BAB 1.1. MELAMPAUI ANGKA: KETIKA HATI BERTANYA ARTI CUKUP
"Kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi kita mendaki tangga, melainkan apakah tangga itu bersandar pada dinding yang tepat."
Kisah Seorang Pemenang yang Merasa Kalah
Pagi itu, Raditya—bukan nama sebenarnya—duduk di ruang kerjanya yang megah di lantai 28 sebuah gedung pencakar langit di Sudirman. Di usia 38 tahun, ia telah mencapai apa yang dianggap banyak orang sebagai puncak kesuksesan: direktur utama perusahaan teknologi dengan valuasi triliunan rupiah, rumah di tiga negara, koleksi jam tangan yang nilainya setara dengan harga rumah mewah. Namun, ketika asistennya bertanya tentang liburan keluarga yang tertunda lagi, ia hanya tersenyum getir. "Minggu depan ada investor meeting (pertemuan investor) penting," ujarnya. Anaknya yang berusia 7 tahun sudah lupa terakhir kali ayahnya mengantar ke sekolah.
Cerita Raditya bukan pengecualian. Di seluruh Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota besar Indonesia, narasi serupa terulang seperti loop (putaran) tanpa akhir. Kita hidup dalam era di mana definisi kesuksesan telah direduksi menjadi angka-angka: berapa digit penghasilan, berapa meter persegi rumah, berapa followers (pengikut) di media sosial. Namun, di balik gemerlap pencapaian material itu, sebuah pertanyaan eksistensial mulai menggema: untuk apa semua ini jika hati tetap gelisah dan jiwa terus kehausan?
Evolusi Makna Sukses: Dari Survival hingga Self-Actualization
Untuk memahami krisis kontemporer ini, kita perlu menelusuri bagaimana konsep kesuksesan berevolusi sepanjang sejarah. Dalam masyarakat agraris pramodern, kesuksesan diukur dari kemampuan bertahan hidup—panen yang melimpah, ternak yang berkembang biak, keturunan yang sehat. Filosofi Jawa klasik merumuskannya dalam konsep cukup (secukupnya): memiliki sandang, pangan, papan (pakaian, makanan, tempat tinggal) sudah dianggap sebagai pencapaian.
Revolusi Industri di abad ke-18 mengubah paradigma ini secara drastis. Seperti dicatat oleh sejarawan ekonomi Joel Mokyr dalam The Enlightened Economy (2009), industrialisasi menciptakan sistem baru di mana kesuksesan diukur dari akumulasi kapital dan mobilitas sosial vertikal. Mimpi Amerika—American Dream—yang dipopulerkan pada awal abad ke-20 menjanjikan bahwa siapa pun yang bekerja keras bisa meraih kemakmuran, tidak peduli latar belakang mereka.
Di Indonesia, transformasi serupa terjadi pasca-Orde Baru. Pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menciptakan kelas menengah baru yang haus akan simbol-simbol status. Sosiolog Ariel Heryanto dalam Identity and Pleasure (2014) mengamati bagaimana konsumerisme menjadi penanda identitas dan kesuksesan di masyarakat urban Indonesia. Mobil mewah, rumah di komplek elit, pendidikan anak di sekolah internasional—semua menjadi checklist (daftar yang harus dipenuhi) kesuksesan yang harus dicentang.
Data Membongkar Ilusi: Ketika Makin Kaya, Makin Resah
Namun, data empiris mengungkap paradoks yang mengejutkan. Studi klasik dari ekonom pemenang Nobel, Daniel Kahneman dan Angus Deaton (2010) yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa kesejahteraan emosional (emotional well-being) memang meningkat seiring pendapatan, tetapi hanya sampai titik tertentu—sekitar $75.000 per tahun (setara Rp1,1 miliar). Setelah ambang batas itu, tambahan pendapatan tidak lagi memberikan peningkatan kebahagiaan yang signifikan.
Temuan ini dikonfirmasi oleh World Happiness Report 2023 yang dirilis oleh Sustainable Development Solutions Network Perserikatan Bangsa-Bangsa. Negara-negara dengan PDB per kapita tertinggi seperti Luksemburg dan Singapura tidak menempati posisi teratas dalam indeks kebahagiaan. Sebaliknya, negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Denmark, dan Islandia yang menekankan keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance), jaminan sosial yang kuat, dan kohesi komunitas justru mendominasi peringkat atas.
Di Indonesia, fenomena burnout (kelelahan fisik dan mental akibat kerja berlebihan) di kalangan profesional muda mencapai angka yang mengkhawatirkan. Survei yang dilakukan oleh Jobplanet Indonesia pada 2022 terhadap 5.000 pekerja menunjukkan bahwa 68% responden mengalami gejala burnout, dengan 42% di antaranya mempertimbangkan untuk berhenti bekerja meskipun tidak memiliki pekerjaan pengganti. Lebih memprihatinkan lagi, riset dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2021) menemukan bahwa tingkat kepuasan hidup pekerja profesional dengan penghasilan di atas Rp20 juta per bulan hanya berbeda 12% dibandingkan mereka yang berpenghasilan Rp8-12 juta per bulan.
Data dari Global Wellness Institute (2022) menunjukkan bahwa pasar industri kesehatan mental di Indonesia tumbuh 15% per tahun, mencapai nilai $2,8 miliar. Ini bukan indikator positif, melainkan alarm bahwa semakin banyak orang yang secara material mampu justru mengalami krisis kesejahteraan jiwa. Layanan konseling psikologi, aplikasi meditasi, dan wellness retreat (retret kesehatan) menjadi komoditas baru yang diburu kelas menengah atas—paradoks di mana orang mengeluarkan uang untuk "membeli" ketenangan yang seharusnya tidak perlu dibeli.
Anatomi Kesuksesan Palsu: Jebakan yang Tidak Terlihat
Mengapa ini terjadi? Psikolog sosial dari Universitas Harvard, Daniel Gilbert, dalam bukunya Stumbling on Happiness (2006) menjelaskan konsep impact bias (bias dampak)—kecenderungan manusia untuk melebih-lebihkan seberapa baik atau buruk suatu peristiwa akan membuat kita merasa di masa depan. Kita mengira bahwa rumah yang lebih besar, mobil yang lebih mewah, atau promosi jabatan akan membuat kita jauh lebih bahagia, padahal efeknya jauh lebih sementara dari yang kita bayangkan.
Fenomena ini diperparah oleh apa yang disebut ekonom Robert Frank sebagai positional goods (barang posisional)—barang dan jasa yang nilainya ditentukan oleh posisi relatif kita dibandingkan orang lain, bukan manfaat absolutnya. Apartemen di kawasan prestisius tidak memberikan tempat tinggal yang lebih fungsional dibandingkan rumah sederhana di pinggiran kota, tetapi ia memberikan status. Masalahnya, status adalah zero-sum game (permainan jumlah nol): agar saya naik, orang lain harus turun. Ini menciptakan kompetisi tanpa akhir yang menguras energi dan kebahagiaan.
Media sosial memperkuat ilusi ini secara eksponensial. Penelitian dari Journal of Social and Clinical Psychology oleh Melissa Hunt dkk. (2018) menemukan bahwa membatasi penggunaan Facebook, Instagram, dan Snapchat menjadi 10 menit per platform per hari secara signifikan mengurangi kesepian dan depresi. Platform-platform ini menciptakan apa yang disebut psikolog sosial Leon Festinger sebagai social comparison (perbandingan sosial) yang konstan—kita selalu membandingkan kehidupan kita yang biasa-biasa saja dengan sorotan terbaik dari kehidupan orang lain.
Saya pernah berbincang dengan seorang influencer (pemberi pengaruh) Instagram yang memiliki 800 ribu pengikut. "Mereka pikir hidup saya sempurna," katanya sambil menunjukkan foto liburan di Santorini yang mendapat 50 ribu likes (suka). "Mereka tidak tahu bahwa foto itu hasil dari 200 kali jepret, tiga jam editing (penyuntingan), dan saya menangis setelahnya karena merasa kehidupan saya hanya untuk konsumsi orang lain." Ini adalah simbolisme yang sempurna dari kesuksesan kontemporer: terlihat sempurna di permukaan, rapuh di dalam.
Menemukan Kompas Baru: Kesuksesan yang Bermakna
Lalu, bagaimana kita mendefinisikan ulang kesuksesan? Psikolog humanistik Abraham Maslow dalam hierarki kebutuhannya menempatkan self-actualization (aktualisasi diri) sebagai puncak kebutuhan manusia—kebutuhan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri, untuk berkontribusi secara bermakna, untuk hidup selaras dengan nilai-nilai terdalam kita. Ini bukan tentang menolak uang atau kemakmuran material, tetapi menempatkannya sebagai alat, bukan tujuan akhir.
Filsuf kontemporer Alain de Botton dalam Status Anxiety (2004) menawarkan perspektif yang mencerahkan: kita perlu memilih dengan hati-hati siapa yang kita jadikan referensi untuk mengukur kesuksesan kita. Jika kita membandingkan diri dengan miliarder atau selebritas, kita akan selalu merasa kurang. Tetapi jika kita mengukur kesuksesan berdasarkan integritas personal, kualitas hubungan, kontribusi kepada komunitas, dan pertumbuhan karakter, kita membuka kemungkinan untuk meraih kepuasan yang lebih dalam dan berkelanjutan.
Konsep kearifan lokal Indonesia sebenarnya sudah lama mengenal ini. Filosofi Jawa tentang memayu hayuning bawana (memperindah atau menyempurnakan dunia) mengajarkan bahwa kesuksesan sejati adalah ketika keberadaan kita memberikan manfaat bagi orang lain dan alam semesta. Konsep tri hita karana dari Bali—harmonisasi hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam—menawarkan framework (kerangka kerja) holistik yang jauh lebih kaya dibandingkan metrik kesuksesan yang hanya berfokus pada akumulasi material.
Ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, melalui capability approach (pendekatan kapabilitas)-nya menggeser fokus dari sekadar memiliki sumber daya ke kemampuan untuk menjalani kehidupan yang kita nilai. Bukan berapa banyak uang yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki kebebasan untuk mengejar minat kita, menjaga kesehatan, membangun hubungan yang bermakna, dan berkontribusi kepada masyarakat. Ini adalah definisi kesuksesan yang jauh lebih manusiawi.
Jalan Menuju Kesejahteraan Holistik
Mendefinisikan ulang kesuksesan bukanlah latihan intelektual semata, tetapi tindakan pembebasan. Ini dimulai dengan keberanian untuk bertanya pada diri sendiri: "Apa yang benar-benar penting bagi saya?" bukan "Apa yang seharusnya penting menurut masyarakat?"
Beberapa langkah praktis dapat kita ambil. Pertama, praktikkan value clarification (klarifikasi nilai)—identifikasi 3-5 nilai inti yang paling penting bagi Anda, entah itu keluarga, kreativitas, pelayanan, atau pertumbuhan spiritual. Jadikan ini sebagai kompas dalam setiap keputusan besar. Kedua, ciptakan metrik kesuksesan personal yang mencerminkan nilai-nilai tersebut. Alih-alih hanya melacak pendapatan atau aset, lacak juga waktu berkualitas dengan orang-orang terkasih, jam yang dihabiskan untuk kegiatan yang bermakna, atau kontribusi konkret kepada komunitas.
Ketiga, praktikkan voluntary simplicity (kesederhanaan sukarela)—bukan karena terpaksa miskin, tetapi karena memilih untuk tidak membiarkan konsumsi mendominasi hidup. Penelitian oleh Journal of Consumer Research menunjukkan bahwa orang yang secara sengaja mengurangi konsumsi material dan mengalokasikan sumber daya untuk pengalaman dan hubungan melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.
Keempat, bangun apa yang disebut psikolog positif Martin Seligman sebagai PERMA: Positive emotions (emosi positif), Engagement (keterlibatan), Relationships (hubungan), Meaning (makna), dan Accomplishment (pencapaian). Kesuksesan holistik mengintegrasikan kelima elemen ini, bukan hanya fokus pada pencapaian material semata.
Kita juga perlu mengubah percakapan kolektif tentang kesuksesan. Ketika bertemu teman lama, alih-alih bertanya "Sekarang kerja di mana?" atau "Gaji berapa?", cobalah bertanya "Apa yang membuat kamu bersemangat akhir-akhir ini?" atau "Apa yang paling bermakna dalam hidupmu sekarang?" Pertanyaan-pertanyaan ini membuka ruang untuk definisi kesuksesan yang lebih autentik dan beragam.
Perusahaan dan organisasi juga memiliki tanggung jawab. Beberapa perusahaan progresif di dunia sudah mulai mengadopsi metrik kesuksesan karyawan yang lebih holistik, tidak hanya produktivitas tetapi juga kesejahteraan mental, keseimbangan kehidupan, dan rasa tujuan. Patagonia, perusahaan pakaian outdoor asal Amerika, bahkan memasukkan "membuat produk terbaik, tidak menyebabkan kerusakan yang tidak perlu, menggunakan bisnis untuk menginspirasi dan mengimplementasikan solusi terhadap krisis lingkungan" sebagai pernyataan misi mereka—kesuksesan bisnis yang melampaui profit.
Visi Baru: Ketika Cukup Adalah Kelimpahan
Pada akhirnya, mendefinisikan ulang kesuksesan adalah tentang menemukan kembali keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah tekanan untuk menjadi orang lain. Ini tentang membangun kehidupan yang ketika kita berbaring di malam hari, kita bisa tidur nyenyak bukan karena kelelahan mengejar target yang ditetapkan orang lain, tetapi karena kepuasan menjalani hari yang selaras dengan nilai-nilai terdalam kita.
Raditya yang saya ceritakan di awal akhirnya membuat keputusan radikal. Dia mundur dari posisi direktur utama, menjual dua dari tiga rumahnya, dan memulai social enterprise (usaha sosial) yang memberikan pelatihan kewirausahaan untuk komunitas marginal. "Penghasilan saya turun 70%," katanya ketika kami berbincang setahun kemudian. "Tapi untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, saya merasa hidup saya punya arti. Anak saya tahu siapa ayahnya. Saya bangun pagi dengan semangat, bukan kecemasan."
Cerita Raditya mengingatkan kita bahwa kesuksesan sejati bukanlah destinasi yang dicapai, tetapi cara kita menjalani perjalanan. Bahwa angka di rekening mungkin bisa memberikan keamanan dan kenyamanan, tetapi tidak akan pernah bisa memberikan makna. Dan bahwa pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah "Seberapa sukses saya menurut standar dunia?" melainkan "Seberapa setia saya pada diri saya sendiri?"
Di era globalisasi yang menawarkan segala kemungkinan, kita memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab untuk mendefinisikan kesuksesan kita sendiri. Inilah fondasi sejati dari kemakmuran holistik—bukan menyangkal pentingnya materi, tetapi menempatkannya dalam perspektif yang lebih luas tentang apa artinya hidup dengan baik dan bermakna.
"Kesuksesan yang sejati adalah ketika Anda tidak lagi perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, termasuk kepada diri Anda sendiri."
DAFTAR PUSTAKA
De Botton, A. (2004). Status anxiety. London: Hamish Hamilton.
Gilbert, D. (2006). Stumbling on happiness. New York: Alfred A. Knopf.
Global Wellness Institute. (2022). Global wellness economy monitor 2022. Miami: GWI.
Heryanto, A. (2014). Identity and pleasure: The politics of Indonesian screen culture. Singapore: NUS Press.
Hunt, M. G., Marx, R., Lipson, C., & Young, J. (2018). No more FOMO: Limiting social media decreases loneliness and depression. Journal of Social and Clinical Psychology, 37(10), 751-768.
Jobplanet Indonesia. (2022). Survei kesejahteraan pekerja Indonesia 2022. Jakarta: Jobplanet.
Kahneman, D., & Deaton, A. (2010). High income improves evaluation of life but not emotional well-being. Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(38), 16489-16493.
Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370-396.
Mokyr, J. (2009). The enlightened economy: An economic history of Britain 1700-1850. New Haven: Yale University Press.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A visionary new understanding of happiness and well-being. New York: Free Press.
Sen, A. (1999). Development as freedom. Oxford: Oxford University Press.
Sustainable Development Solutions Network. (2023). World happiness report 2023. New York: United Nations.
Universitas Indonesia, Fakultas Psikologi. (2021). Studi kepuasan hidup profesional muda Indonesia. Depok: UI Press.
Komentar
Posting Komentar