š» Allah tidak memilih yang sempurna… Allah memilih yang tulus.
Asy-Syu'ara menceritakan kisah Musa.
Musa yang dipanggil Allah untuk menghadapi Firaun.
Tapi Musa takut.
"Dia (Musa) berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang manusia dari mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataanku), sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakan aku.'"
(QS. Asy-Syu'ara: 14-15)
Musa mengakui kelemahannya.
Dia tidak fasih.
Dia gagap.
Dia punya masa lalu yang kelam.
Dan dia takut… tidak akan dipercaya.
Tapi tahukah kamu apa yang Allah jawab?
Allah tidak bilang, "Kamu harus sempurna dulu."
Allah tidak bilang, "Perbaiki bicaramu dulu."
Allah bilang:
"(Allah) berfirman, 'Jangan takut, sesungguhnya Aku bersama kalian, Aku mendengar dan melihat.'"
(QS. Asy-Syu'ara: 15)
Aku bersama kalian.
Itulah yang penting.
Bukan seberapa sempurna kamu.
Tapi seberapa dekat kamu dengan Allah.
š» Kamu tidak perlu sempurna untuk melakukan yang benar… kamu hanya perlu Allah di pihakmu.
Lalu Musa pergi bersama Harun.
Menghadapi Firaun.
Raja yang paling berkuasa.
Raja yang mengaku tuhan.
Dan saat Musa menyampaikan risalah Allah…
Firaun meremehkan.
"Firaun berkata, 'Apakah Tuhan semesta alam itu?' (Musa) menjawab, 'Tuhan Pemilik langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu meyakini.'"
(QS. Asy-Syu'ara: 23-24)
Musa tidak gentar.
Meski dia gagap.
Meski dia tidak fasih.
Meski dia menghadapi raja paling berkuasa.
Dia tetap bicara.
Karena dia tahu… yang dia sampaikan bukan kata-katanya.
Tapi firman Allah.
Dan firman Allah… tidak butuh kepintaran manusia untuk berkuasa.
Ini adalah pelajaran.
Bahwa saat kamu berbicara kebenaran…
Jangan khawatir dengan kemampuanmu.
Yang penting adalah… ketulusan hatimu.
Karena kebenaran itu kuat.
Kebenaran tidak butuh kata-kata indah untuk meyakinkan.
Kebenaran cukup disampaikan dengan tulus… dan dia akan menemukan jalannya sendiri.
š» Kebenaran yang disampaikan dengan tulus… lebih kuat dari kebohongan yang disampaikan dengan fasih.
Lalu Allah menceritakan kisah para nabi yang lain.
Nabi Nuh.
Nabi Hud.
Nabi Saleh.
Nabi Luth.
Nabi Syu'aib.
Semua punya kesamaan.
Mereka ditolak oleh kaumnya.
"Maka mereka mendustakannya, lalu Kami binasakan mereka. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman."
(QS. Asy-Syu'ara: 139)
Mereka berbicara kebenaran.
Tapi ditolak.
Bukan karena mereka salah.
Tapi karena kaumnya tidak mau mendengar.
Dan ini adalah kenyataan.
Bahwa kadang, kamu bisa bicara dengan sebenar-benarnya…
Tapi tetap saja tidak didengarkan.
Bukan karena kamu tidak cukup baik menyampaikan.
Tapi karena mereka tidak mau menerima.
Jadi, jangan patah semangat.
Jangan berhenti berbicara kebenaran… hanya karena tidak ada yang mendengarkan.
Karena tugasmu bukan membuat semua orang percaya.
Tugasmu hanya menyampaikan.
Hasilnya… serahkan pada Allah.
š» Kamu tidak bertanggung jawab atas hati mereka yang menolak… kamu hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan.
Di akhir surat…
Allah berbicara tentang para penyair.
"Dan para penyair, yang mengikuti mereka ialah orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah (khayalan), dan sesungguhnya mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan."
(QS. Asy-Syu'ara: 224-226)
Ini adalah kritik.
Kritik untuk orang-orang yang pandai bicara…
Tapi tidak mengamalkan apa yang mereka katakan.
Mereka fasih.
Mereka pintar.
Tapi hanya di lisan.
Di hati… kosong.
Dan Allah tidak menyukai itu.
Karena yang Allah lihat bukan kepintaran bicaramu.
Tapi keselarasan antara perkataanmu… dan perbuatanmu.
Jadi, jangan hanya jadi orang yang pandai bicara.
Jadilah orang yang mengamalkan apa yang kamu katakan.
Karena kata-kata tanpa perbuatan… hanyalah angin.
Tapi perbuatan yang didasari ketulusan… akan berbicara lebih keras dari kata-kata manapun.
š» Jangan hanya pandai bicara… tapi amalkanlah apa yang kamu katakan.
Sahabat…
Asy-Syu'ara mengajarkan kita tentang berbicara.
Berbicara bukan tentang seberapa fasih.
Berbicara tentang seberapa tulus.
Dan hari ini, kamu mungkin merasa…
Bahwa kamu tidak cukup pintar untuk berbicara kebenaran.
Kamu merasa lisanmu tidak cukup fasih.
Kamu merasa kata-katamu tidak cukup indah.
Kamu merasa… tidak layak.
Tapi ingatlah Musa.
Dia juga gagap.
Dia juga tidak fasih.
Tapi Allah tetap mengutusnya.
Karena yang Allah butuhkan bukan kesempurnaan.
Allah butuh ketulusan.
Jadi, jangan takut berbicara kebenaran.
Jangan takut menyampaikan yang benar… meski kamu merasa tidak sempurna.
Karena Allah bersama orang-orang yang tulus.
Allah akan kuatkan lisanmu.
Allah akan lapangkan dadamu.
Allah akan berikan kata-kata yang tepat… di saat yang tepat.
Asalkan… kamu tulus.
Dan percayalah…
Ketulusan itu lebih kuat dari kefasihan.
Kebenaran yang disampaikan dengan terbata-bata tapi tulus…
Lebih menyentuh hati daripada kebohongan yang disampaikan dengan indah.
Karena hati… tidak mendengar kata-kata.
Hati mendengar ketulusan.
Dan saat kamu tulus…
Hati orang lain akan merasakan.
Meski lisanmu tidak sempurna.
Meski kata-katamu sederhana.
Ketulusan itu… akan sampai.
Jadi, teruslah berbicara kebenaran.
Dengan cara yang kamu punya.
Dengan kata-kata yang kamu mampu.
Dengan ketulusan yang Allah titipkan di hatimu.
Karena Asy-Syu'ara mengajarkan…
Bahwa yang penting bukan seberapa fasih kamu bicara.
Tapi seberapa tulus… kamu menyampaikan.
Dan Allah… tidak akan pernah menyia-nyiakan ketulusan hamba-Nya.
Tidak pernah.
"Kamu tidak perlu fasih untuk menyampaikan kebenaran… kamu hanya perlu tulus, dan Allah akan bicara melalui hatimu."
Komentar
Posting Komentar