š» Cahaya terbesar bukan yang menerangi dunia… tapi yang menerangi hatimu di tengah kegelapan.
An-Nur turun dalam konteks yang sangat berat.
Fitnah terhadap Aisyah, istri Rasulullah.
Fitnah yang mengguncang.
Fitnah yang menyakitkan.
Fitnah yang membuat seluruh Madinah berbicara.
Aisyah dituduh berbuat zina.
Padahal dia tidak bersalah.
Tapi orang-orang munafik menyebarkan fitnah itu.
Satu mulut ke mulut lain.
Sampai menjadi besar.
Dan Aisyah… hanya bisa menangis.
Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Dia tidak tahu siapa yang percaya padanya.
Bahkan Rasulullah… sempat diam karena belum ada wahyu.
Selama sebulan.
Sebulan yang terasa seperti bertahun-tahun.
š» Kadang Allah mendiamkan fitnah… bukan karena Dia tidak peduli, tapi karena Dia sedang menyiapkan pembelaan yang sempurna.
Lalu turunlah An-Nur.
Allah sendiri yang turun tangan.
Allah yang membela Aisyah.
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong (fitnah) itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa (kejadian) itu buruk bagimu, bahkan itu baik bagimu."
(QS. An-Nur: 11)
Itu baik bagimu.
Fitnah itu… baik?
Ya.
Karena dari fitnah itu…
Allah tunjukkan siapa yang benar-benar mencintaimu.
Allah tunjukkan siapa yang akan bertahan di sampingmu.
Allah tunjukkan… kekuatan imanmu sendiri.
Dan yang paling penting…
Allah tunjukkan bahwa Dia… selalu membela yang benar.
Ini adalah pelajaran.
Bahwa saat kamu difitnah…
Jangan buru-buru membela diri.
Diamlah.
Biarkan Allah yang membela.
Karena pembelaan manusia… terbatas.
Tapi pembelaan Allah… sempurna.
Manusia bisa melupakan.
Tapi Allah… abadi.
Dan saat Allah yang membela…
Tidak ada yang bisa menjatuhkanmu.
š» Kamu tidak perlu membela diri pada semua orang… cukup Allah yang tahu kebenaranmu.
Lalu Allah memberikan peringatan keras pada orang-orang yang menyebarkan fitnah.
"Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar perbuatan keji tersiar (di kalangan) orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat."
(QS. An-Nur: 19)
Azab yang pedih.
Di dunia dan akhirat.
Karena fitnah itu bukan main-main.
Fitnah bisa membunuh tanpa darah.
Fitnah bisa menghancurkan tanpa senjata.
Fitnah bisa merenggut nyawa… tanpa menyentuh tubuh.
Jadi, jangan pernah… menyebarkan fitnah.
Jangan pernah… membicarakan orang lain tanpa tahu kebenarannya.
Karena setiap kata yang kamu ucapkan…
Akan dimintai pertanggungjawabannya.
Kemudian Allah berbicara tentang cahaya.
Ayat yang sangat indah.
"Allah (pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya."
(QS. An-Nur: 35)
Cahaya di atas cahaya.
Allah adalah cahaya.
Cahaya yang menerangi langit dan bumi.
Cahaya yang menerangi hatimu.
Cahaya yang… tidak pernah padam.
š» Selama Allah ada dalam hatimu… tidak ada kegelapan yang bisa mematikan cahayamu.
Dan cahaya itu ada di dalam dirimu.
Bukan di luar.
Kamu tidak perlu mencari cahaya dari pujian orang.
Kamu tidak perlu mencari cahaya dari pengakuan dunia.
Cahaya itu… sudah ada.
Di dalam hatimu.
Cahaya iman.
Cahaya kebaikan.
Cahaya ketulusan.
Selama kamu jaga cahaya itu…
Tidak ada kegelapan yang bisa mengalahkanmu.
Tidak ada fitnah yang bisa mematikanmu.
Tidak ada prasangka yang bisa menghancurkanmu.
Karena cahaya Allah… lebih terang dari semua kegelapan dunia.
Lalu Allah memberikan panduan.
Tentang bagaimana menjaga cahaya itu tetap menyala.
Dengan menjaga pandangan.
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya."
(QS. An-Nur: 30)
Jaga pandangan.
Bukan hanya mata.
Tapi juga hati.
Jangan lihat yang haram.
Jangan lihat dengan prasangka buruk.
Jangan lihat orang lain dengan dengki.
Karena pandangan… adalah pintu masuk cahaya atau kegelapan.
Kalau kamu jaga pandanganmu…
Cahaya akan masuk.
Kalau kamu biarkan pandanganmu liar…
Kegelapan yang akan menguasai.
š» Jaga matamu… karena dari sanalah hatimu tercemar atau tetap bersih.
Dan Allah juga perintahkan untuk menjaga kehormatan.
Kehormatan diri.
Kehormatan keluarga.
Kehormatan rumah.
"Dan janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya."
(QS. An-Nur: 27)
Minta izin.
Hormati privasi.
Jaga batasan.
Karena kehormatan adalah cahaya.
Saat kamu jaga kehormatanmu…
Kamu sedang menjaga cahayamu.
Saat kamu jaga kehormatan orang lain…
Kamu sedang menerangi dunia.
Sahabat…
An-Nur mengajarkan kita tentang cahaya.
Cahaya yang tidak pernah padam.
Cahaya yang tetap menyala… meski dunia mencoba memadamkannya.
Dan hari ini, kamu mungkin merasa gelap.
Gelap karena difitnah.
Gelap karena disalahpahami.
Gelap karena tidak ada yang percaya padamu.
Tapi ingatlah…
Cahaya itu masih ada.
Cahaya itu ada di dalam hatimu.
Selama kamu tetap dekat dengan Allah…
Selama kamu tetap jaga kehormatanmu…
Selama kamu tetap berbuat baik…
Cahaya itu tidak akan pernah padam.
Dan suatu hari nanti…
Saat semua kegelapan berlalu…
Orang-orang akan melihat cahayamu.
Cahaya yang tetap menyala meski dihujani fitnah.
Cahaya yang tetap terang meski dihakimi.
Cahaya yang tetap indah… meski dunia mencoba merusaknya.
Dan mereka akan tahu…
Bahwa kamu bukan yang mereka kira.
Bahwa kamu… adalah cahaya.
Cahaya yang Allah jaga.
Cahaya yang Allah lindungi.
Cahaya yang Allah… muliakan.
Jadi, jangan biarkan fitnah memadamkan cahayamu.
Jangan biarkan prasangka buruk membuat hatimu gelap.
Jangan biarkan kegelapan dunia… mencuri cahaya yang Allah titipkan di dalam dirimu.
Karena An-Nur mengajarkan…
Bahwa cahaya sejati bukan yang bersinar di luar.
Tapi cahaya yang tetap menyala… di dalam hati yang bersih.
Dan kamu…
Punya cahaya itu.
Cahaya yang Allah berikan.
Cahaya yang tidak akan pernah padam.
Selama kamu… tetap bersama Allah.
"Cahaya dalam hatimu tidak akan pernah padam… selama Allah yang menjaganya, meski seluruh dunia mencoba memadamkannya."
Komentar
Posting Komentar