š» Allah tidak mengabaikan yang kecil… maka jangan kamu abaikan sesama yang terlihat lemah.
An-Naml menceritakan kisah Nabi Sulaiman.
Raja yang sangat berkuasa.
Dia punya pasukan jin.
Dia punya pasukan manusia.
Dia punya pasukan burung.
Dia bisa memahami bahasa binatang.
Dan suatu hari…
Saat pasukan Sulaiman sedang berbaris megah…
Ada seekor semut yang berbicara.
"Sehingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, 'Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan pasukannya, sedangkan mereka tidak menyadari.'"
(QS. An-Naml: 18)
Seekor semut.
Kecil.
Lemah.
Mudah terabaikan.
Tapi dia peduli.
Dia memperingatkan semut-semut lain.
Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Dia memikirkan… keselamatan komunitasnya.
š» Kepedulian bukan tentang seberapa besar kamu… tapi seberapa besar hatimu.
Dan yang lebih indah lagi…
Sulaiman mendengar.
"Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu."
(QS. An-Naml: 19)
Sulaiman tersenyum.
Bukan karena meremehkan.
Tapi karena kagum.
Dia, seorang raja yang sangat berkuasa…
Tetap peduli pada suara seekor semut.
Dia tidak merasa terlalu besar untuk mendengarkan yang kecil.
Dia tidak merasa terlalu sibuk untuk memperhatikan yang lemah.
Dan ini adalah pelajaran terbesar.
Bahwa kebesaran sejati bukan tentang kekuasaan.
Kebesaran sejati adalah… kepedulian.
Peduli pada yang kecil.
Peduli pada yang lemah.
Peduli pada yang sering diabaikan.
Ini adalah cerminan kehidupan kita.
Kadang, kita merasa terlalu penting untuk peduli pada hal-hal kecil.
Terlalu sibuk untuk menyapa tetangga.
Terlalu tinggi untuk tersenyum pada petugas kebersihan.
Terlalu besar untuk mendengarkan keluhan anak kecil.
Padahal… kepedulian pada hal kecil itulah yang membuat hidup bermakna.
Karena kadang, hal kecil yang kamu abaikan…
Adalah hal besar bagi orang lain.
š» Hal kecil yang kamu abaikan… bisa jadi adalah dunia bagi orang lain.
Lalu An-Naml menceritakan tentang burung Hud-hud.
Burung kecil yang menjadi utusan Sulaiman.
Suatu hari, Hud-hud tidak ada di barisan.
Sulaiman mencarinya.
"Lalu dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung seraya berkata, 'Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?'"
(QS. An-Naml: 20)
Sulaiman menyadari ketidakhadiran seekor burung.
Di antara ribuan pasukan…
Dia tahu ada satu yang tidak hadir.
Ini adalah kepedulian.
Kepedulian yang memperhatikan setiap individu.
Tidak peduli sekecil apapun.
Dan saat Hud-hud datang…
Dia membawa kabar penting.
Kabar tentang Ratu Balqis dan kaumnya yang menyembah matahari.
"Dia (Hud-hud) berkata, 'Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui; dan kubawa kepadamu kabar penting yang benar dari negeri Saba'.'"
(QS. An-Naml: 22)
Seekor burung kecil…
Membawa informasi yang mengubah sejarah.
Ini adalah pengingat.
Bahwa jangan pernah meremehkan siapapun.
Orang yang kamu anggap kecil… bisa jadi punya informasi yang kamu butuhkan.
Orang yang kamu abaikan… bisa jadi adalah pembawa solusi.
Orang yang kamu anggap tidak penting… bisa jadi adalah penyelamatmu.
Jadi, hormatilah semua orang.
Besar atau kecil.
Kaya atau miskin.
Terkenal atau tidak.
Karena kamu tidak pernah tahu… siapa yang Allah kirimkan untuk membantumu.
š» Jangan remehkan siapapun… karena Allah bisa kirim pertolongan dari orang yang paling tidak kamu duga.
Kemudian An-Naml menceritakan tentang Ratu Balqis.
Ratu yang sangat berkuasa.
Ratu yang bijaksana.
Sulaiman mengutusnya surat.
Mengajaknya untuk beriman pada Allah.
Dan Ratu Balqis… tidak sombong.
Dia tidak merasa terlalu besar untuk mendengarkan.
Dia tidak merasa terlalu tinggi untuk menerima nasihat.
"Dia (Balqis) berkata, 'Wahai para pembesar! Berilah aku pendapat dalam urusanku (ini), aku tidak akan memutuskan suatu persoalan sebelum kamu memberikan (pendapat) kepadaku.'"
(QS. An-Naml: 32)
Dia meminta pendapat.
Meski dia ratu.
Meski dia berkuasa.
Dia tetap rendah hati.
Dan akhirnya… dia beriman.
Karena hatinya terbuka.
Karena dia tidak sombong.
Karena dia peduli pada kebenaran.
Ini adalah pelajaran tentang kerendahan hati.
Bahwa semakin tinggi kedudukanmu…
Semakin besar tanggung jawabmu untuk peduli.
Peduli pada orang-orang di sekitarmu.
Peduli pada kebenaran.
Peduli pada yang lebih besar dari dirimu sendiri.
Karena kebesaran sejati adalah… kerendahan hati.
š» Semakin tinggi kedudukanmu… semakin rendah hati kamu harus menjadi.
Sahabat…
An-Naml mengajarkan kita tentang kepedulian.
Kepedulian pada yang kecil.
Kepedulian pada yang lemah.
Kepedulian pada yang sering diabaikan.
Dan hari ini, mungkin kamu merasa…
Bahwa tidak ada yang peduli padamu.
Tidak ada yang bertanya kabarmu.
Tidak ada yang mendengar keluhanmu.
Tidak ada yang memperhatikan perjuanganmu.
Tapi ingatlah…
Allah peduli.
Allah melihat setiap air matamu.
Allah mendengar setiap doamu.
Allah tahu setiap langkahmu.
Karena Allah tidak mengabaikan yang kecil.
Bahkan seekor semut saja… Allah abadikan namanya dalam Al-Qur'an.
Apalagi kamu.
Kamu yang diciptakan dengan sempurna.
Kamu yang diberi akal dan hati.
Kamu yang… Allah cintai.
Jadi, jangan pernah merasa tidak penting.
Jangan pernah merasa tidak berarti.
Jangan pernah merasa diabaikan.
Karena di mata Allah… kamu berharga.
Sangat berharga.
Dan kalau kamu merasa tidak ada yang peduli…
Jadilah orang yang peduli.
Peduli pada orang-orang di sekitarmu.
Peduli pada yang lebih lemah.
Peduli pada yang sering diabaikan.
Karena dengan peduli…
Kamu sedang meneladani Sulaiman.
Dan dengan peduli…
Kamu sedang menjalankan sunnah semut yang Allah abadikan.
Karena An-Naml mengajarkan…
Bahwa kepedulian pada yang kecil… adalah tanda kebesaran jiwa.
Dan kebesaran jiwa itulah…
Yang akan membuatmu dicintai Allah.
Yang akan membuatmu diberkahi hidup.
Yang akan membuatmu… dihormati bahkan oleh langit dan bumi.
Seperti Sulaiman.
Seperti semut yang Allah abadikan.
"Jangan abaikan yang kecil… karena Allah tidak pernah mengabaikanmu meski kamu merasa paling kecil sekalipun."
Komentar
Posting Komentar