BAB 3.5. EKONOMI SYUKUR: KEKAYAAN YANG TAK TERHITUNG
"Dalam hiruk-pikuk mengejar yang belum dimiliki, kita lupa menghitung berkat yang sudah menggenggam. Padahal, syukur adalah mata uang spiritual yang tidak pernah terdevaluasi—semakin banyak dikeluarkan, semakin berlimpah kembalinya."
Ketika Kelimpahan Tak Menyentuh Jiwa
Seorang eksekutif muda di Jakarta, sebut saja Dimas, duduk di mobilnya yang mewah dalam kemacetan Sudirman. Gajinya belasan juta, portofolio investasinya terus tumbuh, dan kariernya cemerlang. Namun, di tengah AC yang dingin dan jok kulit yang empuk, ia merasa hampa. Scrolling (menggulung layar) Instagram, ia melihat temannya berlibur ke Maldives, rekan kerjanya membeli rumah kedua, dan influencer yang ia ikuti memamerkan tas bermerek terbaru. "Kapan saya bisa sampai di sana?" gumamnya sambil menghela napas panjang.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter buku ini (30 Bab).
Untuk mendapatkan token, silakan traktir kopi (Rp 35.000) dan sebutkan judul bukunya.
Klik WhatsApp (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Fenomena ini bukan cerita tunggal. Di era yang paradoks ini, kita memiliki lebih banyak dari nenek moyang kita, namun merasa lebih miskin. Kita terhubung dengan jutaan orang di dunia maya, namun merasa lebih kesepian. Kita mengejar kesuksesan demi kesuksesan, namun kebahagiaan seperti cakrawala yang terus mundur setiap kali kita melangkah maju.
Inilah yang disebut para psikolog sebagai "hedonic treadmill" (treadmill hedonik)—kita berlari kencang di atas ban berjalan yang tidak pernah membawa kita ke mana-mana. Setiap pencapaian memberikan kepuasan sesaat, lalu dengan cepat menjadi normal, dan kita mulai menginginkan lebih. Lingkaran setan ini menciptakan masyarakat yang secara material semakin kaya, namun secara spiritual semakin bangkrut.
Di sinilah gratitude (rasa syukur) menawarkan jalan keluar yang revolusioner sekaligus kuno. Bukan sekadar slogan motivasi atau ritual keagamaan semata, melainkan sebuah paradigma ekonomi baru: gratitude economy (ekonomi syukur)—di mana kesejahteraan diukur bukan dari seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa dalam kita menghargai apa yang sudah ada.
Jejak Sejarah: Syukur Sebagai Kebijaksanaan Universal
Konsep syukur bukanlah temuan modern. Dalam berbagai peradaban dan tradisi spiritual, rasa terima kasih telah diakui sebagai fondasi kehidupan yang bermakna. Filsuf Romawi Marcus Aurelius dalam Meditations (170 M) menulis, "Ketika kamu bangun di pagi hari, pikirkan betapa istimewanya menjadi hidup—bernapas, berpikir, menikmati, mencintai."
Dalam tradisi Islam, syukur (shukr) adalah salah satu maqam spiritual tertinggi. Al-Quran berulang kali mengingatkan, "Dan jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu" (QS Ibrahim: 7). Bukan janji matematis sederhana, melainkan hukum spiritual yang dalam: syukur membuka mata hati untuk melihat kelimpahan yang selama ini tersembunyi.
Tradisi Buddhis mengajarkan mudita (kegembiraan empatik)—kemampuan untuk bersukacita atas keberuntungan orang lain, yang merupakan antitesis dari iri hati. Sementara dalam kearifan Jawa, ada falsafah "nrimo ing pandum" (menerima dengan lapang dada)—bukan pasrah tanpa usaha, melainkan sikap menerima dengan syukur apa yang telah diberikan sambil terus berikhtiar.
Menariknya, semua tradisi ini muncul jauh sebelum era konsumerisme modern. Namun, justru di era kelimpahan material inilah ajaran kuno tentang syukur menjadi lebih relevan dari sebelumnya. Seperti kata G.K. Chesterton, "Ketika orang berhenti percaya pada Tuhan, mereka tidak percaya pada apa-apa—mereka percaya pada apa saja." Ketika kita kehilangan kemampuan untuk bersyukur, kita menjadi budak dari keinginan yang tak pernah terpuaskan.
Data Mengungkap: Sains di Balik Syukur
Dalam dua dekade terakhir, psikologi positif telah memberikan validasi ilmiah terhadap kearifan kuno tentang syukur. Dr. Robert Emmons dari University of California, Davis, pelopor riset gratitude, dalam penelitiannya yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology (2003) menemukan bahwa orang yang secara rutin mencatat hal-hal yang mereka syukuri mengalami peningkatan signifikan dalam kebahagiaan, optimisme, dan kesehatan fisik.
Studi yang melibatkan 1.000 partisipan selama 10 minggu ini menunjukkan bahwa kelompok yang menulis gratitude journal (jurnal syukur) melaporkan 25% lebih bahagia dibandingkan kelompok kontrol. Mereka juga tidur lebih nyenyak, berolahraga lebih teratur, dan melaporkan lebih sedikit gejala penyakit fisik. "Gratitude bukan hanya perasaan baik belaka," kata Emmons, "ia secara harfiah mengubah cara otak kita bekerja."
Penelitian neurosains menggunakan fMRI (pencitraan resonansi magnetik fungsional) menunjukkan bahwa praktik syukur mengaktifkan prefrontal cortex (korteks prefrontal)—bagian otak yang terkait dengan pengambilan keputusan dan regulasi emosi—serta meningkatkan produksi dopamin dan serotonin, neurotransmiter yang terkait dengan kebahagiaan (Fox et al., 2015).
Di Indonesia, meskipun riset khusus tentang gratitude masih terbatas, data dari Badan Pusat Statistik (2022) menunjukkan paradoks menarik: provinsi-provinsi dengan GDP per kapita tertinggi tidak selalu memiliki indeks kebahagiaan tertinggi. Yogyakarta, misalnya, dengan pendapatan per kapita yang moderat, konsisten berada di peringkat atas indeks kebahagiaan nasional—mungkin tidak terlepas dari budaya "gotong royong" dan "syukuran" yang masih kuat.
Riset dari Harvard Medical School (2021) menemukan bahwa orang yang rutin mempraktikkan gratitude memiliki risiko 23% lebih rendah untuk mengalami depresi dan 30% lebih rendah untuk gangguan kecemasan. Dalam konteks pandemi yang meningkatkan angka gangguan kesehatan mental secara global—WHO melaporkan peningkatan 25% kasus depresi dan kecemasan sejak 2020—praktik sederhana seperti bersyukur menjadi intervensi yang efektif dan terjangkau.
Lebih jauh lagi, studi dari University of Pennsylvania (2019) mengungkap bahwa gratitude tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada produktivitas organisasi. Perusahaan yang membudayakan apresiasi dan rasa terima kasih memiliki tingkat employee engagement (keterlibatan karyawan) 44% lebih tinggi dan turnover (tingkat pergantian) 50% lebih rendah.
Ketika Iri Hati Menjadi Epidemi
Namun, di era media sosial, praktik syukur menjadi semakin menantang. Kita hidup dalam apa yang disebut sosiolog sebagai "comparison society" (masyarakat perbandingan). Algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan highlight reel (cuplikan terbaik) kehidupan orang lain—liburan glamor, pencapaian karier, momen bahagia—menciptakan ilusi bahwa semua orang hidup lebih baik dari kita.
Penelitian dari University of Copenhagen (2016) menemukan bahwa orang yang menghentikan penggunaan Facebook selama satu minggu melaporkan peningkatan kepuasan hidup yang signifikan. Mereka merasa lebih bahagia, lebih bersyukur, dan lebih fokus pada kehidupan mereka sendiri ketika tidak lagi terus-menerus membandingkan diri dengan kurasi kehidupan orang lain.
Saya teringat percakapan dengan seorang teman yang bekerja di industri kreatif. "Setiap hari saya lihat karya orang lain yang lebih bagus, project yang lebih besar, penghargaan yang lebih prestisius," katanya. "Saya tahu saya seharusnya bersyukur dengan apa yang saya punya, tapi rasanya sulit ketika terus-menerus disuguhi bukti bahwa saya 'kurang'."
Pengakuan jujur ini mewakili pergulatan banyak orang. Kita secara rasional tahu bahwa perbandingan adalah thief of joy (pencuri kebahagiaan), namun secara emosional sulit melepaskan diri dari jeratnya. Inilah mengapa gratitude bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan resistance (perlawanan) terhadap struktur sosial-ekonomi yang mengkommodifikasi ketidakpuasan kita.
Ekonomi konsumerisme bergantung pada penciptaan artificial scarcity (kelangkaan buatan) dan ketidakpuasan kronis. Iklan bekerja dengan membuat kita merasa tidak cukup: rumah kita tidak cukup bagus, mobil kita tidak cukup mewah, tubuh kita tidak cukup sempurna. Dalam logika ini, kepuasan adalah musuh profit. Maka, bersyukur adalah tindakan subversif—menolak untuk menjadi budak dari siklus keinginan tanpa akhir.
Praktik Syukur: Dari Ritual ke Revolusi
Lalu, bagaimana mengintegrasikan gratitude dalam kehidupan sehari-hari di tengah tuntutan modern yang keras? Berdasarkan riset dan praktik terbaik, berikut beberapa pendekatan yang terbukti efektif:
Jurnal Syukur Harian. Setiap malam sebelum tidur, tuliskan tiga hal yang Anda syukuri hari itu. Tidak perlu hal-hal besar—secangkir kopi pagi yang nikmat, percakapan bermakna dengan teman, atau sekadar cuaca yang cerah. Penelitian menunjukkan bahwa praktik ini, jika dilakukan konsisten selama 21 hari, dapat mengubah default mode (mode bawaan) otak dari mencari masalah menjadi mencari berkah (Emmons & McCullough, 2003).
Surat Terima Kasih. Tulis surat kepada seseorang yang telah berjasa dalam hidup Anda—guru, mentor, orang tua, teman—mengungkapkan apresiasi yang spesifik dan tulus. Studi dari Martin Seligman (2005) menemukan bahwa aktivitas ini memberikan boost (dorongan) kebahagiaan yang berlangsung hingga sebulan.
Gratitude Walk (Jalan Syukur). Luangkan 15 menit untuk berjalan sambil secara sadar mengamati dan menghargai lingkungan sekitar—pepohonan, langit, suara burung, wajah orang yang berpapasan. Ini adalah meditasi bergerak yang menghubungkan kita kembali dengan keajaiban kehidupan sehari-hari yang sering kita lewatkan dalam kesibukan.
Ritual Keluarga. Di meja makan, sebelum makan, ajak setiap anggota keluarga berbagi satu hal yang mereka syukuri hari itu. Ini tidak hanya membangun budaya gratitude dalam keluarga, tetapi juga memperkuat ikatan emosional melalui vulnerability (kerentanan) dan berbagi.
Digital Detox dengan Intensi. Kurangi paparan media sosial, bukan karena teknologi itu jahat, melainkan untuk melindungi ruang mental kita dari perbandingan yang konstan. Gunakan waktu yang dihemat untuk hadir lebih penuh dalam hidup nyata.
Membangun Ekonomi Baru
Bayangkan sebuah masyarakat di mana kesuksesan tidak diukur semata dari akumulasi materi, melainkan dari kemampuan menghargai dan berbagi. Di mana wealth (kekayaan) didefinisikan bukan oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh kedalaman rasa syukur kita. Di mana pendidikan mengajarkan anak-anak bukan hanya untuk bersaing, tetapi untuk bersyukur dan berkolaborasi.
Ini bukan utopia naif. Di berbagai belahan dunia, gerakan menuju wellbeing economy (ekonomi kesejahteraan) sudah dimulai. Bhutan dengan Gross National Happiness (Kebahagiaan Nasional Bruto), Selandia Baru dengan Wellbeing Budget (Anggaran Kesejahteraan), Islandia dengan fokus pada keseimbangan hidup-kerja—semua menunjukkan bahwa ada alternatif dari model pertumbuhan GDP obsesif yang telah mendominasi ekonomi global.
Indonesia, dengan kekayaan spiritual dan kearifan lokalnya, sebenarnya memiliki modal kuat untuk mempelopori gratitude economy. Tradisi sedekah, gotong royong, syukuran—semua adalah praktik yang mengalirkan kelimpahan bukan dengan akumulasi, melainkan dengan berbagi. Tugas kita adalah merevitalisasi dan mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam sistem ekonomi dan sosial modern.
Perubahan dimulai dari yang kecil dan personal. Setiap kali kita memilih untuk bersyukur di tengah godaan untuk mengeluh, kita sedang melakukan micro-revolution (revolusi mikro). Setiap kali kita mengapresiasi apa yang ada alih-alih terobsesi pada apa yang kurang, kita sedang menanam benih ekonomi baru yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Seperti kata Meister Eckhart, mistikus abad ke-14, "Jika doa yang kau ucapkan seumur hidupmu hanya 'terima kasih', itu sudah cukup." Di era yang terus menuntut 'lebih', keberanian untuk mengatakan 'cukup' dan 'terima kasih' adalah bentuk kearifan dan perlawanan tertinggi.
"Dalam ekonomi syukur, kekayaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak yang kita kejar dan raih, melainkan dari seberapa dalam kita merasakan dan menghargai apa yang sudah menggenggam. Karena jiwa yang bersyukur akan selalu menemukan kelimpahan, bahkan di tengah kesederhanaan—sementara jiwa yang tak pernah puas akan tetap merasa miskin, bahkan di tengah kemewahan."
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2022). Indeks kebahagiaan Indonesia 2021. Jakarta: BPS.
Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377-389.
Fox, G. R., Kaplan, J., Damasio, H., & Damasio, A. (2015). Neural correlates of gratitude. Frontiers in Psychology, 6, 1491.
Harvard Medical School. (2021). Giving thanks can make you happier. Harvard Health Publishing.
Seligman, M. E. P., Steen, T. A., Park, N., & Peterson, C. (2005). Positive psychology progress: Empirical validation of interventions. American Psychologist, 60(5), 410-421.
Tromholt, M. (2016). The Facebook experiment: Quitting Facebook leads to higher levels of well-being. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 19(11), 661-666.
University of Pennsylvania. (2019). The business case for gratitude. Wharton School Research.
World Health Organization. (2022). Mental health and COVID-19: Early evidence of the pandemic's impact. Geneva: WHO.
Komentar
Posting Komentar