"Pernahkah kamu merasa kosong… meski sudah membaca Al-Fatihah puluhan kali sehari?"
BAB 1 - KETIKA AL-FATIHAH BUKAN LAGI SEKADAR BACAAN
Kamu tahu nggak…
Kadang, kita baca Al-Fatihah cuma karena sudah kebiasaan.
Di setiap rakaat.
Di setiap sholat.
Sampai mungkin kita lupa… kalau di balik tujuh ayat itu, Allah sedang melatih kita berbicara dengan-Nya.
Ya.
Al-Fatihah bukan sekadar bacaan pembuka.
Dia adalah doa.
Dia adalah percakapan.
Dia adalah pembelajaran tentang bagaimana seharusnya kita berdiri di hadapan Sang Pemilik hidup.
Dan mungkin… selama ini kita tidak pernah benar-benar hadir saat membacanya.
š» Kamu sedang belajar berbicara dengan Allah.
Coba bayangkan.
Saat kamu membaca "Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin"…
Kamu sedang memuji Allah, Rabb semesta alam.
Bukan hanya Rabb-mu.
Tapi Rabb seluruh alam.
Allah yang mengatur matahari terbit dan terbenam.
Yang membuat hatimu masih berdetak meski kamu lelah.
Yang masih memberimu nafas… meski kamu sering lupa bersyukur.
Dan saat kamu sadar akan kebesaran-Nya yang seperti itu…
Rasanya, semua beban di pundakmu jadi kecil.
Karena kamu bukan sendirian.
Kamu punya Rabb yang Maha Mengatur.
Lalu kamu melanjutkan…
"Ar-Rahmaanir-Rahiim."
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dan di sinilah kadang hati kita gemetar.
Karena kita sadar… betapa banyak kita mengecewakan-Nya.
Betapa sering kita menunda sholat.
Betapa berat kita bangun untuk tahajud.
Betapa lemah kita di hadapan dunia.
Tapi Allah tetap menyebut diri-Nya Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Dua sifat yang mengingatkan kita:
Bahwa sebesar apapun dosamu, kasih sayang Allah lebih besar.
Seberat apapun lukamu, pelukan Allah lebih hangat.
š» Allah tidak pernah menutup pintu untukmu.
Kemudian kamu membaca…
"Maaliki yaumiddiin."
Pemilik hari pembalasan.
Dan tiba-tiba, kamu ingat.
Bahwa hidup ini tidak selamanya.
Bahwa semua yang kita kejar hari ini… akan ditinggalkan.
Bahwa kelak, kita akan berdiri sendirian di hadapan-Nya.
Tidak ada gelar.
Tidak ada harta.
Tidak ada popularitas.
Yang ada hanya amal.
Dan saat kamu merenungkan ayat ini…
Kamu jadi paham, kenapa Allah menyebutkan sifat ini tepat setelah Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Karena keadilan Allah selalu berjalan beriringan dengan kasih sayang-Nya.
Dia tidak akan menzalimimu.
Dia tidak akan melupakanmu.
Dia akan membalas setiap air matamu, setiap langkahmu, setiap usahamu.
Meskipun dunia tidak adil… Allah pasti adil.
Dan kemudian, di tengah ayat itu…
Kamu sampai pada inti dari segala sesuatu.
"Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin."
Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Ini adalah pengakuan.
Bahwa kita tidak bisa apa-apa tanpa Allah.
Bahwa kita lemah.
Bahwa kita butuh.
Bahwa kita rapuh.
Dan justru di sinilah kekuatan sejati berada.
Karena saat kamu sadar bahwa kamu lemah…
Kamu tidak akan sombong.
Saat kamu tahu bahwa kamu butuh Allah…
Kamu tidak akan bergantung pada manusia yang sama lemahnya denganmu.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."
(QS. At-Talaq: 2-3)
Jalan keluar itu bukan datang dari manusia.
Rezeki itu bukan hanya dari tangan bos atau atasan.
Semuanya dari Allah.
Dan saat kamu benar-benar yakin dengan ini…
Kamu akan tenang.
Meski hidup terasa berat, kamu tahu ada yang memegang kendali.
š» Kamu tidak butuh dunia… kamu butuh ridha Allah.
Lalu kamu melanjutkan dengan penuh harap…
"Ihdinash-shiraathal mustaqiim."
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Dan ini adalah doa paling jujur yang pernah ada.
Karena kita sadar…
Kita sering tersesat.
Tersesat di antara pilihan dunia dan akhirat.
Tersesat di antara nafsu dan ketakwaan.
Tersesat di antara ego dan keikhlasan.
Dan setiap hari, kita butuh petunjuk.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Tapi terus-menerus.
Karena hidup ini penuh tikungan.
Penuh ujian.
Penuh godaan yang membuat kita hampir lupa… untuk apa kita diciptakan.
Maka kamu memohon pada Allah…
Tunjukkan aku jalan-Mu, ya Allah.
Jangan biarkan aku tersesat.
Jangan biarkan hatiku condong pada yang batil.
Dan di ayat terakhir…
Kamu diingatkan lagi.
"Shiraathal-ladziina an'amta 'alaihim ghairil-maghdhuubi 'alaihim wa ladh-dhaallliin."
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Allah menunjukkan pada kita contoh nyata.
Jalan para nabi.
Jalan para sahabat.
Jalan orang-orang yang ikhlas, yang sabar, yang taat meski dunia menentang mereka.
Dan Allah juga mengingatkan…
Ada jalan yang harus kita hindari.
Jalan orang-orang yang tahu kebenaran, tapi menolaknya.
Jalan orang-orang yang hidup tanpa pedoman.
Dan di sinilah kamu diajak untuk memilih.
Karena hidup ini adalah pilihan.
Setiap hari, kamu memilih:
Mau jadi siapa.
Mau ke mana.
Mau seperti apa.
Dan Al-Fatihah… adalah kompas yang Allah berikan supaya kamu tidak tersesat.
š» Setiap kali kamu baca Al-Fatihah, kamu sedang pulang.
Sahabat…
Al-Fatihah itu bukan sekadar ayat hafalan.
Dia adalah peta hidupmu.
Dia adalah doa yang mengajarkanmu bagaimana seharusnya kamu berdiri di dunia ini.
Dengan memuji Allah.
Dengan mengakui kelemahan.
Dengan memohon petunjuk.
Dengan memilih jalan yang benar.
Dan kalau kamu merasa hidupmu berantakan…
Kalau kamu merasa tidak tahu harus kemana…
Kalau kamu merasa sendirian…
Bacalah Al-Fatihah dengan hati yang hadir.
Jangan hanya bibirmu yang bergerak.
Tapi biarkan hatimu yang berbicara.
Karena Allah tidak butuh bacaanmu yang cepat.
Allah butuh kehadiranmu.
Dan saat kamu hadir…
Saat kamu benar-benar merasakan setiap ayatnya…
Kamu akan menemukan kedamaian yang selama ini kamu cari.
Karena di dalam Al-Fatihah, ada Allah yang menjawab.
"Al-Fatihah bukan sekadar ayat pembuka sholat. Dia adalah pembuka hati… yang ingin kembali pada-Nya."

Komentar
Posting Komentar