merasa sendirian.
Karena hatimu tidak bersandar pada Allah.
Dan tahukah kamu apa yang dimaksud dengan syirik?
Syirik bukan hanya menyembah berhala.
Syirik adalah… menjadikan sesuatu lebih penting dari Allah.
Saat kamu lebih takut pada manusia daripada pada Allah… itu syirik.
Saat kamu lebih mengharap pada manusia daripada pada Allah… itu syirik.
Saat kamu lebih cinta pada dunia daripada pada Allah… itu syirik.
Jadi, periksa hatimu.
Apa yang paling kamu takuti?
Apa yang paling kamu harapkan?
Apa yang paling kamu cintai?
Karena di situlah… letak tauhidmu.
š» Tauhid bukan hanya tentang tidak menyembah berhala… tapi tentang menempatkan Allah di atas segalanya.
Lalu Luqman menasihati tentang orang tua.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."
(QS. Luqman: 14)
Ibumu mengandungmu… dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.
Bayangkan.
Sembilan bulan dia menahan mual.
Sembilan bulan dia menahan sakit.
Sembilan bulan dia rela tidak nyaman… demi kamu.
Lalu dia melahirkanmu… dengan nyawa sebagai taruhannya.
Dan setelah itu… dia merawatmu.
Siang dan malam.
Tanpa lelah.
Tanpa mengeluh.
Maka, bagaimana mungkin… kamu tidak berbakti padanya?
Tapi kemudian ayat selanjutnya mengingatkan:
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik."
(QS. Luqman: 15)
Ini adalah keseimbangan.
Berbakti pada orang tua itu wajib.
Tapi bukan berarti kamu taat dalam kemaksiatan.
Kalau orang tuamu menyuruhmu berbuat dosa…
Kamu tidak boleh taat.
Tapi… tetap perlakukan mereka dengan baik.
Dengan hormat.
Dengan kasih sayang.
Karena ketidaktaatan dalam dosa… bukan berarti kamu boleh durhaka.
š» Berbakti pada orang tua bukan berarti taat dalam kemaksiatan… tapi tetap memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.
Lalu Luqman berbicara tentang keadilan Allah.
"Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberikan (balasan)nya. Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti."
(QS. Luqman: 16)
Seberat biji sawi.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tapi Allah tahu.
Allah tahu setiap kebaikan kecilmu yang tidak ada yang lihat.
Allah tahu setiap air matamu yang kamu sembunyikan.
Allah tahu setiap usahamu yang tidak ada yang hargai.
Jadi, jangan pernah meremehkan kebaikan kecil.
Senyum yang kamu berikan.
Salam yang kamu ucapkan.
Doa yang kamu panjatkan untuk orang lain.
Semua dicatat.
Dan semua… akan dibalas.
š» Kebaikan sekecil apapun… tidak akan pernah sia-sia di mata Allah.
Kemudian Luqman menasihati tentang sholat dan amar ma'ruf nahi munkar.
"Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting."
(QS. Luqman: 17)
Laksanakan sholat.
Karena sholat adalah tiang agama.
Saat sholatmu tegak… hidupmu akan stabil.
Saat sholatmu khusyuk… hatimu akan tenang.
Dan ajaklah pada kebaikan.
Cegahlah dari kemungkaran.
Tapi ingat…
Bersabarlah.
Karena tidak semua orang akan menerima nasihatmu.
Tidak semua orang akan senang dengan kebaikanmu.
Tapi tetaplah berbuat baik.
Karena tugasmu bukan hasil.
Tugasmu adalah usaha.
Lalu Luqman menasihati tentang kesombongan.
"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."
(QS. Luqman: 18)
Jangan sombong.
Jangan merasa lebih baik dari orang lain.
Jangan meremehkan siapapun.
Karena sombong adalah awal dari kejatuhan.
Iblis jatuh karena sombong.
Firaun binasa karena sombong.
Jadi, rendahkan hatimu.
Karena yang tinggi di mata Allah… adalah yang paling rendah hati.
š» Sombong adalah tangga menuju kejatuhan… rendah hati adalah tangga menuju kemuliaan.
Dan nasihat terakhir…
Tentang suara.
"Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."
(QS. Luqman: 19)
Lunakkan suaramu.
Jangan berteriak-teriak.
Jangan kasar dalam bicara.
Karena suara yang lembut… lebih didengar daripada suara yang keras.
Nasihat yang disampaikan dengan lembut… lebih diterima daripada yang dibentak.
Kebenaran yang disampaikan dengan kasih sayang… lebih mengubah daripada yang disampaikan dengan amarah.
š» Suara yang paling didengar bukan yang paling keras… tapi yang paling tulus.
Sahabat…
Surat Luqman mengajarkan kita tentang nasihat.
Nasihat yang keluar dari hati yang tulus.
Nasihat yang disampaikan dengan lembut.
Nasihat yang mengubah… bukan yang menyakiti.
Dan hari ini, mungkin kamu adalah Luqman untuk seseorang.
Untuk anakmu.
Untuk adikmu.
Untuk temanmu.
Maka nasihatilah… dengan kasih sayang.
Bukan dengan penghakiman.
Bukan dengan kesombongan.
Bukan dengan amarah.
Karena nasihat yang mengubah… datang dari hati yang sayang.
Dan mungkin kamu juga adalah anak Luqman.
Yang sedang dinasihati.
Maka terimalah nasihat itu… dengan hati yang terbuka.
Jangan defensif.
Jangan merasa diserang.
Karena orang yang menasihatimu… mungkin sayang padamu.
Mungkin tidak sempurna caranya.
Tapi niatnya… tulus.
Karena surat Luqman mengajarkan…
Bahwa nasihat sejati bukan yang paling pintar.
Tapi yang paling tulus.
Bukan yang paling keras.
Tapi yang paling lembut.
Dan bukan yang membuat kamu merasa kecil…
Tapi yang mengangkatmu untuk jadi lebih baik.
"Nasihat terbaik bukan yang paling keras… tapi yang keluar dari hati yang paling tulus menyayangimu."
Komentar
Posting Komentar