CAHAYA DI BALIK LUKA: PRAKATA PENULIS
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Buku ini lahir dari malam-malam yang gelap.
Dari saat-saat ketika aku sendiri merasa terluka, lelah, dan tidak tahu harus kemana.
Dari detik-detik ketika aku berbisik pada Allah: "Ya Rabb, aku butuh pelukan-Mu..."
Dan Allah menjawab... melalui Al-Qur'an.
Aku tidak pernah bermimpi akan menulis buku seperti ini. Aku bukan seorang ustadz. Aku bukan ahli tafsir. Aku hanyalah seorang hamba yang juga sering terjatuh, sering salah, dan sering merasa tidak cukup.
Tapi di tengah semua kekuranganku itu, Allah menunjukkan sesuatu yang sangat indah: bahwa setiap surah dalam Al-Qur'an—dari Al-Fatihah hingga An-Nas—adalah seperti pelukan hangat untuk hati yang sedang lelah.
Pelukan yang tidak menghakimi.
Pelukan yang tidak menyalahkan.
Pelukan yang hanya berkata: "Aku tahu kamu lelah. Kembalilah. Aku menunggu."
Buku ini bukan tafsir Al-Qur'an dalam pengertian akademis. Buku ini adalah storytelling—cerita tentang bagaimana setiap surah berbicara pada kehidupan kita sehari-hari. Tentang bagaimana Al-Qur'an tidak hanya untuk dibaca di mushaf, tapi untuk dihidupi dalam setiap langkah, setiap napas, setiap luka.
Aku menulis buku ini dengan paragraf pendek-pendek, dengan jeda napas yang banyak, dengan bahasa yang lembut—karena aku tahu, saat kamu sedang terluka, kamu tidak butuh ceramah yang panjang. Kamu butuh teman yang duduk di sampingmu, berbicara pelan-pelan, dan mengingatkanmu bahwa kamu tidak sendirian.
Untuk Siapa Buku Ini?
Buku ini untuk kamu yang:
✓ Merasa hidupmu berat dan butuh penghiburan
✓ Ingin dekat dengan Al-Qur'an tapi bingung mulai dari mana
✓ Mencari buku religius yang tidak menggurui, tapi memeluk
✓ Sedang terluka—entah karena patah hati, kehilangan, kegagalan, atau sekadar lelah dengan hidup
✓ Butuh teman di malam-malam yang gelap, di saat semua orang tertidur tapi kamu masih terjaga dengan luka yang belum sembuh
Buku ini untuk kamu yang sedang mencari cahaya di balik luka.
Bagaimana Cara Membaca Buku Ini?
Kamu tidak harus membacanya dari awal hingga akhir. Kamu bisa:
- Buka halaman mana saja yang hatimu rasakan perlu
- Baca satu bab setiap hari sebagai teman pagi atau malam
- Kembali ke bab yang sama berkali-kali saat kamu butuh pengingat
- Tandai, garis bawahi, tulis catatan—jadikan buku ini milikmu
Yang penting, bacalah dengan hati. Karena buku ini ditulis dengan hati.
114 Surah, 114 Pelukan
Setiap bab dalam buku ini diawali dengan hook emosional—pertanyaan atau pernyataan yang mungkin sedang kamu rasakan. Lalu, aku akan mengajakmu untuk melihat bagaimana surah tertentu dalam Al-Qur'an berbicara pada situasi itu.
Aku sertakan ayat Al-Qur'an dan hadits shahih, tapi bukan dengan cara yang menggurui. Aku tafsirkan dengan bahasa sederhana, dengan contoh kehidupan nyata, dengan cara yang mudah dipahami.
Dan di setiap akhir bab, selalu ada quote inspiratif—kalimat pendek yang bisa kamu simpan, bagikan, atau jadikan pengingat di saat kamu butuh kekuatan.
Perjalanan Menulis Buku Ini
Menulis 114 bab bukanlah perjalanan yang mudah. Ada hari-hari ketika aku sendiri merasa tidak layak untuk menulis tentang Al-Qur'an. Ada malam-malam ketika aku menangis karena merasa tulisanku tidak cukup baik.
Tapi setiap kali aku hampir menyerah, aku teringat:
Buku ini bukan tentang kesempurnaanku. Buku ini tentang kasih sayang Allah yang sempurna untuk hamba-hamba-Nya yang tidak sempurna.
Dan itu membuatku terus menulis.
Tulisan demi tulisan.
Pelukan demi pelukan.
Hingga 114 bab ini selesai.
Aku Bukan Guru, Aku Teman
Aku ingin kamu tahu: aku bukan sedang mengajarimu. Aku sedang menemanimu.
Seperti teman yang duduk di sampingmu saat kamu sedang sedih, tidak banyak bicara, hanya hadir dan mengingatkanmu bahwa kamu tidak sendirian.
Jika ada kesalahan dalam buku ini—baik dalam penulisan, penafsiran, maupun pemahaman—itu adalah kekuranganku sebagai manusia. Dan aku memohon maaf serta koreksi dari para pembaca, terutama para ulama dan ahli Al-Qur'an.
Tapi jika ada satu kalimat saja dalam buku ini yang menyentuh hatimu, yang membuatmu merasa dipeluk, yang mengingatkanmu untuk kembali pada Allah—maka itu adalah murni karunia-Nya.
Ucapan Terima Kasih
Buku ini tidak akan pernah ada tanpa:
Allah SWT, yang mengajarkanku bahwa setiap luka adalah jalan untuk lebih dekat pada-Nya.
Rasulullah Muhammad SAW, yang menjadi teladan bagaimana hidup dengan Al-Qur'an.
Kedua orang tuaku, yang mengajarkanku cinta pada Al-Qur'an sejak kecil, meski aku sering lalai.
Para guru dan ustadz, yang ilmunya menjadi cahaya dalam kegelapanku.
Teman-teman dan keluarga, yang selalu mendukung dan mendoakan.
Para pembaca di media sosial, yang selalu menunggu tulisan-tulisanku dan memberi semangat untuk terus menulis.
Dan kamu—yang sekarang sedang membaca prakata ini. Terima kasih sudah percaya bahwa buku ini layak untuk dibaca. Aku doakan, semoga setiap halaman menjadi pelukan yang kamu butuhkan.
Pesan Terakhir
Jika setelah membaca buku ini, kamu merasa:
- Lebih dekat dengan Al-Qur'an
- Lebih percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkanmu
- Lebih kuat untuk bangkit dari luka-lukamu
- Lebih yakin bahwa di balik setiap luka, ada cahaya yang Allah siapkan
Maka tujuan buku ini tercapai.
Ingatlah selalu:
Kamu tidak sendirian.
Allah selalu ada.
Al-Qur'an selalu menunggu.
Dan cahaya... pasti datang.
Selamat membaca.
Semoga buku ini menjadi teman terbaikmu di saat kamu butuh pelukan.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dengan penuh rasa syukur dan harap,
š Arda Dinata
Pangandaran, Februari 2026
Catatan: Jika kamu menemukan kesalahan dalam buku ini, aku memohon koreksi dengan penuh kerendahan hati. Jika kamu merasakan manfaat dari buku ini, aku memohon doa agar Allah meridhai setiap huruf yang tertulis. Dan jika buku ini menyentuh hatimu, bagikanlah kepada orang-orang yang kamu sayangi—karena pelukan terbaik adalah yang dibagikan.
#CahayaDiBalikLuka #114PelukanAlQuran #PulangPadaAllah
"Dan sesungguhnya Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"
(QS. Al-Qamar: 17)

Komentar
Posting Komentar